Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.
IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12 : Ke Salon
Pagi datang lebih cepat dari yang Nayra harapkan. Sinar matahari masuk melalui jendela besar ruang makan, memantulkan cahaya hangat ke meja panjang yang sudah dipenuhi berbagai hidangan.
Nayra duduk bersama Raya dan Alea. Seperti biasa… mereka sarapan bersama. Namun suasananya terasa berbeda. Raya makan dengan tenang. Tidak banyak bicara. Sesekali hanya menatap makanannya, seolah sedang memikirkan sesuatu.
Berbeda dengan Alea. Anak kecil itu terlihat sangat antusias. Matanya berbinar melihat berbagai makanan di atas meja.
“Mama, ini enak!” ucapnya sambil menggigit sandwich.
Belum selesai, tangannya sudah meraih pancake. Lalu waffle, semua yang ada di meja… dicicipinya satu per satu. Benar-benar seperti tuan putri kecil yang bebas memilih apa saja.
"Alea, makannya pelan-pelan sayang, " ucap Nayra dengan lembut.
Alea hanya melirik Ibunya dan tersenyum dengan mulut yang sudah penuh makanan.
Di sisi lain, Arsen duduk dengan tenang. Ia makan seperti biasa. Tenang dan tanpa banyak bicara. Seolah tidak terganggu oleh suasana di sekitarnya.
Tatapannya fokus pada makanannya sendiri. Tidak menegur dan juga memperhatikan Alea yang hampir mencoba semua hidangan.
Hening kembali menyelimuti meja makan. Hingga akhirnya...
“Om…” Suara Raya memecah suasana.
Semua sedikit terdiam. Raya menatap lurus ke arah Arsen, wajahnya serius.
“Kalau aku tinggal di sini… bagaimana dengan sekolahku?”
Pertanyaan itu, membuat Nayra langsung menoleh. Ia sendiri belum sempat memikirkan hal itu.
Arsen tidak langsung menjawab. Ia hanya berhenti sejenak, lalu mengangkat tangannya sedikit.
“Anton.”
Seorang pria yang sejak tadi berdiri tidak jauh langsung mendekat.
“Iya, Tuan.”
Arsen tidak menoleh. “Jelaskan.”
Anton mengangguk, lalu menatap Raya dengan sopan.
“Untuk Nona Raya,” ucapnya tenang, “sekolah sudah Tuan Asen pindahkan ke sekolah International High School.”
Nayra langsung tersentak. Raya membeku.
“Namun,” lanjut Anton, “Nona Raya baru bisa mulai masuk setelah Nona Nayra dan Tuan Arsen selesai melangsungkan pernikahan.”
Semua itu terlalu tiba-tiba. Raya langsung menoleh ke arah Nayra. Matanya penuh tanya. Nayra sendiri terlihat kaget. Ia membuka mulut, ingin bertanya namun...
Kursi Arsen sudah bergeser, berdiri. “Nayra, saya berangkat dulu.” Singkat. Tegas. Tanpa memberi ruang untuk dibantah.
Langkahnya langsung menjauh. Namun sebelum benar-benar pergi, ia berhenti sejenak.
“Jam sembilan,” ucapnya tanpa menoleh. “Kalian harus sudah berada di salon.”
Lalu, ia benar-benar pergi. Meninggalkan keheningan yang jauh lebih berat dari sebelumnya.
Nayra terdiam. Raya masih menatapnya. Alea masih sibuk dengan makanannya, seolah dunia orang dewasa tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Nayra menarik napas pelan. Semuanya terasa… terlalu cepat. Dan kini, bukan hanya hidupnya yang berubah. Tapi juga kehidupan anak-anaknya.
Hening itu bertahan cukup lama.
Raya masih menatap Nayra. Tatapannya tidak seperti anak seusianya, lebih banyak pertanyaan yang tidak terucap.
“Ma…” suaranya pelan.
Nayra langsung tersadar. Ia berusaha tersenyum, meski terasa berat.
“Iya, Sayang?”
Raya ragu sejenak, lalu berkata, “Aku… harus pindah sekolah?”
Pertanyaan sederhana itu terasa seperti beban yang jatuh tepat di hati Nayra. Ia tidak langsung menjawab. Tangannya meraih tangan Raya, menggenggamnya lembut.
“Iya…” jawabnya akhirnya, pelan. “Sepertinya begitu.”
Raya menunduk, ia tidak menangis. Tapi jelas… ia tidak senang. “Itu jauh dari sini?” tanyanya lagi.
Nayra menggeleng pelan. “Mama juga belum tahu pasti.” Jawaban yang jujur.
Dan justru karena itu, terasa makin tidak menenangkan. Alea yang sejak tadi diam, tiba-tiba ikut bicara dengan mulut masih penuh.
“Kalau kakak punya sekolah baru, aku sekolah juga nggak?” Pertanyaan polos itu membuat Nayra sedikit tersenyum.
“Iya, nanti Alea juga sekolah,” jawabnya lembut.
“Di tempat yang sama?” tanya Alea lagi, matanya berbinar.
Nayra terdiam sejenak. Ia tidak tahu dan itu membuat hatinya kembali terasa sempit.
“Kita lihat nanti, ya,” ucapnya.
Alea mengangguk puas, lalu kembali sibuk dengan makanannya.
Sementara itu, Raya kembali diam. Tangannya kini tidak lagi bergerak mengambil makanan. Pikirannya jelas sedang bekerja.
Nayra bisa melihatnya. Dan itu justru membuatnya semakin tidak tenang.
“Raya…” panggil Nayra pelan.
Anak itu menoleh.
“Mama tahu ini semua tiba-tiba,” lanjut Nayra lembut. “Tapi Mama janji, Mama akan pastikan semuanya baik untuk kamu.”
Raya menatapnya cukup lama. Seolah mencoba mempercayai kata-kata itu.
Lalu akhirnya… ia mengangguk kecil. “Kalau Mama bilang begitu… aku percaya.”
Kalimat itu, membuat dada Nayra terasa sesak. Kepercayaan yang terlalu besar, untuk kondisi yang bahkan ia sendiri belum pahami sepenuhnya.
Nayra tersenyum tipis, lalu mengusap kepala Raya. “Ayo habiskan makanannya,” ucapnya pelan.
Beberapa waktu kemudian, sarapan selesai. Para pelayan mulai membereskan meja. Martha muncul kembali, berjalan mendekat dengan sikap tenang.
“Nona,” ucapnya sopan, “semua sudah siap. Apakah Nona sudah siap untuk berangkat?”
Nayra mengangguk. Ia berdiri, lalu menggandeng tangan Alea. Sementara Raya berjalan di sampingnya.
Langkah mereka perlahan menuju keluar mansion. Namun sebelum benar-benar melangkah masuk ke mobil, Nayra berhenti sejenak. Tatapannya terangkat ke arah bangunan besar itu. Tempat yang… baru saja mengubah arah hidupnya.
Ia menarik napas panjang. Lalu menunduk, menggenggam tangan kedua anaknya lebih erat.
“Yuk,” ucapnya pelan.
Dan kali ini, ia benar-benar melangkah maju. Menuju sesuatu yang belum ia ketahui… tapi tidak bisa lagi ia hindari.
Mobil melaju dengan tenang meninggalkan halaman mansion.
Di dalam, suasana tidak terlalu ramai. Hanya suara mesin mobil dan sesekali bunyi jalan yang dilalui.
Nayra duduk di tengah. Di samping kanan kirinya, Raya dan Alea. Beberapa menit pertama… hening.
Namun seperti biasa, Raya yang lebih dulu memecahnya.
“Ma…”
Nayra menoleh. “Iya?”
Raya mengernyit sedikit. “Kenapa kita harus ke salon?”
Pertanyaan itu membuat Nayra terdiam sejenak. Ia menarik napas pelan, lalu mencoba menjawab dengan tenang.
“Om Arsen bilang… supaya kita terlihat lebih segar,” ucapnya.
Raya tidak langsung puas. Alisnya justru makin berkerut. “Kenapa nggak di rumah saja?” lanjutnya. “Kan Om Arsen bisa panggil orang salon ke rumah.”
Nayra sedikit membuka mulut. Ia sebenarnya memikirkan hal yang sama. Namun sebelum sempat menjawab...
“Karena Tuan ingin Nona dan anak-anak merasa lebih nyaman. Suara Martha terdengar dari kursi depan. Tenang. Sopan. Tapi jelas.
Nayra langsung menoleh sedikit.
Martha melanjutkan, “Di sana suasananya lebih menyenangkan. Tidak hanya perawatan saja,” ucapnya. “Ada juga tempat bermain untuk anak-anak.”
Raya sedikit terdiam. Namun, Alea yang sejak tadi diam, langsung mengangkat wajahnya.
Matanya berbinar. “Tempat bermain?” ulangnya.
Martha tersenyum tipis. “Iya, Nona kecil. Playground.”
Alea langsung menatap penuh penasaran. “Apa itu playground?” tanyanya polos.
Nayra tersenyum kecil. Ia mengusap rambut Alea lembut. “Itu tempat bermain, Sayang,” jawabnya pelan. “Banyak mainan. Ada perosotan, ayunan…”
Belum selesai...
“Benar, Ma?!” Alea langsung berseru kecil. Matanya berbinar lebih terang dari sebelumnya.
Raya melirik adiknya, lalu menghela napas pelan. “Kamu senang banget sih…” gumamnya.
Alea mengangguk cepat. “Iya! Aku mau main!”
Suasana yang tadi sedikit tegang, perlahan mencair.
Nayra menatap kedua anaknya. Untuk pertama kalinya sejak pagi, ada sedikit rasa lega di dalam dadanya.
Mobil terus melaju dan di balik kaca jendela, kota mulai ramai. Sementara di dalam mobil, perjalanan itu bukan hanya menuju salon. Tapi juga… menuju perubahan yang tidak bisa lagi mereka hindari.
semangat, lanjut thoor😄👍