NovelToon NovelToon
CEO Terjebak Cinta Perjodohan

CEO Terjebak Cinta Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Janda
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ica Marliani

Aku adalah Raka. Seorang Pebisnis yang telah mapan sebelum usia kepala tiga. Aku mempunyai kekasih seorang janda beranak satu, hubunganku di tentang oleh mama dengan alasan perbedaan pandangan adat dan statusnya.
Aku dijodohkan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal. Akankah mama berhasil menjdohkanku atau mama akan luluh dengan pilihanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Diantara Dua Pilihan

Pertemuan yang tak kusengaja terjadi ketika aku masuk ke sebuah klub malam. Ningsih, setengah mabuk, hampir diperkosa oleh teman sejawatnya. Aku menyelamatkannya.

Dalam keadaan mabuk berat, ia berusaha merayuku, tetapi aku tidak pernah memanfaatkan kesempatan itu. Tanganku mengepal ketika ia menarik lenganku. Aku memejamkan mata, mengingat wajah Mama yang selalu membangunkanku untuk salat subuh sejak kecil.

“Mama tak selalu ada di sampingmu, Raka. Ingatlah selalu pesan Mama. Di mana pun kamu berada, jangan pernah tinggalkan salat.”

Ajaran agama yang ditanamkan Mama sejak kecil telah mengakar kuat. Dadaku terasa sesak. Tempat ini penuh lampu remang dan aroma alkohol, tetapi kata dosa berdiri paling keras di kepalaku. Aku datang ke sini hanya karena undangan rekan kerja, bukan karena niat dari hati.

Aku membawa wanita itu ke hotel terdekat dari klub. Jika aku membawanya ke rumah pribadiku, gunjingan dan pandangan buruk dari tetangga tak akan terhindarkan. Aku membayangkan bisik-bisik mereka, tatapan tajam ibu-ibu pengajian.

Ada satu hal yang selalu kujaga: nama baik Mama dan keluarga besarku.

Keesokan paginya, saat ia tersadar, Ningsih menatapku. Senyumannya tampak dipaksakan.

“Maaf merepotkanmu,” ucapnya lemas sambil memegangi kepalanya yang masih terasa sakit.

“Tidak apa-apa, Nona. Kalau boleh tahu, siapa namamu?” tanyaku. Aku masih duduk di sofa di samping ranjang—tempat semalam aku tidur sambil menunggunya sadar.

“Namaku Ningsih,” ucapnya lirih.

“Di mana rumahmu? Biar aku antar pulang,” kataku sambil melangkah mendekati ranjang.

Ningsih tak segera menjawab. Ia justru mendekat, membuat jantungku berdegup tak karuan. Tubuhnya tiba-tiba memelukku, tangisnya pecah di bahuku. Aku kaku, bingung harus bersikap. Napasku memburu.

“Terima kasih, Mas,” bisiknya di telingaku. Bulu romaku bergidik.

Aku menghela napas berat. Kenangan tentang awal pertemuanku dengan Ningsih kembali menyerbu.

“Mama nggak mau kamu terus berhubungan dengan wanita itu, Raka.”

Suara Mama mengiang di telingaku—bukan untuk pertama kalinya.

“Di mana letak harga diri Mama, Raka?”

“Anak laki-laki Mama menikahi janda.”

Kalimat-kalimat itu selalu jatuh seperti palu di kepalaku.

“Habis sudah garis suku Mama pada kamu, Raka, kalau kamu menikahi wanita itu.”

Mama yang dulu lemah lembut kini berubah menjadi pemberang sejak aku mengenal Ningsih.

“Bagaimana, sayang?” Aku tersentak oleh suara Ningsih.

“Aku butuh waktu,” jawabku pelan. “Meyakinkan Mama bukan hal mudah.”

Denyut nadiku tak beraturan. Ningsih menatapku, seolah tak percaya dengan jawabanku.

“Kenapa aku harus mengenalmu jika semua akan berakhir seperti ini, Raka?” rintihnya parau.

Aku mengusap bahunya, berusaha menenangkannya dalam pelukanku.

“Maafkan aku, sayang. Aku sedang berusaha membujuk Mama.”

Namun Ningsih menarik diri dari pelukanku. Ia melangkah mundur, menyambar tasnya.

“Entah sampai kapan aku harus menunggu, Raka.”

Ia pergi begitu saja, meninggalkanku sendirian dalam kebimbangan.

Aku hanya menatap punggung Ningsih, hingga sosoknya hilang di balik pintu ruanganku. Ku hela napas berat dan kuhembuskan perlahan, agar sesak di dada ini sedikit berkurang. Ku pejam mata pelan-pelan.

"Wanita tak jelas asal usulnya mau kamu jadikan menantu, Mama?"

Wanita yang sudah dimakan usia tapi masih tampak cantik di depanku meninggikan suaranya.

"Tapi Ma, Ningsih wanita baik-baik. Keluarganya jelas."

Mama menyeringai menatapku.

"Wanita baik-baik tak akan kehilangan kehormatan sebelum pernikahan, Raka!" erangnya marah.

"Ma, itu hanya kecelakaan. Ningsih tak serendah itu!" Balasku membela.

"Mama tidak akan pernah terima wanita itu masuk keluarga kita!" Bentaknya lagi membuat aku kehabisan kata-kata untuk menjawab. Dadaku terasa seperti ditarik ke dua arah. Satu sisi berlutut di hadapan Mama, sisi lain berlari mengejar Ningsih. Aku terdiam, tak mampu memilih tanpa melukai salah satunya.

"Pak Raka!!"

Aku terkejut ketika seseorang mengguncang pelan tubuhku.

Kucoba membuka mata perlahan. Ternyata Dimas, asistenku sudah berdiri di hadapanku.

Ku lirik arloji yang melingkar di pergelangan tanganku. Pukul 14.30 WIB. Aku menekan pelan kepalaku yang kembali berdenyut.

"Dijadwal Bapak sore ini ada pertemuan dengan Dirut A." Dimas coba mengingatkan jadwal ketemu klien. Aku memijat pelan kepalaku yang berdenyut.

"Oh, iya. Saya lupa memberitahukan kepada kamu, Dimas. Jadwalnya diundur sabtu besok." Aku melirik Dimas. Pria seumuranku itu hanya mengangguk, kedua tangannya saling mengait ke depan.

"Ada waktu? Boleh temani aku duduk sejenak minum kopi di kafe biasa. Ada beberapa hal yang ingin aku diskusikan kepadamu?"

Aku menatap lelaki itu. Ia tampak tak berani menatapku balik.

"Baik, Pak." Ucapnya masih menunduk.

Kami berjalan meninggalkan ruangan kantor. Menuju parkiran mobil, tempat biasa aku menaruh mobil pribadiku.

"Kamu yang bawa, Dimas!" perintah ku. Ia meraih kunci yang aku sodorkan.

Setelah mengeluarkan mobil dari tempat parkir, Dimas mengendarai mobil dalam kecepatan standar.

"Sepertinya Bapak uring-uringan dari tadi." Ia coba membuka keheningan diantara kami. Aku menolehnya sejenak.

"Kamu sudah punya pacar?" Tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar dari mulutku. Alih-alih menjawab pertanyaan Dimas padaku.

Lelaki itu cengengesan, wajahnya tampak memerah.

"Sudah, Pak." Jawabnya sedikit sungkan.

"Gadis atau janda?" Tanyaku lagi tanpa basa-basi. Dimas tampak sedikit terkejut. Ia terbatuk kecil.

Aku mengusap muka kesal. Mengigit bibirku pelan.

"Maaf Dimas, kalau pertanyaan saya terlalu ikut campur."

"Nggak apa-apa, Pak. Saya mengerti maksud Bapak." Ucapnya seakan membaca pikiranku.

"Pacar saya masih gadis, Pak. Tapi keluarga saya tidak pernah mempermasalahkan status." Dimas cengengesan. Aku menghela napas berat.

"Keluarga saya sama keluarga Bapak pasti berbeda. Ibu sama Bapak saya hanya seorang petani desa. Ya, nggak mungkin akan mempermasalahkan status. Sementara Bapak orang terpandang," Dimas agak terbata-bata memilih kalimat. Mungkin ia takut aku akan tersinggung. Aku meliriknya sekilas sebelum ponselku kembali menyuarakan pesan masuk.

Aku sudah bisa menebak ini pasti provokasi mama lagi.

Ku lirik layar ponsel, namun notif pesan di sana bukan atas nama mama. Sebuah pesan dari Ningsih.

Setelah aku pikir-pikir, Raka. Minggu depan aku ingin kamu memperkenalkanku kepada mamamu. Kita sudah tiga tahun menjalin hubungan tapi sekalipun kamu tidak pernah mengenalkan aku kepada keluargamu. Dengan dalih mamamu mencari wanita Minang. Aku hanya ingin tahu seberapa besar usahamu untuk memperjuangkan aku, Raka. Jika kamu tidak bisa memenuhi keinginan aku kali ini, lebih baik kita selesaikan saja hubungan ini. Aku lelah menunggu kepastianmu yang entah sampai kapan.

Detak jantungku terasa berhenti. Aku dilema antara mama dan Ningsih. Minggu depan? Mama meminta aku pulang kampung menerima perjodohan dan minggu depan Ningsih meminta aku memperkenalkannya dengan mama.

Ku rebahkan kepala ke sandaran kursi.

“Untuk pertama kalinya aku sadar, waktu tak lagi memihakku…”

Gumamku tak lagi menghiraukan sekitar.

"Bapak, kenapa?" Ucap Dimas mendelik ke arahku. Aku hanya menggeleng.

Andai saja waktu bisa kuputar mundur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!