Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.
“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.
Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.
“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.
Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.
“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Sekitar sepuluh tahun yang lalu ....
Kartika masih ingat jelas hari pertama dirinya bertemu keluarga Deva. Bukan di rumahnya yang mewah. Bukan di tempat restoran bintang lima, langganannya yang mewah, melainkan di sebuah restoran sederhana di pinggir jalan dekat tempat pria itu bekerja sebagai karyawan biasa.
Saat itu, Kartika datang ke restoran lebih dulu bersama Deva. Dia duduk kaku di kursinya dengan jantung yang berdebar sejak tadi. Tangan dia bahkan terasa dingin karena terlalu gugup. Sesekali wanita itu membetulkan ujung blouse-nya yang sebenarnya sudah rapi. Tas kecil di pangkuannya diremas pelan tanpa sadar.
Hari itu adalah pertama kalinya ia bertemu keluarga besar Deva secara langsung. Dan entah kenapa ia merasa seperti sedang diuji.
Deva yang duduk di sampingnya melirik pelan lalu tersenyum kecil. Pria itu tampak jauh lebih santai.
“Tenang aja,” bisik Deva lembut sambil menyentuh tangan Kartika diam-diam di bawah meja. “Mereka pasti suka sama kamu.”
Sentuhan kecil itu membuat Kartika sedikit lebih tenang. Ia menoleh pada Deva lalu tersenyum malu.
Waktu itu, hatinya benar-benar penuh cinta.
Ia percaya sepenuhnya pada pria di sampingnya. Percaya bahwa selama ada Deva, dirinya akan baik-baik saja.
Tak lama kemudian pintu restoran terbuka. Pak Dimas masuk lebih dulu, disusul Bu Hania, Iriana, dan Gavin yang saat itu masih remaja, dan Kenzie masih kecil.
Deva langsung berdiri. “Ayah ... Ibu, ini Kartika. Wanita yang aku ceritakan kemarin,” sapanya sambil tersenyum.
Kartika ikut berdiri cepat lalu menunduk sopan. “Selamat siang, Om ... Tante.”
“Siang,” jawab mereka hampir bersamaan.
Namun, saat itu Kartika langsung merasa gugup lagi ketika menyadari tatapan Bu Hania mengarah lurus kepadanya. Wanita paruh baya itu memperhatikan dirinya dari ujung kepala sampai kaki dengan teliti.
Tatapan yang membuat Kartika otomatis duduk lebih tegak. Ia sampai tanpa sadar merapikan rok panjangnya di bawah meja.
“Cantik juga,” komentar Bu Hania akhirnya sambil tersenyum tipis.
Kartika langsung mengangguk sopan. “Terima kasih, Bu.”
Obrolan awal berlangsung cukup hangat. Pak Dimas beberapa kali bertanya soal pekerjaan Kartika.
Sesuai perintah Rangga—sepupunya—Kartika tidak memberi tahu identitas sesungguhnya. Demi kebaikan dirinya dan juga keluarga Deva. Jangan sampai perbedaan kelas ekonomi, membuat mereka tidak bisa bersatu.
Sementara Gavin dan Kenzie, lebih banyak sibuk makan. Sedangkan Iriana sesekali memperhatikan tas dan jam tangan Kartika diam-diam.
Deva sendiri terlihat tidak berhenti memperhatikan calon istrinya. Ketika minuman datang, pria itu langsung mengambilkan gelas untuk Kartika lebih dulu.
“Ini teh manisnya.”
Kartika tersenyum kecil. “Terima kasih.”
Sesekali Deva juga bertanya pelan, “Kamu nyaman? Atau mau pesan makanan lain?”
Perhatian-perhatian kecil itu membuat hati Kartika terasa hangat. Ia merasa diperlakukan dengan baik oleh pria yang juga mencintainya.
Dan semakin melihat bagaimana Deva menjaganya di depan keluarga, semakin yakin pula Kartika memilih pria itu sebagai suami.
Sampai akhirnya pembicaraan mulai mengarah pada pernikahan. Suasana meja mendadak sedikit lebih serius. Bu Hania berdeham pelan sebelum bicara. Kartika langsung duduk lebih tegak.
“Begini ya, Kartika,” katanya sambil meletakkan gelas teh di meja. “Kami ini keluarga sederhana.”
Kartika mengangguk pelan. “Iya, Bu.”
“Jadi, kami maunya pernikahannya sederhana aja.”
Pak Dimas ikut mengangguk membenarkan.
“Yang penting sah,” katanya santai. “Enggak usah mewah-mewah.”
Kartika diam mendengarkan. Sebenarnya ia tidak pernah mempermasalahkan pesta besar atau kecil. Baginya, menikah dengan orang yang dicintai sudah cukup membuatnya bahagia.
Kemudian Bu Hania kembali bicara. “Iya. Apalagi kamu juga ....” Wanita paruh baya itu berhenti sebentar sambil menatap Kartika, “enggak punya orang tua lagi, kan?”
Kalimat itu langsung membuat dada Kartika terasa sesak dan sangat menusuk. Meski diucapkan dengan nada biasa, tetap saja sakit mendengarnya. Karena itu memang luka terbesar dalam hidupnya. Ia sudah kehilangan ayah dan ibunya sejak kecil.
Sampai hari itu, bagian dirinya yang kehilangan keluarga masih sering terasa kosong. Namun, Kartika tetap tersenyum kecil. Ia menunduk sopan sambil menjawab pelan, “Iya, Bu.”
Bu Hania mengangguk kecil. “Jadi enggak perlu ribet-ribet adat besar segala.”
Kartika mengepalkan jemarinya pelan di bawah meja. Sebenarnya ada rasa sedih yang muncul. Karena entah kenapa kalimat itu terdengar seperti dirinya tidak perlu terlalu dihargai.
Saat itu Kartika memilih diam. Ia melirik Deva sebentar. Dan ketika pria itu menggenggam tangannya pelan di bawah meja, semua rasa sedih itu kembali ia telan sendiri. Karena waktu itu Kartika terlalu mencintai Deva. Dan demi pria itu, ia rela mengalah untuk banyak hal.
Deva yang duduk di samping Kartika langsung menggenggam tangan wanita itu pelan di bawah meja. Jemari hangat pria itu meremas lembut tangan Kartika seolah ingin menenangkan kegugupan dan rasa tidak nyaman yang sejak tadi ia tahan sendiri.
Kartika menoleh sebentar. Deva hanya tersenyum kecil padanya. Tatapan pria itu seakan berkata, Aku ada di sini.
Dan anehnya hal sederhana itu selalu berhasil membuat hati Kartika luluh. Padahal jauh di dalam hatinya, ada sedikit rasa sakit mendengar ucapan Bu Hania tadi.
Tentang dirinya yang yatim piatu. Tentang pernikahan sederhana. Tentang semuanya yang terdengar seperti tidak perlu terlalu dipersiapkan karena dirinya “tidak punya siapa-siapa”.
Namun, Kartika memilih diam. Bukan karena tidak mampu bicara. Bukan juga karena dirinya tidak punya harga diri, tetapi karena saat itu ia terlalu mencintai Deva.
Ia tidak ingin membuat suasana jadi tidak enak. Tidak ingin calon suaminya malu di depan keluarganya sendiri. Maka Kartika menelan semua perasaannya sendirian.
“Kalau menurut Mas Deva bagaimana?” tanya Kartika pelan sambil menoleh pada pria itu. Tatapannya lembut. Ada harapan kecil di sana.
Deva langsung membalas tatapan Kartika sambil tersenyum hangat. “Aku ikut kamu saja.”
Jawaban itu sederhana sekali. Namun, bagi Kartika waktu itu, sudah cukup. Karena yang ia butuhkan hanyalah keyakinan kalau Deva tetap berada di pihaknya.
Dan demi pria itu Kartika rela menerima semuanya. Bahkan ketika akhirnya uang panai yang diberikan hanya lima belas juta.
Kartika tetap tersenyum bahagia. Padahal kalau mau jujur, dirinya bisa mendapatkan lebih dari itu. Ia punya pendidikan yang bagus, Karir bagus, wajah yang cantik, dan kepribadian baik.
Banyak pria lain yang mungkin akan memberikan lebih. Namun, waktu itu Kartika tidak memikirkan semua itu. Yang ia pikirkan hanya Deva.
Setelah pertemuan keluarga selesai, Deva hendak mengantarnya pulang, tetapi sepupunya keburu datang menjemput Kartika.
“Serius cuma segitu?” protes Rangga tidak percaya.
Kartika yang sedang melepas heels hanya tertawa kecil. “Kenapa memang?”
“Kamu nanya kenapa?!” Sepupunya sampai melotot. “Kamu itu kaya raya, cantik, pengusaha sukses!”
Rangga berjalan mondar-mandir sambil mengomel. “Kalau laki-laki lain mungkin bisa kasih lebih!”
Kartika hanya duduk sambil tersenyum kecil mendengar omelan itu. Bukannya marah, dia malah terlihat seperti orang gila yang sedang dimabuk cinta.
“Yang penting aku nikah sama orang yang aku cinta,” jawabnya pelan.
Sepupunya langsung memegang kepala frustrasi. “Kamu tuh terlalu bucin!”
Kartika hanya tertawa kecil. Karena memang saat itu cintanya pada Deva begitu besar dan nyata. Sampai hal-hal seperti nominal uang panai terasa tidak penting lagi.
Bahkan maskawin yang diberikan Deva pun sederhana sekali. Hanya cincin emas putih satu gram.
Namun, saat Deva menyematkan cincin itu di jarinya waktu pernikahan, mata Kartika sampai berkaca-kaca menahan haru.
Karena saat itu yang ia lihat bukan harga cincinnya. Melainkan ketulusan pria yang ada di depannya. Ia melihat Deva sebagai rumah. Sebagai tempat pulang. Sebagai laki-laki yang akan menjaganya seumur hidup.
Dan karena keyakinan itu, Kartika rela menurunkan banyak keinginannya sendiri. Rela hidup sederhana. Rela mengalah. Rela mengikuti semua permintaan keluarga Deva tanpa banyak bantahan.
Karena waktu itu, Kartika benar-benar percaya bahwa cinta saja sudah cukup untuk membuat rumah tangga bahagia.
cerita baru yg lebih baik dan menarik drpd kisah orang tuanya 🤝