Lin Xiaoxi tewas kelaparan, namun jiwanya digantikan oleh Chu Yue, Putri Tabib jenius dari masa kuno. Terbangun di tubuh gadis desa miskin, ia dibekali Ruang Dimensi berisi herbal ajaib untuk mengubah nasibnya.
Di kota, sang penguasa Mo Yan sedang sekarat karena penyakit aneh yang tak tersembuhkan. Takdir mempertemukan mereka di jalanan, di mana satu tusukan jarum Xiaoxi menyelamatkan nyawa sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9 九
Kesibukan di lantai bawah mansion Mo Yan pagi itu benar-benar menguji kesabaran Zuo Fan. Xi'er baru saja mendapatkan ruangan kosong yang ia minta, sebuah ruangan dengan dinding kaca luas yang seharusnya menjadi ruang koleksi seni, namun kini telah berubah menjadi tumpukan tanah hitam.
"Nona Lin, kami punya sistem hidroponik tercanggih yang tidak butuh tanah." bujuk Zuo Fan sambil menyodorkan brosur alat medis dan pertanian modern.
Xi'er hanya meliriknya dengan tatapan malas. "Tuan Zuo, jika kau ingin tanamanmu tumbuh seperti plastik tanpa nyawa, silakan pakai alat besimu itu. Tapi jika kau ingin Tuanmu sembuh, biarkan aku memakai tanah ini. Tanah ini punya 'napas', tidak seperti kotak-kotak airmu yang berbunyi bip-bip itu."
Tanpa diketahui Zuo Fan, tanah yang digunakan Xi'er sebenarnya telah ia campur dengan tanah dari Ruang Dimensi. Ia bekerja sendiri, menolak bantuan para pelayan dengan alasan "hanya tangan tabib yang boleh menyentuh calon obat". Saat Zuo Fan pergi untuk mengambilkan air, Xi'er dengan cepat mengeluarkan bibit herbal dari dimensinya. Begitu bibit itu menyentuh tanah, dalam hitungan menit, tunas hijau mungil mulai menyembul, memancarkan aroma segar yang belum pernah ada di dunia modern.
Di tengah kesibukannya, A-Chen datang berlari sambil membawa sebuah bungkusan perak kecil. "Jie-jie! Lihat, Tuan Mo memberikan ini padaku. Katanya namanya 'Cokelat'. Rasanya aneh tapi enak!"
Xi'er menghentikan kegiatannya, menatap benda berwarna hitam kecokelatan itu dengan curiga. "Hitam? Apa ini sejenis empedu ular yang dikeringkan? A-Chen, kau jangan sembarangan memakan obat hitam dari orang kota."
"Tapi ini manis, Jie-jie! Coba saja!" paksa A-Chen sambil menyodorkan sepotong kecil ke mulut kakaknya.
Xi'er menutup matanya, bersiap untuk rasa pahit yang luar biasa. Namun, begitu lidahnya menyentuh cokelat itu, matanya membelalak. Rasa manis, legit, dan lembut seketika memenuhi mulutnya. "Hmm? Ini... obat jenis apa? Kenapa rasanya bisa membuat jantungku berdebar senang?"
"Itu bukan obat, itu camilan Nona Lin." suara berat Mo Yan terdengar dari ambang pintu. Ia duduk di kursi rodanya, mengamati Xi'er yang belepotan tanah dan sekarang belepotan cokelat di sudut bibirnya.
Xi'er segera berdehem, mencoba kembali ke mode "Tabib Agung" yang dingin. "Camilan yang menarik. Tapi terlalu banyak gula bisa merusak aliran darahmu, Tuan Mo. Sekarang, karena kau sudah di sini, ikut aku ke dapur. Aku harus membuatkanmu 'Sup Pembersih Sumsum'."
Mo Yan menaikkan sebelah alisnya. "Zuo Fan bisa membantu para koki memasaknya untukku."
"Koki? Tidak tidak" Xi'er menggeleng tegas. "Sup ini butuh niat. Dan karena ini untuk tubuhmu, kau harus terlibat. Energi orang sakit tidak boleh dibiarkan diam atau dia akan membusuk di dalam. Ayo, bergeraklah!"
Maka, terjadilah pemandangan paling ajaib dalam sejarah mansion keluarga Mo. Mo Yan, CEO yang biasanya hanya memegang pena bernilai miliaran rupiah atau berjabat tangan dengan presiden, kini duduk di depan meja dapur dengan sebuah pisau di tangan.
"Potong jahe ini menjadi kepingan setipis sayap capung." perintah Xi'er sambil menunjuk seruas jahe liar yang baru ia ambil dari dimensinya.
Mo Yan menatap pisau itu dengan kaku. "Aku tidak pernah memotong sayuran seumur hidupku."
"Oh, benarkah? Jadi selama ini kau hanya tahu cara memerintah?" sindir Xi'er sambil terus mencuci akar herbal di wastafel. "Kalau kau bisa memerintah ribuan orang, memotong jahe seharusnya semudah membalikkan telapak tangan. Kecuali... kau memang selemah yang terlihat."
Zuo Fan yang berdiri di sudut dapur hampir saja pingsan. "Nona Lin! Tuan Mo sedang sakit, ini sangat berbahaya jika tangannya terluka!"
"Diamlah, Tuan Zuo! Biarkan dia bekerja agar Qi-nya mengalir!" balas Xi'er telak.
Mo Yan mendengus. Tantangan Xi'er menyentuh harga dirinya. Dengan gerakan kaku, ia mulai mengiris jahe tersebut. Tentu saja, irisannya jauh dari kata tipis. Lebih mirip potongan kayu bakar.
Xi'er mendekat, ia berdiri tepat di samping Mo Yan, lalu secara alami memegang tangan Mo Yan untuk memperbaiki posisinya. "Bukan begitu, Tuan kaku. Pegang seperti ini, tekan dengan jari tengahmu... nah, tarik pisaunya perlahan."
Mo Yan tertegun. Ia bisa merasakan kehangatan tangan Xi'er yang kecil namun kuat di atas tangannya. Aroma tubuh Xi'er yang bercampur antara bau tanah segar dan cokelat yang manis tiba-tiba membuatnya kehilangan fokus. Untuk pertama kalinya, Mo Yan tidak merasa jijik disentuh oleh orang lain.
"Kenapa kau diam saja? Potong!" perintah Xi'er lagi, menyadarkan Mo Yan dari lamunannya.
"Kau... kau sangat cerewet untuk ukuran seorang tabib." gumam Mo Yan, namun ia tetap mengikuti arahan Xi'er.
Sambil memantau irisan jahe "gagal" Mo Yan, Xi'er sibuk menyiapkan anglo (tungku arang kecil) yang ia paksa Zuo Fan beli tadi pagi. Ia menaruhnya di atas meja marmer, tidak peduli dengan asap tipis yang mulai keluar.
"Tuan Mo, sup ini harus dimasak selama tiga jam dengan api kecil. Selama itu, kau harus menatap apinya dan memikirkan hal-hal yang hangat. Jangan pikirkan angka-angka di layar kacamu itu." ucap Xi'er serius.
Mo Yan menatap api yang menari di tungku, lalu beralih ke Xi'er yang kini asyik memakan sisa cokelat milik A-Chen dengan lahap, hingga pipinya menggembung.
"Kau sangat menyukai cokelat itu, ya?" tanya Mo Yan tanpa sadar.
Xi'er menoleh, sedikit terkejut, lalu menelan cokelatnya dengan cepat. "Hanya untuk penelitian medis! Aku harus memastikan apakah rasa manis ini benar-benar tidak beracun!"
Mo Yan tidak bisa menahan dirinya lagi. Sebuah tawa kecil, sangat tipis namun nyata lolos dari bibirnya. Zuo Fan yang melihat itu langsung mengucek matanya, mengira dia sedang berhalusinasi. Tuan Mo-nya tertawa? Karena seorang gadis desa yang belepotan cokelat?
"Kenapa tertawa? Kerjakan tugasmu!" perintah Xi'er dengan wajah memerah, entah karena malu atau karena hawa panas dari tungku.
Malam itu, saat Mo Yan meminum sup buatan mereka berdua, ia merasakan kehangatan yang berbeda. Bukan hanya kehangatan medis dari herbal Xi'er, tapi kehangatan yang mulai mencairkan kesepian yang selama ini membekukan hatinya.
Sementara itu, di ruang "kebun" bawah, tanaman Xi'er mulai mengeluarkan cahaya hijau pucat yang cantik. Mo Yan yang melewatinya saat ingin kembali ke kamar, berhenti sejenak. Ia melihat tunas yang tadi pagi hanya setinggi satu inci, kini sudah tumbuh hampir sepuluh inci.
"Mustahil..." bisik Mo Yan. Ia menatap ke arah kamar Xi'er. "Xi'er, kau benar-benar sebuah misteri yang manis."
Makasih double up nya othor tayaaaangg/Kiss/