NovelToon NovelToon
Solo Reaper At The End Of The World

Solo Reaper At The End Of The World

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: RyzzNovel

Suatu hari, setiap umat manusia dari bumi diseret secara paksa ke dunia apocalypse dimana monster berada. Mereka menerima Aspek, sistem, dan satu tujuan tunggal yakni bertahan hidup.

Player 991 tidak panik. Dia tidak bergantung pada siapapun. Dia tidak mencari bantuan. Dia hanya mulai membunuh.

Sementara yang lainnya membentuk kelompok untuk memastikan keselamatan mereka, Player 991 mendaki papan peringkat global satu demi satu melalui jumlah kill yang dia kumpulkan sendirian.

Namun bertahan hidup saja tidak cukup. Ketika sistem memilih enam pemain terkuat sebagai Sovereign dan memberi mereka kekuasaan untuk membangun kembali peradaban manusia di dunia yang baru, Nate Leicester menemukan dirinya bukan hanya sebagai pemain terkuat — tapi sebagai salah satu dari enam penguasa yang akan menentukan masa depan seluruh umat manusia.

Papan peringkat tidak pernah berbohong. Dan saat ini, hanya ada satu nama di puncak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RyzzNovel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Kathie sangat berhati-hati, dan itu adalah hal yang paling wajar sekaligus mendasar untuk dimiliki siapa pun di dunia ini.

Nate memahami itu. Dia tersenyum kecil, hendak menjawab, ketika sistem tiba-tiba muncul di depannya.

[Quest Tutorial Telah Selesai]

[Fase Survival Sesungguhnya Dimulai.]

[Peringatan: Monster dengan peringkat lebih tinggi kini mulai berkeliaran di seluruh wilayah S86.]

[Dungeon telah muncul di berbagai lokasi di seluruh S86.]

[Kualitas item dan looting yang tersedia kini telah meningkat.]

Bukan hanya Nate, semua orang yang berada di [Aveentire] tampaknya menerima notifikasi yang sama. Itu cukup untuk membuat wajah-wajah di sekeliling ruangan itu seketika memucat. Nate tergoda untuk membuka obrolan chat, tapi segera mengurungkan niatnya.

Dia menatap Kathie. "...Kalau begini, kelompok yang baru pergi tadi mungkin akan dalam bahaya."

Nate merujuk pada kelompok Haron. Kathie yang menyadari hal itu menggigit bibirnya, kesuraman di wajahnya semakin dalam.

Nate mendengus pelan, lalu berbalik ke arah pintu. "Bagaimanapun, sepertinya aku tidak diterima di sini. Kalau begitu, aku akan pergi."

Kathie tampak sedang berpikir keras, mengabaikan setiap kata yang keluar dari mulut Nate. Di sekelilingnya, anggota perkumpulan berbisik-bisik satu sama lain tentang apa yang mungkin terjadi setelah fase tutorial berakhir. Suasana gedung itu mendadak dipenuhi kegelisahan yang menggantung.

Begitu Nate hampir mencapai pintu keluar, sebuah suara memecah keheningan.

"Berhenti di situ."

Nate menghentikan langkahnya. Dia berbalik perlahan dan melirik dari sudut matanya, menemukan seorang pria dengan jaket putih tebal yang berdiri tidak jauh darinya. Rambut hitamnya agak panjang, pupil matanya berwarna kecokelatan, dan caranya berdiri membawa bobot seseorang yang sudah terbiasa diperhatikan.

Kathie yang mendengar suara itu langsung melebarkan senyumnya.

"Oh! Kamu di sini, Tuan 397!"

Tapi pria itu tidak melirik Kathie sedikit pun. Tatapannya terkunci pada Nate, dan setelah beberapa detik keheningan, dia berbicara.

"Kamu bisa tinggal di sini, tapi dengan syarat kamu harus patuh di bawahku. Bagaimana?"

Keheningan kembali mengisi ruangan, sebelum akhirnya dipecahkan oleh tawa Nate yang geli.

"Dan kenapa menurutmu aku harus patuh di bawahmu?"

Pria itu mengerutkan kening, wajahnya sedikit menggelap. "Kenapa? Karena hanya yang kuat yang bisa melindungi yang lemah. Bukankah begitu? Aspek milikku adalah yang terkuat."

Mengikuti ucapannya, sebuah rantai emas muncul melayang di belakangnya, diikuti percikan listrik yang berbahaya. Awalnya hanya satu, tapi kemudian bertambah hingga totalnya empat. Masing-masing rantai itu bergoyang tidak menentu, melepaskan deretan petir yang menghantam berbagai sudut ruangan secara acak.

Bzzzt—!! Bzzzt—!!

Sebuah sofa di sisi ruangan terkena salah satu sambaran, dan langsung berlubang, seolah ditembak dari jarak dekat.

Nate menatap rantai itu sejenak, lalu kembali menatap mata pria itu yang memancarkan kesombongan dengan cara yang nyaris terlalu terang-terangan.

Bibirnya berkedut.

"Begini... Aku tetap mau menolak. Kamu tidak akan memaksa, kan?"

Kalimat itu seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang tenang, memenuhi seluruh ruangan yang sunyi itu sekaligus. Bahkan anggota perkumpulan yang berdiri di pinggir ruangan tampak menahan napas, termasuk Kathie.

Mereka semua sudah pernah membunuh monster dan berkelahi melawan makhluk-makhluk itu. Tapi perkelahian antara dua manusia yang mungkin akan saling membunuh, itu urusan yang berbeda.

Beberapa detik keheningan menggantung di udara, sebelum akhirnya pria itu berbicara dengan suara berat dan serak, mengibaskan keempat rantainya perlahan.

"Kalau begitu, aku akan memaksamu menunduk. Akan kuperlihatkan otoritas sejati dari apa yang disebut kekuatan."

Seringai mengembang di wajahnya. Kathie reflek melangkah menjauh.

Bisikan-bisikan segera menyebar di antara anggota perkumpulan:

"Pria itu... dia sudah tamat. Padahal kata Haron dia kuat, sayang sekali, mengapa juga dia harus menolak tunduk pada Tuan 397?"

"Ya, saat seperti ini dia harusnya menunjukkan kerja sama. Bagaimana kita bisa bertahan hidup kalau sesama manusia saja tidak bisa bersatu?"

"Lupakan saja. Toh, Tuan 397 berniat membuatnya tunduk, jadi dia pasti tidak akan membunuhnya."

"Tapi, apakah ada kemungkinan pria itu menang? Maksudku, dia cukup percaya diri..."

"Dia hanya menggertak. Meski dia cukup kuat, itu pasti tidak cukup untuk melawan Tuan 397."

"Aku setuju, sayangnya dia malah melawan yang terkuat di antara kita."

Gumaman itu terdengar jelas di telinga Nate. Tatapan matanya yang kosong bertemu langsung dengan pupil kecokelatan Player 397, dan sedetik kemudian Nate tertawa geli lagi saat tangannya menyentuh udara.

"Coba kulihat sejauh apa perbedaan kita."

Wuusshh—

Sabitnya muncul seketika. Suhu ruangan turun drastis, asap ungu merembes ke udara, dan pupil abu-abu pucat Nate memancarkan kilau dingin yang samar.

Player 397 mengerutkan kening, hanya sesaat, sebelum keempat rantainya mulai memanjang seolah tidak punya batas.

Sraaatt—!!

Keempat rantai itu menerjang langsung ke arah Nate, melepaskan sambaran petir dengan daya hancur yang luar biasa. Nate tetap diam di tempatnya, dan begitu rantai-rantai itu memasuki jangkauan sabitnya, dia mengayunkannya dengan ketepatan yang cukup untuk membuat mereka semua terpental sekaligus.

Baam—!!

Nate menatap Player 397 sekali lagi. Dia belum memeriksa statusnya dan tidak punya gambaran tentang level lawan ini, tapi itu tidak terlalu mengubah banyak hal, karena Nate sendiri bahkan belum mengalokasikan poin statnya. Kekuatannya masih berada di level tiga.

Rantai-rantai itu kembali datang, kali ini menyergap dari empat arah sekaligus.

"Apa orang ini bodoh?" Nate mendengus kesal, lalu memutar sabitnya mengelilingi tubuhnya, menghantam tiap rantai satu per satu dalam satu putaran yang mengalir.

Baam—!! Baam—!!

Dengan sabit sepanjang tubuhnya, Nate tidak perlu khawatir dengan serangan semacam itu. Dia hanya perlu mengayunkannya ke tempat yang tepat, dan rantai-rantai yang percikan petirnya sudah mulai melemah itu tidak bisa berbuat banyak.

Rantai-rantai itu menabrak beberapa bagian dinding gedung, meninggalkan retakan dan lubang yang mengmenganga.

Player 397 tampak terkejut, serangannya diblokir semudah itu. Nate tersenyum begitu menyadarinya.

"Ada apa? Mengapa kamu bertindak seolah seseorang baru saja melakukan hal yang mustahil? Ayolah, kamu mungkin sudah membunuh cukup banyak monster Rank F Level 1, tapi ingat, itu cuma monster yang paling rendah."

"Diam!"

Situasi Player 397 entah kenapa terasa sangat menggelikan. Nate tidak punya alasan untuk membuang waktu lebih lama dari ini. Dia sedikit menekuk lututnya, menjadikan lantai sebagai tumpuan, lalu melesat.

Buum—!!

"Ugh—!" Player 397 mengerang, mengerahkan rantainya, hanya untuk ditebas dengan mudah. Rantai itu memang sulit dipatahkan, tapi membuatnya terpental adalah hal yang berbeda.

Baam—!! Baam—!! Baam—!! Baam—!!

Satu per satu, rantai-rantai itu tertancap ke dalam dinding, percikan petirnya semakin melemah hingga nyaris padam.

Player 397 kehilangan kekuatan terbesarnya.

Nate, yang bahkan tidak berkedip sejak tadi, mengangkat kakinya, lalu menghantam wajah pria itu dengan cukup kuat.

Baam—!!

"Aghh—!!"

Teriakan itu bergema di seluruh ruangan. Player 397 terhempas menabrak dinding, lalu memuntahkan seteguk darah dengan ekspresi kesakitan yang sulit disembunyikan.

Nate berjalan perlahan ke arahnya, membiarkan bilah sabitnya menggores lantai dengan bunyi yang berat dan berirama.

Kriing— Kriing— Kriing—

Lalu dengan tenang, dia menendang kepala Player 397, memaksanya mencium lantai dengan bunyi gedebuk yang keras.

Gedebuk—!!

Nate berdiri di atasnya, tatapannya dingin dan tidak terganggu sedikit pun.

"Jadi, aku akan memberimu satu pertanyaan. Selama jawabanmu memuaskan, kamu akan hidup."

***

1
Pradama Okta
harusnya udah peringkat D gak sih, kan syarat dari E ke D 5600 kill
Nameless: yang dihitung monster peringkat E keatas, kalau F kebawah gak kehitung
total 1 replies
SETH
cerita nya bagus..mudah2an rajin update dan gak hiatus
blueby
bagus
Nameless: terimakasih!
total 1 replies
KayyLawrence
mampir cuyy,jujur ceritanya bagus,langsung saja terbitkan dan adaptasi jadi manhwa
tintakering
mampir, k
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!