NovelToon NovelToon
DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Mia AR-F

Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.

" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.

Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.

_

Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

07 : Mandor tumbal

Naya yang masih di perjalanan pulang tiba-tiba berhenti. Di tangan kanan dia hp batre 9%, di tangan satunya kertas kontrak lecek. Dia tidak berani menelepon Salsa di kontrakan karna takut akan ada yang mengadu kepada Pak Dermawan, bosnya.

Dia buka kontak, pencet Kak Salsa lalu menghubungi dan untungnya berdering.

Nada sambung, berdering.

'Haloo,' suara Salsa yang terdengar belum tidur menjawab telepon.

"Kak, aku mau resign," suara Naya pelan.

"Kamu gila?" langsung semprot Salsa. "Kakak aja belum ada seminggu balik. Kamu tau kan kalo Kakak mau istirahat, dan sebentar lagi mau buka usaha buat buka toko?"

Naya nelan ludah. Air matanya udah ngumpul hampir jatuh, "Kak... aku nggak kuat kerja di rumah makan Dermawan..."

"Nggak kuat? Nggak kuat apanya?" suara Salsa makin naik, "Kakak kerja selama 6 tahun cuman buat bangun usaha ini. Nggak gampang kerja sama orang, tapi memang begitu! Kakak pernah kerja jadi pembantu orang, tidur di gudang, makan sisa majikan, tapi apa Kakak pernah ngeluh?"

Naya nangis. Nggak bersuara. Cuma air mata netes ke layar hp.

"Yang penting kamu makan, Dek!" Salsa lanjut. "Kamu tinggal bareng Om, bareng Tante. Kalo bukan karna Kakak ngasih uang, nggak bakal mereka mau nerima kamu! Mereka minta tf ini tf itu, Kakak kasih. Buat apa? Buat kamu!"

Naya sesenggukan. Mau jelasin soal kontrak kerja, gentong, nametag, chat mati, kunci tergelinding, tapi mulutnya beku.

"Dan sekarang kamu udah dewasa," suara Salsa nggak melunak. "Udah mulai kerja juga di rantau orang. Masa belum seminggu udah mau nyerah? Mikir lah kau, Dek."

"Kak..." Naya nyoba nyela.

"Kakak dulu udah hampir mati kerja di rantau orang," potong Salsa. "Hampir nggak makan. Tidur cuma 3 jam. Dilecehin mandor. Tapi Kakak tahan. Karena Kakak tau, pulang kampung artinya nggak punya apa-apa."

Naya nutup mulut pake tangan.

"Selagi nggak mati kau di tanah rantau, berjuanglah cari jalanmu sendiri di sana," ujar Salsa dengan tegas.

TUT... TUT... TUT...

Sambungan mati sepihak.

Naya natap layar.

Panggilan berakhir 00:01:43

Batrenya sisa 7%.

Senyap.

Naya kembali melanjutkan langkahnya pulang. Membuka pintu mess yang sudah sepi. Naya ngejatuhin hp ke lantai. Terus nangis. Beneran nangis. Nggak ditahan. Bahunya guncang, tapi nggak ada suara agar yang lain tidak terbangun karna tangisnya.

Di kepala Naya muter semua.

30 juta. Kunci paku. Kata-kata nyelekit Pak Dermawan. Nametag NAYA. BUG! dari laci.

Semua bener. Kakaknya nggak nolong. Bos nggak lepasin. Om Tante nerima dia karena dibayar. Nggak ada rumah buat pulang.

Naya ngejatuhin hp ke lantai. Terus nangis. Beneran nangis. Nggak ditahan. Bahunya guncang, tapi nggak ada suara agar yang lain tidak terbangun karna tangisnya.

KREK.

Pintu kamar kebuka pelan. Rosa.

Rosa menjulurkan tangannya pada Naya yang menerima uluran tangan itu. Naya berdiri di bantu oleh Rosa.

Rosa pake daster tidur, rambut diiket asal. Matanya sembab kayak habis nangis, atau habis tidur. Melihat Naya jongkok di lantai, nangis nggak bersuara, hp sama kertas kontrak berceceran.

"Kamu kenapa?" Tanya Rosa.

Naya mendongak. Mukanya basah, mata merah. Dia mau jawab, tapi cuma bisa nunduk lagi. Malu.

Rosa jongkok. matanya melihat kertas kontrak lecek di lantai. PASAL 13. Angka 30 juta.

Rosa tentu kaget, "Udah ngomong sama Pak Dermawan?"

Naya ngangguk. Masih sesenggukan, "Udah... Enggak... Enggak bisa..."

"Hm."

Rosa ambil hp Naya dari lantai. Layar retak dikit. Batrenya 6%. Dia matiin, terus ngambil kertas kontrak, dilipet rapi.

"Ayo ke kamar. Jangan disini." Ajak Rosa.

"Kontrak kerja ini jangan sampe hilang." Rosa mengingatkan.

Mereka berdua pun udah di kamar sekarang, duduk di pinggir kasur.

"Kamu... kamu udah lama di sini, Sa?" suara Naya serak.

Rosa nggak langsung jawab. Dia liat ke pintu, mastiin nggak ada siapa-siapa.

"Setahun lebih." Bisiknya.

"Terus... terus kok betah?"

Rosa ketawa. Pendek. Pahit. "Siapa bilang betah."

"Terus kenapa nggak kabur?" Naya nekat nanya.

Rosa diem lagi, "Karena kabur lebih mahal dari tinggal."

Naya teringat sesuatu, " Tapi... Tapi... Sari... chat itu..." Naya udah nggak peduli ketauan. Dia butuh seseorang yang ngerti.

Rosa langsung nyekap mulut Naya. Cepet. Matanya melotot. "Ssst. Jangan sebut nama itu."

Tangannya dingin. Gemeter. Tapi bukan karena takut sama Naya. Takut kedengeran. Karna Rosa tahu akan ada yang mengadukan percakapan mereka.

Rosa lepasin tangan.

"Di sini tembok ada kuping. Laci ada mata. Kalau mau nangis, nangis di dalem selimut, jangan sama orang."

"Termasuk sama kamu?" Naya nanya lirih.

Rosa natap Naya. Cukup lama.

Akhirnya Rosa berdiri.

"Udah. Tidur. Besok kamu giliran kamu lembur karna Abel gak datangp. Kamu jangan sampe telat. Kalau telat, yg rugi bukan cuma kamu." Ujar Rosa ingin keluar kamar, dia mual sampai harus menutup mulutnya agar muntahannya tidak keluar.

"Sa," panggil Naya pelan.

Rosa berhenti. Nggak noleh.

"Makasih... Udah peduli."

Pundak Rosa naik turun. Sekali. Kayak nahan napas. Terus dia keluar. Tutup pintu.

Naya sendirian lagi. Tapi kertas kontrak udah nggak lecek. Udah dilipet rapi.

Di balik pintu kamar mandi, kedengeran suara air. Rosa muntah di kamar mandi. Pelan. Mengeluarkan semua isi perutnya.

Dia ngelap kasar mulut pake tangan. Napasnya putus-putus. Di mata masih kebayang kertas kontrak Naya. 30 juta, dan juga tangisan Naya.

'Makasih... Udah peduli.'

Teringat suara Naya.

Namun di sisi lain, Rosa ingat perbincangannya dengan Abel tadi siang.

Abel nyegat tangan Rosa yang sedang mencuci piring. Mukanya sembab. Hp masih di tangan. Layar sudah retak, chat vonis mati masih kebuka.

'Giliran kamu. Kamu yang akan mati. Abel.'

"Rosa.." Suara Abel pecah, "Tolong aku, Sa..”

Rosa nggak noleh. Tangan tetep gosok wajan, "Kenapa?"

"Chat ini... Pak Dermawan yg ngirim kan?" Abel sesenggukan, "Aku takut, Rosa. Aku nggak mau kayak Sari..."

Rosa diem. Dia teringat akan Sari.

"Rosa." Abel ngejatuhin diri megang kaki Rosa, memohon, "Tolong... Ganti aja sama Naya. Dia baru. Dia nggak tau apa-apa. Dia lebih gampang..."

Tangan Rosa berhenti gosok wajan. Air keran masih ngucur. Kedua matanya melotot kaget, darimana Abel tahu?

"Dia nggak punya siapa-siapa juga, dia yatim piatu." lanjut Abel. "Kakaknya aja nggak peduli. Kalo dia yg mati, nggak ada yg nuntut. Kalo aku... Ada ibu di Cianjur..."

Rosa pelan-pelan nutup keran. Hening.

Dia jongkok. Natap Abel.

"Darimana kamu tau?" Tanya Rosa serius.

"Teh Intan." Jawabnya.

Rosa membuang wajah benci, tentu saja Intan tahu kalo Rosa adalah mandor tumbal di Rumah Makan Dermawan. Intan pernah kerja di sana, tidak terikat kontrak kerja tapi terikat sumpah mati sebagai budak Pak Dermawan yang menjadi pengawas mereka di mess ini.

Di ingatan Rosa ada Wulan yang juga pernah melakukan hal seperti ini.

Rosa gigit bibir sampe berdarah. Tangannya gemeter mengingat semua masalalunya yang mengorbankan orang lain demi keselamatannya.

"Iya," akhirnya Rosa bisik. Cepet. Kayak takut didenger tembok.

"Iya, Naya aja." Jawab Rosa tidak ingin kejadian yang terjadi pada Wulan terulang lagi kepada Abel. Kejadian yang hanya dia sendiri yang tahu.

Abel nangis kenceng. Nempel ke Rosa, "Makasih, Sa... Makasih..."

Rosa nepuk punggung Abel. Sekali. Kaku, "Tapi kamu diem. Jangan bilang siapa-siapa. Anggep chat itu dari orang iseng. Besok kamu pura-pura sakit. Jangan datang ke rumah makan dulu."

Abel ngangguk-ngangguk. Paham.

Rosa melihat kaca di depannya yang memantulkan dirinya. Matanya merah. Bukan karena nangis tapi karena benci dengan apa yang di perbuatnya sendiri.

Dia ngomong sama bayangannya sendiri, pelan banget, "Gue udah 4x narik orang. Sari. Wulan. Dinda. Yuni. Sekarang Naya... Lima."

Rosa memukul wastafel.

Prang!

"Gue mandor tumbal, bukan malaikat, gue iblisnya." desisnya, "Gue gak nyelamatin Abel, gue cuman nyelamatin diri gue sendiri. Naya... Naya lagi sial aja karna dia yatim piatu dan emang bagusnya jadi tumbal."

Dia kumur. Buang air. Ngelap muka.

Pas buka pintu kamar, Naya udah tidur megang kertas kontrak yg udah dilipet. Di pipinya masih ada bekas air mata.

Rosa berjalan ke kasurnya. Tidur di sebelah Naya. Dia rebahan. Miring. Membelakangi Naya.

"4 hari lagi." Desis Rosa mengingat tanggal 13 akan terjadi sebentar lagi, hari keramat dia akan menumbalkan seseorang lagi selama 3 bulan sekali.

Namun disisi lain, pikiran Rosa masih tertuju kepada sosok mendiang adiknya, Nina.

1
Sarah
Noooo! Abelllll Jangan matiiii! 🙅‍♀️😃
Sarah
Dari bahasa Sunda kah referensi kalimat dan nama tempat makannya sendiri? Atau bukan?
Sarah: Yahh... bahasa Jawa sama Sunda kayaknya emang banyak kata yang agak mirip deh. Dan kalau gak salah juga akar bahasanya sama sih. Meski tetep beda. Kalau di Sunda sih “Dhahar Kudu Wareg” itu kayak, “Makan Harus Kenyang” atau kalau konteksnya emang nama ya “Dhahar Harus Kenyang”. Meskipun di Sunda tulisan “Dhahar”-nya gak ada ‘H’-nya sih. “Dahar” aja, tapi bunyinya sama. Kalau di Jawa “Dhahar Kudu Wareg”-nya artinya apa tuh kak?
total 2 replies
Sarah
Kakaknya Naya menarik juga. Aku emang belum baca sampai jauh tapi jujur ada sedikit harapan dia bisa terlibat jugalah di cerita meskipun mungkin gak bisa bener-bener bantu tapi bisa disebut atau diceritakan lagi sih. Kayaknya dia tokoh yang potensial deh. Gimana dia yang cuek banget sama orang lain kayak gak ada ramah-ramahnya. (yang jujur agak curiga itu karena perjalanan merantau yang sulit juga. Selain entah karena mungkin itu emang sikap dasarnya.)
Mia AR-F: kk salsa mah udah tau dunia rantau sekeras apa 🥹
total 1 replies
Sarah
Maksudnya? Simak kah kak?
Mia AR-F: iya kk simak 🤭
total 1 replies
Sarah
Nama adalah doa. 😃
Sarah
Ngakak 😂
Sarah
Suasananya beneran hangat dan akrab banget yah? Biasanya kan seri horor atau thriller selalu ngasih suasana yang udah mencurigakan dan lingkungan orang-orang di sekitar yang sepi, individualis, dll. Tapi ini enggak, jadi makin serem karena yang terlihat aman ternyata ada sesuatu dibaliknya. Apalagi kalau terjadi di dunia nyata. 💀
Menarik sih, kalau ada waktu aku akan lanjut. 👍
Semangattt. 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!