Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAMU TAK DIUNDANG DARI MASA LALU
Hidup berjalan sangat tenang dan bahagia setelah pernikahan sakral mereka. Arsen dan Keisha semakin mesra, Leo tumbuh menjadi anak yang cerdas dan lucu, serta bisnis baru Arsen melesat jauh lebih sukses daripada sebelumnya.
Tapi, seperti kata pepatah, awan hitam selalu datang tanpa diprediksi.
Suatu siang yang cerah, saat Keisha sedang duduk santai di teras mengawasi Leo bermain, sebuah mobil sedan mewah berwarna putih berhenti di depan pagar rumah mereka.
Keisha mengerutkan kening. Siapa yang datang siang-siang begini? Arsen belum pulang kantor.
Pintu mobil terbuka, dan turunlah seorang pria dengan penampilan sangat rapi, berkacamata, dan senyum yang sangat ramah serta hangat. Pria itu terlihat baik sekali, berbeda dengan Arsen yang kadang terlihat galak dan seram.
Pria itu melambaikan tangan saat melihat Keisha.
"KEISHA!!" teriaknya senang.
Keisha terpaku. Wajah itu... wajah itu sangat familiar. Otaknya berputar cepat mencoba mengingat dari mana dia kenal pria itu.
"Siapa...?" gumam Keisha.
Pria itu sudah berdiri di depan pagar, "Wah, jangan bilang kamu lupa sama aku dong! Ini aku, Kevin! Teman sekaligus bos kamu waktu kerja di desain grafis di Vancouver dulu, lho!"
BRUK!
Oh Tuhan! Kevin! Teman baik yang selalu membantu Keisha saat dia susah payah bekerja sambil mengurus Leo di Kanada dulu! Pria yang sangat baik, yang sering membantu mengantar jemput Leo, yang bahkan pernah menawarkan diri mau menikahi Keisha supaya Leo punya ayah resmi saat itu!
"Kevin... Om Kevin!" Keisha langsung berdiri kaget, lalu buru-buru membuka pagar. "Ya ampun! Apa kabar? Ngapain kamu ada di Indonesia?!"
"Aku ditugaskan buka cabang di sini dong. Kebetulan tahu kamu tinggal di sini, jadi aku mampir sekalian kangen," jawab Kevin sambil tersenyum lebar. Matanya lalu menatap ke arah Leo yang berlari mendekat. "Wah! Ini pasti Leo kan? Ya ampun, sudah besar saja! Cepat sekali waktu berlalu."
Kevin berjongkok dan menyambut Leo dengan hangat. "Halo Leo, apa kabar? Masih ingat Om Kevin nggak? Suka main mobil-mobilan kan?"
Leo mengangguk antusias. "Ingat! Om Kevin baik!"
Keisha tersenyum lebar. Bertemu teman lama di tempat asing rasanya sangat menyenangkan. Dia mengajak Kevin masuk dan duduk di ruang tamu, menyiapkan teh dan camilan. Mereka mengobrol sangat akrab, tertawa mengenang masa-masa sulit di Kanada dulu. Kevin sangat perhatian, sangat sopan, dan sangat... nyaman.
Tanpa mereka sadari, tepat di depan gerbang, mobil Arsen sudah berhenti.
Arsen baru pulang kerja, siap untuk memeluk istri dan anaknya. Tapi apa yang dilihatnya?
Istrinya tertawa lepas bersama pria asing yang duduk sangat dekat, dan anaknya terlihat akrab sekali dengan pria itu!
Aura di sekitar Arsen langsung berubah gelap. Suasana yang tadinya hangat mendadak jadi sedingin es. Arsen turun dari mobil dengan langkah berat dan perlahan.
Tok... tok... tok... Suara langkah sepatunya terdengar tegas.
Keisha dan Kevin menoleh ke arah pintu.
"Sayang, kamu pulang..." sapanya Keisha senang, tapi senyumnya pudar saat melihat wajah Arsen yang hitam legam.
Arsen tidak menatap Keisha. Matanya terkunci mati pada sosok pria asing di hadapannya. Tatapannya tajam, meneliti, dan penuh ancaman.
"Siapa dia?" tanya Arsen dingin, suaranya rendah tapi bergema.
Keisha langsung sadar suaminya cemburu. Dia buru-buru berdiri dan mendekati Arsen. "Sayang, kenapa mukanya begitu? Ini teman lama aku, namanya Kevin. Dia bos aku dulu waktu di Kanada. Dia baru sampai di Indonesia hari ini."
Kevin berdiri dan mengulurkan tangan dengan sopan. "Halo, Perkenalkan saya Kevin. Pasti suami Keisha ya? Salam kenal. Saya sering dengar cerita tentang Anda dari Keisha."
Arsen tidak menyambut uluran tangan itu. Dia membiarkan tangan Kevin menggantung di udara. Hati Arsen terasa panas membara mendengar kata "sering dengar cerita".
"Oh... teman lama ya?" Arsen tersenyum miring, senyum yang sangat menakutkan. "Teman yang sampai berani-beraninya masuk ke rumah orang dan bikin istriku tertawa sekeras itu?"
"Arsen! Jangan gitu dong! Kevin cuma mampir ziarah..."
"Ziarah apa? Ziarah hati?" potong Arsen cepat, matanya tajam menatap Kevin. "Dengar ya Om Kevin, atau siapa pun namanya. Saya hargai kamu pernah bantai istri saya dulu. Tapi sekarang dia istri saya. Dan saya tidak suka ada laki-laki lain seenaknya duduk di ruang tamu saya sambil ngobrol manis sama dia."
Kevin tidak marah. Justru dia tersenyum tenang, malah membuat Arsen makin naik pitam.
"Saya mengerti perasaan Anda, Tuan Arsen. Tapi saya dan Keisha sudah berteman sangat lama. Bahkan... saat Keisha dan Leo susah payah hidup sendiri di sana, sayalah yang ada di samping mereka. Saya yang sering menjaga Leo saat Keisha kerja lembur."
Kalimat itu bagaikan tamparan keras bagi Arsen.
"Jadi... kau yang ada di sana saat aku tidak ada?" Arsen mengepal tangannya kuat-kuat.
"Benar. Dan jujur saja..." Kevin mendongak, menatap Arsen dengan tatapan yang tidak kalah berani. "Saat itu saya sempat menawarkan pernikahan pada Keisha. Saya mau mengangkat Leo sebagai anak kandung saya sendiri supaya mereka tidak kesulitan. Sayangnya... Keisha menolak karena dia bilang dia masih menunggu Anda."
BRUK!
Keisha ternganga. "Kevin! Kenapa kamu bilang itu?!"
Arsen menatap Keisha lekat-lekat. Matanya berkaca-kaca karena campuran rasa cemburu, marah, dan kaget.
"Dia... menawarimu pernikahan?" suara Arsen bergetar. "Dan kau hampir menerimanya?"
"Bukan begitu, Arsen! Itu dulu! Itu cuma tawaran tolong-menolong!" Keisha panik mencoba menjelaskan.
Tapi Arsen sudah tidak bisa berpikir jernih. Bayangan Keisha dekat dengan pria lain, bahkan pria yang satu ini jelas lebih baik, lebih sabar, dan lebih kaya darinya dulu... membuat akal sehat Arsen hilang.
"Keluar kau dari rumahku," desis Arsen pelan tapi penuh ancaman.
"Arsen!"
"SEKARANG!" bentak Arsen. "Jangan pernah injakkan kakimu lagi di sini atau aku tidak tanggung jawab!"
Kevin menghela napas, lalu menatap Keisha pelan. "Gak apa-apa, Sha. Aku ngerti. Aku pergi dulu. Nanti aku hubungi kamu ya. Hati-hati sama suami yang posesif begini."
Kevin pergi meninggalkan rumah itu.
Tinggalah Arsen dan Keisha yang saling berhadapan. Suasana tegang sekali.
"Jadi selama ini... ada pria lain yang merawat kalian?" tanya Arsen sinis. "Kenapa kau tidak bilang padaku?! Kenapa kau biarkan dia dekat-dekat dengan Leo?!"
"Itu masa lalu, Arsen! Dia cuma teman! Kenapa kamu jadi kaku dan marah begini?!"
"Karena aku cemburu! Karena aku takut kau sadar kalau dia lebih baik dariku! Karena aku takut kau menyesal tidak memilih dia waktu itu!" teriak Arsen meledak.
Tiba-tiba, Arsen terdiam. Dia menatap Leo yang sedang bermain di sudut ruangan. Wajah anak itu... tiba-tiba terlihat lebih mirip gaya rambut dan senyum Kevin daripada dirinya?!
Pikiran jahat dan paranoid mulai masuk ke otak Arsen.
"Keisha..." Arsen menatap istrinya dengan tatapan tak percaya. "Jujur padaku... Leo ini... benar-benar anakku kan? Atau jangan-jangan... anak dia?"
Pertanyaan itu membuat dunia Keisha runtuh seketika.
"KAMU GILA YA, ARSEN?