Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.
Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.
Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.
Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.
Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Putusan
Jam setengah sepuluh, Alvian baru kembali dari kamar mandi dan bersiap masuk ke ruang sidang. Saat itu, seorang pria paruh baya berkemeja putih datang menghampirinya dengan ekspresi yang antusias. Dia adalah Pak Doni, anak Ibu Hj. Lastri.
"Kamu- ... Kamu kok di sini?"
Alvian berhenti dan menatap pria paruh baya itu tanpa berkata. Ketika diajak salaman dia pun ikut mengulurkan tangan dan mulai tersenyum ramah membalasnya.
"Dokter Alvian, sidang sebentar lagi akan dimulai. Tolong segera masuk."
Asisten dr. Santoso muncul dari balik pintu dan menyampaikan pesan kepada Alvian.
"Tunggu! Dokter Alvian?" Ekspresi Pak Doni menjadi rumit saat mendengar nama dokter yang telah menyelamatkan ibunya. Dia menatap wajah Alvian cukup lama sebelum mulai tertawa.
"Ha-ha-ha-ha ... Pantas saja wajah kamu tidak asing. Ternyata kamu dokter 8 detik yang viral beberapa waktu ini. Saya sudah melihat videonya," ujar pria berusia lima puluhan tahun itu.
Alvian tidak tahu harus berkata apa. Dia kemudian masuk ke ruang sidang, kembali duduk di kursinya, tak sengaja melihat Pak Doni berjalan di depan, lalu duduk di kursi di samping dr. Tono, yang sedari awal sidang tidak ditempati orang.
"Ternyata dia dewan penasehat," gumam Alvian.
"Maaf, terlambat." Suara Clarissa terdengar. Dia masuk paling akhir dan langsung duduk di tempatnya. Sempat melirik ke Alvian debgan ekor mata, tapi langsung menghindar ketika tahu Alvian terus menatapnya.
Tuk!
Dokter Santoso mengetuk palu. Semua berdiri, lalu duduk kembali.
"Setelah cek semua bukti, video asli, surat rujukan, dan dengar penjelasan ahli, majelis etik memutuskan, ...." dr. Santoso berhenti, membuat sebagian orang ikut menahan nafas.
"Pertama, tidak ditemukan salah prosedur dan dr. Alvian telah bekerja sesuai aturan pemerintah. Tanya-tanya lengkap, cek fisik benar, lalu merujuk pasien ke RS karena klinik tidak memiliki alat rontgen."
"Karena itu, dr. Alvian Wira, dinyatakan bersih. Izin praktik tetap jalan. Tidak ada hukuman, atau teguran."
Prang. Mbak Sari langsung menangis. "Alhamdulillah, Dok!" Keceplosan. Dia tutup mulut rapat-rapat. Takut diusir.
dr. Santoso lanjut, "Kedua, untuk Dinkes. Kami minta buat surat resmi ke media. Isinya, menjelaskan video 8 detik itu potongan. Dokternya tidak bersalah, memastikan nama baiknya tidak terpengaruh."
"Ketiga, untuk masyarakat. Kami ingatkan, jangan telan mentah video pendek yang beredar. Diagnosis itu proses panjang. Tidak bisa hanya dalam 8 detik."
Tuk! Palu diketuk. "Sidang ditutup."
Alvian berdiri. Kaki lemes, rasanya mau sujud syukur di lantai marmer. Tapi ingat Clarissa tadi bilang, "Jangan lebay. Tidak profesional." Jadi Alvian cuma mengangguk menerima hasil putusan sidang.
"Terima kasih, Pak, Bu."
Wartawan langsung menyerbu. Kamera, HP, mic, disodorkan seperti akan menyuapinya.
"Dok Alvian! Gimana rasanya bebas?"
"Dokter Dewa, mau ngomong apa ke haters?"
Alvian keringetan. Menghadapi sorotan lebih menakutkan daripada menjalani operasi darurat di ruang operasi.
"Dok Clarissa, bagaimana pendapatnya?"
"Apa ini seperti kencan di ruang sidang?"
Clarissa berdiri, menutup laptopnya. "Putusan sudah dibacakan. Untuk pertanyaan yang tidak relevan, saya tidak punya waktu menjawabnya. Saya harus kembali ke rumah sakit, permisi."
Dia menyikut pelan, membuka jalan. Alvian langsung mengekor di belakang kayak anak magang. Mbak Sari bawa map, ngikut paling belakang.
Sampai lobby, wartawan masih mengejar. Satu menyodorkan mic, yang lain merekam. "Dok Clarissa, benarkah Anda menikah sama Dokter Dewa karena dijodohkan?"
Clarissa berhenti, menatap wartawan yang bertanya dengan intimidasi. "Sekali lagi. Pertanyaan yang tidak relevan, saya tidak punya waktu menjawabnya."
Di parkiran, Mercy S-Class sudah menunggu. Clarissa langsung masuk, tapi tak disangka Alvian juga ikut naik pada waktu yang sama.
"Kamu- ...." Clarissa tunjuk Alvian. "Siapa yang suruh kamu naik mobilku? Cepat turun."
"Istri. Di luar banyak sekali wartawan. Jika aku pulang naik motor, bagaimana nanti mereka akan melaporkannya?" Alvian mengikat sabuk, menyandarkan punggungnya dengan nyaman.
"Tidak masalah jika mereka tulis hal buruk tentangku. Tapi tidak mungkin aku biarkan mereka rusak reputasi Istri hanya karena meninggalkan suami naik motor beat karbu."
"Istri, istri, istri. Bisa tidak jangan memanggil dengan sebutan itu?" omel Clarissa.
"Sayang?"
"Diam!" Suara Clarissa tertahan. Dia menarik nafas panjang, berusaha mengatur emosinya sebelum kembali tenang.
"Jangan sentuh apapun. Aku baru mencucinya."
"..."
Alvian mengangguk, memberi isyarat "Ok" dengan jarinya.
Tidak ada suara bahkan sepanjang perjalanan. Clarissa fokus menyetir, tapi suasana hening benar-benar tidak cocok dengan kepribadian Alvian.
"Apa dia tertidur?"
"Sayang," Alvian tiba-tiba menoleh, membuat Clarissa terkejut setengah mati. Giginya menggertak, ingin memukul kepala pria itu.
"Sudah dibilang jangan memanggil seperti itu. Apa kamu tidak punya panggilan lain yang lebih normal?"
Alvian berpikir sejenak.
"Tidak boleh istri, juga tidak boleh sayang. Bagaimana jika, beb? Honey?"
Uek!
Clarissa hampir muntah. Ekspresi jijik di wajahnya benar-benar tidak bisa disembunyikan.
"Sudah sudah. Jangan memikirkannya lagi, kamu membuatku mual."
Alvian bingung. "Jadi, yang mana yang harus dipakai?"
"Terserah. Yang penting jangan dua terakhir."
"Sayang?"
"Tidak."
"Istri?"
Hening 5 detik. Lampu merah. Clarissa tidak mempedulikan celotehan Alvian hingga mereka sampai di klinik.
"Sudah sampai. Cepat turun."
Saat itu sudah jam 11.00. Pintu klinik sudah dibuka, tanda tutup sudah disingkirkan oleh Mbak Sari yang pulang naik motor beat karbu.
Tak butuh waktu lama, ibu-ibu langsung datang sambil bawa gorengan sambil gendong anak. Setengah berlari, mulai membentangkan spanduk. _"WELCOME DOKTER DEWA - PAHLAWAN BATUK"_. Norak, tapi tulus.
Mbak Sari sumringah di samping. Berteriak, "Dokter Dewa bebas! Hari ini, Dokter mau traktir semua orang bakso Kang Ujang."
"Alhamdulillah!" sahut Kang Ujang paling keras, dari barisan belakang.
Alvian yang mendengar sontak membuka mata lebar-lebar. "Siapa yang mau traktir? Enak saja. Mau makan bayar sendiri. Saya saja masih utang."
Ibu-ibu yang sudah mengambil mangkok langsung kecewa. Kang Ujang cemberut, sedangkan Mbak Sari tertawa puas.
"Sudah sudah, cepat baris. Siapa yang mau periksa? Jika tidak, saya akan masuk, mau tidur siang."
Clarissa tidak langsung pergi. Masih di mobilnya, memperhatikan Alvian yang begitu dekat dengan pasien-pasiennya. Ada rasa penasaran, ada rasa curiga.
"..."