NovelToon NovelToon
PAK USTADZ JANGAN GODAIN SAYA

PAK USTADZ JANGAN GODAIN SAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: wanudya dahayu

Zahra dijodohin sama Rayan karena wasiat almarhum Ayah Zahra yang sahabatan sama Abah Rayan. Zahra _ngamuk_ karena ngerasa nggak pantes jadi istri ustadz. Rayan juga _shock_ karena harus nikah sama cewek bertato yang nggak bisa baca Al-Fatihah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: SIDANG DEWAN PENGURUS PESANTREN- ZAHRA BUKA SUARA

Hari ke-40 di Ndalem. Status Zahra Almira: Bu Nyai Yang Hari Ini Sidang Skripsi Tapi Taruhannya Nama Mertua.

Jam 08.00, aula Ndalem Pusat penuh. Karpet merah, 50 kyai duduk melingkar. Di tengah ada meja. Di meja ada mic. Di atas mic ada nyawa nama Kyai Abdullah.

Aku duduk di pojok. Sebelah Rayan. Sebelahnya lagi Bunda Aisyah. Tanganku dingin. Tapi wajah sok cool. Mental barista, Zahra. Inget. Customer marah aja lo ladenin, masa 50 kyai lo takut?

Di seberang, Kyai Zaid duduk paling depan. Sebelahnya Ning Aliya. Pake gamis syar'i item. Main korban lagi. Di belakangnya ada Bu Romlah cs. Kemarin demo, sekarang jadi saksi. Dunia emang panggung sandiwara.

Kyai Sepuh dari Jombang ketok palu. "Sidang Dewan Pengurus dibuka. Agenda: Klarifikasi kegaduhan Ndalem Al-Hikmah."

Kyai Zaid langsung berdiri. Nggak pake salam.

"Para Kyai," katanya. Suara ngebas. "Saya bawa anak saya ke sini bukan buat ngemis. Tapi buat minta keadilan. Anak saya, Aliya, difitnah. Dibilang goda suami orang. Padahal dia cuma khawatir Ndalem rusak karena istri Ustadz Rayan nggak punya adab."

Aku bisik ke Rayan. "Tadz, kalau khawatir doang kok sampe nyuruh nikah? Itu khawatir apa modus?"

Rayan nyikut pelan. "Sst. Fokus."

Kyai Zaid lanjut. "Solusi saya cuma satu. Demi dar’ul mafasid, Ustadz Rayan harus nikahi Aliya. Biar fitnah mati. Biar nama Ndalem bersih. Kalau menolak, maka saya usulkan, Ustadz Rayan dicoret dari Anggota Dewan Pengurus. Karena gagal jadi contoh."

Satu aula gumam. Ada yang angguk. Ada yang istighfar.

Kyai Sepuh nengok ke Rayan. "Ustadz Rayan, antum mau bicara?"

Rayan berdiri. Tegak. Tangannya ngepal. Tapi suaranya tenang.

"Para Kyai, saya Rayan bin Abdullah. Ndalem ini wakaf dari Abah saya. Saya nikah sama Zahra, sah. Secara agama, secara negara. Saya nggak akan poligami. Bukan karena nggak mampu. Tapi karena saya janji sama istri saya. Dan poligami karena paksaan itu dzolim."

Kyai Zaid gebrak meja. "Dzolim? Yang dzolim itu kamu! Bikin Ndalem gaduh! Bikin Ning Aliya rusak namanya,"

Nah. Ini dia. Darah baristaku naik.

Aku berdiri. Semua kaget. Cewek. Berani interupsi sidang kyai.

"Interupsi, Kyai," kataku. Senyum. "Boleh ya? Atau di sini perempuan disuruh diem aja?"

Satu aula hening. Bu Nyai Fatimah di pojok senyum tipis. Kode: Hajar, Nduk.

Kyai Zaid melotot. "Ini sidang kyai! Kamu siapa?!"

"Saya Zahra," jawabku. "Istri sah Ustadz Rayan. Orang yang katanya nggak punya adab. Tapi aneh ya, Kyai. Katanya saya nggak beradab, kok Kyai nyuruh suami saya nikahin anak Kyai? Emang adabnya nyuruh orang poligami buat nutup aib sendiri?"

JEDER. Satu aula kayak kesamber petir. Bu Romlah langsung batuk-batuk.

Kyai Zaid merah. "Kamu! Kamu tau apa tentang fitnah?! Kamu yang orang luar, tidak jelas asalnya masuk di Ndalem! Kamu yang bikin kegaduhan!"

"Kegaduhan yang bagaimana maksud, Kyai?"

"Kamu yang viral bakar foto mantan di Ndalem, dibuat konten sama santri,. Memalukan, terus kamu juga yang buat arak-arakan taaruf di Ndalem, bukan?"

"Betul, Kyai," jawabku. Santai. "Saya bakar foto mantan. Daripada bakar rumah tangga orang. Saya taaruf sama suami sendiri. Daripada taaruf sama suami orang. Jadi yang nggak beradab siapa?"

Ustadz Fadhil di belakang noel peci. Nahan ketawa.

"Terus soal dicoret dari Dewan," lanjutku. Maju dua langkah. "Kyai Zaid, Ndalem ini wakaf. Bukan punya Dewan. Abahnya Rayan, Kyai Abdullah, bangun Ndalem ini pake keringet, bukan pake SK Dewan. Jadi kalau mau coret nama Abah, coret dulu sejarah. Bisa?"

Kyai Sepuh ketok palu. "Tenang. Tenang. Ning Zahra, antum punya bukti?"

Aku ngangguk ke Rayan. Rayan ngeluarin map.

"Bukti pertama," kata Rayan. "Salinan akta wakaf. Ndalem atas nama Kyai Abdullah. Dewan nggak punya hak coret pemilik."

"Bukti kedua," lanjutku. Ngambil map dari Rayan. "Rekaman pengakuan. Tiga tahun lalu, Ning Aliya pernah khalwat sama santri senior di gudang kitab. Kasus ditutup sama Kyai Zaid. Mau saya puter, Kyai?"

Ning Aliya langsung berdiri. "FITNAH! ITU FITNAH!"

Aku angkat alis. "Loh, Ning? Katanya tadi minta keadilan. Giliran dibuka kedoknya, kok teriak fitnah? Standar ganda apa standar tiang listrik?"

Satu aula ribut. Kyai Zaid gebrak meja lagi. "KURANG AJAR! INI SIDANG, BUKAN PASAR!"

"Pasar aja lebih adil, Kyai," balasku. "Di pasar, timbangan keliatan. Di sini, timbangannya diumpetin di bawah sorban."

Ustadz Fadhil nggak kuat. Ngakak. Langsung ditoyor kyai sebelahnya.

Kyai Sepuh ketok palu 3x. "CUKUP! Ning Zahra, antum duduk. Ustadz Fadhil, antum maju. Benar antum punya bukti?"

Ustadz Fadhil maju. Bawa flashdisk. "Benar, Kyai. Saya yang nutup kasus itu dulu karena disuruh. Tapi saya rekam. Karena saya tau, suatu hari bakal kepake."

Dia colok laptop. Play. Suara Kyai Zaid muncul: "Udah, biarin. Bilang aja Aliya sakit. Jangan sampe nama kita jelek. Urusan nikahin ke siapa nanti gampang."

Satu aula mati. Kayak dicabut nyawanya.

Kyai Zaid pucat. Ning Aliya nangis beneran sekarang. Bukan akting.

Aku duduk lagi. Kaki gemeter. Tapi hati puas.

Kyai Sepuh lepas kacamata. Ngelap. Suaranya berat. "Sidang diskors 15 menit. Dewan perlu musyawarah."

Pas skors, Bu Nyai fatimah nyamperin aku. Bisik-bisik. "Nduk, mentalmu mental malaikat Izrail. Kyai aja kamu bikin pucat. Tapi ati-ati. Orang kalah itu biasanya main kasar."

Aku senyum. "Tenang, Bu. Saya barista. Udah biasa dilempar gelas sama customer. Paling banter dilempar sendal."

Baru ngomong gitu, pintu aula kebuka. Masuk 10 orang. Bawa spanduk gede. Tulisannya: "TURUNKAN USTADZ RAYAN! USIR ZAHRA PERUSAK NDALEM!"

Bu Romlah teriak. "LIAT! UMAT UDAH MARAH! MASIH MAU BELAIN?!"

Rayan berdiri. Mau maju. Kutahan.

"Biar aku, Tadz," kataku. "Kalau Tadz maju, nanti dikira Ustadz ngamuk. Kalau aku maju, dikira emak-emak ngamuk. Beda kasta."

Aku jalan ke depan massa. Sepuluh lawan satu.

"Bu, Pak," kataku. Teriak biar kedengeran. "Mau demo silakan. Tapi spanduknya salah. Yang harusnya diturunkan itu bukan Ustadz Rayan. Tapi Kyai yang nutupin aib anaknya pake nikahin orang!"

Massa diem. Bingung.

"Saya kasih tau ya," lanjutku. "Tadi ada rekaman. Kyai Zaid nyuruh nutup kasus khalwat Ning Aliya. Ibu-ibu dibayar berapa buat demo? Seratus? Dua ratus? Murah banget harga suara Ibu buat belain kebohongan."

Satu ibu-ibu mundur. Bisik-bisik. "Lah, katanya kita belain agama..."

"Agama nggak nyuruh demo bayaran, Bu," balasku. "Agama nyuruh tabayyun. Nih, dengerin dulu hasil sidang. Kalau saya salah, saya yang keluar dari Ndalem. Tapi kalau saya bener, Ibu-Ibu mau minta maaf nggak ke Bunda Aisyah?"

Nggak ada yang jawab.

15 menit abis. Sidang lanjut.

Kyai Sepuh ketok palu. "Keputusan Dewan ..."

Satu aula nahan napas. Tanganku dingin lagi. Rayan genggam tanganku. Erat.

"Keputusan Dewan ..."

1
hasatsk
setelah di baca terus menerus ternyata ceritanya seru.....💪💪
wanudya dahayu: makasi kak 🙏. lagi nyari ide lagi, biar bisa menuhi syarat kontrak. doain ya kak. 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Di Dia
tokoh aryanya cpt"di singkirin ...
Titik Sofiah
awal yang menarik ya Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍😍😍
wanudya dahayu: iya kak, semoga suka, mohon dukungannya 😍🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!