NovelToon NovelToon
The Price Of Power

The Price Of Power

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:408
Nilai: 5
Nama Author: Kharisa Patasiki

Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.

Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
​Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
​Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: WARISAN YANG TERSIMPAN DI BALIK NAPAS TERAKHIR

​Jakarta kembali diguyur hujan sisa semalam saat sebuah ambulans tanpa identitas memasuki gerbang belakang mansion Diningrat dengan pengawalan senyap. Di dalam sebuah bangsal medis pribadi yang dibangun dalam waktu semalam, sang legenda yang seharusnya sudah menjadi sejarah—Kakek Adrian Diningrat—terbaring lemah di balik masker oksigen.

​Ian berdiri di samping ranjang, menatap pria yang telah memanipulasi kematiannya sendiri selama belasan tahun. Di usianya yang ke-31, Ian merasa seperti anak kecil lagi, bingung antara rasa rindu dan dikhianati. Namun, fokusnya terpecah saat ponselnya bergetar di saku jas.

​Sebuah pesan dari Lorenzo Valenti.

​Bukan dokumen bisnis, melainkan sebuah foto resolusi tinggi yang dikirim melalui jalur terenkripsi. Ian membuka foto itu, dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Di sana, di sebuah taman bergaya Mediterania yang rimbun dengan pohon zaitun, berdiri seorang anak laki-laki berusia sekitar 4 atau 5 tahun.

​Anak itu memiliki struktur rahang yang tegas, rambut hitam yang jatuh dengan elegan, dan sepasang mata tajam yang sangat familiar—sebuah genetik sempurna yang seolah-olah adalah cerminan kecil dari Adrian Diningrat. Di samping anak itu, tampak siluet seorang wanita yang wajahnya tertutup topi lebar, namun Ian tahu betul siapa dia dari cara dia berdiri.

​Di bawah foto itu, Lorenzo hanya menuliskan pesan singkat yang sangat sopan namun mematikan:

​"Selamat atas kehamilan istrimu, Adrian. Benih yang baik akan selalu tumbuh di tanah yang subur. Salam dari kami di Italia."

​Rahang Ian mengeras. Mengapa Lorenzo mengirim foto itu sekarang? Mengapa saat Rhea sedang hamil muda? Dan yang paling mengusik batinnya: mengapa Cansu rela menghabiskan tahun-tahun terbaiknya di pengasingan hanya untuk merawat kakek Ian di Swiss? Ada sebuah teka-teki yang sengaja diletakkan Lorenzo seperti remah roti di tengah hutan, dan Ian dipaksa untuk mengikutinya.

​Detik-Detik Terakhir Sang Maestro

​Kondisi sang kakek menurun drastis dalam waktu singkat. Penyakit paru-paru kronis yang selama ini ditekan oleh teknologi medis Swiss akhirnya mencapai puncaknya di tanah Jakarta. Di ruangan itu, hanya ada Ian dan Yusuf. Rhea sengaja tidak diperbolehkan masuk atas saran medis karena kondisi kehamilannya yang masih sangat rentan terhadap stres emosional.

​Bunyi monitor detak jantung terdengar seperti hitungan mundur yang menyakitkan. Sang Kakek membuka matanya yang mulai kabur, menatap langit-langit seolah sedang melihat bayangan kejayaan masa lalu.

​"Adrian..." suara itu lemah, menyerupai gesekan amplas di atas kayu.

​Ian mendekat, menggenggam tangan pria tua itu yang dingin dan keriput. "Aku di sini, Kek."

​"Lorenzo... dia tidak pernah memberikan sesuatu secara cuma-cuma," bisik sang kakek, napasnya terputus-putus. "Cansu... dia bukan sekadar perawat. Dia adalah... penjaga pintu."

​Ian mengerutkan kening. "Pintu apa, Kek? Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan dariku?"

​Sang kakek terbatuk, darah merembes di sudut bibirnya. Ia menarik kerah baju Ian, membawa wajah cucunya mendekat dengan sisa tenaga terakhirnya. Matanya tiba-tiba berkilat, memancarkan rahasia besar yang selama ini terkunci rapat.

​"Kembalilah ke Italia... ke tempat di mana mawar dan gandum bertemu. Temukan apa yang belum kau temukan. Jangan biarkan... darahmu... menjadi senjata orang lain."

​Monitor mengeluarkan suara statis panjang. Garis hijau di layar menjadi datar. Namun, tepat sebelum napasnya benar-benar habis, sang kakek membisikkan tiga kata yang meledakkan seluruh logika Ian:

​"Singa kecilmu..."

​Tangan tua itu lunglai. Sang Maestro Diningrat benar-benar telah pergi, kali ini tanpa ada rekayasa lagi.

​Keputusan Sang Macan

​Kematian sang kakek dirahasiakan dari publik. Pemakaman dilakukan secara tertutup di area pemakaman keluarga yang paling terisolasi. Di bawah payung hitam dan rintik hujan, Ian berdiri mematung. Kata-kata terakhir kakeknya dan foto anak laki-laki dari Lorenzo berputar-putar di kepalanya seperti badai.

​Singa kecilmu.

​Apakah mungkin? Apakah malam-malam terakhir di Milan sebelum mereka berpisah bertahun-tahun lalu telah membuahkan sesuatu yang dirahasiakan oleh dunia? Jika benar, maka Cansu tidak merawat kakeknya karena balas budi, melainkan karena mereka berbagi rahasia tentang garis keturunan Diningrat yang baru.

​"Yusuf," panggil Ian, suaranya dingin dan mutlak.

​"Ya, Tuan Muda," Yusuf berdiri sigap di belakangnya, jas hitamnya basah oleh hujan.

​"Siapkan pesawat. Kita berangkat ke Italia malam ini. Rahasiakan ini dari siapa pun, termasuk ayahku."

​"Bagaimana dengan Nona Rhea, Tuan Muda? Kondisinya sedang lemah karena mual di trimester pertama," Yusuf mengingatkan dengan nada penuh perhatian.

​Ian terdiam. Ia menatap ke arah balkon mansion di mana ia tahu Rhea sedang beristirahat. Mencintainya adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidup Ian, namun melindunginya berarti harus menjauhkannya dari kekacauan yang akan ia hadapi di Italia.

​"Biarkan dia tahu aku harus mengurus aset kakek yang tertinggal di Eropa. Katakan padanya aku akan kembali sebelum dia menyadarinya. Aku tidak bisa membawanya, Yusuf. Medan yang akan kita hadapi... bukan lagi sekadar politik. Ini adalah perang tentang hak waris darah."

​Keberangkatan yang Sunyi

​Tengah malam di bandara pribadi, jet Diningrat Grub sudah siap lepas landas. Ian duduk di kursi penumpang, menatap foto anak laki-laki itu lagi di tabletnya. Wajah anak itu benar-benar menyerupainya—tatapan matanya, lengkung bibirnya, bahkan cara anak itu mengepalkan tangan.

​"Tuan Muda," Yusuf masuk ke kabin, membawakan kopi pahit tanpa gula. "Lorenzo telah mengetahui keberangkatan kita. Dia sudah menyiapkan jemputan di bandara Marco Polo, Venesia. Bukan Milan."

​"Venesia?" Ian mengangkat alis. "Kenapa bukan ke kebun apel di Trentino?"

​"Lorenzo bilang, 'Singa tidak suka apel, dia suka bersembunyi di labirin air'."

​Ian menyandarkan kepalanya, memejamkan mata. Ia merasa seperti sedang berjalan menuju jebakan yang paling indah yang pernah dibuat oleh seorang Valenti. Di Jakarta, seorang istri sedang mengandung anaknya, menanti masa depan yang normal. Namun di Italia, sebuah masa lalu yang bernapas mungkin sedang menunggunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.

​"Cansu..." gumam Ian pelan.

​Ada rasa sakit yang asing muncul di dadanya. Jika benar anak itu adalah darah dagingnya, maka Cansu telah menanggung beban itu sendirian selama bertahun-tahun, menjaga kakek Ian, dan bersembunyi di bawah sayap pelindung Lorenzo. Kesetiaan wanita itu melampaui logika pengkhianatan yang pernah mereka alami.

​"Yusuf, apa pun yang kita temukan di sana... apa pun kebenarannya, pastikan tidak ada satu pun informasi yang bocor ke Jakarta sebelum aku yang mengatakannya pada Rhea."

​"Saya bersumpah dengan nyawa saya, Tuan Muda."

​Pesawat mulai bergerak, melaju di atas landasan pacu yang basah, lalu melesat menembus awan gelap Jakarta menuju langit Eropa yang dingin. Ian tidak tahu apa yang menantinya di Venesia, namun satu hal yang pasti: Sang Macan Diningrat tidak akan pulang sebelum ia tahu siapa sebenarnya "Singa Kecil" yang dimaksud kakeknya.

​Permainan bayang-bayang Lorenzo Valenti telah mencapai puncaknya. Dan di balik labirin air Venesia, sebuah rahasia yang sanggup meruntuhkan Keluarga Diningrat—atau justru memperkuatnya—sedang menunggu untuk dijemput.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!