NovelToon NovelToon
SKENARIO TUAN DANENDRA

SKENARIO TUAN DANENDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Dijodohkan Orang Tua / Duda
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lovelyiaca

Elleta Clarissa Crassia, ia tahu bahwa nama belakangnya bukanlah hal yang harus di banggakan. Terlahir dari keluarga pengusaha sukses membuatnya menahan beban yang tak seharusnya ia pikul. Keputusan sang ayah membuatnya tak memiliki pilihan, sebuah perjanjian bisnis dengan kata "pernikahan."

Elleta di jodohkan dengan laki-laki, pewaris utama keluarga Danendra. Steve Athariz Danendra, laki-laki dingin yang katanya tak pernah tersentuh. Dan semuanya berawal dari sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Sisi Singa yang Terusik

Mata Elleta terusik oleh cahaya matahari yang masuk ke dalam retina matanya. Hingga ingatan semalam masih membekas di ingatannya. Dia baru menyadari tadi malam, Elleta tidak tidur di kasurnya. Kepalanya berdenyut nyeri efek menangis semalaman, ada rasa bangga saat pertama kali menatap kanvas yang sudah mengering.

Lukisan itu siluet dirinya sendiri yang hamparan arus yang perlahan menyentuh kakinya dengan langit senja yang memikat mata, ada harapan kecil di lubuk hatinya.

Tangannya sedikit nyeri teringat kejadian tadi malam, tamparan yang melegakan hati. Tidak tahu kenapa ada dorongan untuk menyalakan televisi, dia meraih remot di depannya dengan tangan gemetar. Layar televisi itu muncul, Elleta masih mencerna berita itu, nyawanya seperti baru melekat.

Breaking News : Ledakan Kebakaran di gedung Vesta Design Studio, Santa Diego, California yang mengakibatkan gedung lantai 15 terjadi kerusakan yang cukup parah. Belum dipastikan korban jiwa masih di selidiki. Sekian terima kasih.

Mata Elleta melebar, detak jantungnya terpacu cepat, otaknya langsung memproses informasi berita itu. Nama kantor itu, ia sangat tahu itu nama kantor di mana Daniel bekerja. Urat-urat tangannya mencengkram erat karpet bulu yang ia duduki.

Ada rasa tak percaya, air matanya tak sanggup untuk keluar. Sudah kering, kepalanya yang linglung. Ia merogoh sakunya, ia lupa ponselnya disita oleh laki-laki gila itu. Dunianya terasa runtuh.

"Ini enggak mungkin, ngaco nih beritanya," ujar Elleta masih membantah berita itu.

Di layar televisi malah terpampang dengan jelas kobaran api yang membesar, petugas pemadam kebakaran terliha kewalahan memadamkan api.

"Kak ini beneran kamu gak nyusul aku ke Indonesia, beberapa minggu lagi aku bakal nikah sama laki-laki gila itu, please kak jangan tinggalin aku," ucap Elleta pelan dan menyayat hati.

Gadis itu mengacak-acak rambutnya frustasi. Rasa ingin berteriak cukup memenuhi kepala dan dadanya. Kata korban masih belum di pastikan memutar di kepalanya.

Elleta jangan lari, kamu pasti bisa menangkapmu kemana pun kamu pergi. Kilasan ingatannya merasuk ke kepalanya, di mana kenangan di Santa Barbara masih membekas di kepalanya. Kalau bisa waktu di putar kembali, ia ingin membawa Daniel kabur bersamanya tanpa menoleh ke belakang. Elleta tidak bisa berkutip sekarang.

"Kalau kayak gini, aku harus gimana lagi, kak," lirihnya, menampilan Elleta sangat jauh dari kata layak. Auranya seperti mayat hidup.

Ia hanya bisa berdoa di dalam hati. Kapan badai itu selesai. Mungkin ini masih awal mula badai itu terjadi. Akankah ia sanggup menjalani semua ini.

Suara kunci pintu yang terdengar tergesa-gesa di putar. Pintu itu, terbuka lebar. Laki-laki itu sama halnya denganya berantakan. Steve datang dengan raut wajah kerutan di dahinya. Bibirnya yang pecah-pecah, kantung mata itu. Menandakan laki-laki itu tidurnya terganggu.

"Elleta! Apa yang terjadi sama kamu?" tanya Steve dengan menghampiri Elleta yang menampilannya kacau balau.

Elleta menatap kehadirannya laki-laki itu, di mana matanya memerah, jejak air mata yang tersisa di pipinya. Hidungnya yang merah, deru napas yang terengah menahan lonjakan emosi.

"Ini kelakuanmu, kan?! Kamu monster! Daniel salah apa sama kamu?! Hah?! Selama ini aku udah menerima diriku di sini, katamu Daniel tetap aman kau jaga, INI APA STEVE?? LIHAT HAH?! seru Elleta dengan mata erat, urat lehernya tercetak besar. Elleta beranjak sejenak, mulai melangkah ke Steve dengan kakinya seperti jelly. Keseimbangannya yang belum kuat, Elleta tetap melangkah ke arah laki-laki itu.

"Puas menghancurkan semua yang aku miliki, Steve! Apa bener, ini ulahmu, kan? Kamu bisu Steve, jawab aku!! Apa yang kamu inginkan dariku!"

Steve merasakan guratan panik, di kepalanya bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi, hingga matanya menatap televisi yang masih menampilkan berita ledakan kebakaran itu.

Elleta tak henti-henti memukul dada Steve sekuat tenaganya, kaki Elleta tidak kuat menopang tubuhnya jauh ke lantai yang dingin menusuk kulitnya. Lantai yang dingin tak terasa di kulit lebih sakit hatinya. Belum bisa mengucapkan perpisahan yang baik ke Daniel. Hanya rasa penyesalan yang mengimpit dadanya.

Steve mengikuti gadis itu yang luruh ke lantai. Mencoba memeluk Elleta, ini bukan yang ia rencanakan. Rasa tersayat di hatinya melihat kondisi Elleta yang berantakan.

"El, aku enggak pernah punya niatan jahat ke Daniel, atau sebaliknya. Tolong kali ini percaya sama aku," bisik Steve memberi sedikit membelaan untuk dirinya.

"Bohong! Kamu yang jaga Daniel tetap aman, tapi aku juga yang bunuh dia!" ucap Elleta parau, suaranya terendam karena pelukan Steve yang erat. Air matanya tak henti-henti terus bercucuran.

"Kalaupun aku jahat dari awal, dari dulu, El. Aku bisa melenyapkannya, kenapa harus sekarang," bela Steve di sela-sela pelukannya.

Elleta mendorong bahu Steve sekuat tenaga yang tersisa, mata gadis itu menatap Steve dengan pandangan kosong. Cahaya mata gadis itu redup, mata yang selama ini Steve kagumi.

"Kamu iblis! Ucapanmu enggak ada yang bisa aku percaya, bukannya kamu seneng! Sekarang enggak ada penganggu yang membuatku tunduk!" telak Elleta, mencoba mengeluarkan unek-uneknya yang selama ini ia pendam.

Steve beranjak dari jongkoknya, melangkah sedikit demi sedikit mundur memberi ruang Elleta untuk melepaskan emosinya.

Steve melangkah tergesa-gesa menuju ruang kerjanya. Meraih ponselnya, di layar panggilan tak terjawab dari Theo. Laki-laki itu menekan tombol panggil ulang.

"Halo Theo, ini kenapa?"

"Halo, Pak Steve. Saya akan menjelaskan tentang masalah ini. Saya tahu berita itu."

"Oke, Theo. Kita bicarakan ini di kantor." Steve mematikan teleponnya sepihak.

Steve memegang kepalanya yang berdenyut nyeri. Melihat rapuhnya Elleta, ia melihat itu ada rasa tidak suka. Dia lebih suka Elleta yang kuat menantangnya dengan mata yang penuh bara api.

Steve mengambil jasnya melampirkan di lengan kanannya, meninggalkan mansionnya. Naik ke mobil roll-royce-nya meluncur bebas. Butuh sekitar 20 menit sampai di gedung kantornya. Mobilnya telah terparkir rapi di basement. Mata karyawan melihat gimana penampilan Steve yang cukup di katakan sedikit berantakan. Jangan lupakan kalau Steve belum mandi. Tapi aroma parfum sandalwood dan citrus masih tercium di indra penciuman.

Steve masuk ke dalam lift khususnya. Menekan tombol lantai 18. Memasukkan tangannya ke dalam sakunya, menatap gusar di lantai yang perlahan naik.

Sampai di lantai 18, Laki-laki itu berjalan tegap. Hingga sampai di depan pintu ruangannya, di sana Theo sudah berdiri tegak dengan tablet di tangannya.

"Ayo masuk, Theo. Ada yang perlu aku bahas, penting!" Theo yang paham arah pembicaraan itu langsung mengangguk. Mengikuti langkah Steve masuk ke dalam.

Steve duduk di kursi kebesarannya, menunggu Theo berbicara. Tangannya menumpu dagunya.

"Sebenarnya ada yang janggal dengan pengawal yang menjaga Tuan Daniel, Pak Steve." Theo menunjukkan foto kartu pengenal Daniel.

"Hanya ini yang ada di lokasi terjadi. Tuan Daniel masih belum di temukan, tapi anak buah saya bakal segera menemukannya, Pak." Theo menundukkan pandangannya, dia tahu bosnya di hadapannya tidak kalah hancur. Elleta malah lebih hancur.

"Ya Theo, tolong segera temukan, Daniel. Kalau sudah ketemu, bawa dia ke Jerman. Di sana dia aman. Tolong Theo, pembahasan ini jangan sampai terdengar di telinga Elleta, dia sedang terguncang mentalnya." Steve mengusap dahinya merasakan denyut nyeri, terlintas kondisi Elleta di kamar itu.

Theo menatap Steve dengan tatapan iba sekaligus kekhawatiran. Selama 10 tahun bekerja dengan laki-laki itu. Baru kali ini merasakan hawa yang membara lagi, terakhir sebelum kematian Katrina. "Baik, Pak Steve. Saya usahakan, Daniel segera ditemukan."

Tok tok tok

"Masuk aja," pinta Steve mempersilahkan masuk salah satu karyawan itu.

"Permisi Pak, ini ada paket atas nama Pak Steve, tapi tidak ada nama pengirimnya." Karyawan itu menaruh paket itu ke mejanya.

"Oke, makasih. Silahkan keluar."

Karyawan itu mengangguk dan berpamitan keluar. Steve membuka paket itu dengan kasar. Aroma tak sedap, aroma busuk amat sangat mengganggu indra penciuman menyebar ke seluruh ruangannya yang penuh AC.

Brak!

Sebuah surat yang terhempas saat kotak itu jatuh ke lantai. Steve menutup hidungnya dan memungut secarik kertas itu.

Mata Steve serius membaca setiap bait kalimatnya tertulis.

"Gimana Steve kejutan dariku, apa sekarang Elleta sedang mengamuk."

Steve meremas kertas itu, guratan di dahinya. Rahangnya yang mengeras, sepertinya ada yang mau bermain-main dengannya.

"Cari siapa yang mengantar paket ini, Theo. Sepertinya ada yang menantangku," tegas Steve, matanya yang tajam yang membara, tangannya terkepal erat.

Theo menatap bangkai tikus itu dengan pandangan yang sulit di artikan. "Baik, Pak Steve. Beri saya waktu, saya akan menyelesaikan ini segera."

"Ada yang berani membangunkan singa Danendra," bisik Steve penuh penekanan di setiap ucapannya, aura membunuhnya seperti terbangun.

1
Maryati ramlin
cerita bagus di tunggu kelanjutan
Lovelyiaca: Terima kasih sudah membaca karyaku, di tunggu kelanjutannya ya 🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!