NovelToon NovelToon
Buku Harian Keyla

Buku Harian Keyla

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi Wanita
Popularitas:729
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Hanya Saja

​"Kau menolakku lagi. Kata 'tidak' darimu adalah racun yang kuminum setiap hari, namun bodohnya, aku selalu dahaga akan racun itu. Aku selalu mencari pembenaran atas sikap dinginmu. Hanya saja... hari ini aku sadar, penolakanmu bukanlah sebuah tameng untuk melindungiku, melainkan sebuah pedang yang sengaja kau ayunkan untuk membunuhku." (Buku Harian Keyla, Halaman 86)

​Perjanjian setengah jam itu adalah anugerah sekaligus kutukan yang paling menyiksa.

​Sudah tiga hari kami menjalankan kesepakatan belajar bersama sepulang sekolah. Tiga hari berturut-turut, saat bel berbunyi dan kelas berangsur kosong, Rendi tidak langsung bergegas pergi. Ia akan tetap duduk di kursinya, menarik binder biru dongker hasil rangkumanku mendekat, dan menunggu dalam kebisuan yang kaku.

​Aku akan memutar kursiku menghadap mejanya. Menjelaskan rumus-rumus probabilitas, teori kinetik gas, hingga laju reaksi kimia dengan suara pelan. Dan selama setengah jam itu, Rendi mendengarkan. Ia menyerap setiap penjelasanku dengan kecepatan otak yang luar biasa. Jika saja ia tidak dihancurkan oleh kelelahan fisik, aku yakin ia akan dengan mudah merebut kembali peringkat pertama di angkatan kami.

​Namun, kedekatan itu murni bersifat transaksional. Sangat dingin dan steril.

​Rendi mengunci matanya pada lembaran kertas. Ia tidak pernah menatap mataku. Jika ada bagian yang tidak ia mengerti, ia hanya akan menunjuk rumus tersebut dengan ujung pulpennya dan menggumamkan kata "Ulangi" dengan nada datar. Tidak ada obrolan basa-basi. Tidak ada senyum. Begitu alarm di jam tangan murahan miliknya berbunyi—tanda bahwa tiga puluh menit telah habis—ia akan langsung menutup buku, mengemasi tasnya, dan melangkah keluar tanpa mengucapkan selamat tinggal.

​Siksan itu terasa begitu nyata. Raganya berjarak kurang dari satu meter dariku, aku bisa menghirup aroma sabun mandinya yang bercampur dengan debu jalanan, aku bisa melihat bekas luka kecil di buku-buku jarinya. Namun jiwanya... jiwanya tak terjangkau.

​Hari Kamis sore ini, awan kelabu kembali menggantung rendah di langit Jakarta. Lidya dan Bella sudah pulang lebih dulu karena harus mengikuti bimbingan belajar. Siska menemaniku hingga bel berbunyi, lalu pamit dengan senyum lembutnya.

​"Aku pulang duluan ya, Key. Kamu hati-hati belajarnya. Ingat, jangan sampai kebaikanmu dimanfaatkan," bisik Siska sebelum melangkah keluar kelas. Aku hanya mengangguk pelan, terlalu fokus mempersiapkan mental untuk menghadapi gunung es di belakangku.

​Kelas kembali sunyi. Aku memutar posisiku, menghadap meja Rendi.

​Laki-laki itu terlihat jauh lebih lelah dari hari kemarin. Lingkar hitam di bawah matanya semakin pekat. Rahangnya terlihat lebih tirus, dan kulitnya memucat. Ia menekan pelipisnya dengan ibu jari dan telunjuk, seolah sedang menahan pusing yang luar biasa hebat.

​Melihat kondisinya, hatiku merintih perih. Ia pasti belum makan sejak pagi.

​Aku menelan ludah, mengumpulkan keberanian. Sebelum memulai penjelasan tentang materi hereditas Biologi, aku merogoh kolong mejaku. Tanganku gemetar saat mengeluarkan sebuah kotak makan kecil. Isinya bukan makanan mewah. Hanya dua potong roti tawar yang kuolesi selai kacang dan madu tebal-tebal agar padat kalori.

​Aku meletakkan kotak makan itu di sudut mejanya, perlahan, seolah sedang meletakkan bom waktu yang siap meledak.

​Gerakan tangan Rendi yang sedang memegang pulpen seketika terhenti. Matanya menatap kotak makan itu, lalu perlahan terangkat, menatap tajam ke arahku. Udara di sekitarku mendadak membeku.

​"Apa ini, Keyla?" tanyanya, suaranya sangat rendah dan mengancam.

​"I-itu... cuma roti," cicitku, suaraku bergetar hebat. Aku meremas rok seragamku di bawah meja. "Aku bawa bekal lebih dari rumah. Sayang kalau dibuang. Kamu... kamu kelihatan pucat banget, Ren. Hanya saja... aku pikir kamu butuh tenaga buat kerja nanti sore."

​Kata 'hanya saja' yang kuucapkan menggantung di udara seperti sebuah kesalahan fatal.

​Rendi meletakkan pulpennya dengan bunyi tak yang keras. Ia menegakkan punggungnya. Mata kelamnya menyorotkan amarah dan rasa muak yang tak lagi bisa disembunyikan. Benteng pertahanan harga dirinya yang rapuh kembali tersentil oleh sebentuk roti tawar.

​"Kita punya kesepakatan," desis Rendi, memajukan wajahnya sedikit, mengintimidasiku dengan tatapan yang membunuh. "Hanya setengah jam, murni untuk pelajaran. Tidak ada urusan pribadi. Tidak ada hal lain. Apakah kamu punya masalah dengan pendengaranmu?"

​"Ren, tolong..." mataku mulai memanas. Aku menggeleng pelan, memohon pengertiannya. "Ini bukan urusan pribadi. Ini cuma roti! Kamu teman belajarku sekarang. Wajar kalau aku nawarin makanan ke teman yang kelihatan sakit."

​Rendi tertawa sinis, sebuah tawa kering yang terdengar sangat kejam di telingaku.

​"Teman?" ulangnya dengan nada mencemooh. "Sejak kapan saya setuju menjadi temanmu? Saya di sini karena saya terpaksa, Keyla. Karena nilai sialan itu mengancam hidup adik saya."

​Ia mendorong kotak makan itu dengan punggung tangannya hingga meluncur melintasi meja dan menabrak siku lenganku.

​"Bawa kembali makananmu," perintahnya mutlak. "Saya sudah bilang berulang kali, saya bukan proyek amalmu. Saya muak melihatmu terus-terusan berusaha menjadi malaikat penyelamat di hidup saya yang kotor. Berhenti mengasihani saya!"

​"Aku nggak pernah ngasihani kamu!" tangisku akhirnya pecah. Air mata luruh membasahi pipiku. Rasa sakit di dadaku tak tertahankan lagi. Mengapa ia selalu memutarbalikkan ketulusanku menjadi sebuah penghinaan? "Kenapa kamu keras kepala banget?! Kenapa kamu selalu nganggep niat baik orang lain sebagai serangan?! Aku cuma mau kamu sehat, Rendi! Aku cinta—"

​"TUTUP MULUTMU!"

​Bentakan Rendi meledak, menggelegar memantul di dinding-dinding kelas yang kosong.

​Aku tersentak mundur, tubuhku gemetar ketakutan.

​Rendi berdiri dengan kasar hingga kursinya terdorong ke belakang dan nyaris jatuh. Dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Matanya yang merah menahan amarah menatapku dengan penuh kebencian.

​"Jangan pernah berani mengucapkan kata kotor itu lagi di depan saya," desisnya dengan suara bergetar karena emosi yang meluap-luap. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. "Cinta yang kamu maksud itu hanya akan membunuh saya pelan-pelan. Kamu pikir dengan memberikan roti, memberikan uang, memberikan catatan, kamu bisa membeli saya? Kamu pikir kemiskinan saya adalah sesuatu yang bisa kamu jadikan peliharaan untuk memuaskan egomu?!"

​"Bukan begitu, Ren..." isakku tersedu-sedu, memeluk diriku sendiri. Hancur. Semuanya hancur.

​"Dengar baik-baik," ucap Rendi dengan nada final yang membekukan aliran darahku. "Kesepakatan kita batal. Saya tidak butuh bantuanmu. Saya lebih baik gagal dan menjadi kuli seumur hidup daripada harus berutang budi dan menelan harga diri saya di depan perempuan manja yang tidak mengerti susahnya mencari sesuap nasi."

​Laki-laki itu meraup ransel bututnya dengan kasar. Ia sama sekali tidak menyentuh binder biru hasil rangkumanku. Ia membiarkan buku itu tergeletak di meja, menolak segalanya tentangku.

​Ia berbalik dan melangkah menuju pintu.

​Namun, sebelum ia mencapai ambang pintu, sesosok tubuh tegap tiba-tiba muncul dan menghalangi jalannya.

​Indra.

​Laki-laki itu berdiri di ambang pintu kelas XII-IPA 1 dengan wajah yang memerah padam menahan amarah. Rahangnya mengeras keras. Matanya menatap tajam ke arah Rendi. Aku tak tahu dari mana Indra datang, namun melihat napasnya yang terengah, sepertinya ia setengah berlari menuju kelas ini. Apakah Siska yang memberitahunya bahwa aku sedang berduaan dengan Rendi?

​Indra melangkah masuk, langsung menempatkan dirinya di antara aku dan Rendi. Mata Indra menyapu wajahku yang basah oleh air mata, lalu melihat tubuhku yang bergetar hebat di sudut meja. Pemandangan itu seketika memicu insting perlindungan Indra hingga ke titik maksimal.

​"Lo apain Keyla?!" bentak Indra dengan suara baritonnya yang menggelegar. Tangannya dengan kasar mendorong dada Rendi.

​Rendi tidak melawan, namun ia juga tidak terdorong mundur. Tubuhnya kokoh bagai karang. Ia hanya menunduk sedikit, menatap tangan Indra yang menempel di dadanya dengan pandangan jijik, seolah sebuah kotoran baru saja mendarat di sana.

​"Singkirkan tanganmu," desis Rendi pelan, namun nadanya sarat akan ancaman mematikan.

​"Gue tanya, lo apain dia, bangsat?!" Indra tak memedulikan peringatan Rendi. Emosinya benar-benar tersulut. Ia mencengkeram kerah kemeja lusuh Rendi dengan kedua tangannya. "Lo bikin dia nangis?! Cowok macam apa lo beraninya sama cewek?!"

​"Indra, hentikan! Lepasin dia!" teriakku histeris, berusaha bangkit dari kursiku meski kakiku lemas tak bertenaga. Aku berlari tertatih menghampiri mereka. "Tolong, Ndra... ini salah paham. Dia nggak ngapa-ngapain aku!"

​"Sama mataku sendiri aku lihat dia ngebentak kamu, Key!" sahut Indra tanpa melepaskan cengkeramannya pada kerah Rendi. Mata Indra menatap Rendi dengan penuh kebencian dan superioritas kelas sosial. "Gue udah muak lihat kelakuan lo! Keyla itu terlalu baik buat lo! Dia berusaha bantu lo yang otaknya dangkal dan miskin ini, tapi lo malah ngerendahin dia! Lo itu nggak lebih dari sampah jalanan yang nggak tau cara berterima kasih!"

​"Dalam sekejap, ruangan itu berubah menjadi pengadilan yang paling tidak adil. Indra menghakimimu dengan arogansi kekayaannya, membela diriku dengan cara yang justru menginjak-injak sisa harga dirimu yang berdarah. Dan di sana aku berdiri, menjadi penyebab dari semua kehancuran ini." (Buku Harian Keyla, Halaman 89)

​Kata-kata kasar Indra bergema di telingaku. Sampah jalanan. Miskin. Nggak tau terima kasih.

​Setiap makian itu ditusukkan tepat ke ulu hati Rendi. Aku melihat bagaimana rahang Rendi berkedut keras. Urat-urat di pelipisnya menonjol. Ia memiliki tubuh yang jauh lebih besar dan kuat karena tempaan kerja fisik di pasar. Jika ia mau, ia bisa saja membalas dan menghabisi Indra dalam satu pukulan.

​Namun Rendi tidak mengangkat tangannya sedikit pun.

​Laki-laki es itu hanya menatap wajah Indra yang memerah karena marah. Sebuah senyum miring yang sangat sinis dan merendahkan perlahan terbentuk di sudut bibir Rendi. Ia menatap Indra, lalu menatapku yang sedang menangis di belakang Indra.

​Tatapan Rendi padaku saat itu... adalah sebuah tatapan yang mematikan seluruh sel harapanku. Ia menatap kami berdua sebagai satu kesatuan. Ia menganggap kami berdua adalah sepasang anak orang kaya yang sedang bersandiwara memainkan drama percintaan dan kepahlawanan di atas penderitaannya.

​"Lepaskan," ucap Rendi sekali lagi. Suaranya tidak meninggi, tapi hawa dingin yang menguar dari setiap suku katanya membuat nyaliku menciut.

​Indra mengendurkan cengkeramannya, merasa sedikit terintimidasi oleh ketenangan Rendi yang tidak wajar.

​Rendi menepis kasar tangan Indra dari kerahnya, lalu merapikan kemejanya yang kusut dengan gerakan tenang yang meremehkan. Ia menatap Indra dari ujung kepala hingga ujung kaki.

​"Kalian berdua," ucap Rendi, suaranya mengalun pelan, memantul di dinding kelas yang bisu, "memang sangat serasi."

​Ia menatapku langsung ke dalam mata.

​"Bawa pergi pahlawan pelindungmu ini, Keyla," lanjut Rendi dengan nada mencemooh yang luar biasa menyakitkan. "Dan bawa serta semua uang, roti, dan buku catatan amalmu. Kalian berdua sama saja. Kalian merasa berhak menghakimi dan mengatur hidup orang lain hanya karena kalian punya uang. Saya muak melihat drama kalian berdua."

​"Rendi, bukan gitu..." isakku merintih, maju selangkah ingin menggapainya, ingin menjelaskan bahwa aku tidak pernah memandang rendah dirinya seperti yang Indra lakukan.

​Namun Rendi mundur. Ia menghindari sentuhanku seolah aku adalah penyakit menular.

​"Jangan pernah bicara dengan saya lagi," vonis Rendi mutlak. "Jika kalian berdua berani mencampuri urusan saya atau adik saya lagi, saya tidak akan segan-segan menghancurkan kalian."

​Tanpa menunggu balasan apa pun, Rendi membalikkan tubuhnya. Ia berjalan keluar dari kelas dengan langkah panjang dan cepat, meninggalkan aku yang mematung dengan hati yang remuk menjadi debu.

​Ia pergi. Dan kali ini, ia benar-benar menutup seluruh pintunya. Ia mengelompokkanku bersama Indra, menganggap ketulusanku sebagai bagian dari arogansi kelas sosial yang membodohi penderitaannya.

​Aku jatuh berlutut di lantai kelas yang dingin. Isakanku tak terbendung lagi. Aku menangis meraung, meremas dadaku yang serasa dibelah paksa oleh kapak.

​"Key! Keyla, kamu nggak apa-apa?" Indra buru-buru berlutut di hadapanku, wajahnya dipenuhi kepanikan dan rasa bersalah karena membiarkan Rendi mengataiku.

​Indra mencoba merengkuh bahuku, mencoba menarikku ke dalam pelukan hangatnya untuk menenangkanku. Sentuhan tangan Indra yang tegap dan wangi parfumnya yang mahal menyerbu indraku.

​Namun untuk pertama kalinya, aku tak merasakan kenyamanan dari sentuhan Indra. Yang kurasakan hanyalah rasa muak.

​Dengan tenaga yang tersisa, aku menepis tangan Indra dengan kasar.

​"Lepasin aku!" bentakku di sela tangisku. Aku menatap Indra dengan mata yang memerah dan bengkak.

​Indra terkejut luar biasa. Tangannya terhenti di udara. "Key? Aku cuma mau nenangin kamu... Cowok brengsek itu udah nyakitin kamu."

​"Kamu yang nyakitin dia, Ndra!" teriakku histeris. Aku tidak bisa mengendalikan emosiku lagi. Semua kesedihan, keputusasaan, dan rasa frustrasi meledak menjadi kemarahan. "Siapa yang nyuruh kamu ikut campur?! Siapa yang nyuruh kamu ngehina dia miskin dan sampah jalanan?! Kamu nggak tahu apa-apa soal hidupnya!"

​"Keyla, dia ngebentak kamu!" Indra berusaha membela diri, wajahnya terlihat tak percaya melihatku membela laki-laki yang baru saja membuatku menangis hancur. "Aku nggak bisa diam aja ngeliat perempuan yang aku sayang direndahkan sama cowok kere kayak dia!"

​"Berhenti panggil dia kere!" jeritku merana. Aku berdiri tertatih-tatih, menjauh dari Indra. "Kamu punya uang dari orang tuamu, Ndra. Rendi nyari uang pakai darah dan keringatnya sendiri buat ngidupin adiknya! Harga dirinya jauh lebih tinggi dari semua harta yang kamu punya! Dan hari ini... kamu hancurin sisa-sisa harga diri itu di depan mataku!"

​Aku menatap Indra dengan kekecewaan yang sangat dalam. Indra memang pahlawan, tapi pahlawan yang salah tempat. Ia datang untuk membelaku, namun ia menggunakan pedang arogansi kekayaannya untuk menikam Rendi tepat di jantungnya. Dan karena aku yang menjadi pemicunya, Rendi menimpakan seluruh kesalahan itu padaku.

​"Key... aku cuma mau ngelindungin kamu," ucap Indra lirih, suaranya patah. Bahu tegapnya merosot melihat kebencian di mataku.

​"Aku nggak butuh perlindunganmu, Ndra," bisikku parau, air mata terus mengalir tanpa henti. "Karena perlindunganmu baru saja membunuh satu-satunya hal yang paling aku cintai di dunia ini."

​Aku berbalik, menyambar tas ranselku yang tergeletak di meja. Aku tidak memedulikan kotak makan berisi roti selai kacang yang jatuh berantakan di lantai. Aku berlari keluar dari kelas XII-IPA 1, meninggalkan Indra yang mematung dalam kebisuan, dengan hati yang sama hancurnya denganku.

​Aku berlari menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi. Hujan di luar kembali turun dengan lebat, seolah langit ikut meratapi kebodohanku yang bertubi-tubi.

​Saat aku melewati area ruang ganti dekat lapangan indoor, dari balik pilar beton yang tersembunyi, kulihat siluet Siska berdiri di sana.

​Siska melipat tangannya di dada. Ia menatapku berlari sambil menangis histeris. Senyum simpul di bibirnya terlihat sangat jelas di bawah cahaya lampu koridor yang temaram. Aku tak perlu menjadi jenius untuk menyadari bahwa Siska-lah yang memberitahu Indra bahwa aku sedang berduaan dengan Rendi di kelas. Siska-lah yang memanipulasi situasi ini agar Indra datang sebagai pahlawan, membenturkan dua laki-laki itu, dan memastikanku membenci Rendi selamanya.

​Tapi Siska salah perhitungan. Aku tidak membenci Rendi. Aku justru membenci duniaku sendiri yang begitu angkuh.

​Aku tak menghentikan langkahku. Aku terus berlari menerobos hujan badai di lapangan depan sekolah, membiarkan seragamku basah kuyup. Dinginnya air hujan tak sebanding dengan rasa dingin yang kini membekukan hatiku.

​Sesampainya di rumah, aku mengunci pintu kamarku rapat-rapat. Aku mengabaikan ketukan cemas dari Mama. Aku melorot jatuh di balik pintu, memeluk lututku, dan menangis hingga suaraku habis.

​Malam harinya, di bawah cahaya lampu belajar yang redup, aku membuka buku harianku. Tanganku gemetar saat memegang pulpen. Tintanya luntur karena tetesan air mataku yang tak kunjung berhenti.

​"Hari ini, semuanya berakhir. Penolakan tegasmu telah membunuhku, dan kehadiran Indra untuk membelaku telah mengubur jasadku dalam-dalam di ingatanmu. Kau menganggapku sama dengan mereka yang menghinamu. Hanya saja... aku ingin kau tahu, Rendi. Di saat dunia menghakimimu sebagai pecundang yang miskin, di mataku kau tetaplah raja yang kehilangan mahkotanya. Dan aku, akan selalu menjadi rakyat jelata yang menangisi kepergianmu dalam keheningan yang paling menyiksa." (Buku Harian Keyla, Halaman 92)

​Kututup buku harianku dengan dada yang hampa. Rendi tidak akan pernah membiarkanku masuk. Ia telah membangun tembok yang terlalu tinggi, dan kini ia menaburkan pecahan kaca di atasnya agar aku tak pernah lagi berani memanjat.

1
partini
benar an ini dah berakhir Thor
so happy next cerita mereka dah dewasa
partini
ko waktu buat indra ,buat kamu sendiri dong tata hatimu dulu kubur semua kenangan itu dalam" berjalan kedapan dengan nanggung urusan asmara nanti menyusul lah,, siapapun orangnya pasti terbaik buat kamu kalau jodoh sama Indra bagus sama Rendy nanti jug bagus,,cintai dirimu sendiri dulu
partini
sekarang kamu bisa bilang Kya gitu NDRA mencintai orng yg hatinya udah mati kusus untuk dia itu melelahkan sekali loh,,pikir dulu lah sebelum bertindak
partini: hati Kay udah ga bisa ke lain hati udah mentok ke satu orang jadi yg lain lewat
total 2 replies
partini
tapi kalau di pikir" Kayla sangat menggangu sih Thor
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik
partini
mereka bertemu lagi setelah beberapa tahun Thor ,i hope mereka bertemu udah pada kerja Rendi jug udah sukses biar saling bersaing ga Jomblang kaya sekarang
Pengamat Senja: iya kasian banget Keyla /Frown/
total 3 replies
partini
biarkan Rendi sendiri aja lah ,jangan di ganggu dulu mungkin lebih baik kamu pergi jauh dari pada Rendi makin stres
partini
orang sederhana yg apa ini mananya susah di Jabar kan si Rendi ini orangnya ,belagu iya, egois iya ,sok kuat iya padahall butuh seseorang untuk berbagi kesedihan
Nacill Chan
semangatt kakkk 😉
partini
kadang menurut kita baik belum tentu itu baik untuk mereka
partini
lanjut
Pengamat Senja: jangan lupa follow ya kak 🙏
total 1 replies
Pengamat Senja
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!