Putri Azura dari kerajaan Utara, menikah dengan pangeran Xavier, putra Mahkota kerajaan Selatan. Xavier membenci Azura saat mengetahui wanita itu hanya memanfaatkannya demi pernikahan politik. Semua orang yang pernah dekat dengan Azura pun berpaling darinya dan menganggapnya wanita jahat yang haus akan kekuasaan.
Namun, apakah sang putri benar-benar jahat? Atau dia hanya menjadi boneka politik yang berusaha bertahan hidup?
Nanti akan terungkap bahwa di balik keanggunan dan kepintarannya, Princess Azura diam-diam melindungi Xavier dan orang-orang yang dia sayangi dari bahaya yang jauh lebih besar. Kebencian perlahan berubah jadi keraguan, hingga akhirnya kebenaran mengejutkan terkuak, kebenaran tentang betapa pahitnya kisah hidup Azura dan cintanya yang tulus terhadap Xavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dalang
Dengan satu hentakan kuat kakinya, Xavier mendobrak pintu kayu di sampingnya hingga terlepas dari engselnya dan terlempar ke sembarang arah. Xavier melompat keluar membawa Azura terguling bersamanya ke tumpukan semak belukar dan tanah lunak di pinggir jalan yang sedikit lebih rata. Tubuh besarnya berputar di udara seolah memiliki insting sendiri, memastikan posisi dirinya berada di bagian paling bawah saat jatuh, menjadi bantalan empuk bagi wanita yang ia peluk erat itu.
Mereka menggelinding beberapa kali menuruni lereng bukit yang cukup curam namun tertutup rumput tebal dan semak belukar, berguling bersama-sama hingga akhirnya tubuh mereka tersangkut dan berhenti tepat di balik rimbunan semak besar yang kokoh.
Di saat yang sama, di atas sana, tepat di tikungan tajam itu, terdengar suara dentuman keras yang menggelegar, disusul bunyi pecahan kayu yang berantakan dan suara deru kuda yang panik sebelum akhirnya semua menghilang jatuh ke dalam jurang yang dalam dan gelap. Suara gemuruh itu bergema panjang, menandakan hancurnya kereta mewah itu menjadi kepingan-kepingan tak bernilai di dasar sana.
Keheningan mendadak menyelimuti suasana, hanya sesekali dipecahkan oleh suara ranting yang patah dan napas terengah-engah keduanya.
Xavier merasakan berat tubuh kecil Azura yang masih terbaring sepenuhnya di atas dadanya, kedua tangan wanita itu masih melingkar erat di lehernya, wajahnya tersembunyi rapat di lekukan bahu kekarnya. Pelukan itu begitu kuat, penuh ketakutan, namun juga penuh ketergantungan yang mendalam.
Xavier sendiri berbaring diam, punggung dan lengannya terasa nyeri luar biasa akibat benturan keras dengan tanah dan bebatuan, tapi ia sama sekali tak mempedulikannya. Yang ada di benaknya saat ini hanya satu hal, wanita ini selamat.
Napas berat Xavier mulai teratur kembali. Ia mengangkat satu tangannya yang bergetar sedikit, lalu menyentuh kepala Azura, menyisir rambut hitam panjang yang kini berantakan dan penuh debu itu dengan lembut. Sentuhan itu begitu berbeda dari biasanya, begitu tak terduga hingga membuat Xavier sendiri tertegun sejenak atas tindakannya sendiri.
"Azura..." panggilnya pelan, suaranya sedikit parau dan serak, jauh lebih rendah dan lembut daripada nada bicaranya selama ini pada wanita itu.
"Kau... kau tidak apa-apa? Ada bagian tubuhmu yang sakit?"
Azura mengangkat wajahnya, pipinya kotor oleh debu tanah dan daun-daun kering yang menempel. Nafasnya masih terengah karena syok.
Ia sama sekali tidak terluka. Tidak ada satu pun goresan atau memar yang menghiasi kulit putihnya. Semua benturan keras, semua gesekan kasar dengan tanah dan bebatuan saat mereka menggelinding tadi, semuanya diterima oleh tubuh kokoh Xavier. Dan saat matanya menelusuri wajah dan tubuh pria itu, ia melihat darah segar berwarna merah terang sudah mulai merembes keluar dari luka goresan panjang di pelipis kiri Xavier.
Ada juga luka robekan di punggung tangan kanan pria itu, serta noda-noda merah samar yang mulai membasahi bagian bahu dan punggung kemeja putihnya, tanda jelas bahwa kulit di sana telah terkoyak parah demi melindunginya.
"Kau... kau berdarah ..." bisik Azura dengan suara gemetar, tangannya yang halus dan dingin terulur ragu menyentuh sisi wajah Xavier, tepat di mana darah itu mengalir.
Ujung jarinya bergetar saat menyeka cairan merah itu. Xavier menahan napasnya saat sentuhan jari-jari lembut itu menyentuh kulitnya yang terluka. Rasa perih itu ada, namun entah kenapa rasa itu terasa samar, kalah oleh rasa hangat yang menjalar dari ujung jari wanita itu.
Ia menatap wajah Azura yang terlihat sangat cemas. Tidak tampak sedang berpura-pura. Tatapan itu begitu tulus. Jantungnya kembali berdebar kencang, bukan lagi karena bahaya yang baru saja berlalu, melainkan perasaan yang entah kenapa perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya.
"Cuma luka kecil," jawab Xavier pelan, matanya tak berkedip menatap manik mata Azura yang tampak khawatir.
Ia berusaha terdengar tenang dan acuh tak acuh, namun nada suaranya terdengar jauh lebih lembut dari biasanya.
"Sampai kapan kau berencana menindihku seperti ini?"
Perkataan Xavier membuat Azura sadar dirinya masih berada di atas tubuh lelaki itu. Ia cepat-cepat bangkit. Pada saat yang sama Yann, kusir sekaligus pengawalnya dan Hugo, panglima perang sekaligus pengawal pribadinya muncul.
"Pangeran!"
Hugo menatap tajam pada Azura, lalu menyuruhnya minggir dengan nada sedikit kasar.
"Tolong minggir, putri!"
Azura sempat tersentak kecil tapi tetap minggir, membiarkan Hugo membantu Xavier berdiri. Xavier mengerutkan kening saat melihat sikap Hugo yang kasar pada Azura. Ia hendak menegur, namun rasa nyeri yang menjalar di sekujur tubuhnya membuat kata-kata itu tertahan. Dengan bantuan Hugo dan Yann, ia berdiri tegak meski sedikit terhuyung, darah di pelipisnya masih terus menetes, meninggalkan jejak merah di sepanjang rahang tegasnya.
"Jalanan itu sengaja dirusak, pasti." geram Xavier rendah, matanya berkilat penuh amarah saat menatap ke arah jurang dalam di belakangnya. Ia tahu betul ini bukan kecelakaan biasa, melainkan jebakan maut yang direncanakan rapi.
Sementara itu, Azura berdiri agak jauh, menunduk diam di bawah tatapan tajam Hugo yang seolah menuduhnya sebagai biang kerok semua ini. Ia anya bisa menggenggam tangannya sendiri erat-erat untuk menahan rasa cemas akan luka-luka di tubuh Xavier.
Sementara itu di jarak entah berapa meter darinya itu, Xavier bertanya kenapa Hugo bersikap seperti itu pada sang putri. Padahal biasanya dialah yang selalu kasar pada Azura.
"Kenapa sikapmu seperti itu padanya?" tanya Xavier.
Hugo masih menahan emosi.
"Karena dalang dari jalan yang sengaja di rusak itu adalah wanita itu, dia yang sengaja ingin menghabisimu dan berakting di sana. "
Xavier kaget.
biar kan xavier tau semua kebenaran nya, dan biar kan dia berjuang untuk mendapat kan maaf dan cinta dari mu💪💪
Semoga saja nnti Xavier punya mata" biar dia tau apa sbnernya yg tjd di istana kerajaan utara
hanya aku yg boleh menghina istriku,KLW orang lain yg berani,siap² kupenggal,dlm hati pangeran Xavier, hanya aq yg dengar 😂😂😂😂😂