NovelToon NovelToon
Bayu Dan Aplikasi Toko Ajaib

Bayu Dan Aplikasi Toko Ajaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:22.9k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Bayu Alexander adalah seorang karyawan rendahan yang sedang berada di titik terendah hidupnya setelah difitnah dan gajinya dipotong semena-mena oleh atasannya. Nasib miskinnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia memindai sebuah barcode misterius di halte bus yang diam-diam menginstal Aplikasi Toko Ajaib di ponselnya.

Berbekal sisa saldo lima puluh ribu rupiah, Bayu memanfaatkan fitur diskon kilat aplikasi tersebut untuk membeli kacamata ajaib penilai barang antik, yang menjadi batu loncatan pertamanya meraup ratusan juta rupiah dari pasar loak.

Dari seorang budak korporat yang diinjak-injak, Bayu perlahan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, menggunakan item-item tak masuk akal dari sistem untuk menghancurkan karir musuh-musuhnya, mendominasi pasar saham, hingga menumpas mafia kejam yang mencoba mengusiknya, semuanya ia lakukan dalam diam sebagai miliarder baru Jakarta yang rahasianya tidak akan pernah terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Bruk.

Tubuh kaku Si Hitam ambruk ke lantai seperti patung kayu yang ditebang. Ia masih bernapas, matanya masih terbuka menatap langit-langit, namun ia tidak bisa menggerakkan satu jari pun atau bahkan mengeluarkan suara. Gelombang listrik itu telah memutus sementara koneksi antara otak dan tubuhnya.

Bayu mundur selangkah. Ia menekan luka di perut kirinya dengan tangan. Darahnya merembes membasahi kaus hitamnya, namun lukanya tidak terlalu dalam karena ia berhasil memiringkan tubuhnya di detik terakhir. Pisau itu tidak mengenai organ vital.

"Pembelian yang sepadan. Dua ratus koin untuk nyawa gue," gumam Bayu sambil meringis menahan perih.

Ia berjalan tertatih menuju dapur, mengambil segulung perban dari kotak pertolongan pertama, dan membalut perutnya dengan kencang untuk menghentikan pendarahan. Setelah memastikan darahnya tidak lagi menetes ke lantai, Bayu kembali ke ruang tengah.

Ia berdiri menjulang di atas tubuh Si Hitam yang masih tak berdaya. Bayu berjongkok, menarik masker hitam yang menutupi wajah pria itu. Terlihat wajah seorang pria paruh baya dengan bekas luka gores di pipinya.

"Gue bisa aja bunuh lo sekarang dan buang mayat lo dari lantai tiga puluh ini," kata Bayu pelan. Suaranya bergema di ruangan yang berantakan itu. "Tapi gue bukan pembunuh. Dan gue butuh tukang pos buat ngirim pesan terakhir ke majikan lo."

Si Hitam hanya bisa menatap Bayu. Meskipun tubuhnya lumpuh, pikirannya masih berfungsi dengan baik. Rasa takut yang sangat pekat, sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama puluhan tahun menjadi pembunuh, kini merayap di dadanya saat menatap mata pemuda di depannya. Mata Bayu sedingin dasar samudra.

"Dengar baik-baik. Baskoro udah habis. Gue baru aja mencegat transfer dua triliunnya ke luar negeri dan membagikannya ke panti asuhan siang tadi. Dia udah nggak punya uang sepeser pun buat bayar sisa kontrak kerja lo," jelas Bayu, sengaja menghancurkan motivasi Si Hitam.

Mata Si Hitam berkedip cepat. Fakta bahwa majikannya telah bangkrut jelas merupakan pukulan telak bagi seorang profesional sepertinya.

"Efek kelumpuhan dari cincin ini bakal hilang dalam tiga jam. Saat lo bisa gerak lagi, keluar dari apartemen gue lewat tangga darurat. Jangan pernah nampakin wajah lo di Jakarta lagi. Dan kalau lo masih punya akses ke lingkaran bawah tanah Baskoro, sebarin berita ini..."

Bayu mencondongkan tubuhnya, menatap tepat ke manik mata Si Hitam.

"Kasih tahu mereka semua. Siapa pun yang berani ngambil kontrak atas nama Bayu Alexander atau PT Mandiri Alexander Investama, bakal berakhir lebih buruk dari Baskoro. Gue bakal cari tahu siapa keluarga mereka, siapa rekan mereka, dan gue bakal hancurin mereka sampai ke akar-akarnya. Paham?"

Si Hitam tidak bisa mengangguk, namun Bayu bisa melihat kepatuhan yang lahir dari teror mutlak di mata pria itu.

Bayu berdiri tegak. Ia merogoh saku Si Hitam, menemukan ponsel satelit pembunuh bayaran itu, dan meremukkannya di bawah sol sepatunya hingga hancur.

Ia kemudian berjalan tertatih menuju lorong kamarnya.

Tok tok tok.

"Tar, ini gue. Sudah aman. Lo bisa keluar sekarang," panggil Bayu pelan sambil menyandarkan punggungnya ke dinding di sebelah pintu.

Terdengar suara putaran kunci dari dalam. Pintu kamar terbuka perlahan. Tari muncul dengan wajah pucat pasi. Ia masih memegang sebuah lampu meja marmer sebagai senjata pertahanan darurat.

Begitu Tari melihat kondisi ruang tengah yang hancur berantakan seperti baru saja dihantam badai, dan tubuh seorang pria berpakaian serba hitam tergeletak kaku di lantai, lampu meja di tangannya nyaris terjatuh.

"Ya Tuhan... Bay! Lo... lo berdarah!" Tari memekik tertahan saat melihat balutan perban di perut Bayu yang mulai memerah.

"Gue nggak apa-apa, Tar. Cuma goresan dangkal. Jangan panik," kata Bayu mencoba menenangkan.

"Nggak panik gimana?! Ada mayat di ruang tamu lo, Bay! Kita harus lapor polisi sekarang!" Tari bergegas merogoh sakunya mencari ponsel.

Tangan Bayu menahan lengan Tari dengan lembut.

"Dia belum mati, Tar. Dia cuma lumpuh sementara. Dan kita nggak akan manggil polisi."

"Kenapa?! Dia nyoba bunuh lo!"

"Karena kalau polisi datang, mereka bakal ngelibatin lo sebagai saksi. Berita bakal bocor ke media. Identitas kita berdua sebagai pengurus perusahaan sekuritas yang baru diakuisisi bakal keekspos ke publik. Itu bakal ngerusak semua rencana bisnis kita ke depannya," jelas Bayu dengan nada rasional yang sangat logis. "Di dunia orang-orang kayak Baskoro, polisi cuma bikin masalah makin rumit."

Tari menatap Bayu dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak peduli soal bisnis atau media. Ia hanya melihat temannya terluka karena melindunginya.

"Terus kita biarin aja pembunuh ini pergi gitu aja?" tanya Tari dengan suara bergetar.

"Gue udah ngasih dia pesan yang bakal bikin seluruh dunia bawah tanah Jakarta mikir seribu kali sebelum nyentuh kita lagi," jawab Bayu yakin. "Bantu gue duduk di sofa. Kita tunggu tiga jam sampai dia sadar dan pergi sendiri. Setelah itu, kita panggil jasa kebersihan rahasia buat ngeberesin kekacauan ini."

Tari mengangguk patuh. Ia memapah Bayu menuju sofa kulit di ujung ruangan yang masih utuh. Ia mengambil handuk bersih dari dapur dan membersihkan sisa keringat di wajah Bayu. Sepanjang waktu itu, gelang kayu gaharu di pergelangan tangan Tari terus memancarkan aroma yang menenangkan.

Tiga jam berlalu dalam keheningan yang menegangkan. Bayu tetap waspada, sementara Tari duduk di sampingnya sambil terus memantau napas Bayu.

Tepat seperti deskripsi sistem, pada jam ketiga, jari-jari tangan Si Hitam mulai berkedut. Pria itu terbatuk pelan, menghirup udara dengan rakus. Ia perlahan bangkit ke posisi duduk, memegangi lehernya yang masih terasa kaku dan kesemutan.

Si Hitam menoleh ke arah sofa, melihat Bayu yang menatapnya dengan pandangan tanpa kompromi.

Pembunuh bayaran itu tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia memaksakan dirinya untuk berdiri, membungkuk hormat sedikit ke arah Bayu sebagai tanda pengakuan atas kekalahannya, lalu berjalan tertatih keluar dari pintu apartemen tanpa menoleh lagi.

Terdengar suara pintu tertutup rapat. Ruangan kembali sunyi.

Tari menghela napas panjang, merosot di sandaran sofa seolah seluruh tenaganya baru saja terkuras habis.

"Selesai," bisik Tari lega.

"Iya, Tar. Udah selesai," Bayu memejamkan matanya, merasakan perih di lukanya mulai berkurang. "Ancaman dari masa lalu Baskoro udah benar-benar habis. Nggak bakal ada preman atau pembunuh bayaran lagi yang bakal datang ke depan pintu kita."

"Besok gue bakal paksa lo ke rumah sakit buat jahit luka itu, Bay. Pokoknya harus ke rumah sakit," ancam Tari dengan gaya ketusnya yang kembali muncul, membuat Bayu tersenyum tipis.

"Siap, Ibu Manajer. Tapi sebelum itu, besok pagi pastiin uang satu triliun yang masuk ke rekening perusahaan kita udah bisa diputarin ke pasar saham. Kita punya delta sekuritas sekarang. Gue mau dominasi penuh di sektor teknologi dan farmasi dalam bulan ini."

Tari menggelengkan kepalanya tidak percaya. Temannya ini baru saja selamat dari upaya pembunuhan, namun otaknya sudah kembali berhitung soal triliunan rupiah dan dominasi pasar.

"Lo bener-bener monster kapitalis sejati, Bay," gumam Tari sambil membenarkan letak selimut untuk Bayu.

Bayu hanya diam. Di dalam benaknya, ia membuka kembali status sistemnya.

Ia telah mengubah nasibnya dari seorang karyawan dengan uang lima puluh ribu rupiah menjadi penguasa perusahaan raksasa yang kebal terhadap hukum preman maupun birokrasi korup. Namun ia sadar, langit di atas Jakarta masih sangat tinggi. Dominasinya saat ini baru berada di tingkat lokal. Ada naga-naga yang jauh lebih besar di luar sana. Konglomerat internasional, kartel bisnis multinasional, dan penguasa industri yang bermain dengan angka ratusan triliun.

"Ini baru permulaan dari PT Mandiri Alexander Investama," batin Bayu.

Ia tertidur di atas sofa tersebut, siap untuk bangun keesokan harinya sebagai raja tanpa mahkota di dunia bisnis ibu kota.

1
ラマSkuy
wah apakah bukan hanya Bayu yang punya sistem jadi selain MC ada lagi yang punya sistem. tapi unik juga ya biasanya sistemnya itu menyatu dengan jiwa MC tapi ini dihpnya MC
ラマSkuy
nice 👍
Ironside
Bagus Kak /Smile/, btw mana Insectnya /Curse//Curse//Curse/
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
👻🤣👻
Mamat Stone
🤣👻🤣
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
/Drool/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
ラマSkuy
waw/Sly/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
terserah anda Thor /Ok//Good/
Mamat Stone
pasti salah kaprah 🤣👻
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!