Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malaikat yang Kehilangan Sayapnya
Hari ke-34
Nampan datang jam 7 pagi. Masih sama: roti tawar, air putih.
Bedanya kali ini, Florence nggak banting nampan.
Dia duduk. Nafasnya pelan. Matanya sayu, bibirnya kering, pecah-pecah, ada bekas darah kemarin. Rambutnya kusut nempel di pipi. Berat badannya mungkin turun 5 kilo lebih.
Tapi dia ambil roti itu. Gigitan pertama. Keras. Hambar. Kayak makan kardus.
Kunyah. Telan. Sakit di tenggorokan.
Kunyah lagi. Telan lagi.
Air matanya netes ke roti. Asin. Setidaknya sekarang ada rasanya.
“Makan. Jangan bikin aku rugi dua kali.”
Kalimat Lucifer semalam jadi mantra. Tapi Florence plintir artinya.
Makan. Biar ada tenaga. Biar bisa manjat. Biar bisa lari. Biar bisa mukul kepala pengawal pake kursi besi itu.
Jadi ya, aku bakal makan. Bukan buat kamu. Buat aku. Buat kabur dari neraka kamu.
Dia habisin roti itu. Habis juga airnya. Perutnya nolak, mual, tapi dia paksa. Ini bukan makan. Ini isi bensin. Strategi perang.
Habis itu, dia berdiri. Pelan. Kaki gemeter. Dia jalan ke cermin di kamar mandi. Pertama kalinya dalam 33 hari.
Yang dia lihat... bukan Florence Beatrix anak panti.
Yang dia lihat itu mayat hidup. Tulang pipi nonjol. Mata coklatnya gede tapi kosong. Kulit pucat kayak mayat. Bibir luka.
Tapi...
Di balik semua itu, di balik kurus, di balik kotor, di balik sayu... tulang wajahnya masih sama. Hidungnya masih kecil. Bulu matanya masih lentik. Rambut coklatnya, walau kusut, tetap jatuh kayak sutra.
Cantiknya nggak mati. Cuma... disiksa. Dikurung. Kehilangan sayapnya.
Florence ngusap cermin. “Bertahan. Dikit lagi.”
Di lantai atas, ruang CCTV.
Lucifer Tidak tidur semalaman. Gelas whisky semalam Tidak kesenggol. Dia cuma duduk, nonton layar 7x24.
Dan pagi ini, dia lihat sesuatu yang bikin rahangnya mengeras.
Florence makan.
Tidak dibanting. Tidak dimuntahin. Dihabisin.
Akhirnya nurut,_ pikirnya. _Bagus. Aset pinter.
Tapi matanya nggak lepas dari layar pas Florence jalan ke cermin.
Dia lihat gadis itu berdiri di depan kaca. Kurus. Hancur. Gaun kotor. Luka di bibir.
Tapi Lucifer bukan lihat itu.
Dia lihat lengkungan leher Florence pas nunduk.
Lihat tulang selangka yang sekarang nonjol, tapi entah kenapa malah keliatan... rapuh yang indah.
Lihat mata coklat itu, sayu, tapi sorotnya... masih ada. Api kecil yang dia kira udah dia injak mati semalam.
Frustasi. Bibir kering. Mata sayu. Rambut kusut.
Kenapa... kenapa cantiknya Tidak pernah pudar?
Kata-kata terkutuk itu muncul di otaknya. Kata-kata yang dia kubur sejak di kapel: Malaikat.
Malaikat yang kehilangan sayapnya. Disiksa di neraka. Tapi sayap patah pun tetap sayap malaikat. Cantiknya beda. Cantik yang bikin dada sakit. Cantik yang bikin iblis inget surga itu ada, tapi bukan buat dia.
Lucifer matiin monitor kasar. Nggak mau lihat lagi.
Goblok. Dia tahanan. Dia mengungkit kuburan Mama. Dia cuma aset.
Tapi tangannya ngerogoh saku. Kelopak mawar kering dari kemarin masih ada. Sekarang udah jadi bubuk. Dia remes lagi. Sampai perih.
Hari ke-36
Florence udah bikin jadwal di otaknya.
Jam 7: Makan. Wajib.
Jam 8-10: Olahraga. Push-up di lantai. Sit-up. Walau cuma kuat 3 kali, dia lakuin. Kakinya harus kuat buat lari.
Jam 11-1: Tidur. Simpen tenaga.
Jam 2-4: Merhatiin. Dengerin langkah pengawal di luar. Kapan ganti shift. Berapa orang. Di mana kunci biasanya digantung.
Malam: Ngomong ke salib. “Tuhan, saya nggak minta mukjizat. Minta kesempatan aja. Sedetik. Cukup.”
Dia udah Tidak Menangis. Air matanya buat energi saja. Dia simpan.
Kursi besi sudah dia geser, pelan-pelan, tiap hari 1 cm. Deketin pintu. Seprai sobek sudah dia pelintir jadi tali. Disembunyiin di bawah kasur.
Dia Tidak peduli Lucifer bilang dia aset. Dia Tidak peduli Lucifer lihat dia hancur.
Yang dia peduli: Gue harus keluar. Gue harus cari tau orang tuaku beneran mati atau nggak. Gue harus hidup.
Hari ke-40
Nampan datang. Kali ini ada tambahan.
Sup ayam. Masih hangat.
Tidak ada catatan. Tidak ada sapu tangan. Cuma sup.
Florence diem. Ngeras. Perangkap?
Tapi perutnya bunyi. Otaknya teriak: Kalori. Protein. Tenaga buat kabur.
Dia makan. Pelan. Nikmatin. Sambil mikir.
Dia tau aku makan. Dia naikin porsi. Kenapa? Takut asetnya mati beneran? Atau...
Dia kubur pikiran itu. Jangan. Jangan mikir dia peduli. Itu racun. Itu yang bikin kamu lemah kemarin.
Di ruang CCTV, Lucifer lihat Florence ngabisin sup itu.
Bibirnya — yang udah nggak sekering kemarin — gerak pas ngunyah. Mata sayunya merem dikit pas ngerasain hangat.
Sialan.
Dia bisik ke layar, suaranya cuma buat dirinya sendiri. “Makan saja. Gemuk dikit. Biar pas kabur nanti... gue nggak gampang nangkepnya.”
Bohong. Dia tau dia bohong.
Yang bener: dia nggak sanggup lihat malaikat itu kelaparan lagi. Walau malaikat itu adanya di neraka dia. Walau malaikat itu benci dia.
Malaikat patah sayap pun... tetap lebih terang dari seluruh neraka ini.
Dan itu yang bikin Lucifer paling takut.