NovelToon NovelToon
SILK AND STEEL

SILK AND STEEL

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:388
Nilai: 5
Nama Author: lusi rohmah

Ini bukan kisah cinta yang indah dan damai, melainkan hubungan yang dibangun di atas kekuasaan, ketakutan, dan hasrat yang membara namun membinasakan.


Disclaimer: ini cerita pendek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lusi rohmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DALAM KEKUASAANMU

Angin malam berhembus lewat, membawa serta suara deru kendaraan dari kejauhan yang terdengar samar saja. Di tempat yang sepi itu, Alana masih diam terpaku, menatap lurus ke wajah Raka. Kata-katanya tadi terasa seperti belati yang menusuk tepat di ulu hati, membuatnya sulit bernapas.

“Kenapa aku?” tanyanya akhirnya, suaranya pecah dan nyaris tidak terdengar.

“Dari semua orang yang ada di kota ini, kenapa harus aku?”

Raka tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak menghangatkan. Ia melangkah sedikit mendekat, sampai jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa sentimeter saja. Bau khas dirinya tercium kembali, bau yang dulu membuatnya merinding, tapi kini terasa seperti sesuatu yang tidak bisa ia lepaskan lagi.

“Sudah aku bilang, kan? Ayahmu itu orang yang paling ingin aku jatuhkan. Dan kau... kau hal yang paling ia sayangi, yang paling ia jaga. Kalau aku bisa memilikimu, berarti aku sudah menang setengah perang ini,” jawabnya datar.

Tapi seketika tatapan matanya berubah, ada sesuatu yang lain yang tersembunyi di baliknya, sesuatu yang sulit dijelaskan.

“Dan selain itu... ada hal lain juga. Aku tidak pernah menemukan orang sepertimu. Orang yang takut tapi tetap berani menatapku, orang yang hidup di dunia indah tapi matanya seolah sudah tahu banyak hal buruk. Kau menarik perhatianku, Alana. Dan kalau sesuatu sudah menarik perhatianku, aku tidak akan pernah melepaskannya begitu saja.”

Alana menggeleng cepat, air mata tanpa sadar sudah menggenang di sudut matanya. “Itu tidak adil! Aku tidak bersalah apa-apa! Aku tidak pernah ikut campur urusan kalian, kenapa aku yang harus menanggungnya?”

“Dunia ini tidak pernah adil, gadis manis. Kau baru menyadarinya sekarang?” ujarnya sambil tertawa kecil, lalu tangannya terulur dan menyeka air mata yang mulai jatuh itu dengan ujung jarinya. Gerakannya pelan, tapi tetap terasa memaksa, seolah ia punya hak penuh untuk melakukan apa saja padanya.

“Air matamu itu indah. Tapi percayalah, nanti kau akan menangis untuk hal-hal yang jauh lebih berat dari ini.”

Ia menarik tangannya kembali, lalu berbalik seolah hendak pergi. Sebelum berjalan jauh, ia menoleh lagi dan berkata, “Mulai besok, aku akan datang lagi ke rumahmu. Alasan resminya masih sama—ikut membantu urusan pemerintahan. Jadi kau harus terbiasa melihatku, terbiasa berbicara denganku, terbiasa ada aku di sekitarmu. Dan ingat, setiap perkataan, setiap tingkah lakumu, aku yang mengaturnya sekarang. Jangan sampai kau melakukan sesuatu yang membuatku kecewa.”

“Kau pikir aku akan menuruti semua keinginanmu dengan begitu saja?” bentak Alana, meski ia tahu betapa percuma hal itu.

Raka berhenti, lalu menoleh dan menatapnya tajam. “Coba saja kalau berani. Ingat ancamanku tadi. Satu kesalahan kecil saja, dan orang-orang yang kau sayangi akan merasakan akibatnya. Kau mau itu terjadi? Kau mau melihat ayahmu jatuh sakit karena tekanan batin? Atau melihat orang-orang yang selama ini melayanimu dan menjagamu mendapatkan hal yang tidak seharusnya mereka dapatkan?”

Kalimat itu membuat Alana terdiam. Ia tahu, ia benar-benar tahu bahwa Raka tidak sekadar mengancam. Ia bisa melakukannya, dan ia akan melakukannya kalau perlu. Perasaan takut dan benci berkecamuk di dalam hatinya, tapi apa daya? Ia tidak punya kekuasaan apa pun di sini. Ia seperti burung yang sayapnya sudah dipotong, tidak bisa terbang ke mana pun.

“Baiklah,” jawabnya pelan, suaranya terasa kering.

“Aku akan melakukan apa yang kau minta. Tapi berjanjilah padaku... jangan sakiti mereka. Apapun yang terjadi, biarkan aku saja yang menanggungnya.”

Mendengar itu, tatapan mata Raka sedikit berubah. Ada kilatan yang sulit dimengerti, tapi ia cepat-cepat menutupinya kembali.

“Bagus. Itu jawaban yang aku harapkan darimu,” ujarnya.

“Dan soal janji... aku tidak pernah berjanji pada siapa-siapa. Tapi kalau kau tetap menuruti kemauanku, tidak ada hal buruk yang akan menimpa mereka. Itu saja yang bisa aku katakan.”

Setelah itu ia pergi, menghilang ke dalam kegelapan jalanan persis seperti yang ia lakukan malam sebelumnya. Tinggallah Alana sendirian di sana, dengan perasaan yang kacau dan pikiran yang berantakan. Ia berdiri di tempat itu sampai lama, sampai kakinya terasa kaku dan dingin menusuk tulang, baru kemudian ia berjalan pulang dengan langkah yang lambat dan berat.

Sesampainya di rumah, ia kembali masuk lewat jalan rahasia yang sama, dan berhasil sampai di kamarnya tanpa ada yang menyadari. Begitu pintu tertutup rapat, ia akhirnya tidak bisa menahan perasaannya lagi. Ia menjatuhkan dirinya ke lantai, menutup wajah dengan kedua tangan, dan menangis sepuas hatinya. Selama ini ia merasa hidupnya sudah terkekang dan tidak bebas, tapi baru malam ini ia sadar bahwa apa yang ia rasakan selama ini itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang ia alami sekarang. Ia bukan hanya tidak bebas lagi, tapi ia juga sudah menjadi milik orang lain, orang yang berbahaya dan tidak punya belas kasihan sama sekali.

><><><><

Keesokan harinya, seperti yang sudah dikatakan, Raka datang lagi. Kali ini ia datang lebih pagi, dan diundang secara resmi untuk makan siang bersama keluarga gubernur. Alana duduk di sana, di meja makan yang luas dan mewah itu, merasa seperti sedang duduk di atas bara api. Ia berusaha bersikap biasa saja, berusaha tersenyum dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan ayahnya maupun tamu-tamu lain yang ada di sana, tapi di dalam hatinya ia merasa sangat sesak.

Sepanjang makan, Raka sering melirik ke arahnya. Kadang ia mengangguk pelan, kadang ia hanya menatap saja, dan setiap kali itu terjadi, Alana selalu merasakan perasaan yang sulit diungkapkan—takut, marah, dan anehnya... ada juga rasa berdebar yang ia tidak mengerti dari mana datangnya.

Di tengah percakapan, ayahnya bertanya, “Omong-omong, Raka. Kamu kan baru saja kembali tinggal di sini, apa ada yang bisa aku bantu supaya hidupmu di sini jadi lebih nyaman?”

Raka menatap Gubernur William sebentar, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Alana. Ia tersenyum, senyum yang terlihat sopan tapi bagi Alana itu terasa sangat menyakitkan.

“Ada satu hal sebenarnya, Pak,” jawabnya dengan nada santai.

“Selama ini aku hidup di luar negeri, tidak punya siapa-siapa di sini. Rasanya agak kesepian juga. Kalau Bapak berkenan, boleh tidak kalau aku sesekali mengajak Nona Alana jalan-jalan atau sekadar menemani aku ke beberapa tempat? Sebagai orang baru, aku juga butuh teman untuk mengenali keadaan di kota ini lebih baik lagi.”

Permintaan itu membuat jantung Alana berhenti berdetak sejenak. Ia menundukkan kepalanya, takut ayahnya melihat perubahan raut wajahnya. Ia tahu Raka melakukan ini supaya ia benar-benar tidak bisa melarikan diri, supaya ia benar-benar selalu ada di dekatnya.

Ayahnya terdiam sejenak, seolah sedang memikirkan sesuatu. Alana tahu ayahnya tidak mudah percaya pada orang lain, tapi Raka sudah menampakkan dirinya sebagai orang yang terhormat, yang punya kekuasaan dan koneksi yang luas. Lagian, apa alasan yang bisa ia gunakan untuk menolak permintaan itu tanpa terlihat curiga?

Akhirnya Gubernur William mengangguk. “Kalau begitu, tidak apa-apa. Alana juga jarang keluar rumah, mungkin ini kesempatan bagus buat dia juga. Tapi ingat ya, Raka. Jangan bawa dia ke tempat-tempat yang berbahaya atau yang tidak pantas.”

“Tentu saja, Pak. Aku akan menjaganya sebaik-baiknya, percayalah padaku,” jawab Raka, dan tatapan matanya kembali jatuh ke arah Alana, seolah sedang berkata, lihat? Semua sudah berjalan sesuai rencanaku.

Setelah acara makan selesai dan para tamu mulai berpamitan pulang, Raka sempat menyempatkan diri berbicara sebentar dengan Alana di teras rumah, saat tidak ada orang lain yang ada di dekat mereka.

“Dengar itu tadi? Bahkan ayahmu sendiri sudah mempercayakan keselamatanmu padaku. Sekarang kau benar-benar milikku, tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita,” bisiknya dengan nada rendah.

“Besok sore aku akan menjemputmu. Pakai baju yang sederhana saja, kita akan pergi ke suatu tempat. Dan jangan coba-coba untuk bilang sakit atau apa pun. Kau tahu konsekuensinya kalau kau berani melanggar perkataanku.”

Ia berjalan pergi begitu saja, meninggalkan Alana yang berdiri kaku di tempatnya. Ia menatap punggung Raka yang makin menjauh, dan rasanya ia ingin sekali berteriak, ingin sekali menghancurkan segala sesuatu di sekitarnya, tapi ia tahu itu semua tidak ada gunanya. Ia sudah terperangkap, dan sepertinya tidak ada jalan keluar sama sekali.

Sore harinya, saat ia sedang duduk di kamarnya, matanya tidak sengaja jatuh ke laci meja tempat ia menyimpan bunga mawar hitam dan secarik kertas itu. Ia membukanya kembali, membaca tulisan di sana sekali lagi, dan untuk pertama kalinya ia sadar satu hal: orang ini sudah mengatur segalanya jauh sebelum ia sadar apa yang sedang terjadi. Ia tidak hanya menjadi sasaran, tapi ia juga sudah menjadi bagian dari rencana besar yang disusunnya, dan ia tidak punya pilihan lain selain ikut berperan di dalamnya.

Dan entah kenapa, di balik semua rasa takut dan benci itu, ada perasaan aneh yang mulai tumbuh di dalam hatinya—sesuatu yang ia tidak mau akui, sesuatu yang ia tahu itu salah, tapi tetap saja ada di sana. Sesuatu yang membuatnya sadar, bahwa kisah ini baru saja dimulai, dan hal-hal yang lebih gelap, lebih menyakitkan, tapi juga lebih memikat akan segera datang menghampiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!