NovelToon NovelToon
Lencana Cinta Sang Kapten

Lencana Cinta Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Militer
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hijau yang menyesakkan

Pukul satu siang, sebuah mobil SUV putih berhenti tepat di depan rumah nomor 12. Fathiyah turun dengan setelan dokter militernya yang masih rapi, meski ia sudah menanggalkan jas putihnya. Ia melangkah menuju pintu depan dan mengetuk dengan ketukan yang ritmis namun menuntut.

Tok. Tok. Tok.

"Adeeva? Aku tahu kamu di dalam. Cepat bersiap, kita sudah hampir terlambat untuk pertemuan rutin di aula," suara Fathiyah terdengar otoriter dari balik pintu.

Di dalam, Adeeva menatap seragam Persit berwarna hijau pupus yang tergeletak di atas ranjang. Seragam itu terdiri dari rok di bawah lutut dan blazer dengan potongan yang sangat kaku. Baginya, pakaian ini adalah simbol dari semua hal yang ia benci: keseragaman, aturan, dan hilangnya identitas pribadi.

"Bawel banget," gerutu Adeeva.

Ia akhirnya memakai seragam itu. Namun, Adeeva tetaplah Adeeva. Ia menolak memakai sepatu pantofel hitam berhak pendek yang disiapkan Shaheer. Sebagai gantinya, ia memakai sepatu sneakers putih kesayangannya yang terlihat sangat kontras. Ia juga tidak menyanggul rambutnya, melainkan membiarkannya terurai dengan gaya sedikit berantakan, serta memoleskan lipstik merah yang cukup berani.

Saat ia membuka pintu, Fathiyah terbelalak. Mata dokter militer itu tertuju langsung pada kaki Adeeva.

"Apa-apaan itu? Sneakers? Kamu pikir mau pergi ke mal?" Fathiyah menunjuk sepatu Adeeva dengan wajah tidak percaya. "Lepas sekarang juga. Pakai pantofel yang seharusnya."

Adeeva melangkah melewati Fathiyah menuju mobil tanpa menghentikan langkahnya. "Kakiku sedang lecet karena latihan 'kabur' dari rumah kemarin. Kalau kamu keberatan, aku tidak usah ikut sekalian. Beres, kan?"

Fathiyah mengepalkan tangan. Ia ingin sekali menyeret Adeeva kembali ke kamar, namun ia tahu waktu sudah mepet. "Masuk ke mobil. Dan tolong, lipstikmu itu... hapus sedikit. Kamu akan bertemu dengan istri Komandan Batalyon, bukan mau casting film horor."

"Nggak mau. Ini identitasku," sahut Adeeva pendek sambil menutup pintu mobil dengan keras.

Aula Batalyon sudah dipenuhi oleh ratusan wanita berseragam hijau yang sama. Suasana terasa sangat formal dengan kursi-kursi yang ditata berdasarkan urutan kepangkatan suami. Sebagai istri Kapten, Adeeva seharusnya duduk di barisan depan, di area perwira.

Saat Adeeva masuk bersama Fathiyah, seluruh mata tertuju pada mereka. Bisikan-bisikan halus mulai terdengar. Adeeva bisa merasakan tatapan menilai dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Terutama pada sepatu sneakers dan bibir merahnya.

"Siapa itu? Istri barunya Kapten Shaheer?"

"Katanya anak Kyai, kok gayanya seperti itu?"

"Dengar-dengar dia memang susah diatur."

Fathiyah merasa wajahnya memanas karena malu. Ia menggiring Adeeva menuju kursi di barisan depan. Di sana sudah duduk Ibu Komandan, seorang wanita paruh baya dengan aura yang sangat tenang namun sangat berwibawa.

"Izin, Ibu Komandan. Ini Adeeva, istri dari Kapten Shaheer Ali," Fathiyah memperkenalkan Adeeva dengan nada yang dibuat seformal mungkin.

Ibu Komandan tersenyum tipis, matanya mengamati Adeeva. "Selamat datang di organisasi, Jeng Adeeva. Shaheer banyak bercerita tentang keunikanmu."

"Keunikan?" Adeeva mengangkat alis. "Mungkin maksud Kapten itu 'masalah', Bu."

Suasana di meja depan seketika hening. Fathiyah menyenggol lengan Adeeva dengan keras.

"Maksud saya, saya masih dalam tahap penyesuaian. Jadi mohon maaf kalau penampilan saya kurang berkenan di mata Ibu-ibu sekalian," lanjut Adeeva tanpa beban, meski ia tahu kata-katanya tadi sedikit menyinggung.

Acara dimulai dengan sambutan dan pengarahan. Namun, di tengah acara, Fathiyah sengaja memancing suasana. Ia berdiri saat sesi tanya jawab dan bicara di mikrofon.

"Mohon izin Ibu Komandan, mumpung ada anggota baru kita yang berasal dari lingkungan pesantren yang sangat dihormati, bagaimana kalau Mbak Adeeva yang memimpin doa penutup nanti? Mengingat latar belakangnya yang sangat religius, tentu doanya akan lebih afdal."

Adeeva membeku. Ia menoleh ke arah Fathiyah yang sedang tersenyum penuh kemenangan di sampingnya. Ini adalah jebakan. Fathiyah tahu betul bahwa Adeeva tidak pernah memperhatikan pelajaran agama di pondoknya sehebat Adiba. Adeeva mungkin bisa membaca doa standar, tapi memimpin doa di depan ratusan orang dengan gaya "sholehah" yang diharapkan adalah hal yang mustahil baginya.

"Ayo, Jeng Adeeva. Silakan maju ke depan," ajak Ibu Komandan dengan ramah.

Adeeva berdiri dengan kaki yang terasa berat. Ia melangkah ke podium, merasakan ratusan pasang mata menanti kata-kata mutiara keluar dari mulut "Anak Kyai" itu.

Ia memegang mikrofon. Jantungnya berdegup kencang. Ia melirik Fathiyah yang menatapnya dengan pandangan meremehkan.

"Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh," buka Adeeva. Suaranya sedikit bergetar.

Ia terdiam sejenak. Ia tidak tahu doa panjang yang biasa dibacakan ayahnya. Ia hanya ingat satu hal yang sering dibisikkan Adiba saat ia sedang dalam kesulitan.

"Mari kita berdoa menurut keyakinan masing-masing," ucap Adeeva singkat. "Ya Tuhan, jagalah suami-suami kami di lapangan, dan berikanlah kesabaran bagi kami yang menunggu di rumah. Berikanlah kejujuran dalam hati kami agar kami tidak sibuk mencari kesalahan orang lain di saat diri kami sendiri masih banyak kekurangan. Amin."

Hanya itu. Singkat, padat, dan sedikit menyentil.

Adeeva langsung turun dari podium tanpa menunggu reaksi siapa pun. Suasana aula menjadi sunyi senyap. Ada yang merasa tersindir, ada juga yang tertegun dengan keberaniannya.

Fathiyah tampak kesal karena rencananya untuk mempermalukan Adeeva tidak sepenuhnya berhasil, meski ia tetap merasa Adeeva terlihat "bodoh" karena tidak bisa membacakan doa dalam bahasa Arab yang panjang.

"Kamu benar-benar memalukan, Adeeva," bisik Fathiyah saat mereka berjalan menuju parkiran setelah acara selesai. "Apa susahnya membacakan doa yang panjang sedikit?"

"Apa susahnya untuk tidak jadi orang munafik?" balas Adeeva ketus. "Aku pulang sendiri. Jangan jemput aku lagi."

Adeeva berjalan kaki keluar dari area markas dengan sneakers-nya, mengabaikan panas matahari dan tatapan para prajurit. Ia tidak sadar bahwa di lantai dua gedung mako, Shaheer sedang berdiri di dekat jendela, memperhatikan istrinya yang berjalan sendirian dengan bahu yang tampak bergetar menahan emosi.

Shaheer segera menyambar kunci mobilnya. Ada kemarahan yang mulai membuncah di dadanya—bukan kepada Adeeva, melainkan kepada sistem dan adiknya yang terus-menerus mencoba mematahkan sayap wanita itu.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Setelah baca tinggalkan jejak sayang, biar update nya semangat...

Annyeong love...

1
Fauziah Rahma
👍
Ana
lbjut
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍😍😍
Ana
lnjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!