Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekhawatiran Riko
“Kalau kamu setuju, biar aku yang menghabisi Pak Haris. Asal kamu nggak pergi ke Malang.”
“Jangan gila kamu, Riko. Aku emang punya pikiran buat bunuh Pak Haris. Tapi, nggak sedangkal aku nusuk dia sampai mati lalu lari. Itu sama saja dengan bunuh diri. Aku nggak sebodoh itu, Riko,” protes Christaly.
“Apa bedanya dengan kamu bekerja pada detektif tidak jelas itu? Kamu juga sama saja berjudi dengan keselamatanmu, Christaly,” sahut Riko sambil dia berguling miring menatap Christaly.
Kemudian Riko melanjutkan, “Sekarang kamu pikir-pikir lagi, deh. Menurutmu apa mungkin ada orang yang mau membayar dengan jumlah tidak masuk akal begitu kalau pekerjaannya nggak taruhannya nyawa? Mustahli, Christaly. Hanya orang yang terlalu bodoh yang mungkin melakukan itu.”
Christaly juga ikut berguling miring. Sekarang mereka saling berhadapan. Sehingga Christaly bisa melihat kecemasan yang nyata di mata Riko.
“Yang kamu bilang itu memang benar, Riko,” kata Christaly sambil menarik napas. “Tapi, aku nggak punya pilihan lain. Aku harus melakukannya.”
“Tapi kamu bisa mempertimbangkan membunuh Pak Haris. Masalah utamamu adalah Pak Haris. Kalau kita membuat rencana yang matang dan alibi yang sempurna, kita pasti nggak akan pernah ketahuan.” Riko masih bersikeras menahan Christaly untuk membatalkan rencananya pergi ke Malang. “Aku janji aku bakalan bantuin kamu dari awal sampai akhir, Christaly. Bagaimana? Setidaknya kamu harus mempertimbangkan ide itu terlebih dahulu.”
Christaly membelai wajah tampan Riko dengan lembut. “Makasih banyak, ya, Riko untuk pengertian dan perhatianmu. Aku tahu maksud kamu baik, kamu mau batuin aku, nolongin keluar dari masalahku. Tapi, maaf. Aku nggak bisa terima tawaran itu. Aku nggak mau kalau kamu sampai harus berurusan dengan polisi hanya gara-gara mau bantuin aku. Jadi, biakan aku menyelesaikan masalah ini dengan caraku sendiri. Kamu pria yang baik, aku yakin kamu bisa mengerti keputusanku.”
“Tapi, Christaly. Aku benar-benar mengkhawatirkan keselamatanmu. Sekalipun kamu pergi ke Malang dengan seorang detektif sekalipun, tetap saja itu nggak mengubah fakta kalau dia adalah orang asing yang baru kamu kenal.” Riko menggenggam tangan teman baiknya yang sangat dia kasihi itu dengan erat. “Tolong, pikirkan keputusan itu sekali lagi. Aku mohon. Aku nggak mau kehilangan kamu, Sayang.”
Christaly menarik napas dalam-dalam, air matanya sudah menggenang. Dia menatap mata Riko Verland, pria berusia tiga puluh tujuh tahun yang sudah seperti kakak lelakinya sendiri.
Pria yang selalu ada dalam suka dan duka Christaly, yang selalu berusaha tampil sebagai pelindungnya, penolong dan malaikatnya. Kekhawatiran yang tampak jelas di mata Riko membuat Christaly tidak bisa untuk tidak meneteskan air mata.
“Aku minta maaf, Riko. Tapi, kali ini aku bener-bener nggak bisa lagi biarin kamu yang menanggung masalahku,” kata Christaly sambil terisak. “Kamu juga terlalu berharga buat aku, Riko. Sampai kapan pun aku nggak akan pernah bisa balas kebaikanmu. Aku akan tetap berhutang budi sampai mati.”
“Jangan mengatakan hal yang nggak masuk akal begitu seolah-olah kamu akan mati, Christaly. Aku paling nggak suka dengan salam perpisahan,” sahut Riko yang dengan sigap langsung menyeka air mata Christaly. “Baiklah. Aku nggak akan maksa kamu lagi buat mengurungkan niatmu ke Malang. Tapi, sebagai gantinya kamu harus janji padaku kalau kamu akan kembali.”
“Kalau soal itu aku nggak bisa janji, Riko. Soalnya ....”
“Aku nggak mau dengar alasan apa pun, dan nggak terima penolakan dalam bentuk apa pun.” Riko memotong dengan tegas. “Pokoknya kamu harus janji kalau kamu bakalan balik lagi ke Jakarta, pulang dengan selamat tanpa kurang sehelai rambut pun. Oke?”
“Oke, oke. Kalau itu bisa buat kamu lebih tenang, aku janji aku akan pulang dengan selamat tanpa kurang sehelai rambut pun. Tapi, kamu juga harus janji padaku kalau selama aku pergi, kamu nggak boleh melakukan hal yang macam-macam. Apalagi sampai nekat mencelakai Pak Haris,” sahut Christaly yang akhirnya setuju.
“Iya deh, iya. Aku janji aku nggak bakalan apa-apain Pak Haris selama kamu pergi. Meskipun sebenarnya ingin sekali aku mematahkan hidungnya lalu menggantungnya terbalik sebelum aku mengebiri dan membunuhnya,” kata Riko sambil mendengus.
“Hus! Jangan ngomong sembarangan kamu. Bisa-bisa nanti kamu dituduh psikopat.” Christaly mencubit gemas bibir tipis Riko yang suka bicara sembarangan. “Sudahlah. Aku nggak mau membahas soal Pak Haris lagi atau apa pun yang lainnya. Lebih baik kita lanjut bersenang-senang.”
“Ya, kamu benar. Perpisahan yang manis adalah perpisahan yang penuh kebahagiaan.”Riko tiba-tiba saja bergerak, berbaring di atas Christaly, menekannya ke kasur, satu tangan menangkup dagu, tangan yang lain meluncur ke payudara, pinggang, pinggul, dan di sekitar punggungnya. “Ayo, sayang. Ayo kita habiskan malam ini dengan bercinta sampai puas.”
Riko mencium Christaly lagi, mendorong kaki wanita itu di antara kakinya, mengangkat lututnya, dan langsung melumat bibirnya dengan penuh gairah. Lidah mereka bergumul, gigi mereka beradu bersahutan dengan erangan penuh kenikmatan.
Ereksi Riko yang sudah kembali tegang menekan pada pangkal paha Christaly. Dan tanpa menunggu lebih lama lagi Riko langsung mendorong dirinya ke dalam diri Christaly, membuat gadis itu menjerit oleh kenikmatan.
Kemudian Riko memutar pinggulnya sekali, mendorong lebih dalam, dan memulai bergerak maju mundur. Christaly mendesah, dia tenggelam pada gairah yang kuat.
“Aku janji akan memberimu perpisahan yang manis, Sayang,” ujar Riko. Suaranya rendah dan serak. Giginya bergerak di sepanjang rahang Christaly, menggigit dan mengisap, dan kemudian dia menciumnya lagi dengan lebih keras, lebih bergairah, lebih membutuhkan.
Christaly mengerang sambil membungkus kaki dan lengannya di sekeliling tubuh Riko, menggelantung dan memeluknya dengan keras pada tubuh pria itu, bertekad untuk menghapus apa pun yang mengkhawatirkan dirinya, dan dia mulai bergerak ... bergerak seperti dia berusaha untuk mendaki dalam diri pria itu. Mengimbangi gerakan Riko yang penuh dengan gairah. Sampai akhirnya mereka berdua mencapai puncak kenikmatannya dan meledak berkeping-keping.
***
“Astaga, jam berapa ini?!” Sean langsung mengomel begitu Christaly datang. “Aku memang suruh kamu datang pagi-pagi buta. Tapi bukan setengah lima pagi. Gila kamu, ya?! Aku bahkan belum tidur!”
“Huh! Kamu itu seharusnya bersyukur punya asisten pribadi yang sangat disiplin waktu seperti aku. Bukan mengomel,” sahut Christaly sambil mendengus kesal. “Lagipula apa kamu masih belum puas juga sudah bercinta semalaman, apa nggak capek dan kehabisan tenaga?”
Sean yang sadar Christaly bicara terlalu keras seketika membungkam mulutnya. “Shhtt! Jangan ngomong keras-keras. Kalau Vera sampai bangun dan ngelihat kamu di sini bisa repot nanti.”
Christaly meraih tangan Sean dan menariknya dari mulutnya. “Puh! Apaan sih! Kamu mau bunuh aku, ya?!”
“Ke sini kamu.” Sean menarik tangan Christaly lalu menyeretnya ke ruang kerjanya.