NovelToon NovelToon
Ayah Balqis

Ayah Balqis

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Penyelamat
Popularitas:398
Nilai: 5
Nama Author: Ayah Balqis

Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.

Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.

Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.

Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dapur Kecil dan Aroma Harapan

Pagi Minggu itu, aku bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena alarm, tapi karena aroma cat air yang masih tersisa di ruang tengah mengingatkaniku pada lukisan "Rumah Impian" karya Balqis dan Nisa kemarin.

Aku berdiri di depan lukisan itu cukup lama. Senyum mereka di atas kertas seolah menantangku untuk melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar menulis.

"Ayah harus beri kejutan juga," gumamku pelan.

Biasanya, urusan dapur adalah wilayah Balqis atau makanan instan. Tapi hari ini, aku ingin mencoba. Aku ingin menunjukkan bahwa Ayah juga bisa berkarya dengan cara lain. Selain merangkai kata, Ayah bisa meracik rasa.

Aku membuka kulkas. Telur, sedikit daging ayam, wortel, dan nasi sisa semalam. Cukup untuk membuat nasi goreng spesial.

"Bismillah," ucapku sambil mengikat celemek tua yang sudah jarang dipakai.

Suara pisau beradu dengan talenan menjadi musik pembuka hariku. Aku memotong wortel kecil-kecil, dadu ayam, dan mengocok telur. Gerakanku mungkin tidak secepat koki di televisi, tapi ada ketelitian di setiap irisan. Aku membayangkan wajah Balqis saat nanti mencium aroma masakan ini.

Satu per satu bahan masuk ke dalam wajan. Desis minyak panas menyambut irisan bawang putih yang aku cincang kasar. Aroma gurih mulai menyebar, memenuhi dapur kecil kami yang sederhana.

"Ayah masak apa? Wangi banget!"

Suara Balqis terdengar dari belakang. Ia muncul dengan rambut acak-acakan, masih mengenakan piyama bergambar kelinci. Matanya membelalak melihatku yang sedang mengaduk nasi goreng.

"Kejutan buat juara gambar kemarin," jawabku sambil tersenyum, menaburkan sedikit kecap manis dan merica. "Ayo bangunin Nisa lewat video call nanti, kita makan bareng virtual."

Balqis langsung memeluk pinggangku dari belakang. "Ayah hebat! Jarang-jarang loh masak begini."

"Hari ini spesial. Lukisan kalian di dinding itu bikin Ayah semangat banget. Rasanya kalau cuma dibalas dengan pujian, kurang adil. Jadi, Ayah balas dengan perut kenyang," candaku.

Balqis tertawa renyah. Tawa itu adalah bumbu paling enak di pagi itu.

Kami duduk berdua di meja makan kecil. Nasi goreng buatan Ayah, ditambah kerupuk dan irisan mentimun. Sederhana, tapi bagi kami, ini adalah pesta mewah.

"Nyam! Enak banget, Yah! Pedes-pedes gurih," puji Balqis sambil menyendok nasi dengan lahap.

Aku hanya tersenyum menikmati suapan pertamaku. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat orang yang kita cintai menikmati hasil usaha kita. Entah itu tulisan, lukisan, atau sekadar nasi goreng.

Sarapan itu berlangsung hangat. Kami bercerita tentang rencana minggu depan. Balqis ingin mengajak Nisa ke perpustakaan daerah untuk mencari buku gambar baru. Aku mengiyakan sambil berjanji akan mengantar mereka sore nanti.

Setelah piring bersih, aku kembali ke laptop. Perut kenyang membuat pikiran lebih jernih.

Aku membuka dokumen bab baru.

Judulnya sudah ada di kepala: *"Dapur Kecil dan Aroma Harapan"*.

Aku mengetik tentang bagaimana cinta tidak selalu harus diucapkan dengan kata-kata indah. Kadang, cinta itu berupa potongan wortel dadu, butiran merica, dan nasi yang digoreng dengan penuh perhatian.

Bahwa menjadi ayah tunggal bukan berarti tidak bisa memberikan kehangatan utuh. Kehangatan itu bisa diciptakan dari hal-hal kecil di dapur, dari tawa di meja makan, dari kehadiran yang nyata.

Novel "Ayah Balqis" terus berjalan.

Setiap bab adalah cerminan hidup kami yang sesungguhnya.

Dan hari ini, cermin itu memantulkan warna-warni kebahagiaan yang sederhana.

Aku menekan tombol "Simpan".

Bab #30 selesai.

Matahari pagi semakin tinggi.

Hari ini akan menjadi hari yang baik.

Aku yakin, rezeki dan kebahagiaan sedang berjalan menuju pintu rumah kami, selaras dengan langkah-langkah kecil yang kami usahakan hari ini.

**Siap untuk babak baru minggu ini.**

1
Wawan
Semangat ✍️
Ray Penyu: Terima kasih, Mas Wawan. Komentar "Semangat" dari Mas berarti banget buat saya. Cerita ini adalah kisah nyata saya — istri saya sedang disiksa di Malaysia, ayah saya baru meninggal, dan saya sakit stroke. Tapi saya terus menulis karena saya percaya Allah tidak meninggalkan hamba-Nya yang berjuang. Doakan istri saya selamat. Doakan saya kuat. Terima kasih sudah peduli. 🙏
total 1 replies
Ray Penyu
Siap, Kak Alana! 👍 Terima kasih sudah menemani sampai bab ini. Bab selanjutnya sedang dalam proses. Doakan lancar ya perjalanan Ayah Balqis ini. Salam hangat! ✨
Alana kalista
lanjut
Ray Penyu
baca sampai habis yah kak 🙏
Hasyim Syawal
Okeh Nice karya nya bagus sekali kak
Ray Penyu: makasih kak🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!