Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.
Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.
Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.
Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?
Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Enam
Hari baru benar-benar dimulai di desa kecil itu.
Udara pagi masih terasa dingin, embun menempel di ujung daun, dan suara ayam berkokok bersahutan dari berbagai arah. Matahari belum sepenuhnya tinggi, tapi sinarnya sudah cukup menerangi halaman rumah sederhana milik Hana.
Seperti biasa, Hana sudah bangun sejak subuh. Setelah membersihkan diri, ia langsung merapikan rumah. Lantai disapu, peralatan dapur dicuci, dan jendela-jendela dibuka agar udara segar masuk.
Semua ia lakukan dengan tenang, seolah itulah satu-satunya cara untuk menjaga pikirannya tetap stabil.
Beberapa hari terakhir, tubuhnya masih sering terasa tidak nyaman. Mual kadang datang tiba-tiba, membuatnya harus berhenti sejenak dari aktivitasnya. Tapi pagi ini, kondisinya sedikit lebih baik.
Setidaknya, cukup untuk melanjutkan rutinitasnya.
Setelah memastikan bagian dalam rumah rapi, Hana mengambil sapu lidi yang biasa ia gunakan untuk membersihkan halaman.
Ia melangkah keluar. Halaman rumahnya cukup luas, dan di salah satu sudut berdiri pohon rambutan yang cukup besar. Pohon itu sudah lama ada di sana, bahkan sejak ia pertama kali tinggal di rumah itu.
Daunnya lebat, dan setiap pagi, selalu saja ada daun kering yang berguguran memenuhi tanah.
Hari ini pun sama. Hana menghela napas pelan, lalu mulai menyapu.
Suara gesekan sapu lidi dengan tanah terdengar pelan, berirama. Gerakan tangannya teratur, pikirannya perlahan ikut mengalir mengikuti ritme itu.
Namun, belum lama ia menyapu, gerakannya tiba-tiba terhenti. Matanya menangkap sesuatu.
Di dekat pagar rumahnya, tepat di samping sebuah mobil yang terparkir, ada seseorang yang sedang berjongkok.
Hana mengernyit. Mobil? Sejak kapan ada mobil di sana?
Ia yakin semalam tidak ada kendaraan itu. Rasa waspada langsung muncul. Hana memegang sapunya sedikit lebih erat, lalu melangkah mendekat dengan hati-hati.
Semakin dekat, ia bisa melihat sosok pria itu lebih jelas. Ia sedang membungkuk, tangannya seperti sedang memeriksa sesuatu di bagian bawah mobil.
Hana berhenti beberapa langkah dari pria itu. “Mas … mobilnya kenapa?” tanyanya, suaranya pelan tapi cukup jelas.
Pria itu langsung menoleh. Wajahnya terlihat tenang. Bahkan, ia tersenyum.
Namun di balik senyum itu, ada sesuatu yang berbeda. Mata pria itu memperhatikan Hana dengan saksama. Seolah memastikan sesuatu.
Dalam hati, pria itu berkata pelan. Tidak salah lagi. Ini dia. Wanita yang selama ini dicari oleh bosnya.
Ternyata pria itu adalah Han. Ia menahan ekspresinya agar tetap terlihat biasa saja.
“Mobil saya mogok, Mbak,” jawabnya santai.
Hana mengangguk pelan, meski masih ada sedikit rasa heran di wajahnya. “Bengkel jauh dari sini, Mas,” ucapnya jujur. “Apakah Mas sendiri aja?”
Han menggeleng ringan. “Berdua,” jawabnya singkat.
Hana tampak sedikit lega.
“Syukurlah,” ucapnya. “Nanti bisa bantu Mas-nya buat dorong.”
Han tersenyum kecil, menggeleng lagi. “Kayaknya aku perbaiki sendiri aja,” ucapnya. Lalu ia menatap Hana sejenak sebelum melanjutkan, “Apa Mbak keberatan aku di sini?”
Hana langsung menggeleng cepat. “Oh, tak apa,” jawabnya. “Tapi saya pamit dulu, Mas. Saya mau ke dalam.”
Han mengangguk sopan. “Silakan, Mbak. Terima kasih.”
Hana tersenyum tipis. “Sama-sama.”
Tanpa banyak bicara lagi, ia berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah. Langkahnya terlihat biasa saja. Namun, entah kenapa, ada perasaan aneh yang sempat melintas di hatinya. Ia tidak tahu kenapa.
Mungkin hanya perasaan tidak terbiasa ada orang asing di sekitar rumahnya. Atau mungkin sesuatu yang lain.
Begitu pintu rumah tertutup, suasana halaman kembali sunyi. Dan di situlah, perubahan terjadi.
Wajah santai Han langsung hilang. Ia berdiri tegak, matanya menatap ke arah pintu rumah yang baru saja dimasuki Hana.
Tatapannya tajam sekarang. Penuh kepastian.
“Benar dia …,” gumamnya pelan.
Tanpa membuang waktu, ia merogoh saku celananya, mengambil ponsel, lalu segera menghubungi seseorang.
Beberapa detik berlalu. Panggilan tersambung.
“Ya?” suara di seberang terdengar dingin dan tegas.
Han langsung menunduk sedikit, meski lawan bicaranya tidak bisa melihat.
“Pak,” ucapnya serius. “Saya sudah menemukan dia.”
Hening sejenak. Seolah kalimat itu butuh waktu untuk benar-benar sampai.
“Siapa?” tanya suara itu pelan, tapi penuh tekanan.
“Hana, Pak.”
Di ujung sana, Arsaka langsung menegakkan tubuhnya.
Ia yang sebelumnya duduk santai di kursinya, kini berdiri tanpa sadar. Matanya menajam.
“Di mana?” tanyanya cepat.
“Di sebuah desa terpencil, Pak. Lokasinya sesuai dengan informasi yang kita dapat. Dan saya sudah melihat langsung orangnya.”
Arsaka tidak langsung menjawab. Namun napasnya terdengar sedikit lebih berat.
“Yakin?” tanyanya lagi.
“Seratus persen yakin, Pak.”
Jawaban itu membuat sesuatu dalam diri Arsaka bergetar. Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal pelan. Beberapa detik berlalu dalam diam.
Lalu, sudut bibirnya perlahan terangkat. Tersenyum. Senyum yang penuh arti.
“Akhirnya …,” gumam Arsaka pelan.
Han masih menunggu di seberang. “Perintah selanjutnya, Pak?” tanyanya.
Arsaka berjalan perlahan ke arah jendela. Matanya menatap keluar, tapi pikirannya sudah jauh menuju desa itu. Menuju Hana.
“Pantau dia,” ucapnya tegas. “Jangan sampai dia tahu.”
“Siap, Pak.”
“Aku akan ke sana,” lanjut Arsaka tanpa ragu.
Han sedikit terdiam. "Secepat itu, Pak?”
“Sekarang saya mau ke sana. Kamu keberatan?" Jawaban itu langsung. Tanpa jeda. Tanpa pertimbangan panjang.
"Nggak, Pak."
"Kalau begitu tunggu saja saya datang!"
Han mengangguk, meski lagi-lagi tidak terlihat. “Baik, Pak. Saya tunggu di sini.”
Panggilan terputus. Di halaman rumah itu, Han menurunkan ponselnya perlahan.
Ia kembali melirik ke arah rumah Hana. Wajahnya serius. Ini bukan lagi sekadar tugas biasa.
Sementara itu di dalam rumah, Hana bersandar sebentar di balik pintu. Tangannya menempel di dada.
Entah kenapa, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia menarik napas dalam. Berusaha menenangkan diri.
“Kenapa sih …,” gumamnya pelan.
Ia menggeleng, lalu mencoba mengabaikan perasaan itu. Di luar, semuanya masih terlihat biasa. Tapi tanpa ia sadari seseorang sedang menuju ke arahnya. Seseorang yang tidak pernah benar-benar ia tinggalkan. Dan kali ini tidak akan melepaskannya lagi.
Di tempat lain, Arsaka sudah mengambil kunci mobilnya. Langkahnya cepat. Tatapannya tajam. Tidak ada lagi rasa lemas seperti pagi-pagi sebelumnya. Yang tersisa hanya satu hal, tekad.
“Hana …,” gumamnya pelan. “Tunggu aku.”
dan dia yg bkln meratukan kan membhgiakan kmu Hana....