Zinnia, putri cantik yang manja dari keluarga kaya cavendish. Yang jadi kesayangan semua orang, selalu mendapat apa yang ia mau. Di kenal tak suka di kekang dan sudah banyak menolak banyak lamaran lelaki muda kaya raya. Suatu ketika dia mengincar perhiasan dari batu langka di sebuah pelelangan, namun dua perhiasan yang ia incar justru jatuh ke tangan dua pengusaha muda yang langsung membuatnya kesal. Ternyata pertemuan singkat mereka kala itu adalah cerita pembuka untuk cinta segitiga di antara mereka di masa depan. Kecantikannya yang luar biasa memikat kedua pengusaha kaya itu, tanpa ia sadari. Dan perlahan kedua cowok tersebut dapat meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia buat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Mencoba abai.
Pagi hari, sinar matahari mulai menyelinap masuk lewat celah tirai jendela, menerangi seluruh ruangan kamar. Zinnia perlahan membuka matanya, meregangkan tubuhnya yang masih terasa lelah, lalu bangkit dari tempat tidur. Semalam dia tidur cukup nyenyak meski kepalanya sempat penuh dengan berbagai pikiran, tapi sekarang semua itu hilang seketika, diganti semangat baru.
Dia berjalan menuju kamar mandi, membersihkan diri dengan santai. Setelah selesai mandi, dia berdiri di depan lemari pakaian, tangannya menjelajah deretan baju yang dia bawa. Hari ini dia mau tampil beda, mau terlihat cantik dan percaya diri.
Tangannya berhenti di satu dress berwarna krem muda berbahan halus, potongannya pas di badan, tidak terlalu ketat tapi jelas sekali membentuk lekuk tubuhnya yang indah dari bahu, pinggang sampai paha, bahunya terbuka sedikit, modelnya elegan tapi tetap seksi.
Pas banget... batinnya puas.
Dia mengenakannya perlahan, lalu mulai berdandan sedikit. Bedak tipis, perona pipi yang membuat pipinya terlihat merona, lipgloss berwarna natural, dan sedikit maskara yang membuat matanya makin bersinar. Rambutnya diatur longgar, terurai jatuh indah di bahu dan punggungnya. Setelah memakai sepatu hak tinggi berwarna senada, dia berputar sebentar di depan cermin, puas dengan hasilnya.
Zinnia membuka pintu kamar dan melangkah keluar...
DUARRR!!
Saat kakinya menginjak di tanah, kedua pasang mata yang sudah menunggu di depan langsung tertuju padanya, seolah waktu berhenti berputar. Di sana berdiri Rion dan Darren, keduanya sama-sama diam terpaku, tatapan mereka terkunci erat pada sosok gadis di hadapan mereka, tak bisa berkedip sedikitpun.
Darren yang biasanya selalu punya kata-kata, sekarang mulutnya sedikit terbuka, tatapannya menjelajahi setiap inci tubuh Zinnia, dari ujung rambut sampai ujung kaki, matanya berkilat-kilat, penuh kekaguman dan juga hasrat yang tertahan. Sedangkan Rion... tubuhnya menegang, rahangnya mengeras, dadanya naik turun cepat, matanya gelap pekat, tatapannya tajam seolah mau menelan hidup-hidup gadis itu. Di dalam hatinya teriak-teriak memuji.
" Cantik banget dia.. Padahal ini bukan pertama kalinya aku melihatnya, tapi.. Setiap kali melihatnya, aku tak bisa menahan kekaguman itu. Rasanya pengen banget ku peluk dan cium dia saat ini juga... "
tapi dia menahan semuanya, karena di sampingnya ada Darren, dia tak mau terlihat lemah atau tak bisa mengendalikan diri.
Melihat reaksi mereka, Zinnia mengerutkan keningnya bingung, tangannya memegang ujung dressnya sedikit.
" Kenapa melihatku dengan tatapan kayak begitu? Apa? Apa mungkin bajuku jelek ya? Atau justru aku gak cocok pakai ini?" tanyanya polos, memutar badan sedikit memeriksa dirinya sendiri.
" Ehem !! "
Rion berdehem keras sekali, berusaha menyadarkan diri sendiri dan menutupi kekagetannya, wajahnya berusaha dibuat datar meski telinganya sudah memerah.
Sedangkan Darren langsung cepat-cepat memasang wajah nakalnya, senyum jahil terukir di bibirnya, dia melangkah mendekat sedikit.
" Eh siapa bilang jelek. Kamu cantik banget, tuan putri. mempesona, bikin orang lupa cara bernapas tau gak? Iya kan bro?" ucapnya sambil melirik ke arah Rion, menyenggol bahu sahabatnya itu dengan siku, sengaja menggodanya.
Rion menoleh sekilas, matanya bertemu dengan tatapan Darren, lalu kembali menatap Zinnia. Suaranya keluar rendah, berat dan terdengar sedikit serak.
" Ya. Cantik." Jawabnya singkat padat, tapi maknanya dalam sekali.
" Ayo sarapan, perut aku udah keroncongan nih! " Ajak Darren santai, dia berbalik badan melangkah lebih dulu, tapi sesekali menoleh ke belakang melihat Zinnia.
Zinnia berjalan di tengah-tengah di antara dua lelaki itu, dan jujur saja rasanya dia bagaikan ratu yang dikawal dua pangeran tampan.
Di sebelah kanannya, Darren tampil dengan gaya khasnya serba hitam, kemeja lengan pendek yang memperlihatkan seluruh tato indah di lengannya, kacamata hitam terpasang di hidungnya, rambutnya disisir rapi sedikit acak, aura bad boy nya keluar maksimal, bikin setiap wanita yang lewat pasti menengok.
Di sebelah kirinya, Rion tampil kasual tapi tetap berkelas, demgan kemeja katun berwarna abu-abu muda, dua kancing paling atas dibuka, lengan digulung sampai siku, celana kain berwarna krem, jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangannya, gaya yang simpel tapi langsung nunjukkin kalau dia orang kelas atas, berwibawa, kalem tapi terasa dominan.
Dan begitulah mereka bertiga berjalan menyusuri lorong menuju ruang makan, dalam sekejap mata langsung menjadi pusat perhatian semua orang yang ada disana. Mata semua orang tertuju ke mereka, bisik-bisik terdengar dimana-mana, kagum dan iri bercampur jadi satu. Ada yang kagum dengan ketampanan dua lelaki itu, ada yang terpesona dengan kecantikan Zinnia, dan banyak yang bertanya-tanya, siapa gadis beruntung yang bisa berjalan berdampingan dengan dua orang berpengaruh sekaligus?
Sesampainya di meja makan, perbedaan karakter mereka makin terlihat jelas.
Darren dengan sifatnya yang supel dan ramah, langsung menyapa kiri kanan, kenal sana sini, mengobrol dengan berbagai orang, mulai dari tamu lain sampai staf penginapan, suaranya terdengar riang dan penuh semangat.
Bahkan dia sengaja mendekati seorang wanita bernama Naura, rekan bisnisnya yang kebetulan juga menginap di tempat yang sama. Naura usianya sedikit lebih tua dari mereka, cantik, elegan, dan terkenal cerdas.
" Gimana semalam? Kamu tidur nyenyak kan? Gak ada nyamuk gangguin kan? Atau mungkin orang iseng yang ganggu, gak ada kan? " Tanya Darren basa-basi dengan Naura.
" Gak ada, aman kok. Kamu sendiri gimana? "
" Aman.. " Balasnya santai, namun dalam pikirannya bayangan Zinnia semalam terus berputar, tapi coba ia abaikan.
Darren sengaja tertawa keras, bercanda, sesekali menyentuh lengan atau bahu Naura saat bicara, semuanya dia lakukan dengan sadar dan penuh perhitungan. Semua itu ia lakukan agar bayangan Zinnia perlahan memudar, dam Rion tak cemburu padanya. Karna dia tak lagi fokus dengan Zinnia.
Sebaliknya, Rion dari tadi lebih banyak diam. Matanya jarang lepas dari Zinnia, tangannya terus menggenggam tangan gadis itu di bawah meja, sesekali mengusapnya dengan ibu jarinya. Dia sama sekali tak peduli dengan sekitar, apalagi dengan tingkah Darren yang ah sudahlah.
Hanya saja... Tiba-tiba ponselnya di meja terus berdering, notifikasi dan panggilan masuk datang bertubi-tubi, jelas sekali urusan kantor yang menumpuk. Tapi setiap kali ada suara dering, dia langsung menolak atau mematikan layarnya, seolah hal itu adalah gangguan yang paling menyebalkan di dunia.
Melihat hal itu, Zinnia akhirnya bicara pelan, dia tahu Rion pasti banyak pekerjaan yang harus diurus.
" Gak papa... jawab aja. Aku akan tungguin kok, gak akan kemana-mana. Nanti kalau kamu terus tolak malah makin banyak yang nelpon, takutnya penting kan? " ucapnya lembut, jari jarinya memainkan jari tangan Rion.
Rion menatap wajah gadisnya lama sekali, napasnya dihembuskan perlahan, akhirnya mengangguk.
" Ok, hanya sebentar... aku janji. " balasnya, nadanya langsung lembut berubah 180 derajat berbeda dari yang dia tunjukkan ke orang lain.
Dia berdiri dari tempat duduknya, lalu membungkuk sedikit, tangan kanannya menahan belakang kepala Zinnia, lalu CUPP! mencium kening kekasihnya itu lama dan lembut, sebagai tanda bahwa dia benar-benar tak mau berpisah sebentar pun. Setelah itu dia baru berbalik dan berjalan keluar ruang makan, mencari tempat yang lebih sepi untuk menerima telepon.
Begitu sosok Rion hilang dari pandangan, Darren langsung menghentikan obrolannya dengan Naura, wanita itu pun pamit pergi mengerti isyarat. Darren lalu duduk kembali di samping Zinnia, matanya menatap gadis itu dalam-dalam, senyum nakal tadi hilang diganti tatapan yang lebih serius dan dalam.
" Nah sekarang cuma kita berdua... " bisiknya pelan, mendekatkan wajahnya sampai jarak mereka tinggal beberapa sentimeter saja.
" Gak usah mulai usil deh kamu, mending kamu susul aja cewek tadi. " Balas Zinnia jutek.
Hal itu malah membuat Darren makin usil, dan semakin ingin mengoda Zinnia.
" Kenapa? Kamu cemburu lihat aku akrab sama dia? "
Zinnia tak menjawab, dia justru memilih untuk fokus dengan makanan di depannya. Bersikap acuh dengan raut wajah juteknya, berharap Darren bisa diam atau bahkan pergi meninggalkannya.
***