NovelToon NovelToon
Langit Tersegel: Rise Of Fengxuan

Langit Tersegel: Rise Of Fengxuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dan budidaya abadi / Epik Petualangan
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: LEVIATHAN_M.S

“Ayam kecil, berhenti berlari dan kembalikan buah persikku!”

Ladang herbal memenuhi lereng gunung sementara asap putih mengepul dari dapur-dapur besar di berbagai area. Aroma daging panggang memenuhi udara dan di kejauhan ratusan hewan spiritual terlihat berkeliaran bebas di padang rumput pegunungan.

“Mulai hari ini kandang ayam spiritual bagian timur menjadi tanggung jawabmu.”

Di sisi lain, Suara pisau, dentuman panci, dan teriakan para murid dapur bercampur menjadi satu seperti pasar pagi yang kacau. Aroma makanan memenuhi seluruh udara pegunungan.

“Adik kecil! Cepat potong sayuran itu!”

“Siapa yang membakar daging bagian utara?!”

“Tambahkan garam spiritual ke sup nomor tiga!”

Ini adalah kehidupan yang tenang dan penuh kejadian dramatis tak terlupakan dari Sekte Forgotten Blade. Kehidupan beternak ayam Bai Fengxuan sebelum ia tahu kebenaran pahit dari dunia kultivasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LEVIATHAN_M.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 19 - Air yang Tenang

Malam di Puncak Awan Pengembara terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya ketika Bai Fengxuan kembali ke gubuk kayunya sambil membawa manual kultivasi pemberian Tetua Ji di tangannya. Kabut putih perlahan bergerak melewati lereng gunung dan menyelimuti jalan-jalan setapak batu yang mulai sepi setelah lonceng malam berbunyi. Dari kejauhan masih terdengar suara ayam spiritual dan dengusan samar babi dari kandang utara, namun dibanding beberapa hari lalu suasana sekte sudah kembali jauh lebih tenang.

Rumor mengenai “hantu api penunggang babi” memang masih dibicarakan sebagian murid luar, terutama oleh Xu Liang yang sekarang membawa lebih banyak jimat dibanding sebelumnya. Namun para kakak senior maupun murid dalam sudah mulai kehilangan minat terhadap cerita itu. Sebagian besar menganggap para penjaga malam hanya terlalu panik dan membesar-besarkan apa yang mereka lihat di tengah kabut dan api malam.

Dan itu justru membuat Bai Fengxuan jauh lebih lega. Setidaknya tidak ada seorang pun yang mencurigainya.

Han Gu sendiri tidak berada di sekte malam itu. Kakak seniornya ikut turun gunung bersama beberapa murid luar lain untuk mengantar hasil panen spiritual menuju Kota Canglan. Sebelum pergi, Han Gu bahkan masih sempat membungkus beberapa potong daging babi spiritual menggunakan daun besar sambil berkata bahwa “seorang pria sejati tidak boleh kelaparan di perjalanan.”

Karena itulah malam itu Bai Fengxuan sendirian di gubuk kayunya. Anehnya, suasana terasa sedikit berbeda tanpa suara Han Gu yang biasanya ribut sendiri di dekat tungku. Gubuk kecil itu menjadi jauh lebih tenang. Hanya suara api yang menyala pelan di dalam tungku batu, desir angin malam di sela papan kayu, dan suara rebusan sup yang perlahan mendidih di atas wajan hitam.

Potongan daging babi spiritual terakhir masih tersisa malam itu.

Kuahnya kini berubah jauh lebih pekat setelah dipanaskan berkali-kali selama beberapa hari terakhir. Aroma rempah dan qi spiritual bercampur menjadi hawa hangat yang memenuhi seluruh ruangan kecil tersebut.

Bai Fengxuan duduk bersila di depan meja kayu sambil membuka perlahan manual kultivasi berjilid biru tua itu. Cahaya lampu minyak memantul samar di lembaran-lembaran tua yang dipenuhi tulisan rapi.

Ia awalnya mengira manual itu akan berisi teknik pedang, mantra api, atau metode bertarung seperti yang sering dibicarakan para murid luar. Namun semakin ia membaca, semakin ia menyadari bahwa sebagian besar isi buku tersebut justru membahas sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Tentang hati seorang kultivator dan cara memandang dunia. Lalu tentang bagaimana seseorang berjalan di jalan kultivasi.

Bai Fengxuan perlahan mengambil mangkuk sup hangat di sampingnya sambil terus membaca.

“Jalan kultivasi setiap orang berbeda karena hati manusia tidak pernah sama.”

Tulisan itu membuatnya sedikit mengernyit.

Ia membaca bagian tersebut beberapa kali sambil menyeruput kuah hangat perlahan. Qi spiritual lembut dari daging babi mulai menyebar ke tubuhnya seperti aliran air hangat yang mengalir di dalam meridian.

Di luar, angin malam bergerak pelan melewati hutan bambu. Bai Fengxuan mulai berpikir mengenai satu hal yang terus disebutkan di dalam manual itu.

Alasan seseorang berkultivasi.

Ada orang yang ingin menjadi kuat. Ada yang ingin membalas dendam. Ada yang ingin mengejar umur panjang. Dan ada pula yang hanya takut mati.

Tatapannya perlahan bergerak ke arah tungku batu yang menyala hangat di sudut ruangan. Cahaya merah dari Kayu Api Scarlet memantul lembut di dinding kayu tua gubuknya.

Lalu tanpa sadar ia mulai berpikir mengenai dirinya sendiri. Apa alasan dirinya berkultivasi?

Pertanyaan itu terasa aneh.

Selama ini ia hanya mengikuti alur hidup begitu saja. Ia masuk akademi Forgotten Blade, menjadi murid luar, membersihkan kandang ayam spiritual, belajar kultivasi dasar bersama murid lain, lalu secara tidak sengaja berhasil memasuki Qi Gathering setelah makan ayam spiritual hasil curian.

Semuanya terasa sangat alami sampai ia tidak pernah benar-benar memikirkan tujuan akhirnya.

Bai Fengxuan duduk diam cukup lama sebelum akhirnya tertawa kecil sendiri.

“Mungkin…” gumamnya pelan sambil melihat potongan daging di mangkuknya, “…supaya bisa makan enak selamanya.”

Kalimat itu terdengar konyol, tetapi semakin dipikirkan justru terasa cukup jujur. Makanan spiritual memang benar-benar luar biasa.

Ia bahkan masih bisa mengingat jelas rasa ayam goreng pertama yang ia masak menggunakan wajan hitam. Dan sekarang setelah mencicipi sup babi spiritual, standar makanannya terasa semakin tinggi.

Kalau suatu hari ia menjadi kultivator kuat, bukankah hidupnya akan jauh lebih menyenangkan? Ia tidak perlu lagi diam-diam mencuri ayam bersama Han Gu saat tengah malam.

Memikirkan itu membuat Bai Fengxuan tersenyum kecil sambil kembali membaca manual di tangannya. Namun perlahan ekspresinya mulai berubah serius ketika membaca bagian berikutnya.

“Kultivasi adalah jalan melampaui batas manusia fana.”

Tatapannya bergerak perlahan menelusuri tulisan demi tulisan.

“Foundation Establishment memperpanjang umur hingga lebih dari seratus tahun.”

“Gold Core dapat hidup dua ratus tahun.”

“Nascent Soul mampu bertahan hingga lima ratus tahun.”

Bai Fengxuan langsung terdiam. Api tungku bergerak pelan di matanya sementara suasana malam mendadak terasa jauh lebih sunyi dibanding sebelumnya.

Lima ratus tahun.

Ia bahkan tidak bisa membayangkan selama apa itu. Kalau seseorang hidup selama itu, maka ia mungkin akan melihat generasi manusia lahir dan mati berkali-kali. Kota berubah. Dinasti runtuh. Gunung dan sungai tetap ada, tetapi orang-orang di sekitarnya sudah berbeda seluruhnya.

Untuk pertama kalinya Bai Fengxuan benar-benar memahami bahwa dunia kultivasi bukan sekadar tentang menjadi kuat. Para kultivator sebenarnya sedang berperang melawan waktu.

Ia kembali membaca perlahan sambil mencoba memahami isi buku itu lebih dalam. Semakin lama, ia mulai menyadari bahwa manual kultivasi tersebut terus menekankan satu hal penting.

Ketenangan.

“Qi spiritual mengikuti hati.”

“Hati yang kacau membuat aliran qi tidak stabil.”

“Seorang kultivator harus memahami ketenangan sebelum mengejar kekuatan.”

Bai Fengxuan mengulang bagian itu beberapa kali. Kemudian ia mencoba duduk lebih tegak sambil mengikuti metode pernapasan yang dijelaskan di dalam buku.

Tarik napas perlahan.

Rasakan qi bergerak.

Buang napas perlahan.

Jangan terburu-buru.

Untuk pertama kalinya sejak memasuki Qi Gathering, ia mulai benar-benar merasakan aliran qi di dalam tubuhnya menjadi lebih stabil. Tidak lagi bergerak liar seperti sebelumnya. Sensasinya terasa seperti sungai kecil yang mengalir tenang di antara bebatuan.

Malam itu menjadi malam yang panjang.

Api tungku perlahan mengecil sementara Bai Fengxuan terus membaca manual kultivasi hingga larut malam. Kadang ia berhenti untuk berpikir. Kadang ia mencoba mengatur napas sambil mengingat penjelasan Tetua Ji di aula kelas.

Dan tanpa disadari suasana hatinya benar-benar menjadi jauh lebih tenang dibanding biasanya.

Keesokan paginya, matahari baru saja mulai muncul dari balik pegunungan ketika Bai Fengxuan berjalan menuju sungai kecil di kaki lereng sekte sambil membawa batang bambu panjang dan seember kayu kosong di tangannya.

Kabut pagi masih menggantung tipis di atas permukaan air. Suara sungai mengalir pelan di antara bebatuan hitam sementara dedaunan bambu bergerak lembut tertiup angin gunung.

Tempat itu sangat tenang.

Biasanya hanya beberapa murid luar yang datang pagi-pagi untuk mengambil air atau mencuci pakaian.

Bai Fengxuan duduk di atas batu besar di tepi sungai lalu mulai memasang umpan sederhana di ujung kailnya. Setelah itu ia melempar kail perlahan ke permukaan air dan duduk diam sambil memandangi aliran sungai.

Ia sebenarnya tidak terlalu peduli apakah akan mendapatkan ikan atau tidak. Yang ia inginkan hanyalah suasana tenang seperti yang dijelaskan di dalam manual kultivasi semalam.

Dan memang benar, duduk diam di tempat seperti ini membuat pikirannya terasa jauh lebih ringan. Beberapa saat kemudian suara langkah kaki pelan terdengar dari jalan setapak belakangnya.

Lin Shuyue muncul dari balik rumpun bambu sambil membawa ember kayu kecil di tangannya. Gadis itu awalnya hanya berjalan menuju sungai seperti biasa, namun begitu melihat Bai Fengxuan duduk sendirian di atas batu sambil memegang pancing, langkahnya perlahan melambat.

Ekspresi bingung langsung muncul di wajahnya.

“Bai Fengxuan?”

Bai Fengxuan menoleh sedikit lalu mengangguk kecil.

“Pagi.”

Lin Shuyue berjalan mendekat sambil menatap batang pancing di tangannya dengan heran. “Kau sedang… memancing?”

“Mm.”

Gadis itu semakin bingung. Selama ini Bai Fengxuan yang ia kenal selalu sibuk membersihkan kandang ayam, mengangkut pakan, atau ikut membuat kekacauan bersama Han Gu dan Xu Liang.

Melihatnya duduk diam seperti ini terasa sangat tidak biasa. Lin Shuyue akhirnya berhenti di dekat batu tempat Bai Fengxuan duduk.

“Sejak kapan kau suka memancing?”

Bai Fengxuan memandangi permukaan sungai beberapa saat sebelum menjawab santai.

“Tidak terlalu suka.”

“Lalu kenapa datang pagi-pagi ke sini?”

Bai Fengxuan berpikir sebentar sebelum mengangkat bahu pelan.

“Kemarin aku membaca manual kultivasi dari Tetua Ji.” Tatapannya kembali ke sungai. “Di situ ditulis kalau hati seseorang harus tenang supaya qi spiritual bisa mengalir lebih stabil.”

Lin Shuyue sedikit terdiam mendengar itu.

Sedangkan Bai Fengxuan melanjutkan dengan nada biasa saja, “Kupikir duduk di tempat seperti ini lumayan membantu.”

Jawabannya terdengar sangat sederhana. Namun justru karena itu Lin Shuyue sedikit tercengang.

Ia tidak menyangka bocah sepuluh tahun yang biasanya terlihat ceroboh itu benar-benar memikirkan kultivasinya dengan serius.

Kabut pagi bergerak perlahan di atas permukaan sungai sementara cahaya matahari mulai memantul lembut di air yang tenang.

Lin Shuyue akhirnya ikut duduk di batu tidak jauh darinya sambil memeluk ember kayunya.

“Kalau begitu…” ujarnya pelan sambil melihat pelampung kecil di air, “apa memancing benar-benar membantu kultivasi?”

Bai Fengxuan menatap sungai cukup lama sebelum tersenyum kecil.

“Aku juga belum tahu.”

“Tapi setidaknya…” ia menunjuk permukaan air yang tenang di depan mereka, “…tempat seperti ini membuat orang lebih mudah berpikir.”

Dan pagi itu, di tengah suara sungai dan kabut pegunungan Forgotten Blade, keduanya hanya duduk diam memandangi aliran air yang bergerak perlahan di bawah cahaya matahari pagi.

1
Mujib
💪💪💪💪💪
Mujib
👍👍👍👍👍👍
Mujib
😅😅😅😅😅😅
Mujib
👀👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕🖕
Mujib
💪💪💪💪💪
Mujib
👍👍👍👍👍👍
Mujib
😅😅😅😅😅
Mujib
👀👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕🖕
Mujib
💪💪💪💪💪
Mujib
👍👍👍👍👍👍
Mujib
😅😅😅😅😅
Mujib
👀👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕🖕
Mujib
💪💪💪💪💪
Mujib
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!