Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: KONDISI ARKA YANG KIAN MEROSOT
Bab 21: Kondisi Arka yang Kian Merosot
Suara bising mesin kompresor dan dentingan kunci pas yang beradu dengan velg motor menjadi lagu latar yang menemani hari-hari Revan belakangan ini. Sudah hampir tiga minggu ia memutus semua akses komunikasi dengan orang-orang di rumahnya. Ponselnya sengaja ia matikan total, diganti dengan nomor baru yang hanya diketahui oleh Miko dan Cak To, pemilik bengkel tempatnya bekerja paruh waktu.
Bagi Revan, kehidupan barunya di bengkel malam ini adalah pembuktian. Ia ingin menunjukkan pada dunia, terutama pada Ayah dan Ibunya, bahwa dia bisa berdiri di atas kakinya sendiri tanpa harus menjadi "si anak emas" yang selalu disuapi kemudahan.
Namun, sekeras apa pun Revan mencoba mendelet memori tentang rumah, ada hal-hal di sekolah yang tetap tidak bisa ia hindari. Salah satunya adalah keberadaan Arkael Dirgantara.
Siang itu, terik matahari membakar lapangan sekolah dengan sangat terik. Bel istirahat pertama baru saja berbunyi, memicu gelombang siswa berseragam putih-abu berhamburan keluar dari kelas menuju kantin. Revan berjalan santai di koridor lantai satu bersama Miko, bersiap untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan sejak jam pelajaran matematika tadi.
"Eh, lo denger cerita anak-anak kelas sebelah gak?" Miko membuka obrolan sembari menyenggol lengan Revan pelan, matanya melirik waspada ke arah koridor atas.
"Cerita apa? Males gue kalau soal gosip gak mutu," sahut Revan malas, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya.
"Ini soal abang lo, si Arka," suara Miko agak merendah, membuat Revan menghentikan langkah kakinya sesaat sebelum kembali berjalan dengan wajah yang mendadak mengeras. "Tadi pas jam pelajaran fisika di kelas dua belas, abang lo tiba-tiba izin ke toilet lama banget. Pas disusul sama ketua kelasnya, ternyata dia udah lemes banget di kamar mandi. Katanya sampai muntah-muntah parah, Van. Mukanya pucat kayak mayat pas digotong ke ruang UKS tadi."
Mendengar penuturan Miko, dada Revan sempat berdesir aneh selama satu detik. Ada secercah insting bawah sadar yang mendesaknya untuk berbalik dan memeriksa kondisi kakaknya. Namun, ego remaja Revan yang telanjur terluka gila-gilaan karena tuduhan mencuri tempo hari dengan cepat mengambil alih kendali otaknya.
Sudut bibir Revan terangkat, membentuk seulas senyuman sinis yang sarat akan rasa muak. "Muntah-muntah? Paling juga akting dia doang yang baru kumat."
"Van, tapi kata anak-anak yang ngeliat, kondisi dia emang beneran drop—"
"Halah, basi, Mik!" potong Revan dengan nada ketus, suaranya naik satu oktav membuat beberapa siswa yang lewat sempat menoleh. "Lo kayak gak tahu abang gue aja. Dia itu kan pinter banget nyari simpati. Hari ini ada kuis fisika bab berat kan di kelas dua belas? Ya paling itu taktik dia doang biar dapet dispensasi dari guru. Tinggal pura-pura lemes, muntah dikit, trus tidur di UKS sambil nunggu Ibu dateng bawa sup hangat. Modus lama."
Bagi Revan yang sudah dibutakan oleh kabut salah paham, segala hal yang terjadi pada Arka selalu memiliki motif terselubung. Ia mengira Arka sengaja memanfaatkan tubuhnya yang "lemah" sebagai senjata utama untuk memonopoli perhatian satu sekolah, termasuk perhatian orang tua mereka.
Revan tidak pernah tahu—dan dinding pembatas ruang UKS di ujung koridor sana menjadi saksi bisu yang teramat memilukan—bahwa saat ini Arka sedang mengalami siksaan fisik yang berada di ambang batas kemampuannya sebagai manusia.
Di dalam ruang UKS yang sepi dan berbau obat-obatan, Arka sedang berbaring miring di atas ranjang periksa berkasur tipis. Kedua lututnya ditarik tinggi hingga menyentuh dada, mencoba mengurangi rasa nyeri yang teramat sangat panas yang meremas pinggang belakangnya. Setiap kali racun urea di dalam darahnya gagal disaring oleh ginjalnya yang sudah rusak total, rasa mual yang luar biasa akan menghantam ululu hatinya, memaksa lambungnya bergejolak hebat hingga memuntahkan cairan kuning yang terasa pahit dan membakar tenggorokan.
"Ughh... uhuk..." Arka meringis lirih, tangan kurusnya mencengkeram sprei putih UKS hingga kuku-kukunya memutih dan bergetar hebat. Air mata menetes melewati pelipisnya, membasahi bantal yang sudah lembap.
Wajah Arka tidak lagi sekadar pucat; ada rona keabu-abuan yang samar di bawah kulitnya yang kian menipis akibat penurunan berat badan yang drastis. Napasnya terdengar pendek-pendek dan tersedat-sedat, seolah pasokan oksigen di ruangan itu telah menolak untuk masuk ke dalam paru-parunya.
Petugas UKS yang merupakan seorang guru piket tampak panik sembari memegangi dahi Arka yang dibanjiri keringat dingin. "Arka, Ibu udah telepon rumah sakit dan Ayah kamu, tapi nomor Ayah kamu gak aktif. Kamu mau Ibu telepon Ibu kamu sekarang?"
Arka menggelengkan kepalanya dengan lemah, memaksakan sepasang matanya yang sayu untuk terbuka sedikit. "Jangan... jangan telepon Ibu, Bu... Arka... Arka cuma kecapekan aja. Nanti kalau... kalau udah istirahat sebentar, pasti mendingan," bisiknya dengan suara yang teramat parau, nyaris tidak terdengar.
Di dalam otaknya yang mulai pening, Arka hanya memikirkan satu hal: dia tidak ingin membuat Ibunya semakin tertekan. Dia tahu betul bagaimana kondisi rumah mereka saat ini setelah Revan kabur. Ibunya sering menangis diam-diam di dapur, dan Ayahnya harus pulang menjelang subuh setiap hari dengan mata yang merah dan tubuh yang membungkuk lelah demi mencari biaya pengobatannya. Arka merasa dirinya adalah pusat dari segala petaka yang menimpa keluarga mereka. Jika dia mengeluh sakit sekarang, dia hanya akan menambah beban yang bisa membunuh orang-orang yang dicintainya.
Sementara itu, di kantin belakang sekolah, Revan sedang asyik melahap mangkuk baksonya dengan lahap. Ia sengaja tertawa keras menanggapi lelucon dari teman-teman geng motornya yang lain, seolah ingin menunjukkan kepada dunia bahwa dia sama sekali tidak terpengaruh oleh apa pun yang terjadi pada sang "anak emas".
Namun, Miko yang duduk di sebelah Revan hanya bisa terdiam sembari mengaduk es teh manisnya dengan pandangan kosong. Miko menatap tangan Revan yang dipenuhi bekas luka hitam oli bengkel, lalu teringat akan ucapan Ayah Revan yang menemuinya secara rahasia tempo hari. Rasa bersalah yang amat besar mulai merayap di dalam dada Miko. Ia memegang rahasia tentang pengorbanan Ayah, ia tahu uang lecek di lacinya adalah bukti cinta pria paruh baya itu pada Revan, tapi di sisi lain, ia melihat Revan yang semakin tenggelam dalam kebencian palsunya pada Arka.
"Van, kalau misalnya... abang lo beneran sakit gimana?" tanya Miko tiba-tiba, memutus gelak tawa di meja kantin tersebut.
Revan menghentikan sendoknya yang baru saja hendak menyuap bakso. Pandangan matanya mendadak berubah menjadi sangat tajam dan menusuk ke arah Miko. Atmosfer di meja itu seketika mendingin.
"Gue udah bilang kan, Mik, gak usah bahas dia lagi di depan gue," desis Revan dengan nada suara yang rendah namun penuh ancaman. "Mau dia sakit beneran, mau dia mati sekalipun, itu bukan urusan gue lagi. Dia punya Ayah sama Ibu yang siap jadi budak perhatian dia dua puluh empat jam. Jadi, stop sok peduli sama orang yang udah bikin gue kayak sampah di rumah sendiri."
Miko tertegun, lalu perlahan menundukkan kepalanya, tidak berani melanjutkan kalimatnya.
Revan kembali melanjutkan makannya dengan sentakan kasar, mengunyah makanannya dengan dada yang bergemuruh kencang. Ego remajanya yang terluka parah telah berhasil mengunci rapat pintu hatinya, menolak semua kebenaran yang mencoba masuk. Kesalahpahaman di hari itu kian mempertebal dinding pembatas di antara dua bersaudara tersebut, membawa Revan melangkah semakin jauh ke dalam kegelapan jalanan malam.
Bersambung.....
.
.
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...