NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:929
Nilai: 5
Nama Author: nurproject

Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.

​Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.

​Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Skakmat di Ruang Tamu

​Aisya merasa pasokan oksigen di sekitar ruangan mendadak menipis. Kata-kata Cassian yang mutlak, tatapan elangnya yang mengunci dari ambang pintu, serta angka mahar sosial yang tidak masuk akal itu membuat kepalanya pening. Pria itu tidak sedang melamar; ia sedang melakukan ekspansi kekuasaan yang dikemas dalam bentuk khitbah.

​Paman Hamdan membalikkan tubuhnya, menatap Aisya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada gurat kecemasan mendalam di wajah tuanya, namun juga ada rasa bingung yang amat besar.

​"Aisya," panggil Paman Hamdan, suaranya melembut, kontras dengan ketegangan yang dibawa pria asing di depan pintu mereka. "Masuklah ke kamar bersama bibimu. Paman butuh berbicara empat mata dengan Tuan Noir."

​"Tapi, Paman—" Aisya mencoba menyela, suaranya bergetar di balik niqab hitamnya.

​"Masuklah dulu, Nak," potong Bibi Maryam lembut sembari merangkul pundak Aisya yang gemetar, menuntun gadis itu menjauh dari ruang tamu.

​Sebelum tubuhnya benar-benar menghilang di balik koridor kamar, Aisya sempat menoleh ke belakang. Cassian masih berdiri di sana, mengamatinya dengan ketenangan seorang predator yang tahu mangsanya tidak memiliki ruang untuk melarikan diri. Ketika pintu kamar tertutup rapat, barulah pertahanan Aisya runtuh. Ia terduduk di tepi ranjang, meremas kedua tangannya yang sedingin es.

​Di ruang tamu, Paman Hamdan mempersilakan Cassian untuk duduk. Jarak sosial di antara mereka terasa begitu tebal. Di atas meja kopi kayu yang sederhana, sertifikat mualaf itu masih tergeletak dengan anggun.

​"Tuan Noir, saya tidak akan menutup mata pada fakta siapa Anda sebenarnya," Paman Hamdan membuka suara setelah keheningan yang panjang. "Nama keluarga Anda, Noir Enterprises, terlalu besar di Toronto. Saya tahu Anda pria yang sangat berkuasa. Dan pria dengan kuasa seperti Anda tidak akan melakukan perpindahan keyakinan lalu datang membawa mahar jutaan dolar ke rumah suburban sederhana ini hanya karena... dorongan impulsif."

​Cassian menyandarkan punggungnya pada sofa kayu, melipat sebelah kakinya dengan santai. Keangkuhannya tidak berkurang, namun ia tahu bagaimana cara menghadapi pria tua yang cerdas dan protektif seperti Hamdan.

​"Saya menghargai kejujuran Anda, Tuan Hamdan," sahut Cassian, suaranya bariton dan stabil. "Saya tidak akan menjual omong kosong tentang cinta pada pandangan pertama kepada Anda. Saya adalah pria yang bergerak berdasarkan target dan kalkulasi. Bagi saya, Aisya adalah wanita dengan prinsip paling kokoh yang pernah saya temui di kota ini. Dia memiliki kualitas yang tidak bisa dibeli dengan uang."

​Cassian memajukan tubuhnya sedikit, menumpukan kedua lengannya di atas lutut. "Dunia di sekitar saya sangat kotor, penuh manipulasi. Saya membutuhkan stabilitas, dan pernikahan dengan wanita seperti Aisya adalah bentuk investasi terbaik untuk masa depan saya. Status mualaf saya mungkin baru berumur satu hari di atas kertas, namun komitmen saya untuk memenuhi haknya sebagai istri tidak akan berkurang satu persen pun."

​Paman Hamdan menghela napas berat. Kejujuran Cassian yang dingin justru lebih melegakannya daripada jika pria itu berpura-pura menjadi mualaf yang saleh demi simpati. Setidaknya, Cassian tidak sedang bersandiwara tentang sifat aslinya.

​"Pernikahan dalam Islam membutuhkan persetujuan dari wanita yang bersangkutan, Tuan Noir," ujar Paman Hamdan tegas. "Mahar lima juta dolar dan kompleks sosial yang Anda tawarkan bisa membangun komunitas ini, tapi saya tidak akan pernah menjual keponakan saya demi uang. Jika Aisya menolak, maka pintu rumah ini akan tertutup untuk Anda selamanya."

​Cassian tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh kemenangan yang tersembunyi. "Maka tanyakan langsung padanya, Tuan Hamdan. Saya akan menunggu jawabannya."

​Paman Hamdan berdiri dan melangkah menuju kamar tidur Aisya. Begitu pintu terbuka, ia mendapati keponakannya sedang duduk menunduk di atas sajadah, tampaknya baru saja menyelesaikan doa singkat di tengah kepanikannya.

​"Aisya," panggil pamannya, duduk di kursi belajar dekat ranjang.

​Aisya mendongak, matanya yang bulat tampak berkaca-kaca. "Paman... tolong tolak dia. Pria itu... dia berbahaya. Dia bukan masuk Islam karena Allah, Paman. Dia hanya memanfaatkan hukum agama kita untuk kepentingannya sendiri. Aku bisa merasakannya."

​Paman Hamdan terdiam sejenak, menatap keponakan yatim piatunya dengan rasa sayang yang mendalam. "Paman tahu, Nak. Pria itu bahkan mengakuinya sendiri di depan Paman bahwa dia adalah pria penuh kalkulasi. Dia tidak berpura-pura menjadi malaikat di depan Paman."

​Paman Hamdan menggenggam jemari Aisya yang dingin. "Tapi Aisya... sertifikat mualafnya sah dari Imam Abdulaziz. Secara hukum syariat, tidak ada lagi alasan bagi kita untuk menolaknya atas dasar perbedaan iman. Mahar yang dia tawarkan... pembangunan fasilitas sosial atas namamu, itu adalah ibadah jariyah yang luar biasa besar nilainya bagi umat. Paman tidak sedang membujukmu karena uang, tapi Paman melihat pria ini memiliki tekad yang mengerikan. Pria sepertinya... jika ditolak dengan cara biasa, Paman takut dia akan menggunakan cara lain yang lebih merugikanmu."

​Aisya tertegun. Kata-kata pamannya ada benarnya. Cassian Noir adalah penguasa absolut di Toronto. Jika ia menolaknya malam ini, pria itu bisa saja menghancurkan yayasan tempatnya bekerja, atau mempersulit hidup keluarganya hanya dengan satu jentikan jari. Langkah mualaf Cassian adalah bentuk 'penghormatan' terakhir yang ditawarkan pria itu sebelum ia menggunakan kekuasaan kotornya.

​Aisya memejamkan matanya rapat-rapat. Dadanya sesak. Ia merasa seperti seekor merpati yang telah digiring masuk ke dalam sangkar emas berjeruji kokoh yang pintunya dikunci dari luar. Syarat batasan mahram yang ia ajukan di perpustakaan hari itu kini justru berbalik menjadi senjata yang mengikat dirinya sendiri.

​"Paman..." bisik Aisya, suaranya terdengar pasrah dan bergetar hebat. "Jika... jika ini adalah takdir yang harus kuhadapi... katakan padanya. Aku menerima lamarannya."

​Ketika Paman Hamdan melangkah kembali ke ruang tamu dengan raut wajah yang teramat berat, Cassian sudah bisa membaca hasilnya. Pria itu berdiri dari sofa, memancing aura dominannya kembali menguasai ruAngan.

​"Aisya menerima lamaran Anda, Tuan Noir," ujar Paman Hamdan, setiap kata terasa seperti pil pahit yang harus ia telan demi melindungi masa depan keponakannya. "Namun, kami meminta waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya secara wajar. Pernikahan membutuhkan—"

​"Tiga hari," potong Cassian mutlak. Suaranya yang bariton tidak menyisakan ruang untuk negosiasi sedikit pun. "Pernikahan akan dilaksanakan tiga hari dari sekarang. Hari Kamis pagi."

​Deg.

​Dari balik tirai pembatas koridor kamar yang sedikit terbuka, Aisya yang sejak tadi mengintip seketika mematung. Jantungnya mencelos seakan terlempar dari dada. Tiga hari?!

​Aisya tidak bisa lagi menahan dirinya. Mengabaikan segala batasan canggung, ia melangkah lebar keluar dari koridor, muncul di ruang tamu dengan dada yang naik-turun menahan pasokan udara yang mendadak terasa mencekam. Sepasang mata bulatnya menatap Cassian dengan kilat kemarahan dan kepanikan yang luar biasa di balik niqabnya.

​"Tiga hari?!" suara Aisya memekik lirih, bergetar hebat. "Tuan Noir, Anda benar-benar sudah kehilangan akal sehat! Ini pernikahan, bukan kesepakatan akuisisi saham yang bisa Anda putuskan tenggat waktunya dalam semalam! Bagaimana mungkin sebuah pernikahan dipersiapkan hanya dalam waktu tujuh puluh dua jam?!"

​Bibi Maryam dan Paman Hamdan pun terperangah. Jangka waktu itu terlalu gila. Namun, Cassian tetap bergeming, menatap Aisya dengan ketenangan yang mematikan.

​"Aku tidak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan urusan birokrasi, Aisya. Tim pengacaraku dan Kevin akan menyelesaikan seluruh dokumen legalitas pernikahan sipil dan pencatatan agama dalam waktu dua puluh empat jam. Seluruh dokumen mahar, kontrak perwalian tanah, dan trust fund atas namamu juga akan siap ditandatangani besok pagi," sahut Cassian tenang.

​Aisya mengepalkan tangannya di balik gamis longgarnya. "Dan bagaimana dengan walimah? Bagaimana dengan syukuran pernikahan? Anda pikir kami akan membiarkan pernikahan ini terjadi begitu saja tanpa mengundang tetangga dan kerabat dekat kami? Di dalam agama kami, mengumumkan pernikahan dan menjamu tamu—walimah—adalah hal yang sangat dianjurkan untuk menghindari fitnah! Tapi Anda bahkan tidak memberi kami waktu untuk bernapas!"

​Cassian terdiam sejenak. Otak geniusnya memproses argumen Aisya dengan cepat. Pria itu tahu, jika ia memaksakan sebuah pesta mewah ala elit Toronto yang diliput media, itu justru akan memicu kecurigaan ayahnya sebelum kertas pernikahan resmi keluar. Sebaliknya, ia harus menghormati prinsip Aisya agar prosesi ini berjalan tanpa hambatan.

​"Aku tidak pernah mengatakan kita tidak akan mengadakan walimah, Aisya," ujar Cassian, suaranya merendah namun tetap sarat otoritas. "Kita akan mengadakan walimah seperti yang kau inginkan. Sederhana, privat, dan hanya dihadiri oleh keluarga serta kerabat dekat dari komunitasmu. Kau yang menentukan konsepnya, kau yang menentukan siapa saja yang datang."

​Aisya tertegun, menatap Cassian dengan sangsi. "Dalam tiga hari? Bagaimana mungkin?"

​"Bagi orang lain, itu mustahil. Tapi bagiku, ini hanya masalah koordinasi," sahut Cassian dengan keangkuhan khasnya yang tak tergoyahkan. "Timku yang akan mendanai dan mengeksekusi semua keinginanmu secara instan. Jika kau ingin katering makanan khas dari komunitasmu, dekorasi yang sederhana di aula Islamic Centre, atau apa pun itu—katakan pada Kevin besok pagi. Tugasmu hanyalah menulis daftar apa yang kau butuhkan dan siapa saja yang ingin kau undang. Sisanya, biarkan kuasaku yang bekerja."

​Cassian maju setengah langkah, menatap lurus ke dalam manik mata Aisya. "Walimahmu akan siap dalam tiga hari, sesuai dengan seluruh batasan syariat yang kau agungkan. Tapi garis waktuku tetap tidak berubah. Hari Kamis pagi, kau akan resmi menjadi Nyonya Noir."

​Aisya menggelengkan kepalanya perlahan, melangkah mundur. Ia merasa kalah telak. Pria ini tidak hanya mematahkan argumen agamanya dengan menjadi mualaf, tetapi ia juga dengan mudah memfasilitasi kewajiban sosial pernikahan mereka menggunakan kekuatan uangnya tanpa melanggar satu pun prinsip Aisya.

​"Anda benar-benar pria yang mengerikan, Tuan Noir..." bisik Aisya, suaranya tercekat di tenggorokan.

​Cassian tidak membantah tuduhan itu. Ia justru merapikan kancing jas hitamnya, bersiap untuk pergi. "Anggap saja ini sebagai efisiensi, Aisya. Sampaikan daftar kebutuhanmu pada Kevin besok. Sampai jumpa tiga hari lagi."

​Dengan ketenangan yang mematikan, Cassian berbalik, melangkah keluar meninggalkan rumah kayu itu. Di luar, pintu gullwing Bugatti Chiron Super Sport miliknya tertutup dengan dentuman solid, sebelum akhirnya raungan mesin W16-nya kembali membelah keheningan malam, meninggalkan keluarga Aisya dalam badai kepanikan dan persiapan pernikahan paling kilat yang pernah ada.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!