NovelToon NovelToon
Satu Atap Dua Rahasia

Satu Atap Dua Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.

​Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."

​Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Kau Mau Menyogoknya?

Jadwal bertemu dengan dokter kandungan pun tiba. Biru tak bisa lagi menolak, dan akhirnya pasrah pergi bersama mamanya dan juga Selena.

Pagi itu, suasana di dalam mobil MPV mewah keluarga Hermawan terasa sepi, meski ada tiga orang di dalamnya. Mama Widya duduk di depan bersama supir, sementara Biru dan Selena duduk di barisan tengah, dipisahkan oleh jarak yang cukup untuk satu orang lagi.

Biru mengenakan kemeja abu-abu gelap yang dipadukan dengan celana bahan hitam. Meskipun wajahnya tampak segar hasil perawatan di Singapura, Selena bisa melihat ketegangan di rahang suaminya. Pria itu terus menatap keluar jendela, mengabaikan tablet di tangannya yang biasanya tak pernah lepas.

"Mama sudah pastikan Dokter Harun mengosongkan jadwal jam sepuluh ini khusus untuk kalian," suara Mama Widya memecah keheningan, terdengar penuh semangat. "Beliau adalah ahli fertilitas terbaik. Banyak kolega Mama yang berhasil setelah konsultasi dengannya."

Selena melirik Biru. Pria itu hanya berdehem pendek, "Ya, Ma."

Selena sendiri merasa jemarinya dingin. Ini adalah puncak dari segala kepura-puraan mereka. Bagaimana mungkin mereka berkonsultasi tentang kesuburan jika mereka bahkan tidak pernah berbagi bantal? Ia meremas tas tangannya, mencoba mencari kata-kata di dalam kepalanya seolah sedang menyusun draf novel. 'Sang istri menatap suaminya yang dingin, tahu bahwa rahasia mereka terancam terbongkar di atas meja periksa.'

Saat tiba di rumah sakit, aroma antiseptik yang khas menyambut mereka. Biru tampak sedikit menegang saat melewati lorong poliklinik, namun ia menutupinya dengan langkah tegap yang angkuh.

"Tuan Biru Hermawan dan Nyonya Selena?" panggil suster dengan ramah.

Mama Widya hendak ikut masuk, namun Biru menahan lengan ibunya dengan lembut tapi tegas. "Ma, biarkan kami bicara berdua dulu dengan dokter. Ini masalah pribadi."

Mama Widya tersenyum maklum. "Baiklah, Mama tunggu di kantin ya. Jangan lama-lama."

Begitu pintu ruang praktik tertutup, Selena merasa oksigen di sekitarnya menipis. Di depan mereka, Dokter Harun, seorang pria paruh baya dengan kacamata yang bersahabat, sudah menunggu.

"Silakan duduk, tuan Biru, Nyonya Selena. Pasangan baru yang sangat serasi," sapa sang dokter sambil membuka map medis mereka.

Biru duduk dengan punggung tegak, matanya menatap tajam ke arah dokter. "Langsung saja, Dok. Ibu saya yang terlalu bersemangat. Kami sebenarnya belum merasa ada masalah."

Dokter Harun terkekeh pelan. "Itu biasa bagi orang tua. Tapi tidak ada salahnya memeriksa sejak dini. Jadi, sudah berapa lama kalian mencoba? Apakah ada keluhan tertentu dari tuan Biru atau Nyonya Selena? Misalnya rasa cepat lelah atau... kondisi kesehatan lainnya?"

Mendengar kata 'cepat lelah', Selena melihat tangan Biru yang berada di atas lutut mendadak mengepal kuat. Selena tahu Biru sedang waspada, takut kalau dokter ini akan mendeteksi sesuatu yang lebih dari sekadar masalah kesuburan.

"Kami sehat, Dok," sahut Selena cepat, mencoba membantu suaminya. "Hanya saja... jadwal kerja Biru sangat padat. Kami jarang punya waktu berkualitas."

Dokter Harun mengangguk-angguk, jarinya mulai mengetik di komputer. "Baik, kalau begitu kita mulai dengan prosedur standar ya. tuan Biru, saya perlu data riwayat kesehatan Anda secara lengkap. Apakah Anda sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu saat ini? Atau ada riwayat penyakit jantung atau kronis lainnya dalam keluarga?"

Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruangan itu. Biru terdiam, matanya berkilat penuh rahasia. Di sampingnya, Selena menahan napas, menyadari bahwa di ruang yang kecil ini, benteng pertahanan Biru sedang diuji sampai ke titik nadirnya.

"Tidak ada," jawab Biru dengan suara bariton yang stabil, meski Selena bisa melihat setetes keringat dingin mulai muncul di pelipis suaminya. "Saya sangat sehat."

Selena membuang muka, hatinya mencelos. Ia tahu Biru sedang berbohong demi menjaga sandiwara ini, sementara detak jantung pria itu—yang hanya Selena yang pernah merasakannya saat ia ambruk—mungkin sedang berteriak sebaliknya.

"Jadi, kalian ingin memulai program atau sekadar pemeriksaan rutin pasca-pernikahan?"

Selena merasa kursinya mendadak panas. Ia melirik Biru, memberi kode 'lakukan sesuatu!' dengan matanya.

"Kami ingin memastikan semuanya baik-baik saja, Dok," Biru memulai pembicaraan dengan nada sangat meyakinkan. "Meskipun kami tidak terburu-buru, Mama sangat ingin memastikan tidak ada kendala di masa depan."

Dokter Harun mengangguk-angguk, mulai mencatat di komputernya. "Baik. Bagaimana dengan aktivitas seksual? Rutin?"

Selena merasa wajahnya memanas hingga ke telinga. Ia menunduk, pura-pura merapikan roknya. Pertanyaan ini adalah ujian integritas terbesarnya. Ia tidak mungkin mengatakan "kami tidur di kamar berbeda," tapi ia juga tidak sanggup mengucapkan kata "rutin."

"Cukup rutin, Dok," jawab Biru dengan suara bariton yang stabil. Ia bahkan sempat melirik Selena dan memberikan senyum kecil yang sangat akting-sentris, membuat Selena nyaris tersedak udara. "Hanya saja, pekerjaan kami memang menyita banyak waktu."

"Ah, itu biasa bagi pasangan muda," sahut Dokter Harun santai. "Baik, kalau begitu kita lakukan tes dasar dulu ya. Nyonya Selena, mari ikut suster ke ruang pemeriksaan dalam. Dan tuan Biru, Anda bisa memberikan sampel di ruangan sebelah."

Mendengar kata "pemeriksaan dalam" dan "sampel," Selena dan Biru sama-sama tertegun. Ini bukan lagi sekadar konsultasi; ini sudah masuk ke ranah tindakan medis nyata.

Selena menatap Biru dengan tatapan horor. Sampel? Sampel apa? Bagaimana Biru akan memberikan sampel jika selama ini ia tidak pernah melakukan apa pun?

Biru tetap tenang, meskipun di dalam hatinya ia mulai memutar otak. Kondisi tubuhnya yang sedang fit hari ini adalah sebuah keajaiban, namun ia tahu, tes medis tidak bisa dibohongi dengan sekadar akting.

"Dok," potong Biru dengan wibawa yang tenang. "Sebenarnya, tujuan kami hari ini lebih ke arah pemeriksaan umum untuk Selena. Saya baru saja melakukan medical check-up lengkap bulan lalu untuk keperluan asuransi perusahaan, hasilnya sempurna. Mungkin kita bisa fokus pada Selena dulu?"

Selena membelalak. Sempurna? Ia tahu Biru sedang berbohong demi menutupi kontrak mereka, tapi ia tidak tahu bahwa kebohongan Biru jauh lebih dalam dari itu.

Di tengah kebingungan Selena yang luar biasa, ia menyadari satu hal: Biru Hermawan adalah aktor yang jauh lebih hebat daripada tokoh-tokoh dalam novelnya. Dan sekarang, ia terjebak dalam skenario yang ia sendiri tidak tahu kapan akan berakhir.

Sebelum Selena memasuki ruang pemeriksaan, ia sempat meminta izin ke toilet dengan menarik tangan Biru. Sentuhan pertama yang dilakukan Selena membuat dada Biru berdegup kencang.

"Biru, tunggu sebentar," bisik Selena. Suaranya terdengar mendesak, hampir seperti rengekan yang tertahan.

Sebelum Biru sempat merespons, Selena sudah meraih pergelangan tangan suaminya. Jemari Selena yang lentur dan dingin melingkar di kulit hangat pergelangan tangan Biru, menariknya menjauh dari jangkauan pendengaran Nyonya Widya dan Dokter Harun.

"Aku perlu ke toilet. Ikut aku," tuntut Selena, matanya memancarkan kebingungan yang akut.

Biru membiarkan dirinya ditarik menuju koridor sepi di dekat area toilet VVIP. Namun, begitu pintu toilet tertutup dan mereka hanya berdua di ruang rias yang mewah itu, Biru terpaku.

Sentuhan Selena tadi—telapak tangan wanita itu yang menempel di kulitnya—seolah mengirimkan sengatan listrik yang menjalar cepat menuju dadanya. Tiba-tiba, jantung Biru yang biasanya terasa berat dan lambat, kini berdegup dengan ritme yang sangat kencang. 100 per menit, mungkin lebih.

Biru tertegun. Ia menyentuh dadanya sendiri, merasakan dentuman yang kuat di balik kemeja mahalnya. Aneh. Ini bukan sesak napas yang biasa ia rasakan saat penyakitnya kambuh. Ini adalah debaran yang berbeda; debaran yang terasa sangat... hidup.

"Biru! Kau dengar aku tidak?" Selena melepaskan tangannya, berkacak pinggang dengan wajah memerah. "Sampel? Tes kesuburan? Kau gila? Aku tidak bisa melakukan pemeriksaan dalam! Bagaimana kalau dokter itu tahu kalau aku... kalau aku masih..."

Selena menggantung kalimatnya, tidak sanggup melanjutkan kata "perawan" di depan pria yang secara hukum adalah suaminya. Integritasnya sedang berteriak protes. Ia merasa seperti kriminal yang sedang memalsukan bukti di laboratorium.

Biru menarik napas panjang, mencoba menenangkan badai di dalam dadanya yang dipicu oleh sentuhan singkat tadi. "Tenanglah, Selena. Aku sudah bilang, ikuti saja alurnya. Kau hanya perlu masuk, biarkan suster melakukan pemeriksaan fisik standar. Aku akan bicara pada Harun secara pribadi setelah ini."

"Bicara apa? Kau mau menyogoknya?" Selena mendelik. "Aku penulis novel, Biru. Aku tahu bagaimana skenario ini berakhir. Kita akan terjebak dalam kebohongan yang lebih besar lagi!"

***

1
Rahmah Salam
hummmm....💪💪
Rahmah Salam
egoisss....emang anda tau kebahagian seseorang...😎
Rahmah Salam
tdk enak di posisi selena yg mengalami kebingungan dan ketidak pastian...
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
waduh.... lemah sekali ea
Rahmah Salam
semangat semangat,,😄
Rahmah Salam
thor lnjut lg dong...
Rahmah Salam
ikut terharu..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
kasihan biru..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
akankah dia tau..???/Sweat/
Rahmah Salam
waduhhh....jangan died dl thor....😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
kalau jin gimna....???
jin ouch jin sentuh itu selena...
Rahmah Salam
kontrak batal😎...misi sang mertua sukses...😄😄
Bhebz: wkwkwk
total 1 replies
Rahmah Salam
asin dong klau msh ada sisa air laut yg nempel😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ikuti alur nya seperti air yang menuju muara lalu bertemu lautan
Rahmah Salam
setidakx merasskan rasa happy di akhir hidupx.....😆
Rahmah Salam
dehhh....deg degan😆
Rahmah Salam
kira2 senakal apa sih biru dulu????😎
Rahmah Salam
jenis penyakit langka😎
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
penuh lika liku naik turun jurang dan tebing... hihihi....
Titin Riani
nunggu update lagi dong 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!