Lima ratus tahun yang lalu, Lin Chen adalah Kaisar Pedang Ilahi yang berdiri di puncak Alam Dewa. Namun, saat ia mencoba menembus batas tertinggi kultivasi, ia dikhianati oleh tunangannya, Dewi Teratai Salju, dan saudara seperjuangannya, Kaisar Naga Hitam. Tubuhnya hancur, dan jiwanya tercerai-berai.
Kini, lima ratus tahun kemudian, jiwa Lin Chen terbangun di Benua Langit Biru, di dalam tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama. Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Terbesar" di Kota Daun Musim Gugur karena meridiannya cacat sejak lahir. Namun, mereka tidak tahu bahwa di dalam lautan jiwanya, Lin Chen membawa Sutra Pedang Kehampaan, sebuah teknik kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap energi alam semesta.
Dimulailah perjalanan Lin Chen untuk merangkai kembali takdirnya, menginjak jenius arogan, menaklukkan naga suci, dan kembali ke Alam Dewa untuk menuntut darah para pengkhianatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Membakar Bayangan
Udara di pelataran batu yang hancur itu mendadak menjadi sangat pengap. Kabut berbau belerang sisa ledakan Qi elemen api milik Mu Hongling terkesiap, tersapu oleh aura mematikan yang perlahan menguar dari tubuh Lin Chen.
"Formasi Serang!"
Pemimpin Pemburu Bayangan berteriak nyaring. Sebagai pembunuh profesional yang telah melenyapkan belasan jenius di dalam ranah rahasia, ia tidak meremehkan fakta bahwa Lin Chen mampu menghancurkan formasi rantai mereka hanya dengan pendaratan fisiknya.
Lima pembunuh yang masih utuh melesat dalam lintasan melingkar yang rumit, sementara tiga lainnya yang terluka segera menelan pil pemulihan dan memblokir rute pelarian Lin Chen dari atas tiang-tiang batu.
Sret! Sret! sret!
Rantai besi hitam mereka kembali dilemparkan. Kali ini, ujung rantai tersebut dipasangi belati meliuk yang dilapisi racun hijau pekat. Delapan rantai meluncur dari berbagai sudut, mengincar titik mati pada tubuh Lin Chen: tenggorokan, jantung, persendian kaki, dan bahkan lautan Dantian-nya.
"Lin Chen, awas! Rantai itu bisa menyerap Qi jika kau menangkisnya dengan senjata!" jerit Mu Hongling memperingatkan. Tubuhnya terlalu lemas untuk maju membantu, efek dari racun pelemah yang sempat ia hirup sebelum pertarungan dimulai.
Lin Chen berdiri diam. Menghadapi delapan rantai racun yang mendekat bagai ular berbisa, ia bahkan tidak mengangkat Pedang Berat Penelan Bintang dari bahunya.
"Menyerap Qi? Rantai mainan semacam ini bahkan tidak layak disebut sebagai replika Rantai Pengikat Dewa," ucap Lin Chen datar.
Tepat ketika ujung-ujung belati beracun itu berjarak satu inci dari kulit jubah hitamnya, Lin Chen mengambil satu langkah kecil.
Sembilan Langkah Kehampaan: Langkah Pemutus Bayangan!
BAM!
Udara di tempat Lin Chen berdiri meledak kecil. Distorsi ruang yang dihasilkan dari langkah tersebut menciptakan riak kejut melingkar.
TING! TING! TING! TING!
Delapan belati beracun yang meluncur deras itu mendadak kehilangan target dan saling bertabrakan satu sama lain di udara kosong, memercikkan bunga api dan cairan racun ke batu granit.
"Di mana dia?!" Pemimpin Pemburu Bayangan membelalakkan matanya di balik topeng perak.indra spiritualnya menyapu ke segala arah, namun lautan energi pedang liar di Hutan Pedang Karat membuat sensornya kacau balau.
"Di atasmu, Bodoh."
Sebuah suara dingin bergema dari udara.
Di atas tiang batu setinggi sepuluh meter tempat tiga pembunuh yang terluka bersiap, sesosok bayangan hitam telah berdiri tegak. Lin Chen memegang gagang pedang raksasanya dengan kedua tangan.
Sebelum ketiga pembunuh di dekatnya sempat berbalik, Lin Chen mengayunkan pedangnya secara vertikal ke bawah, membelah udara menuju lantai pelataran. Ia menyuntikkan Qi kental dari Sutra Pedang Kehampaan tingkat 9 Puncak miliknya.
"Tebasan Pembalik Langit!"
WUUUUUUSSSHH!
Bilah pedang hitam tumpul itu tidak mengeluarkan cahaya yang menyilaukan, melainkan sebuah garis hitam legam setebal lengan manusia yang melesat memotong ruang.
KRAAAAK!
Tiang batu raksasa setinggi sepuluh meter itu terbelah sempurna dari puncak hingga ke dasarnya menjadi dua bagian simetris layaknya bambu yang disayat pisau tajam. Tiga pembunuh yang berada di atasnya bahkan tidak sempat menjerit saat tubuh mereka ikut terbelah dua secara vertikal, menyemburkan organ dalam dan darah ke dinding batu.
"T-Tiga tingkat 9 puncak... mati dalam sekejap?!" Sisa lima Pemburu Bayangan di bawah sana gemetar hebat. Ini bukan lagi pertarungan antar murid; ini adalah pembantaian sepihak oleh seorang monster berwujud manusia fana!
Lin Chen melompat turun dari pecahan tiang batu, mendarat dengan ringan tanpa menimbulkan suara di depan pemimpin pembunuh yang kini mulai melangkah mundur ketakutan.
"Kalian bilang Pangeran Xiao Tian membayar kalian untuk mengambil Inti Api Teratai Merah?" Lin Chen melangkah maju perlahan, membiarkan ujung Pedang Penelan Bintang menyisir lantai batu, menghasilkan suara desingan tajam yang mengiris mental musuh. "Lalu, berapa jaminan nyawa yang diberikan Xiao Tian pada kalian saat kalian gagal?"
"K-Kau... Jangan meremehkan kami! Ledakan Jiwa Bayangan!"
Sadar bahwa mereka tidak bisa melarikan diri dari kecepatan aneh Lin Chen, pemimpin pembunuh itu menggertakkan giginya hingga hancur. Ia dan empat anak buahnya yang tersisa serentak menusuk dada mereka sendiri dengan belati. Ini adalah teknik terlarang sekte bayangan; membakar separuh umur dan esensi darah untuk meningkatkan kekuatan Qi mereka sebanyak dua kali lipat dalam waktu singkat!
Aura kelima orang itu melonjak gila-gilaan, nyaris mendekati tekanan Ranah Pembentukan Fondasi awal. Udara hitam pekat berbau amis darah menyelimuti tubuh mereka.
"Mati bersama, Iblis Kecil!"
Kelima pembunuh itu melesat maju bersama-sama, berubah menjadi lima sinar hitam yang membawa daya rusak penghancur massal.
Lin Chen melihat keputusasaan mereka dengan tatapan bosan.
Ia memindahkan Pedang Penelan Bintang ke tangan kanannya saja, mengangkatnya sejajar dengan dada, lalu menusukkannya ke depan ke arah ruang kosong di tengah-tengah kelima sinar hitam tersebut.
"Bentuk tanpa wujud, kehampaan tanpa batas. Hancur."
WUNGGG!
Rune emas darah di bilah Pedang Penelan Bintang menyala dengan intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pedang itu melepaskan daya hisap spiritual yang luar biasa dahsyat. Energi hitam hasil pembakaran esensi darah milik kelima pembunuh itu mendadak berbelok arah, tersedot secara paksa ke dalam bilah pedang hitam Lin Chen layaknya air yang masuk ke dalam pusaran lubang pembuangan!
"T-Tidak! Qi-ku! Esensi darahku!"
Kelima pembunuh itu menjerit histeris saat merasakan seluruh kekuatan yang baru saja mereka bakar diserap habis oleh pedang rongsokan tersebut. Tubuh mereka yang melesat maju mendadak kehilangan tenaga dan menjadi lemas, perlahan-lahan mengering menjadi keriput seperti mayat yang telah dikubur ratusan tahun.
PRANG!
Lin Chen mengibaskan pedangnya sekali, dan kelima tubuh kering itu hancur menjadi debu kelabu sebelum sempat menyentuh ujung jubah hitamnya.
Hening kembali menguasai pelataran batu.
Mu Hongling menyaksikan seluruh proses itu dari awal hingga akhir dengan tubuh yang kaku di lantai. Mulut cantiknya terbuka lebar, menatap debu-debu kelabu yang perlahan tertiup angin malam Makam Pedang. Delapan pembunuh bayaran puncak... musnah dalam waktu kurang dari lima menit, dan pria di depannya ini bahkan tidak meneteskan sebutir keringat pun.
Lin Chen berjalan mendekati tumpukan debu, memungut lima cincin penyimpanan yang tertinggal, lalu memasukkannya ke dalam sakunya dengan santai. Setelah selesai menjarah, ia baru membalikkan badannya dan menatap Mu Hongling yang masih terduduk lemas.
"Kau bisa berdiri?" tanya Lin Chen datar.
Mu Hongling menelan ludah dengan susah payah, mencoba mengedarkan Qi elemen apinya untuk menolak sisa racun di tubuhnya, namun tubuhnya justru bergetar hebat. "R-Racun Penghancur Qi milik mereka... terlalu kuat. Aku butuh setidaknya dua hari untuk memurnikannya sendiri."
Lin Chen berjalan mendekatinya, lalu jongkok di depan gadis bergaun merah itu. Tanpa meminta izin, ia meletakkan telapak tangan kanannya tepat di atas ubun-ubun kepala Mu Hongling.
"J-Jangan bergerak sembarangan, apa yang mau kau—" sebelum Mu Hongling bisa memprotes karena panik, sebuah aliran energi yang sangat murni, tajam namun sehangat matahari musim semi mengalir masuk dari kepala menuju ke seluruh meridiannya.
Qi dari Sutra Pedang Kehampaan milik Lin Chen merangsek masuk, memburu sisa-sisa racun hijau di dalam tubuh Mu Hongling dan menghancurkannya hingga menjadi gas hitam yang keluar dari pori-pori kulit gadis itu.
Hanya dalam waktu sepuluh tarikan napas, wajah Mu Hongling kembali memancarkan rona merah sehat. Meridiannya bersih total, bahkan terasa lebih segar dari sebelum pertarungan.
Lin Chen menarik kembali tangannya dan berdiri. "Sudah selesai. Sekarang pergilah. Tempat ini akan segera dipenuhi oleh anjing-anjing peliharaan Jiang Wuya."
Mu Hongling bangkit berdiri, merapikan gaun merahnya yang robek dengan wajah yang sedikit memerah—entah karena sisa hawa panas Qi Lin Chen atau karena perasaan canggung. Ia menatap Lin Chen dengan serius.
"Lin Chen, terima kasih atas bantuanmu," ucap Mu Hongling tulus. "Tapi kau harus berhati-hati. Pangeran Xiao Tian tidak sesederhana yang kau lihat di akademi. Pemburu Bayangan tadi dikirim olehnya untuk menjebakmu di jalur ini. Jiang Wuya dan seluruh pasukan utama Perkumpulan Naga Sejati saat ini sedang berkumpul di Lembah Pedang Patah di kaki gunung pusat. Mereka telah menyiapkan Formasi Pembantai Nyawa untuk menyambutmu."
Lin Chen menyarungkan kembali Pedang Penelan Bintang ke punggungnya. Mendengar informasi tentang jebakan besar yang menunggunya, ekspresinya tidak menunjukkan kewaspadaan, melainkan seulas senyuman tipis yang penuh dengan kepuasan mistis.
"Lembah Pedang Patah? Formasi Pembantai Nyawa?" Lin Chen membalikkan badannya, menatap ke arah gunung pusat yang menjulang di balik kabut darah.
"Sangat bagus. Aku memang sedang mencari tempat yang memiliki cukup banyak energi darah untuk memicu terobosan Fondasiku. Jiang Wuya benar-benar mengerti apa yang kubutuhkan."