NovelToon NovelToon
Anomali Rasa

Anomali Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Romantis
Popularitas:643
Nilai: 5
Nama Author: USR

Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.

Nantikan Perjalanan Kedua nya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

POV: RIANI

Minggu pagi, Riani bangun dengan perasaan yang lebih baik dari kemarin. Matahari bersinar cerah melalui celah gorden kamarnya, suara burung berkicau di luar jendela—hari yang sempurna untuk produktif.

Atau setidaknya, itulah yang Riani coba yakinkan pada dirinya sendiri.

Sebenarnya, dia punya rencana hari ini: menyelesaikan tugas Manajemen Keuangan yang deadline-nya Selasa besok. Tapi entah kenapa, pikirannya terus melayang ke tempat lain—atau lebih tepatnya, ke seseorang.

Wahyu.

Kemarin malam, sebelum tidur, Riani sempat mencari akun Instagram Wahyu. Butuh waktu lima belas menit scrolling dan mencoba berbagai kombinasi nama sebelum akhirnya dia menemukan akun dengan username "@wahyuadt_"—akun dengan foto profil default, hanya dua postingan foto pemandangan tanpa caption, nol following, tiga followers.

Riani kirim follow request.

Dan pagi ini, saat dia cek... declined.

Ditolak.

Riani menatap layar ponselnya dengan perasaan campur aduk. Sebagian dirinya tidak kaget—ini Wahyu, tentu saja dia akan tolak. Tapi sebagian lagi merasa... sedikit sakit hati.

"Ya sudahlah," gumam Riani sambil menaruh ponsel. "Dia memang nggak suka sosial media. Wajar."

Tapi tetap saja... ditolak itu tidak enak.

Riani bangkit dari kasur, mandi, ganti baju, lalu duduk di meja belajar dengan laptop terbuka. Tugas Manajemen Keuangan: Analisis Laporan Keuangan PT XYZ. Dia sudah mengerjakan setengahnya minggu lalu, tinggal melanjutkan analisis rasio likuiditas dan profitabilitas.

Tapi konsentrasinya buyar.

Setiap lima menit, pikirannya melayang. Ke Wahyu. Ke cerita Karin kemarin tentang masa lalu Wahyu. Ke tatapan dingin Wahyu waktu Riani menyapanya di kampus.

"Fokus, Ri," Riani menepuk pipinya sendiri pelan. "Kamu nggak bisa bantu Wahyu kalau kamu sendiri nggak selesai-selesai tugasnya."

Dia mencoba lagi. Membuka spreadsheet Excel, memasukkan angka-angka dari laporan keuangan, menghitung rasio...

Tapi sepuluh menit kemudian, pikirannya melayang lagi.

Riani menghela napas panjang. "Oke, break dulu."

Dia tutup laptop, ambil tas selempang, keluar kamar. Mungkin dia butuh udara segar. Jalan-jalan sebentar ke taman kota, beli kopi, terus balik lagi lanjut ngerjain tugas.

Riani berjalan keluar dari area kosan, menyusuri trotoar yang cukup ramai di Minggu pagi. Beberapa orang jogging, beberapa bawa anjing jalan-jalan, ada juga yang sekadar duduk di taman sambil baca buku.

Dia berjalan santai, menikmati hembusan angin pagi yang sejuk. Setelah sepuluh menit berjalan, dia sampai di sebuah minimarket kecil yang biasa dia kunjungi untuk beli kopi sachet atau camilan.

Tapi begitu Riani mendorong pintu kaca minimarket dan masuk...

Dia melihatnya.

Wahyu.

Berdiri di dekat rak mie instan, sedang mengambil beberapa bungkus dan memasukkannya ke keranjang belanja.

Riani berhenti total di dekat pintu masuk.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

Ini... kebetulan?

Atau semesta sedang memberikan kesempatan?

Wahyu belum menyadari kehadiran Riani—dia terlalu fokus membandingkan dua merek mie instan, seperti sedang menimbang mana yang lebih worth it.

Riani menarik napas panjang.

Oke. Ini kesempatan. Jangan sia-siakan.

Tapi... apa yang harus dia lakukan? Menyapa lagi? Pura-pura tidak sengaja bertemu? Atau...

Sebelum Riani sempat memutuskan, Wahyu berbalik—dan mata mereka bertemu.

Wahyu berhenti bergerak.

Ekspresinya... sulit dibaca. Terkejut? Kesal? Curiga?

Riani tidak tahu.

Tapi dia sudah terlanjur di sini, sudah terlanjur terlihat. Tidak ada jalan mundur.

Riani tersenyum—senyum yang berusaha terlihat natural meskipun jantungnya berdebar keras. "Wahyu! Halo!"

Wahyu tidak menjawab. Dia hanya menatap Riani dengan tatapan yang sama seperti waktu itu di kampus—datar, waspada, dingin.

Lalu dia menoleh, kembali fokus ke rak mie instan, seolah Riani tidak ada di sana.

Riani merasakan dadanya sedikit sesak.

Diabaikan.

Lagi.

Tapi Riani tidak menyerah. Dia berjalan mendekat—tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat, berusaha terlihat casual.

"Belanja juga?" tanya Riani, berusaha membuka percakapan.

Wahyu mengambil satu bungkus mie instan lagi, memasukkannya ke keranjang tanpa melihat Riani. "Iya."

Satu kata.

Riani gigit bibir bawah. Oke, ini lebih sulit dari yang dia kira.

"Kamu... sering belanja di sini?" coba Riani lagi.

"Kadang-kadang."

Dua kata kali ini. Progress?

Riani mencari topik lain. Matanya melirik ke keranjang belanja Wahyu—isinya: mie instan (banyak), beras kemasan kecil, telor, sama satu botol kecap.

"Kamu... tinggal sendiri?" tanya Riani hati-hati.

Wahyu berhenti sejenak. Lalu menjawab dengan nada yang... lebih dingin dari sebelumnya. "Kenapa kamu tanya?"

Riani tersentak. Nada suaranya bukan nada marah, tapi nada... curiga.

"A-aku cuma... ngobrol biasa," jawab Riani gugup. "Bukan bermaksud—"

"Kalau cuma ngobrol biasa, harusnya kamu nggak perlu tanya hal-hal yang... personal."

Riani terdiam.

Wahyu menatapnya sekarang—tatapan tajam, seperti sedang menganalisis Riani, mencari tahu apa motif di balik pertanyaan-pertanyaannya.

"Maaf," Riani akhirnya berkata pelan. "Aku nggak bermaksud... mengusik."

Wahyu tidak menjawab. Dia hanya menatap Riani beberapa detik lagi, lalu berbalik, berjalan menuju kasir dengan keranjang belanjaannya.

Riani berdiri di situ.

Sendirian.

Merasa... bodoh.

Kenapa dia pikir ini akan mudah? Kenapa dia pikir Wahyu akan langsung membuka diri hanya karena Riani ramah?

Riani menghela napas panjang. Dia berjalan ke rak minuman, mengambil satu botol teh kotak—asal ambil saja, yang penting ada alasan kenapa dia masuk minimarket ini.

Di kasir, Wahyu sudah selesai membayar. Dia mengambil kantong plastik belanjaannya, berjalan menuju pintu keluar tanpa menoleh ke Riani sama sekali.

Tapi sesaat sebelum pintu tertutup, Wahyu berhenti.

Dia berbalik—hanya setengah badan, tidak sepenuhnya menghadap Riani.

"Kamu... berhenti mengikutiku."

Suaranya pelan, tapi jelas.

Riani tersentak. "Aku nggak—"

"Follow request Instagram. Sekarang muncul di minimarket yang sama. Kalau ini kebetulan, aku nggak percaya."

Riani merasa wajahnya panas. "Wahyu, aku bukan—"

"Aku nggak tahu apa maumu. Tapi apapun itu, aku nggak tertarik." Wahyu menatap Riani dengan tatapan yang... lelah. "Jadi tolong, berhenti."

Lalu dia keluar.

Pintu kaca menutup dengan bunyi lonceng kecil.

Riani berdiri di kasir, memegang botol teh kotak yang bahkan belum dia bayar, dengan perasaan... hancur.

Kasir—seorang mbak-mbak paruh baya—menatap Riani dengan tatapan simpati. "Mbak, mau dibayar nggak tehnya?"

Riani tersadar. "Oh, iya. Maaf."

Dia bayar dengan tangan gemetar, lalu keluar dari minimarket.

Di luar, Wahyu sudah tidak terlihat. Mungkin sudah naik motor dan pergi.

Riani berjalan pelan menuju bangku taman terdekat. Dia duduk, menatap botol teh kotak di tangannya tanpa minat untuk membukanya.

Air matanya mulai berkumpul di pelupuk mata.

Dia gagal.

Wahyu... benar-benar tidak menginginkannya di sekitarnya.

Bahkan untuk sekadar... berteman.

Riani menghapus air matanya sebelum jatuh. "Bodoh," bisiknya pada diri sendiri. "Kenapa kamu memaksakan diri?"

Tapi di saat yang sama... ada sesuatu dalam dirinya yang tidak mau menyerah.

Karena tadi, sesaat sebelum Wahyu pergi, Riani melihat sesuatu di matanya.

Bukan hanya kemarahan.

Bukan hanya curiga.

Tapi... kelelahan.

Dan kesedihan.

Wahyu tidak marah karena Riani mengganggu.

Wahyu marah karena dia... takut.

Takut terluka lagi.

Takut dipercaya lagi lalu dikhianati lagi.

Dan itu... membuat Riani semakin yakin.

Wahyu butuh seseorang.

Meskipun dia sendiri tidak menyadarinya.

Siang harinya, Riani duduk di kamar, laptopnya terbuka tapi layarnya blank. Tugas Manajemen Keuangan terlupakan total.

Ponselnya berdering. Grup "GENG REBAHAN".

Karin: "Ri, kamu oke? Dari tadi diam."

Dinda: "Iya nih. Biasanya kamu yang paling aktif di grup. Kenapa?"

Riani menatap layar. Haruskah dia cerita?

Akhirnya dia mengetik:

Riani: "Tadi... aku ketemu Wahyu."

Dinda: "WHAT??? Di mana???"

Karin: "Kamu ngomong sama dia?"

Riani: "Iya. Di minimarket deket kosan. Aku coba ngobrol, tapi... dia bilang aku harus berhenti mengikutinya."

Hening beberapa detik. Tidak ada yang reply.

Lalu:

Karin: "Ri... kamu oke?"

Riani: "Aku... nggak tahu. Aku merasa bodoh."

Dinda: "Jangan bilang gitu. Lu nggak bodoh. Lu cuma... care."

Karin: "Ri, aku sudah bilang kan, Wahyu itu susah. Dia akan push you away. Berkali-kali."

Riani: "Aku tahu. Tapi... rasanya tetap sakit."

Dinda: "Mau gue samperin? Kita ngobrol?"

Riani: "Nggak usah. Aku... butuh waktu sendiri dulu."

Karin: "Oke. Tapi kalau butuh kita, langsung telpon ya."

Riani: "Iya. Makasih."

Riani menaruh ponsel. Merebahkan tubuhnya di kasur.

Menatap langit-langit.

Dan bertanya pada dirinya sendiri:

Apakah dia harus berhenti?

Apakah usahanya sia-sia?

Apakah... Wahyu memang tidak bisa diselamatkan?

Tapi lalu dia ingat tatapan mata Wahyu tadi.

Lelah. Sedih. Takut.

Dan Riani tahu jawabannya.

Tidak.

Dia tidak akan berhenti.

Tapi dia harus mengubah pendekatannya.

Tidak boleh memaksa.

Tidak boleh mengejar.

Tapi... tetap ada.

Tetap hadir.

Sampai suatu hari, Wahyu siap untuk membuka pintu.

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjut kan kak
DemSat
Nice Story /Kiss/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!