Rania ditinggal kabur pacarnya, Rangga. keluarganya malak sibuk nyariin jodoh agar Rania bisa melupakan masalalunya.
Muak, Rania ngeluarin kriteria gila duda keren umur 30-an, dan yang paling penting ukuran 18 cm.
Keluarga syok, tapi berhenti ganggu.
Beberapa waktu kemudian, seorang pria bernama Alfino duduk di teras rumahnya. Tinggi, kekar, wangi. Duda 33 tahun tepat sesuai pesanan.
Rania mulai lupa Rangga. Tapi masa lalu kembali. Rangga muncul
Dilema pun terjadi Antara durian 18 cm dan cinta pertama dan Rania harus milih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hadiah
Pagi itu matahari bersinar terlalu ramah seolah ikut senang karena Alfino akan datang lagi. Rania sudah duduk di ruang tamu sejak jam setengah delapan, padahal Alfino bilang akan datang jam sembilan. Ibu sibuk di dapur menyiapkan kue dan teh. Bapak sudah rapih pakai batik. Naufal malah ikut rapih rambut disisir, kaos diganti, bahkan sepatu sneakersnya yang biasanya kotor sekarang kinclong kayak baru keluar dari pabrik.
"Ada apa sih, Naufal? Lo kok ikut-ikutan rapih?" tanya Rania curiga.
"Mbak, masa tamu sekelas Mas Alfino datang, saya males-malesan? Malu, dong nanti dia kira keluarga kita kuper."
Rania mendengus. "Sejak kapan lo peduli sama omongan orang?"
"Sejak Mas Alfino punya mobil hitam dan wangi kayak hutan pinus."
Rania mau menjawab, tapi tiba-tiba…
BRREEET!
Bukan bel rumah. Bukan HP. Tapi suara mobil yang berhenti di depan pagar.
Bukan mobil biasa. Itu mobil hitam yang kinclongnya kayak cermin dansa. Kacanya gelap, peleknya berkilat. Mesinnya mati dengan suara halus kayak orang menghela napas.
Alfino turun hari ini ia pakai kemeja biru dongker lengan panjang, celana bahan abu-abu, sepatu pantofel coklat tua. Penampilannya sederhana, tapi aura kayak raja yang sedang inspeksi kampung.
Tapi yang paling membuat Rania melongo bukan penampilannya tapi apa yang dibawanya.
Alfino keluar dari mobil sambil membawa… satu keranjang besar. Keranjang rotan yang diisi durian bukan durian kecil durian montong, Besar-besa, duri-durinya tajam kayak silet. Wanginya langsung menusuk hidung sampai ke gang sebelah.
Ibu yang dari dapur langsung melongo. "Masya Allah, Mas Alfino, ini durian montong? Mahal, itu."
Alfino tersenyum. "Tidak mahal, Bu. Hasil panen teman. Saya dapat banyak."
Tapi belum selesai.
Dia balik ke mobil, mengambil lagi. Kali ini… parcel raksasa.
Isinya kue-kue import dari Prancis, coklat Swiss, madu hutan dari Kalimantan, dan satu kotak besar yang ditutup plastik bening berisi perhiasan. Kalung emas putih dengan liontin kecil, gelang rantai, anting-anting dan tiga item dalam satu kotak velvet merah.
Rania nyaris jatuh dari kursi.
"Ma..Mas, ini apaan?"
"Sedikit oleh-oleh untuk keluarga, Mbak Rania."
"Sedikit?!" Rania menunjuk parcel raksasa itu. "Ini mah bukan sedikit. Ini mah setara dengan tiga bulan gaji saya."
Alfino tertawa kecil. "Jangan dibandingkan dengan gaji, Mbak. Anggap saja ungkapan terima kasih sudah diterima dengan baik."
Naufal mendekati keranjang durian, matanya berbinar kayak kucing liar. "Mas Alfino, durian ini langsung dibuka sekarang atau nanti?"
"Sekarang juga boleh, Bang Naufal."
Ibu buru-buru ambil piring. Bapak hanya manggut-manggut sambil senyum. Rania masih berdiri beku.
Lalu Alfino menghampiri Rania dari saku jasnya, dia mengeluarkan kotak kecil warna merah. Dibungkus pita.
"Ini khusus untuk Mbak Rania."
Rania menerima dengan tangan gemetar. Kotak itu kecil, tapi berat. Beratnya bukan cuma fisik. Tapi berat beban perasaan. Dia buka.
Glek.
Jam tangan merek mahal yang tidak bisa disebut namanya karena Rania takut pingsan. Warna silver, rantai tipis, kepala bundar dengan berlian kecil di angka 12. Bersinar. Kayak bintang jatuh yang dia sengaja tangkap.
Rania menelan ludah.
"Mas... ini... terlalu mahal. Saya tidak bisa terima."
"Mbak Rania, saya tidak membeli ini untuk mengukur harga diri Mbak. Saya membeli ini karena... saya ingin Mbak punya sesuatu yang mengingatkan betapa berharganya Mbak."
Rania bengong.
Mendadak, Naufal yang ada di belakang bersiul kecil. Ibu meletakkan tangan di dada. Bapak mengangkat alis.
Rania bengong. Mulutnya kebuka. Matanya berkilau.
Dan dalam hati dia berteriak: "YA ALLAH, INI ORANG MAU LAMAR ATAU MAHAR? KOK UDAH KASIH PERHIASAN?!"
---
Siang harinya di Kantor Divisi Marketing.
Rania menatap jam di pergelangan tangannya sekali lagi. Kilau kacanya memantulkan cahaya lampu kantor halus, elegan… terlalu elegan untuk hidupnya yang sederhana.
Setiap kali melihatnya, bayangan Alfino muncul begitu saja senyumnya. Tatapannya dan kalimat itu...
"Saya ingin Mbak punya sesuatu yang mengingatkan betapa berharganya Mbak."
Rania menghela napas panjang.
"Gila..." gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
Dia menggeleng sendiri. "Dia itu salesman atau bapak-bapak, sih? Kok jualannya… jitu banget?"
Di seberangnya, Mila yang sejak tadi memperhatikan langsung menyeringai lebar.
"Ran…" ucap Mila sambil menyipitkan mata.
"Jam tangan lo baru, ya? Kayaknya bukan kaleng-kaleng."
Rania menelan ludah, sedikit kikuk. "Iya… baru."
Mila mendekat, nadanya berubah jadi lebih usil.
"Hadiah dari om-om?"
Rania terdiam sebentar… lalu mengangguk pelan.
Mata Mila langsung berbinar. Tanpa izin, dia meraih pergelangan tangan Rania dan mengangkatnya ke arah cahaya.
Beberapa detik hening.
Lalu...
"RANIAAA!" teriak Mila hampir meloncat dari kursi.
"INI MEREK JAM YANG DIPAKAI SELEBRIT!"
Rania refleks menarik tangannya.
"Hah? Masa sih?"
"LO TAU HARGANYA BERAPA?!" suara Mila makin meninggi.
"INI BISA BELI MOTOR TIGA!"
Rania langsung memucat.
"Tiga motor?! Gue kira… ya paling… seharga MacBook?"
Mila menepuk meja keras. "MACBOOK?! LO NGGAK NGERTI LEVEL, YA! Ini… ini udah masuk kategori flexing tanpa niat flexing! Lebih mahal dari MacBook Pro, Ran!"
Rania memegang kepalanya. "Ya ampun… gue selama ini pakai di tangan kayak jam pasar malam aja…"
"Makanya, ayo sini!" Mila langsung berdiri, menarik tangan Rania. "Kita ke pantry. Gue nggak bisa mencerna ini di meja kerja."
Di pantry, mereka duduk berhadapan di meja kecil. Suasananya lebih sepi, tapi aura tegang justru makin terasa.
Mila mencondongkan badan, menatap Rania tajam.
"Cerita," katanya tegas.
"Dari awal, jangan ada yang ditutup-tutupi. Gue kenal lo, kalau lo skip satu detail aja, gue bakal tahu."
Rania menarik napas dalam lalu mulai bercerita.
Tentang keranjang durian parcel raksasa. Kue impor, madu hutan, perhiasan untuk ibunya. Dan… jam tangan ini.
Selama Rania bicara, ekspresi Mila berubah-ubah dari kaget, syok, sampai akhirnya… speechless.
Beberapa detik setelah Rania selesai, Mila masih diam.
Lalu dia mengusap wajahnya pelan.
"Jadi…" ucapnya perlahan, seolah sedang menyusun ulang logika hidupnya,
"dia datang ke rumah lo… bawa bingkisan level sultan… kasih perhiasan ke ibu lo… kasih jam tangan ke lo…"
Dia berhenti, menatap Rania tajam.
"Dan lo masih dengan santainya bilang… baru kenalan?"
Rania meringis kecil. "Iya… kan emang baru…"
Mila langsung menunjuk wajah Rania. "RANIA. LO BUTUH KACA MATA."
Rania mengerutkan dahi. "Kenapa?"
"BIAR LO BISA LIHAT," suara Mila meninggi lagi,
"DI DEPAN MUKA LO ITU ADA CALON SUAMI YANG SUKSES, KAYA, DAN PERHATIAN!"
Rania langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Ya ampun, jangan gitu…"
Mila bersandar, menghela napas panjang, lalu menatap Rania dengan ekspresi yang lebih lembut.
"Serius, Ran…" ucapnya pelan.
Rania menurunkan tangannya. Matanya terlihat ragu.
"Aku takut, Mi," katanya lirih.
Mila langsung menangkap perubahan nada itu.
"Takut apa?"
Rania menunduk jemarinya tanpa sadar menyentuh jam di pergelangannya.
"Takut ini semua… terlalu indah," suaranya hampir berbisik.
"Takut suatu hari dia berubah. Takut… aku jatuh lagi, dan sakitnya lebih dalam."
Pantry terasa hening.
Mila menatap sahabatnya lama. Lalu perlahan, dia mengulurkan tangan dan menggenggam pundak Rania.
"Ran," katanya lembut, tapi tegas.
"Cinta itu memang nggak pernah kasih jaminan."
Rania mengangkat wajahnya pelan.
"Tapi justru di situ letaknya," lanjut Mila.
"Kalau lo nunggu semuanya pasti aman… lo nggak akan pernah mulai."
Rania terdiam.
"Dan lihat dia," sambung Mila.
"Dia nggak cuma ngomong. Dia ngasih bukti. Dari cara dia datang ke rumah lo… cara dia memperlakukan ibu lo… sampai hal kecil kayak jam ini."
Mila menunjuk pergelangan tangan Rania.
"Itu bukan soal harga, Ran," katanya lebih pelan.
"Itu soal… dia ingin lo merasa berharga."
Rania menelan ludah. Dadanya terasa sesak, tapi hangat.
"Orang kayak gitu," lanjut Mila,
"nggak datang dua kali."
Rania kembali menatap jam itu kilauannya masih sama. Tapi sekarang… rasanya berbeda.