Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!
Terseret masuk ke dalam novel dan menjadi Freya Valencia Vane? Bukan jadi pemeran utama wanita yang baik hati, tapi malah jadi Villainess kejam yang nasibnya pasti mati tragis di akhir cerita?
Demi menyelamatkan nyawaku, aku harus berubah total.
Di depan orang, aku jadi wanita paling suci, lembut, dan sopan sedunia.
"Tolong maafkan aku... aku tidak bermaksud begitu."
Tapi di dalam hati?
"Dasar tolol. Kalau bukan karena takut mati, udah gue hancurin muka lo dari tadi. Sabar Freya, sabar... demi nyawa gue."
Rencananya simpel: Jauhi Pangeran Zevian si algojo, lindungi Aria si Female Lead, dan hidup tenang.
Tapi kenapa semuanya berjalan salah?
Kenapa Zevian yang dulu benci aku malah natap aku begitu?
Kenapa Ares si sepupu tampan malah makin mendekat?
Oh Tidaaaak. Aku cuma mau hidup tenang kok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Calista F., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Mentari sore menyinari halaman Akademi Starfell yang masih dipenuhi bekas reruntuhan.
Beberapa menara masih retak. Sebagian dinding akademi dipenuhi lingkaran sihir perbaikan. Para profesor hilir mudik dengan wajah lelah, sedangkan para murid sibuk membawa koper dan barang masing-masing untuk pulang selama masa libur.
Dan di tengah semua kesibukan itu…Freya disibukkan oleh keadaan mentalnya, ia sedang mengalami krisis sosial.
"...Kenapa mereka lihat aku terus?"
Freya memegangi koper kecilnya sambil berjalan cepat melewati koridor akademi. Namun semakin cepat ia berjalan, semakin banyak murid yang menoleh ke arahnya.
Beberapa langsung berbisik pelan.
"Itu dia..."
"Pewaris Crimson Flame..."
"Aku dengar dia menutup gerbang sendirian."
"Aku dengar dia hampir membakar Profesor Rowan."
"Aku dengar dia sebenarnya reinkarnasi naga kuno."
Freya langsung berhenti mendadak.
"...HAH?"
Ares yang berjalan santai di sampingnya menggigit apel kecil sambil berkata datar, "Rumor berkembang lebih cepat dibanding corruption."
"KENAPA JADI NAGA KUNO?"
"Menurutku itu kemajuan cerita yang cukup keren."
"Diam kau."
Aria yang berjalan di sisi satunya menahan tawa kecil. "Aku yakin mereka hanya kagum padamu."
Freya langsung menoleh dramatis.
"Aria... kau terlalu baik untuk dunia ini."
"Terima kasih...?"
Felix yang berjalan beberapa langkah di depan mereka mendengus kecil.
"Kalau terus berhenti setiap lima langkah untuk mengeluh, kita akan sampai mansion tahun depan."
"Kakak tidak suportif."
"Aku kakakmu, bukan pendukung fans clubmu."
"Itu menyakitkan."
Ares mengangguk setuju kecil. "Aku mendukung Lady Freya."
Freya langsung terharu. "Terima kasih, akhirnya ada orang baik di sini."
"Aku hanya ingin melihat Duke Cassius stres."
"...Kamu ternyata tetap iblis."
"Terima kasih."
Freya menghela napas panjang kecil.
Meskipun situasi akademi sudah jauh lebih tenang dibanding beberapa hari lalu, suasana aneh masih terasa menggantung di udara. Orang-orang sekarang melihatnya berbeda.
Bukan hanya sebagai murid biasa.
Dan jujur saja, Freya belum siap menghadapi itu.
"Lady Freya..."
Freya refleks menoleh.
Seorang murid tahun pertama langsung membungkuk gugup padanya. "A-Apakah rumor itu benar kalau Lady Freya bisa memanggil api neraka?"
Freya langsung menatap kosong. "...Aku bahkan kesulitan bangun pagi."
"Oh."
Murid itu terlihat kecewa.
"HEY KENAPA MALAH KECEWA?"
Ares hampir tertawa di sampingnya.
Namun sebelum Freya sempat mengalami kerusakan mental lebih lanjut, seseorang tiba-tiba mengambil koper dari tangannya.
Freya membeku. "...Eh?"
Ia menoleh cepat dan langsung melihat Zevian berdiri di sampingnya dengan ekspresi datar seperti biasa. "Kopermu terlalu berat."
DEG.
Freya langsung bengong beberapa detik. "Hah?"
"Aku bawakan."
"..."
"..."
Freya masih loading.
Karena pertama: Putra mahkota tiba-tiba muncul tanpa suara.
Kedua: Putra mahkota membawa koper miliknya.
Ketiga: Kenapa wajah pria itu tetap setenang patung kerajaan saat melakukan sesuatu yang sangat mencurigakan?
Ares perlahan menyipitkan mata kecil. "Oh."
Felix ikut berhenti berjalan. Tatapan kakak Freya langsung jatuh pada koper di tangan Zevian.
Hening. Sangat hening.
Freya langsung panik dalam hati. 'KENAPA SUASANANYA JADI KAYAK PERTEMUAN DUA BOS MAFIA?'
Crimson Valkyrie langsung berkomentar datar dari pinggangnya. "Karena insting territorial laki-laki mereka aktif."
'ITU KALIMAT PALING MENYERAMKAN YANG PERNAH KUDENGAR.'
Ares tiba-tiba membuka mulut santai. "Padahal tadi aku juga mau membantu membawa koper Lady Freya."
Zevian bahkan tidak menoleh. "Tidak perlu."
"..."
"..."
Freya bisa MERASAKAN atmosfer aneh mulai muncul lagi.
Ares perlahan menyeringai kecil seperti seseorang yang baru menemukan hiburan baru.
Sedangkan Felix sekarang terlihat mulai mempertimbangkan adanya tindak kriminal.
Aria yang berdiri di dekat Freya langsung terlihat bingung sendiri. "...Apa terjadi sesuatu?"
"Tidak," jawab Freya cepat.
"Ya," jawab Ares bersamaan.
"ARES." Namun Zevian tetap terlihat tenang. Dan entah kenapa justru itu yang membuat semuanya terasa makin mencurigakan.
Freya buru-buru mengalihkan topik sebelum suasana berubah jadi perang dingin bangsawan.
"Yang Mulia juga akan pulang hari ini?"
"Ya."
"Ah..."
Freya mengangguk kecil. Lalu tanpa berpikir panjang berkata, "Kalau begitu... Yang Mulia mau ikut ke mansion Vane juga?"
DEG.
Hening total. Bahkan angin sore terasa berhenti sesaat.
Freya baru sadar apa yang baru saja ia katakan sekitar tiga detik kemudian.
Dan rasanya ia langsung ingin menghantamkan kepalanya sendiri ke tembok akademi.
'ASTAGA KENAPA MULUTKU BEKERJA TANPA IZIN.'
Felix perlahan menoleh.
Ares langsung menutup mulut menahan tawa.
Aria membelalak kecil.
Sedangkan Zevian...Diam. Tatapan biru gelapnya tertuju lurus pada Freya sekarang.
DEG.
Jantung Freya langsung berdetak aneh lagi. "A-Aku cuma basa-basi sopan," katanya cepat. "Maksudku...bukan begitu...eh..."
"Kau mengundang putra mahkota ke rumah bangsawan secara tiba-tiba?" gumam Felix datar.
"Aku panik."
"Ya... Itu terlihat."
Freya hampir mati malu. Namun anehnya Zevian tidak langsung menolak. Pria itu diam beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan,
"...Aku tidak bisa."
DEG.
Dan entah kenapa ada sedikit rasa kecewa kecil muncul di dada Freya. Kecil sekali. Namun cukup membuatnya bingung sendiri.
"Oh..." jawabnya pelan.
Zevian mengalihkan pandangan sesaat. "Ada urusan kerajaan yang harus ku selesaikan."
"Tentu saja." Freya langsung tertawa kecil canggung.
"Ya iyalah, dia kan Putra Mahkota, bukan pengangguran profesional seperti Ares," gumam Freya kecil.
"Aku mendengar itu," komentar Ares santai.
"Bagus."
Namun entah kenapa Zevian masih memegang koper Freya lebih lama dari yang diperlukan.
Dan Ares jelas menyadarinya. Pria berambut emas itu langsung menyeringai kecil seperti iblis sosial. "Sayang sekali."
Tatapan Zevian langsung beralih padanya. "Apa maksudmu?"
"Tidak ada."
Dan jawaban itu jelas bohong.
Bahkan yang tidak dipahami Zevian sendiri adalah ia yang tiba-tiba merasa sangat terganggu melihat Ares terlalu santai di dekat Freya. Perasaan aneh itu membuat dahinya sedikit berkerut. Sangat menyebalkan namun ia sendiri tidak tahu kenapa.
Lima belas menit kemudian...Freya mulai menyesali seluruh keputusan hidupnya.
"Kenapa kopermu sebanyak ini?" Felix menatap datar tumpukan koper milik Ares yang hampir memenuhi setengah kereta keluarga Vane.
Ares terlihat santai. "Persiapan liburan."
"Itu terlihat seperti persiapan migrasi."
"Aku suka kenyamanan."
Freya menunjuk salah satu koper besar. "Itu isinya apa?"
"Makanan ringan."
"Yang itu?"
"Dessert."
"Yang itu lagi?"
"Bantal."
"..."
"..."
Freya menatap kosong. "Kau benar-benar tidak malu."
"Aku dibesarkan keluarga Blackwood."
"Itu bukan pembelaan."
Aria tertawa kecil pelan di dekat jendela.
Sedangkan Zevian yang masih berdiri di luar kereta memperhatikan semuanya dalam diam. Tatapan biru gelapnya perlahan jatuh pada Freya yang sedang tertawa bersama Ares sekarang. Lalu pada Felix. Lalu Aria. Suasana mereka terlihat hangat. Dan entah kenapa itu membuat dada Zevian terasa makin aneh. Perasaan tidak nyaman yang tidak bisa dijelaskan.
Cain, pengawal pribadi Zevian, akhirnya membuka suara pelan. "Yang Mulia, kita harus berangkat."
"...Aku tahu."
Namun tatapannya masih belum lepas dari Freya.
Sampai akhirnya Freya menyadari keberadaannya lagi dan melambai kecil dari dalam kereta.
"Sampai jumpa setelah liburan, Yang Mulia."
DEG.
Zevian membeku sepersekian detik. Lalu perlahan mengangguk kecil.
"...Ya."
Kereta mulai bergerak perlahan meninggalkan akademi. Dan Zevian tetap berdiri diam beberapa saat. Sampai Cain akhirnya berkata hati-hati, "Yang Mulia?"
Zevian akhirnya memalingkan wajah. Namun ekspresinya sedikit lebih dingin dibanding biasanya sekarang.
"...Kenapa Ares ikut."
Cain berkedip bingung.
"...Maaf?"
"Tak ada."
Namun sepanjang perjalanan menuju istana, Zevian tetap memikirkan hal yang sama. Dan itu sangat mengganggunya.
Sementara itu, di dalam kereta keluarga Vane, kekacauan sudah dimulai.
Sekarang Freya duduk tepat di samping Aria sambil menatap gadis itu dengan mata berbinar penuh niat jahat sosial.
Aria mulai gugup. "...Kenapa kau melihatku seperti itu?"
Freya langsung menggenggam tangan Aria dramatis. "Aria."
"Y-Ya?"
"Apa tipe pria idealmu?"
BRAK.
Felix langsung hampir tersedak teh, sedangkan Ares perlahan mulai tersenyum.
Aria sendiri langsung merah total. "H-Hah?"
Freya terlihat serius sekali. "Aku hanya penasaran."
Felix menyipitkan mata kecil. "Tidak. Kau jelas merencanakan sesuatu."
"Aku tersinggung."
"Itu karena kau ketahuan."
Freya mengabaikannya. "Jadi?"
Aria terlihat makin panik. "A-Aku tidak punya tipe khusus..."
"Hm..." Freya berpikir keras. "Kalau pria dewasa, tenang, dan diam-diam perhatian?"
Felix langsung menatap Freya tajam sekarang sedangkan Ares mulai menikmati tontonan ini secara spiritual.
Aria makin merah. "Itu terlalu spesifik."
Freya pura-pura polos. "Masa?"
Felix akhirnya memegangi dahinya. "Aku baru sadar liburan ini akan sangat melelahkan."
"Belum mulai saja kau sudah menyerah," komentar Ares santai.
"Aku dikelilingi orang aneh."
"Kau keluarga Freya."
"Itu poin yang menyakitkan."
Freya langsung menunjuk dirinya sendiri. "Aku korban keadaan."
"Keadaan juga mungkin korban dirimu," balas Felix.
Aria akhirnya benar-benar tertawa sekarang. Dan untuk pertama kalinya setelah semua kekacauan itu membuat suasana terasa ringan dan hangat...setidaknya sampai kereta keluarga Vane akhirnya tiba di mansion utama mereka.
Dan Freya langsung melongo.
"Oke."
Ia menatap mansion besar di depan mereka. Bangunan megah itu berdiri anggun di tengah taman luas dengan arsitektur khas bangsawan tua kerajaan. Air mancur besar menyala dengan mana biru lembut. Dan para pelayan sudah berbaris rapi menyambut mereka.
"...Kadang aku lupa kalau keluargaku benar-benar kaya."
Ares mengangguk setuju kecil. "Rumah kalian terlihat seperti tempat tinggal final boss."
"Itu bukan pujian."
Felix turun dari kereta lebih dulu sambil mendesah kecil. "Selamat datang di sarang monster keluarga Vane."
"Hei," protes Freya.
"Kau termasuk."
"Itu benar."
Aria turun perlahan dari kereta dengan wajah sedikit tegang.
Dan sebelum Freya sempat mengatakan sesuatu...pintu mansion utama terbuka.
Seorang wanita berjalan keluar perlahan.
Rambut emas panjangnya berkilau lembut terkena cahaya sore. Dress bangsawan berwarna putih-perak membuat auranya terlihat elegan dan anggun.
Dan saat mata lembut itu jatuh pada Freya...senyum hangat langsung muncul di wajahnya.
"Freya."
DEG.
Freya langsung bersinar. "IBUUUUUUU..."
Felix langsung menutup wajahnya. "Astaga."
Freya benar-benar berlari lalu memeluk wanita itu tanpa malu sedikit pun.
Duchess Seraphina Vane tertawa kecil lembut sambil memeluk putrinya balik. "Kau membuat ibu khawatir."
"Aku juga khawatir."
"Ya...Itu terlihat dari wajahmu."
Freya langsung ingin menangis bahagia karena akhirnya ia menemukan kehangatan yang selama ini ia cari. Berbeda sekali dengan aura menyeramkan keluarga Vane lainnya, Duchess Seraphina terasa seperti sinar matahari pagi yang lembut, hangat, dan menenangkan.
Namun anehnya...Di balik kelembutan itu, ada tekanan mana besar yang samar terasa di udara.
Ares langsung menyipitkan mata kecil. '...Oh.'
Wanita ini kuat. Sangat kuat. Dan jelas bukan tipe duchess biasa.
Seraphina akhirnya menatap Aria sekarang. Dan langsung tersenyum lembut. "Kau pasti Aria."
Aria langsung panik kecil lalu membungkuk cepat. "S-Salam hormat, Duchess Vane."
"Astaga, jangan terlalu formal." Seraphina tertawa kecil. "Freya sudah sering membicarakanmu."
Freya langsung membeku. "...Aku? Memang iya?"
"Setiap hari."
"IBU..."
Felix langsung mendengus kecil. "Itu benar."
Rasanya Freya langsung stres dan ingin menggali lubang untuk bersembunyi. Namun Seraphina hanya tertawa kecil lagi sebelum berkata lembut, "Freya akhirnya membawa teman perempuan ke rumah."
"Aku punya teman sebelumnya"
"Tidak banyak, dan semuanya jelek." jawab Felix datar.
"Waaah... berarti yang ini cantik dong?" tanya Freya sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
Lydia diam membisu mendengar perkataan Freya.
Ares mengangguk kecil. "Ya... Aku akan jadi saksi."
"DIAM KAU."
Felix memalingkan muka, tapi tak ayal telinganya sedikit memerah. Dan itu tak luput dari mata merah Freya.
Suasana depan mansion langsung ramai oleh suara mereka. Dan untuk pertama kalinya sejak malam gerbang itu, Freya merasa benar-benar pulang. Namun tepat saat semuanya mulai terasa damai, seorang pelayan tiba-tiba berlari panik dari dalam mansion.
"D-Duchess..."
Duchess Seraphina berkedip kecil. "Ada apa?"
Pelayan itu terlihat pucat. "Duchess Blackwood telah tiba."
Hening. Freya perlahan menoleh.
Ares langsung memejamkan mata seolah menerima takdir. "...Oh tidak."
DUAR.
Pintu mansion terbuka dramatis. Dan seorang wanita cantik berambut coklat gelap masuk dengan aura kekacauan murni.
"DIMANA ANAKKU?"
Suasana langsung bergetar ketika Duchess Ophelia Blackwood datang.