Anindya Maheswari, menikah dengan Raditya Wicaksono tanpa restu dari orang tua Radit karena Anindya hanya seorang yatim piatu dan besar di panti asuhan.
Cinta tulus dari Radit membuat Anindya bertahan, berjuang bersama, banting tulang, memeras otak dan keringat. Memulai segalanya dari nol hingga akhirnya sukses.
Namun, siapa sangka setelah sukses Radit malah berkhianat? Menjalin hubungan dengan gadis yang lebih muda, memiliki seorang anak, dan bahkan selingkuhan itu sedang hamil lagi.
Membawa amarahnya yang membara, Anindya bertekad mengembalikan Radit dan keluarga nya ke keadaan semula.
“Kamu lupa satu hal. Jika aku bisa membuatmu sukses, aku juga bisa membuatnu hancur!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
.
Sementara itu, di sebuah kamar hotel bintang lima di mana Anin menginap, suasana terasa sangat berbeda.
Wanita itu juga sedang duduk bersantai di atas kasur, namun layar tabletnya yang menyala menampilkan grafik, data keuangan, dan laporan perkembangan bisnis yang sedang ia susun secara diam-diam.
Berbeda dengan Sofia yang hanya scrolling media sosial untuk bersenang-senang, Anindya benar-benar serius memantau setiap pergerakan aset dan rencananya.
Tiba-tiba...
Ting... ting... ting...
Ponselnya berdering. Ada nama Rosita terpampang jelas di layar. Asisten yang masih ia tempatkan di perusahaan untuk menjadi mata dan telinga.
Anindya segera mengangkat panggilan itu dengan tenang.
"Halo, Ros? Apa ada sesuatu?"
"Selamat siang, Bu. Maaf mengganggu," suara Rosita terdengar dari seberang. "Ibu, saya lupa mengingatkan. Beberapa hari lalu kan jatuh tempo pembayaran pajak tahunan. Apakah saya harus segera memproses dan mentransfer pembayarannya sekarang juga?"
Anindya mengetuk dagunya memikirkan laporan Rosita. Sedetik kemudian senyumnya terkembang.
"Tidak perlu. Jangan bayar dulu," ucap Anindya tegas. "Biarkan saja nanti petugas pajak yang menghubungi aku. Aku sudah kenal baik dengan orang-orang di sana, itu urusan gampang buat aku."
"Baik, Bu. Saya mengerti," jawab Rosita patuh.
"Gimana kondisi di sana, Ros?" tanya Anindya kemudian.
Rosita menghela napas pelan di seberang sana. "Jujur saja, Bu... kondisi perusahaan semakin hari semakin buruk. Arus kas benar-benar kering setelah pembayaran ganti rugi kemarin. Bahkan untuk operasional bulanan ini rasanya sudah sangat sulit. Dan Pak Radit… sepertinya benar-benar tidak bisa mengatasi semuanya."
Anindya hanya menghela napas panjang, namun wajahnya tidak menunjukkan rasa khawatir sedikitpun. Justru ada kilatan puas di matanya.
"Ah ya sudahlah. Memang sudah seperti itu jalannya," ucapnya datar. "Kamu tidak perlu melakukan apa-apa selain terus memantau dan memberikan informasi padaku setiap ada perubahan. Mengerti?"
"Siap, Bu. Pasti akan saya laporkan," jawab Rosita segera.
Anindya meletakkan ponselnya setelah panggilan terputus, lalu kembali menatap layar tablet di depannya yang berisi data-data bisnis barunya yang sedang tumbuh subur.
"Nikmati saja sisa waktumu di sana, Radit... Ini baru permulaan dari kehancuranmu," bisiknya pelan dengan senyum penuh kemenangan.
Tepat seperti dugaan Anindya, tak lama setelah lewat tengah hari...
Ting... ting... ting...
Ponselnya kembali berdering. Nama VANESSA terpampang jelas di layar. Itu adalah kenalan dekatnya yang bekerja di instansi perpajakan.
Anindya tersenyum licik sebelum akhirnya menggeser tombol hijau dan mengangkat panggilan itu.
"Halo, Van..." sapa Anindya dengan suara yang dibuat terdengar sangat lemah dan sedih.
"Halo, Nin. Apa kabar?”
“Aku baik,” jawab Anindya. “Tumben nelpon aku di jam sibuk? Ada apa?” tanya Anindya padahal sudah bisa menebak alasan Vanessa menghubungi nya.
“Syukurlah, kalau kamu baik. Ini, aku cuma mau tanya nih soal pajak perusahaan kalian. Kok sampai sekarang belum dibayar juga? Ini sudah lewat jatuh tempo lho," tanya Vanessa dengan nada profesional namun tetap ramah.
Dalam hatinya Anindya mengacungkan jempol untuk temannya itu yang tidak langsung bertindak keras, tapi memilih menghubunginya dulu.
"Ah, Van... Gimana ya aku ngomongnya?"
“Ada apa? Kalau kamu butuh perpanjangan waktu aku bisa mengurusnya untukmu,” ucap Vanessa.
"Bukan seperti itu,” sahut Anin pelan. “Sebenarnya aku malu buat ngomong. Kamu pasti sudah mendengar tentang masalah antara aku dan Radit. Dan karena masalah itu, saat ini aku sama sekali nggak punya kendali lagi atas perusahaan. Begitu juga dengan semua dana dan aset perusahaan. Semuanya sekarang dipegang sama suamiku, dan dia yang ngatur segalanya. Makanya aku nggak bisa bayar pajak."
"Bahkan..." Anindya menghela napas panjang seolah menahan tangis, "Aku sekarang sudah nggak tinggal di rumah lagi, Van. Aku lagi ngungsi di hotel. Kalau kamu nggak percaya, aku share location sekarang juga deh."
Di seberang sana, Vanessa terdiam sejenak. “Gak perlu, Nin. Aku percaya kok sama kamu. Dan aku benar-benar turut prihatin banget," ucap Vanessa dengan nada penuh kesedihan. "Aku nggak nyangka lho. Dari luar kan dia kelihatan baik banget, penyayang. Ternyata aslinya busuk."
"Terus... terus apa yang bisa aku bantu buat kamu sekarang, Nin? Bilang aja sama aku," tawar Vanessa dengan penuh semangat.
Mendengar itu, sudut bibir Anindya terangkat membentuk senyum menyeringai penuh kemenangan.
"Gak ada kok, Van. Aku masih punya sedikit tabungan. Hanya saja, untuk masalah pajak, kamu kirim saja orang-orangmu untuk datang langsung ke perusahaan Raditya. Biar dia sendiri yang menyelesaikan masalah pajak yang tertunda ini.”
“Baiklah kalau begitu,” ucap Vanessa. “Tapi ingat, ya. Kalau ada apapun yang bisa aku lakukan, kamu jangan ragu ngomong sama aku. Kamu sudah menolongku dulu, berikan aku kesempatan untuk membalas budi.”
"Makasih banyak ya, Van. Tapi kamu tenang saja. Aku Anindya, tidak serapuh itu. Aku masih kuat berdiri," ucap Anindya sebelum mereka sama-sama memutus sambungan.
Anindya tersenyum membayangkan Raditya yang merasakan panasnya masalah yang terus datang tiada henti.
*
Keesokan harinya di ruang rapat perusahaan RA Grup.
Beberapa pemegang saham besar sedang duduk berkumpul, wajah mereka semua tampak muram dan penuh kekhawatiran.
"Volume bisnis perusahaan kita menurun drastis dalam beberapa bulan terakhir," ucap salah satu pemegang saham dengan nada berat. "Penyebabnya ada tiga poin utama. Yang pertama..."
Belum sempat kalimat itu selesai diucapkan...
BRAKK!!
Pintu ruang rapat terbuka dengan kasar. Semua mata tertuju ke arah pintu. Terlihat beberapa orang berpakaian resmi masuk dengan langkah tegap dan wajah serius. Mereka langsung menunjukkan tanda pengenal resmi yang tergantung di leher.
"Maaf mengganggu," sapa salah satu dari mereka dengan suara tegas dan berwibawa. "Kami dari Kantor Pelayanan Pajak. Kami datang karena perusahaan Anda telah menunggak pembayaran pajak yang seharusnya sudah jatuh tempo."
"Karena itu, kami meminta pihak pimpinan perusahaan untuk segera menyelesaikan masalah ini sekarang juga," tegas mereka.
Seketika ruangan menjadi hening total. Wajah para pemegang saham terbelalak kaget. Mereka tidak menyangka ada masalah seperti itu di perusahaan tempat mereka berinvestasi.
Raditya sontak berdiri dari kursinya dengan wajah memerah padam karena kaget dan panik.
"APA?!" serunya tak percaya. "Bagaimana bisa?" tanya Raditya dengan gemetar. Selama ini dia sama sekali tidak tahu menahu urusan pajak.
Orang dari pihak pajak menatap Raditya tajam, membuat jantung Raditya berdegup kencang.
“Biasanya Ibu Anindya yang membereskan masalah pajak. Dan kami sudah mencoba menghubungi beliau kemarin, tetapi beliau mengatakan bahwa beliau sudah tidak lagi aktif di perusahaan.”
Pernyataan itu bagaikan tamparan keras bagi Raditya. Dan lebih parah lagi, pernyataan itu langsung didengar jelas oleh para investor dan pemegang saham yang ada di ruangan itu.
Para investor terbungkam diam. Mereka saling berpandangan, dan dari sorot mata mereka terpancar kekecewaan yang sangat dalam. Kepercayaan mereka terhadap kepemimpinan Raditya seketika runtuh.
apa lgi yg lbih mnyedihkn slain nsibnya s pcundang....udh pd tngkat dewa bkln dpt tender,taunya zonk...😛😛😛....
smntra anin,dia udh bngkit plus dpt dkungn dr bnyak orng yg pduli sm dia....ga sbr nunggu s pcundang hncur.....