Setelah 8 tahun pacaran, Nisa yang menunggu dilamar di hari anniversary, justru merima kenyataan pahit jika ia diputuskan oleh Sandi dengan alasan tak setara.
Tapi takdir seperti sedang mengajak bercanda, sebulan kemudian Sandi datang ke rumahnya untuk melamar. Namun bukan ia yang dilamar, melainkan Naina, sang adik yang lulusan S1 dan bekerja sebagai teler di salah satu bank swasta.
Disaat ia terpuruk, ada sosok yang tak sengaja hadir dalam kehidupannya. Sosok yang begitu baik dan humoris, tapi kadang menyebalkan. Dia adalah Januar, seoarang driver ojol.
"Kalau jodoh memang harus setara, kamu nikah sama aku aja, Mbak." Ajakan nikah Januar alias Ojan, hanya disenyumin saja oleh Nisa.
Tapi Ojan, pantang menyerah, ia terus mendekati Nisa, hingga akhirnya wanita itu luluh. Tapi satu kenyataan pahit, membuat Nisa kembali terpuruk. Ternyata selain seorang ojol, Ojan juga merupakan mahasiswa S2. Apakah sekali lagi, ia harus patah hati karena alasan kesetaraan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
[ Pagi Mbak ]
[ Lagi apa? ]
[ Sudah makan? ]
[ Met tidur, jangan lupa mimpiin aku ]
Dan masih banyak lagi chat yang setiap harinya di kirim Ojan setelah nomornya tidak lagi di blokir Nisa.
Tak lagi sedingin dulu, Nisa mulai membalas pesan-pesan dari Ojan selama seminggu ini. Dari pada ponselnya gak pernah bunyi, sunyi senyap, jadi mending WA nan sama Ojan. Cowok itu humoris, bisalah buat dia tertawa, lupa sejenak soal patah hatinya. Ya, sudah hampir sebulan putus, rasanya masih sama, sakit itu belum berkurang sedikitpun.
"Kamu punya pacar baru, Nis?" tanya Dinda saat mereka istirahat, makan siang. Keduanya duduk di kursi pantry, menikmati bekal yang dibawa dari rumah.
"Enggak." Nisa meletakkan ponsel ke atas meja setelah membalas pesan Ojan yang menanyakan apakah dia sudah makan siang.
"Kirain udah punya pacar baru, tiap siang aku lihat sibuk chatingan."
"Teman." Nisa melanjutkan makannya.
"Pasti laki kan?"
"Kok kamu tahu?"
"Beneran laki, Nis?" Wajah Dinda tiba-tiba sumringah, ia sampai memegang lengan Nisa, menatapnya, menunggu jawaban.
"Kenapa sih nih anak?"
"Keren gak?"
"Kamu kenapa sih?" Nisa pengen ketawa melihat ekspresi Dinda. Setahu dia Dinda sudah punya calon suami di kampung, kenapa jadi kayak kegandrungan gini ke cowok.
"Ya kalau keren, baik, tanggung jawab, serius, buruan jadian."
Nisa makin heran lagi pada Dinda.
"Kadang, membuka hati pada orang lain, bisa mempercepat move on."
"Aku gak ada kepikiran soal itu, Din."
"Ya makanya dipikirin saranku. Eh, kamu tahu gak, Nis?"
"Enggaklah, kamu kan gak ngasih tahu." Nisa menutup mulut dengan telapak tangan, menahan senyum.
"E..." Dinda melepas lengan Nisa, meremat celana kerjanya sambil celingukan, kayak orang bingung.
"Kenapa sih? Sumpah, kamu aneh banget hari ini."
"Nis." Dinda meraih tangan Nisa, menggenggam sambil menatap kedua matanya. "Jangan sakit hati ya. Janji juga jangan nangis setelah tahu soal ini."
"Apasih, kamu bikin aku penasaran sekaligus gelisah tahu gak, takut. Jangan bilang, kamu mau resign, pulang kampung, ninggalin aku juga."
Dinda menggeleng. "Mas Gilang mau ikutan merantau ke Jakarta setelah kami nikah. Jadi insyaallah, aku gak akan pernah resign."
"Alhamdulillah." Nisa menggeser kursinya lebih dekat pada Dinda, lalu memeluknya. "Kamu sabahat terbaikku, Din. Kamu jugalah, yang paling setia sama aku." Matanya berkaca-kaca. "Eh, kalau bukan mau resign, kamu mau bicara apa sih?" Melepas pelukannya, kembali menegakkan badan.
"E..." Dinda kembali ragu. Ia menarik nafas dalam, lalu membuangnya perlahan. "Pak Sandi..., dia udah punya pacar baru.'
Tubuh Nisa membeku, tatapannya seketika kosong. Sebuah rasa menyelinap di hati tanpa diminta, rasa sakit yang luar biasa, menembus hingga jantung dan hatinya. Tubuhnya bergetar, matanya memanas.
Kalau cowok mutusin pacarnya, itu tandanya dia sudah punya yang baru.
Nisa teringat ucapan Ojan tempo hari.
"Aku tahunya pas dia lagi di ledekin teman-temannya. Dan...kata Bu Anggita, pacarnya mirip kamu, Nis."
Nisa meremat celananya, dadanya semakin sesak, seperti dihimpit sesuatu yang besar dan berat. Hanya ada dia dan Dinda di pantry, tapi rasanya, oksigen di dalam sana seperti habis, hingga untuk bernafas saja susah.
Ada rasa tak terima Sandi move on secepat ini. Masih belum satu bulan, bahkan lukanya masih menganga, masih terasa perih, tapi laki-laki itu sudah dengan perempuan lain. Jika benar alasannya karena orang tuanya tak setuju, bukankah seharusnya mereka sama-sama patah hati saat ini. Ia pernah mendengar kutipan, hanya butuh beberapa menit untuk jatuh cinta, tapi melupakan, butuh waktu seumur hidup.
Sepertinya, kutipan itu tak sesuai untuk Sandi. Jangankan seumur hidup, belum satu bulan saja, pria itu sudah melupakannya. Diputusin memang sakit, tapi mendapati kenyataan jika mantan sudah punya pasangan baru sebelum sebulan mereka putus, rasanya lebih sakit lagi. Ia bangkit, menggeser kursinya ke belakang lalu melangkah pergi. 'Aku ke toilet dulu."
Dinda tertunduk lesu, menyesal menceritakannya ini semua. Nisa terlihat sangat sedih, sahabatnya itu pasti ke toilet untuk menangis. Iya, pasti itu.
Pulang kerja, Nisa mengurung diri di kamar hingga malam. Ia tak keluar untuk makan atau pun mencuci baju, padahal keranjang pakaian kotornya sudah penuh. Selalunya, ia mencuci baju Sabtu sore, karena kalau Minggu pagi, berbarengan dengan Naina, jemuran tidak cukup.
Selepas isya, terdengar ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Tok tok tok
"Nis." Panggil Bu Wiwik dari balik pintu kamar Nisa. "Dipanggil Ayah."
Nisa mende dah pelan, frustasi. Ayahnya pasti menanyakan soal Sandi. Minggu lalu Ayahnya memintanya mengajak Sandi datang. "Iya, Bu." Dengan malas-malasan, ia bangun lalu keluar kamar. Tampak Ayahnya duduk lesehan di karpet depan TV, menonton acara berita.
"Eh Nis, sini." Pak Bambang yang melihat kedatangan Nisa, menggeser duduknya, memberi tempat untuk putrinya tersebut.
Nisa duduk di samping Ayahnya, menunduk sambil memainkan jemari.
"Bagaimana Sandi, dia kesini malam ini?" tanya Pak Bambang.
Nisa menggeleng pelan. "Kak Sandi sibuk, Yah."
Terdengar helaan nafas berat Pak Bambang. "Ya udah, besok suruh kesini, mumpung minggu."
"E...sebenarnya..." Nisa tak mau terus berbohong tentang hubungannya dan Sandi.
"Yah," panggil Naina yang baru keluar kamar.
"Eh, Nai," Pak Bambang menoleh.
"Aku mau bicara." Naina ikut bergabung duduk di karpet. "Bu!" teriaknya, memanggil Ibunya yang ada di dapur, terdengar suara orang sedang mencuci piring.
"Mau ngomong apa sih?" Pak Bambang penasaran.
"Bentar, nungguin Ibu."