NovelToon NovelToon
PERNIKAHAN SANG MAFIA

PERNIKAHAN SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:190.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ani.hendra

Dante Valtieri, pemimpin organisasi mafia terkuat di Eropa, dikenal dengan julukan "Tangan Besi". Ia tidak pernah ragu menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya, dan namanya saja sudah cukup membuat orang bergidik ngeri. Namun, di balik sifatnya yang kejam, Dante memiliki tujuan tersembunyi, menyatukan seluruh kelompok kekuasaan di bawah satu payung demi membalas dendam atas kematian keluarganya.

Rencana itu terancam ketika ia terpaksa menyetujui pernikahan perjanjian dengan Elara Sterling, putri tunggal pemimpin kelompok lawan yang dihormati namun terjepit kesulitan keuangan. Elara, seorang wanita cerdas, berpendidikan tinggi, dan memiliki prinsip yang teguh, sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Ia menganggap Dante hanyalah seorang penjahat yang tidak memiliki hati.

Ketika bahaya mengancam nyawa Elara akibat persaingan kekuasaan, Dante harus memilih antara ambisi balas dendamnya atau melindungi wanita yang mulai ia cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENYELAMATAN DI HUTAN

💌 PERNIKAHAN SANG MAFIA 💌

🍀 HAPPY READING 🍀

.

.

Malam itu, bulan tidak menampakkan wajahnya, menjadikan kawasan hutan belantara itu gelap gulita dan mencekam. Angin kencang bertiup di sela-sela pepohonan besar, menerbitkan suara berdesir yang terdengar seperti bisikan orang-orang yang sedang berbisik-bisik, menambah kesan angker di tempat itu. Di tengah hutan yang lebat dan terpencil itu, terdapat sebuah bangunan tua yang terlihat seperti bekas pondok perburuan yang sudah lama ditinggali namun tampak masih cukup kokoh. Di sanalah Lucas menyandera Elara dan menunggu kedatangan Dante.

Di suatu tempat di antara pepohonan yang rimba dan gelap itu, rombongan Dante sudah tiba dan sedang bersiap melakukan penyergapan. Dengan mengenakan pakaian serba gelap dan menggunakan peralatan taktis canggih, mereka bergerak dengan sangat hati-hati dan diam-diam agar tidak diketahui oleh musuh yang sedang berjaga di sekitar bangunan itu.

Dante berbaring di balik sebuah pohon besar yang rimbun, matanya menatap tajam ke arah bangunan tua itu menggunakan teropong malam. Wajahnya yang biasanya dingin dan tenang kini terlihat sangat tegang dan penuh kekhawatiran. Di dalam hatinya, doa dan harapan terus ia panjatkan agar Elara baik-baik saja dan tidak mengalami apa-apa selama berada di sana.

"Bagaimana situasinya di dalam? Apakah kau bisa melihat keadaan di dalam sana?" tanya Dante dengan suara rendah dan berbisik kepada anak buahnya yang sedang memantau situasi menggunakan peralatan pemindaian canggih.

"Belum terlalu jelas, Tuan. Namun dari pemindaian yang kami lakukan, jumlah penjaga di luar sana terlihat sekitar sepuluh hingga lima belas orang. Dan sepertinya mereka sudah bersiap dengan senjata-senjata berat. Ada juga tanda-tanda adanya bahan peledak yang terpasang di beberapa titik di sekitar bangunan itu. Mereka benar-benar sudah menyiapkan jebakan maut untuk menyambut kedatangan Anda, Tuan," lapor anak buah itu dengan nada rendah dan hati-hati.

Mendengar laporan itu, wajah Dante semakin berat. Ia tahu bahwa menghadapi situasi seperti ini tidak akan mudah. Satu kesalahan kecil saja yang ia buat, maka nyawanya dan nyawa anak buahnya bisa melayang seketika, belum lagi keselamatan Elara yang masih menjadi taruhan utama.

"Tapi kami melihat kabar baik juga, Tuan. Di salah satu jendela di lantai dua, kami melihat ada sosok wanita yang terikat duduk di dekat jendela itu. Dari ciri-cirinya, sepertinya itu adalah Nyonya Elara. Dia terlihat sadar dan tidak terlihat terluka parah," tambah anak buah itu lagi.

Mata Dante seketika berbinar mendengar kabar itu. Rasa lega menyelimuti hatinya mendengar kabar bahwa Elara masih baik-baik saja. Namun rasa lega itu tidak membuatnya lengah sedikit pun. Ia tahu bahwa pertarungan yang berat masih menantinya di depan sana.

"Baiklah, dengarkan rencanaku. Kita akan melakukan serangan mendadak dari tiga sisi berbeda untuk memecah perhatian musuh. Sebagian pasangan akan mengalihkan perhatian mereka dari depan, sementara sebagian lagi akan masuk dari samping dan belakang untuk menyusup masuk. Prioritas utama kita adalah menyelamatkan Nyonya Elara dengan selamat. Jika memungkinkan, tangkap Lucas hidup-hidup. Tapi jika dia melawan atau membahayakan keselamatan Nyonya Elara, kalian boleh mengambil keputusan apa saja yang diperlukan," ucap Dante memberikan arahan dengan rinci dan tegas kepada anak buahnya.

"Siap, Tuan!" jawab anak buahnya serentak dengan nada rendah namun penuh semangat.

Dengan cepat dan teratur, pasukan Dante mulai menyebar dan mengambil posisi masing-masing sesuai dengan rencana yang sudah disusun. Mereka bergerak dengan sangat tenang dan terlatih, tidak membuat sedikit pun suara bising agar tidak diketahui oleh musuh.

Sementara itu, di dalam bangunan tua itu, Elara duduk di dekat jendela di lantai dua, matanya menatap keluar ke kegelapan malam itu dengan penuh harap. Tubuhnya terasa sangat lelah dan kaku karena duduk terlalu lama dalam keadaan terikat, namun hatinya terus berdoa agar Dante segera datang menyelamatkannya.

Tiba-tiba, terdengar suara ledakan kecil dari arah depan bangunan itu, disusul dengan bunyi tembakan senjata api yang memecah kesunyian malam itu. Suara teriakan-teriakan dan suara kaca yang pecah terdengar bersahutan, menciptakan suasana kacau dan panik di dalam bangunan itu.

Lucas yang sedang berada di ruang tengah bawah seketika tersentak kaget. Ia tahu bahwa Dante sudah datang. Dengan wajah yang penuh amarah namun tetap tenang, ia segera memerintahkan anak buahnya untuk melawan dan mempertahankan pertahanan mereka.

"Jangan biarkan mereka masuk! Bunuh siapa saja yang berani melangkah masuk! Ingat, misi utama kita adalah membunuh Dante! Tapi jangan sampai menyakiti wanita itu dulu, dia masih berguna sebagai umpan!" teriak Lucas memberikan perintah kepada anak buahnya.

Suasana di dalam bangunan itu kini menjadi sangat kacau. Suara tembakan senjata api terdengar di mana-mana, asap dan debu berhamburan di udara, bercampur dengan bau mesus dan darah yang mulai tercium tajam. Para anak buah Lucas bertarung mati-matian melawan pasukan Dante di setiap sudut ruangan dan koridor, salingingan melepaskan tembakan dan melontarkan ledakan granat, menciptakan pemandangan perang yang sangat mengerikan.

Di tengah kekacauan itu, Dante bergerak dengan sangat lincah dan berani. Dengan senjata di tangan kanan dan kiri, ia berjuang menembus setiap halangan dan menghabisi setiap orang yang menghalangi jalannya. Matanya yang tajam itu tidak henti-hentinya memindai setiap sudut ruangan, mencari jejak Elara dan Lucas.

Sesampainya di koridor lantai dua, Dante akhirnya melihat sosok Elara yang masih terikat duduk di dekat jendela di salah satu ruangan di ujung koridor itu. Hati Dante menghangat namun sekaligus menjadi tegang. Tanpa membuang waktu lagi, ia berlari cepat menuju ruangan itu, menghabisi dua orang penjaga yang sedang berjaga di depan pintu ruangan itu dalam sekejap mata.

Dante mendobrak pintu ruangan itu hingga terbuka, lalu segera masuk ke dalam. Saat melihat Elara di sana, napasnya terasa lega seketika.

"Elara!" panggil Dante dengan suara cemas namun lega, lalu segera berlari mendekati Elara untuk melepaskan ikatan di tubuhnya.

"Daante!" jawab Elara dengan wajah lega dan mata berkaca-kaca, merasa sangat lega melihat Dante datang menyelamatkannya.

Namun, belum sempat Dante melepaskan ikatan di tangan Elara, tiba-tiba sebuah suara dingin terdengar dari arah belakang mereka.

"Tidak disangka, kau benar-benar berani datang sendiri seperti ini, Dante. Atau mungkin kau terlalu percaya diri?"

Dante dan Elara bersamaan menoleh ke sumber suara itu. Terlihat Lucas berdiri di ambang pintu ruangan itu dengan wajah dingin dan penuh senyum angkuh. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah senjata laras panjang yang diarahkan tepat ke arah dada Dante. Di belakangnya, beberapa orang anak buahnya juga terlihat bersiap menodongkan senjata ke arah mereka.

"Lucas..." gumam Dante dengan wajah dingin dan penuh amarah. Ia berdiri di depan Elara untuk melindunginya, meskipun di dalam hatinya ia sadar bahwa posisinya saat ini sangatlah lemah dan terdesak.

"Kau pikir aku akan membiarkanmu menyelamatkan wanitamu begitu saja? Tidak semudah itu, Dante. Hari ini adalah hari pembalasanku, hari di mana aku akan menghancurkan segalanya yang kau cintai, sama seperti apa yang kau lakukan pada keluargaku dulu," ucap Lucas dengan nada penuh kebencian.

"Kau pikir dengan membunuhku dan menyakiti orang yang tidak bersalah ini masalahmu akan selesai? Apa kau pikir ini akan mengembalikan ayahmu atau masa lalu yang sudah hilang itu? Sadarlah, Lucas! Apa yang kau lakukan ini hanyalah tindakan bodoh yang tidak akan menyelesaikan masalah apa pun!" ucap Dante berusaha menenangkan Lucas, meskipun ia sadar itu mungkin sulit dilakukan.

"Diam! Jangan coba-coba memberi ceramah padaku! Aku sudah mendengar cukup banyak kata-kata manis dari orang-orang sepertimu selama ini! Hari ini, kau harus mati!" teriak Lucas dengan mata yang merah padam karena amarah. Ia mulai mengangkat senjatanya dan mulai menekan picunya.

Namun, tepat pada saat itu, terdengar suara ledakan besar dari arah bawah, diikuti dengan suara teriakan dari anak buah Lucas. Sebagian besar pasukan Lucas ternyata sudah dikalahkan oleh pasukan Dante di lantai bawah, dan kini mereka sudah mulai naik ke lantai dua untuk membantu Dante.

Melihat hal itu, wajah Lucas semakin panik. Ia sadar bahwa situasinya kini sudah terbalik dan ia sudah mulai kalah. Dengan wajah yang penuh keputusasaan dan kemarahan, ia kembali menatap Dante dan Elara dengan tatapan yang mengerikan.

"Kalian menang kali ini, Dante. Tapi jangan pikir ini sudah selesai! Apa yang terjadi hari ini hanyalah awal dari segalanya! Aku bersumpah akan membalas ini suatu hari nanti!" teriak Lucas. Tanpa membuang waktu lagi, ia segera berlari masuk ke ruangan di sebelah sana, di mana ada jendela besar yang menghadap ke bagian belakang bangunan itu, seolah ia berniat untuk melarikan diri.

"Tahan dia! Jangan biarkan dia lari!" teriak Dante kepada anak buahnya yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu. Namun terlambat, Lucas sudah melompat keluar dari jendela itu dan menghilang di dalam kegelapan malam itu.

Dante tidak sempat mengejarnya saat itu. Prioritas utamanya saat ini adalah keselamatan Elara. Ia segera memutar badan dan kembali mendekati Elara, lalu dengan cepat melepaskan ikatan di tubuhnya.

"Kau tidak apa-apa? Apakah ada bagian tubuhmu yang terluka?" tanya Dante dengan cemas sambil memeriksa keadaan tubuh Elara dengan cermat.

Elara menggeleng lembut sambil menangis bahagia. "Aku tidak apa-apa, Dante. Aku baik-baik saja. Terima kasih, terima kasih sudah menyelamatkanku," ucapnya dengan suara yang terisak-isak.

Tanpa berkata banyak lagi, Dante memeluk tubuh Elara dengan erat, seolah tidak ingin melepaskannya lagi. Di dalam pelukan itu, Elara merasa sangat aman dan nyaman, rasa takut dan cemas yang ia rasakan selama ini seolah hilang begitu saja.

"Maafkan aku... Maafkan aku karena membuatmu mengalami semua ini. Aku janji, aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi lagi," bisik Dante dengan suara lembut di dekat telinga Elara.

Meskipun mereka sudah berhasil selamat dari bahaya kali ini, namun Dante sadar bahwa masalah mereka belum benar-benar selesai. Lucas berhasil melarikan diri dan masih menjadi ancaman bagi mereka. Namun melihat Elara di dalam pelukannya saat ini, Dante merasa memiliki kekuatan baru. Ia sadar bahwa selama mereka bersatu dan saling menjaga satu sama lain, tidak ada halangan apa pun yang tidak bisa mereka hadapi.

Dengan membawa Elara di dalam pelukannya, Dante segera keluar dari ruangan itu dan meninggalkan bangunan tua itu bersama anak buahnya, bersiap kembali pulang dan memulai lembaran baru dalam hidup mereka. Namun, di suatu tempat di dalam kegelapan malam itu, sepasang mata yang penuh dendam masih mengawasi mereka dari kejauhan, menandakan bahwa bahaya itu belum benar-benar hilang.

BERSAMBUNG

^_^

Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini novel ke 14 aku 😍

Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

^_^

1
Gretchen Paula
semangat ya 🤭
Gretchen Paula
setiap episodenya aku suka banget thor 😊
Victoria Genevieve
up lagi Thor ini kan libur 😄
Victoria Genevieve
Bayak baget cobaan Dante Thor 😒
si paling cute
lanjut🥺
si paling cute
ledakan apa itu thor
Flowers🪴
semangat ya Dante kamu pasti bisa melaluinya. Kebahagiaan akan berpihak kepadamu😍
Flowers🪴
Ada masalah lagi bang 🥺
Victoria Genevieve
semangat ye🙏
Ani.hendra: 👍👍👍👍👍👍
total 1 replies
Victoria Genevieve
👍👍👍👍👍👍👍👍
Ani.hendra: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
si paling cute
💪💪💪💪💪💪💪💪
si paling cute
Dante ujian hidup mu berat banget sih. tapi gak apa apa ada aku kok yang semangati🥺
Ani.hendra: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Flowers🪴
trus bilang lanjut 🤭
Ani.hendra: 👍👍👍👍👍👍
total 1 replies
Flowers🪴
Kasih 👍 dan 💪
Ani.hendra: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Bunga Yona
semangat 👍
Ani.hendra: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Bunga Yona
Harus happy ending ya thor😔
Ani.hendra: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Cheryl Emery
keren 🙏 update lagi ya 🤭
Ani.hendra: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Cheryl Emery
senang banget gue kalau sudah update, tapi bacanya terlalu singkat thor🤭 bisa nambah lagi gak 😍
Ani.hendra: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Gretchen Paula
👍👍👍👍👍👍👍
Ani.hendra: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Gretchen Paula
Ya Elara, benar....kalau bukan kamu yang kasih dukungan siapa lagi. kasih semangat trs ya 😊
Ani.hendra: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!