Bagi Winda, menjadi istri Baskara adalah sebuah kepasrahan. Namun, sebuah bisikan miring di pesta malam itu meruntuhkan harga dirinya: Winda hanyalah singgasana sementara sebelum masa lalu suaminya kembali. >
Kecewa, hancur, dan mati rasa, Winda nekat melangkah ke dalam takdir yang kelam. Di bawah guyuran hujan malam itu, ia menyerahkan raganya pada Aryo—suami dari sahabat baiknya sendiri. Sebuah pelarian gila demi membalas rasa sakit hatinya.
Namun, selembar benang rahasia itu perlahan ditarik oleh takdir. Saat kebenaran tentang kesetiaan Baskara terungkap, Winda justru mendapati dirinya terbangun di rumah sakit dengan sebaris kalimat yang meremukkan jiwanya: "Kamu hamil, Sayang."
Di atas dua ranjang yang berbeda, satu rahasia besar kini terkunci rapat. Winda terjebak dalam labirin penyesalannya sendiri, sementara di seberang sana, sang sahabat juga tengah merayakan kehamilan yang sama.
Ketika waktu perlahan membongkar tabir, siapakah yang akan bertahan di atas singgasana yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey.writerid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA SISI YANG TERANCAM
Setelah obrolan yang terasa sangat mencekik batin di restoran siang itu selesai, Winda buru-buru pamit pada Serena dengan alasan harus segera pulang ke rumah untuk menyiapkan makan malam. Sepanjang perjalanan pulang di dalam taksi, pikiran Winda tidak bisa tenang. Kalimat Serena tentang program kehamilan dan pelukan Aryo terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak.
Begitu menginjakkan kaki di dapur rumahnya yang sepi, Winda langsung menyingsingkan lengan baju. Ia membuang semua rasa berkecamuk itu ke dalam masakan. Winda memasak dengan sangat niat, mengeluarkan semua kemampuan kuliner terbaiknya. Ia menggoreng ayam bumbu pelapis lada yang harum, memasak sup hangat, dan menata buah-buahan di meja makan. Semua hidangan disajikan dalam porsi besar dan lezat, demi menyambut pesan manis dari suaminya yang tidak biasa ini.
Aroma harum masakan baru saja memenuhi seluruh ruangan saat pintu depan rumah terbuka, menampilkan sosok Baskara yang melangkah masuk. Pria hitam manis itu pulang jauh lebih cepat dari biasanya. Ia melepas jas kantornya, melonggarkan dasi, lalu melangkah menuju meja makan. Matanya sempat tertegun melihat deretan hidangan yang menggugah selera, lalu beralih menatap wajah Winda yang masih tampak segar dan cantik dengan sisa riasan siang tadi.
Mereka pun duduk dan mulai makan bersama. Suasana di meja makan terasa jauh lebih hangat dan hidup, sangat kontras dengan bulan-bulan sebelumnya yang biasanya hanya diisi oleh keheningan yang kaku.
Baskara menyuap makanan ke dalam mulutnya, mengunyah perlahan, lalu mendongak menatap Winda dengan sepasang mata elangnya yang kini melunak. "Masakan kamu enak banget hari ini," puji Baskara tulus, sebuah pengakuan jujur yang jarang sekali keluar dari mulutnya.
Winda tersenget tersenyum manis, ada rasa hangat yang mendadak menjalar di dadanya. Namun, senyum di bibir Winda semakin melebar saat Baskara tidak mengalihkan pandangannya, melainkan terus menatap lekat-lekat garis wajah istrinya.
"Hari ini kamu cantik sekali, Winda. Aku minta kamu selalu berdandan seperti ini ya ke depannya," sambung Baskara dengan nada suara yang merendah, terdengar begitu dalam dan penuh perhatian.
Mendengar pujian yang sudah berbulan-bulan ia dambakan dan tangisi setiap malam itu, Winda tersenyum senang lagi hingga matanya berbinar. Rasa percaya dirinya sebagai seorang istri yang sah seolah kembali utuh seutuhnya. Mereka pun melanjutkan makan malam dengan obrolan-obrolan kecil yang mengalir santai, hingga waktu bergeser malam dan keduanya bersiap-siap untuk masuk ke dalam kamar tidur.
Suasana kamar tidur mereka mendadak terasa berbeda dan penuh ketegangan intim malam itu. Setelah lampu utama dimatikan dan hanya menyisakan temaram lampu tidur yang redup berwarna kuning hangat, Baskara berbaring di samping Winda. Keheningan malam itu terasa sangat pekat.
Tiba-tiba, jantung Baskara berdegup dengan sangat kencang. Detak dadanya bertalu-talu saat melihat Winda, yang mengira suaminya sudah tertidur lelap, perlahan membalikkan badannya. Posisi mereka kini saling berhadapan dalam jarak yang teramat dekat. Baskara memandangi setiap jengkal wajah manis Winda di bawah temaram lampu tidur. Detik itu juga, indra penciuman Baskara menangkap aroma tubuh Winda yang sangat wangi, manis, dan menenangkan.
Baskara benar-benar terpesona. Pesona dan kecantikan Winda malam ini berhasil meruntuhkan seluruh dinding es dan keangkuhan di hatinya. Tanpa bisa ditahan oleh akal sehatnya lagi, Baskara bergerak maju. Tangannya yang kekar perlahan merengkuh pinggang Winda, menariknya mendekat sebelum akhirnya ia langsung menangkup wajah Winda dan mencium bibirnya dengan penuh perasaan.
Winda terbangun kaget, matanya sempat membelalak di kegelapan kamar sejenak. Jantungnya mencelos, namun sentuhan Baskara yang teramat lembut dan menuntut membuat seluruh tubuh Winda mendadak kaku sebelum akhirnya ia larut sepenuhnya dalam dekapan sang suami. Malam itu, mereka bermesraan dengan sangat hebat dan penuh gairah. Winda bisa merasakan dengan jelas kehangatan raga Baskara yang kekar dan atletis memeluknya seolah takut kehilangan.
Mereka melakukan hubungan yang teramat intim malam itu—sebuah penyatuan jiwa dan raga yang sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah Baskara lakukan selama usia pernikahan mereka yang dingin. Malam ini, semua gairah yang terpendam seolah pecah tanpa bisa dibendung lagi. Ruang kamar itu bagaikan milik mereka berdua saja, melupakan seluruh peliknya dunia luar.
Baskara yang biasanya kaku dan cuek, malam ini berubah menjadi sangat gragas, intens, dan penuh dominasi gairah. Sentuhan tangan kekarnya di kulit Winda terasa begitu menuntut, menenggelamkan Winda dalam sensasi kenikmatan yang memabukkan hingga membuat seluruh tubuh Winda lemas, pasrah, dan tak berdaya di dalam dekapannya yang perkasa sepanjang malam.
Keesokan harinya, perubahan tabiat Baskara terbukti bukan sekadar bumbu pemanis di atas ranjang malam hari saja. Pria itu tiba-tiba berubah total dan tidak bersikap cuek lagi. Saat terbangun di pagi hari, Baskara langsung melempar senyum manis dan mengecup kening Winda dengan lembut. Mereka bahkan kembali duduk makan bersama di meja makan untuk menikmati sarapan pagi dengan suasana yang sangat harmonis layaknya pengantin baru yang sedang dimabuk cinta.
Winda merasa sangat senang, bahagia, dan bersyukur luar biasa. Namun, tepat di tengah kunyahannya, di sudut hatinya yang paling dalam, ada rasa nyesek yang tiba-tiba menyergap dengan kejam. Winda mendadak teringat kembali kata-kata bisikan bergosip dari orang-orang di kantor Baskara kemarin tentang sosok Alena, cinta pertama suaminya. Rasa takut bahwa kebahagiaan ini hanyalah semu mendadak menghantui batinnya. Namun, Winda memilih untuk diam saja, menekan rasa perih itu dalam-dalam agar suasana rumah tangga mereka yang baru saja menghangat ini tetap baik-baik saja. Tak lama setelah sarapan selesai, Baskara pun pamit pergi ke kantor dengan senyuman yang terus mengembang.
POV ARYO
Sementara itu, di waktu yang sama di gedung kantor pusat PT Wijaya Utama, suasana hati Aryo justru berbanding terbalik 180 derajat. Duduk sendirian di kursi kebesarannya di dalam ruangan kerja, fokus Aryo mendadak buyar. Ia melamun dengan tatapan kosong menatap berkas dokumen di atas meja.
Sejenak, ingatan kotor Aryo kembali berputar secara liar ke kejadian terlarang malam itu di kamar hotel bersama Winda. Di dalam kepalanya, ia kembali membayangkan dengan sangat jelas bagaimana sentuhan, aroma, dan gairah intim yang terjadi antara dirinya dan Winda di atas ranjang hotel. Memikirkan hal itu, hati Aryo kembali berdegup kencang, ada rasa candu yang aneh sekaligus rasa waswas yang bergejolak hebat di dalam dadanya. Pria oportunis itu sadar, dia telah bermain dengan api yang sangat berbahaya.
"Mas?"
Sebuah teguran lembut dengan nada suara yang sangat familiar dari arah belakang seketika membuyarkan seluruh lamunan kotor Aryo. Jantung Aryo rasanya hampir copot melompat keluar dari dadanya saat ia membalikkan badan dan melihat Serena sudah berdiri tegak di ambang pintu dengan senyum manisnya yang memesona.
"Yuk, kita keluar makan siang bersama, Mas. Kebetulan jadwalku hari ini lagi kosong dan sengaja kulonggarkan buat kamu," ajak Serena sembari melangkah anggun mendekat.
Seketika itu juga, semua bayangan dan pikiran tentang Winda langsung hilang menguap dari kepala Aryo. Sebagai pria yang manipulatif dan pintar bersandiwara, Aryo buru-buru mengubah ekspresi wajahnya dan memasang senyum manis profesionalnya. "Yuk, Sayang. Kebetulan mas juga udah lapar banget."
Mereka berdua akhirnya pergi berjalan kaki menuju sebuah kafe estetik berkelas yang letaknya berada di dekat gedung kantor. Setelah memesan beberapa menu makanan mahal dan duduk berhadapan di sudut ruangan yang nyaman, Serena menopang dagunya dengan kedua tangan. Ia menatap Aryo lekat-lekat dengan pandangan mata penuh binar rencana masa depan yang indah.
"Sayang, aku baru sadar deh... kayaknya kita belom pernah double date sekalipun ya sama Winda dan suaminya semenjak kita berdua nikah? Gimana kalau kapan-kapan kita agendakan buat bertemu, jalan, dan makan bareng sama mereka?" ucap Serena dengan nada suara yang sangat santai dan tanpa beban.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Aryo mendadak tersedak dengan sangat hebat mendengar rentetan kalimat itu keluar dari mulut Serena, tepat di saat ia sedang meneguk air minumnya. Wajah tampan Aryo langsung memerah padam karena panik dan terkejut setengah mati. Jantungnya serasa berhenti berdetak selama beberapa detik. Double date? Bertemu bersama Winda dan suaminya, Baskara?! Bagi Aryo, ide itu sama saja dengan mengantarkan lehernya sendiri ke dalam kandang singa yang siap mengoyak rahasianya.
Serena yang terkejut melihat suaminya tiba-tiba terbatuk-batuk hebat langsung panik. Ia dengan cepat menggeser kotak tisu ke arah Aryo. "Sayang?! Kamu enggak apa-apa? Ya ampun, kok bisa sampai tersedak parah begitu sih minumnya? Pelan-pelan dong."
Aryo buru-buru mengambil tisu, mengelap sisa air minuman yang tumpah dan membasahi kemeja kerja necisnya. Ia mencoba sekuat tenaga, memeras seluruh kemampuan aktingnya untuk menetralkan ekspresi wajah paniknya agar Serena tidak menaruh curiga sedikit pun.
"Aku... aku enggak apa-apa kok, Sayang. Maaf ya, mas cuma kurang fokus aja tadi pas lagi menelan air," jawab Aryo dengan senyuman yang dipaksakan sekuat tenaga meski tangannya sedikit bergetar.
Mencoba membelokkan topik pembicaraan yang mengerikan itu agar rencana double date itu batal total, Aryo kembali membalas perbualan Serena tadi dengan nada suara yang dibuat seolah-olah bijaksana dan penuh pertimbangan. "Mungkin... mereka berdua lagi sibuk-sibuknya sekarang, Sayang. Lagian kan suaminya Winda itu denger-denger baru aja naik jabatan jadi manajer baru di kantornya, pasti jadwal kerjanya lagi padat dan melelahkan banget. Ya, sebaiknya jangan terlalu dipaksa dulu lah kalau sekarang-sekarang ini. Tapi... kalau kamu emang mau banget, ya bisa juga sih nanti mas coba cari waktu yang pas," ucap Aryo dengan sangat manipulatif, berharap kalimatnya bisa membuat Serena mengurungkan niatnya.
Namun, jawaban yang keluar dari bibir Serena berikutnya justru membuat dunia Aryo serasa runtuh dan kiamat instan di tempat duduknya.
Serena tersenyum manis, menggelengkan kepalanya dengan tegas tanda menolak usulan Aryo. "Nanti deh kalau soal sibuk mah bisa diatur. Menurutku mending kita langsung ajak mereka makan malam di rumah kita aja sama-sama weekend ini, Mas. Biar suasananya lebih privat, hangat, dan kita semua bisa ngobrol santai tanpa keganggu orang lain. Nanti sore biar aku yang langsung telepon Winda ya buat mastiin."
Aryo hanya bisa menelan ludahnya dengan sangat kesat di tenggorokan, rasanya seperti menelan pecahan kaca. Kedua tangannya di bawah meja meremas celana kainnya sendiri dengan sangat kencang menahan rasa panik yang menjalar ke seluruh tubuh. Bom waktu yang paling ia takutkan dalam hidupnya, kini justru sumbunya sedang dinyalakan dengan riang gembira oleh istrinya sendiri.