Kurza adalah vampir terkuat dimasa lalu, entah apa yang ada dipikiranya sehingga dia memutuskan untuk beristirhat/tidur di dalam sebuah goa . sebelum Putri Kerajaan Alabas tanpa sengaja membangunkan Kurza dari tidurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arafi Arif Dwi Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23. Kembali Ke Alabas
"Khiya, untuk ke selamatanmu dan juga fokusku tidak terpecah, sementara kau disini dulu. Besok, saat fajar menyingsing, aku akan kembali ke Alabas." Seru kurza, Khiya tersentak, senyum yang tadi menghiasi wajahnya luntur seketika. "Kembali? Tapi kita baru saja sampai, tuan Kurza. Kau tidak bisa menghadapinya sendirian!" Balas Khiya. "Aku tidak kembali untuk bertempur secara terbuka," sahut Kurza sambil menatap tajam ke arah cakrawala selatan. "Aku kembali untuk menyiapkan penyerangan. Jenderal Kel butuh dukungan. Jika aku tetap di sini, waktu akan terbuang sia - sia." Seru Kurza dengan tangan yang kini mengusap kepala Khiya dengan lembut.
"Kutitipkan kau pada pamanmu, dan Raja Hrolf, belajarlah dari mereka. Jadilah gadis yang ditakuti sekaligus dicintai. Saat kita bertemu lagi, aku ingin melihatmu menjadi lebih dari sekarang!" Lanjut Kurza. Mata Khiya berkaca - kaca, namun ia melihat ketetapan hati yang tak tergoyahkan di mata Kurza. Ia tahu bahwa pria di depannya ini tidak hanya sedang menjalankan tugas, tapi juga sedang mempertaruhkan nyawa demi janji yang ia ikat dengan darah.
disisi lain Rin bergeser ke arah pojok ruangan yang sedikit terkena cahaya api unggun, sembari mengisyaratkan Khiya untuk menyusul. Dipojokan itu Rin berbicara pada Khiya, "Nona Khiya, saya mohon sebelum Tuan Kurza menyelesaikan masalah di alabas, nona Khiya tetap disini!" ucap Rin dengan nada pelan. "Kenapa Rin? Apa karena aku lemah; dan akan menjadi beban kalian?" Gumam Khiya dengan nada kesal. "Tidak nona... Tidak seperti itu, saya takut tanpa kehadiran Miyuki dan Ratu Iris di samping tuan Kurza dan sesuatu terjadi pada nona Khiya; yang bisa memicu amarah Tuan Kurza. Jelas Rin dengan sorot mata yang memperlihatkan permohonannya yang sungguh - sungguh. Perbincangan mereka selesai dengan begitu saja.
Saat cahaya fajar yang pucat mulai menyelinap masuk melalui celah-celah dinding kayu Aula , Khiya terbangun dengan perasaan hampa yang mendadak menusuk dadanya. Ia terbangun dan menengok ke arah samping tempat tidurnya; yang semalam di tempati oleh Kurza, sosoknya yang sekarang sudah tidak ada membuatnya terkejut. Ia segera bangkit, mengabaikan selimut bulu tebalnya, dan berlari menuju ruangan aula.
"Tuan Kurza? Rin?" serunya, namun suaranya tak terbalas. .Ia terduduk lemas di kursi kayu, menyadari Kurza dan Rin sudah kembali ke Alabas. Ube muncul dari balik bayang-bayang pintu, dengan wajahnya yang selalu nampak garang. "Mereka berangkat tepat saat bintang fajar menghilang, Khiya." Seru Ube dengan menyodorkan sebuah cincin. "Pakailah!! Kurza menitipkan ini padaku. " lanjut Ube. Khiya menerima dan memakai cincin itu.
Rasa sedihnya mulai memudar. Datang Raja Hrolf bersama pelayannya dan bergabung bersama Ube dan Khiya. Ube berdiri di samping Khiyana, memperhatikan keponakannya yang terus menatap cincin peninggalan Kurza. Rasa penasaran yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah juga. Sebagai seorang Viking, ia menghormati kekuatan, tapi misteri yang menyelimuti Kurza membuatnya merasa tidak tenang.
"Khiya," Ube memulai, suaranya berat seperti gemuruh di kejauhan. "Aku sudah melihat banyak petarung, tapi Kurza... dia bukan manusia biasa. Dia bergerak seperti kabut dan memiliki mata yang begitu." Ube menyilangkan tangan besarnya di dada. "Siapa sebenarnya Kurza? Dan siapa dia bagi Alabas? Seorang pengawal?" Lanjut Ube." Khiya terdiam sejenak, Mengusap - usap cincin di jari manisnya. Ia teringat bagaimana Kurza selalu ada di titik - titik paling kritis dalam hidupnya, bukan sebagai pelayan yang patuh, melainkan sebagai sorang penolong yang tak terpisahkan.
"Dia adalah penolong, Paman," jawab Khiya pelan. Jauh sebelum aku berada disini, aku hanyalah gadis desa; sebelum ahirnya desaku di serang orah segerombol bandit uang bengis, aku berlari untuk menghindari dari kejaran bandit dan tanpa sengaja bertemu dengan Tuan Kurza, disanalah pertama kali aku melihat kekuatnya. Dalam hitungan detik tanpa menimbulkan kegaduhan Tuan Kurza berhasil mengalahkan bandit yang mengejarku." Jelas Khiya dengan pelan.
"Ketika Zhit melakukan serangan pemberontakan, anggota/bawahan Tuan Kurza (Rin) menyelamatkanku ketika aku masih bayi. Dan membawaku jauh ke desa Vergreen. "Bagi banyak orang, dia adalah ksatria paling setia yang pernah dimiliki Ibu (Ratu Iris). Tapi bagiku, dia adalah Penolong." Lanjut Khiya.
"Kakek, paman. Dia adalah Vampir." Seru Khiya sambil menengok ke arah kakeknya dan pamanya. Ube mengernyit, mencoba mencerna jawaban itu. "Jadi dia Vampir yang benar-benar mengabdi pada ibumu? Hubungan macam apa yang bisa membuat Vampir yang kuat itu mau menjadi sosok pelindung bagi Negara Alabas?" Tanya Ube yang masih penasaran dengan sosok Kurza.
"Paman, aku belum benar - benar tau seperti apa hubungan Ibu dengan Tuan Kurza. Yang jelas, setelah mendengar pernyataan Rin semalam. Tujuan aku di bawa kesini; untuk menjauhkan aku dari bahaya dan itu bisa menjaga Tuan Kurza tetap dalam kondisi yang stabil, karena Rin bercerita jika Tuan Kurza sampai meluapkan semua amarahnya, kekuatannya bisa menjadi bencana." Jelas Khiya dengan seirus.
"Vampir... Pantas dia begitu cepat," gumam Ube. "Lantas kenapa Alabas bisa jatuh ke tangan Zhit?" Tanya Raja Hrolf pada Khiya. "Kakek, ketika pertama kali aku bertemu dengan Tuan Kurza, dia masih tertidur di Peti Mati dalam Gua sebelum darahku tanpa sengaja membangunkannya. Kejadia yang mengierikan itu terjadi ketika Tuan Kurza berada di dalam peti mati. karena serangan dari Zhit sangat cepat, Rin hanya bisa membawaku dan tidaj sempat membangunkan Tuan Kurza." Jelas Khiya kepada kakeknya.
"Jadi Kurza berencana menyerang Zhit dan para iblis, dan membawamu ke sini agar memastikan keselamatanmu, Khiya." gumam Ube yang berfikir selama mendengarkan cerita dari Khiya. "Paman butuh berapa hari untuk menuju Alabas?" Tanya Khiya "Tidak Khiya, paman sudah berjanji pada Kurza, menjamin keselamatanmu disini. Sebelum Kurza datang, kau tidak akan kemana - mana." Jawab Ube dengan tegas.
Khiya tertunduk lesu mendengar ucapan dari Ube, dab beranjak meninggalkan kakek dan pamanya kembali memasuki kamar. kini tinggal Raja Hrolf dan Ube di ruangan aula. mereka terdiam sejenak membayangkan kekacauan yang sedang terjadi di Alabas.
Sementara itu di Negara Alabas, Kurza dan Rin sudah sampai di tempat persembunyian. Dan melihat beberapa orang berkumpul disana. orang - orang ini adalah sisa - sisa prajurit yang masih setia pada kerajaan Alabas. Kurza melihat di sekeliling para pasukan, dia tidak melihat sosok Kel, yang masih sibuk bergerak dari Desa satu ke Desa lainya untuk mencari orang - orang yang masih mau bertarung bersamanya.
"Rin. . . Pergilah ke Elfuss!! (Bangsa/tempat Elf, tempat Miyuki berasal). Beri tahu kepala suku, jika aku akan berkunjung kesana." Perintah Kurza sambil menyodorkan tanganya, mempersilahkan Rin untuk menghisap darahnya. Karena Kurza tau menggunakan Black Shadows dengan jarak yang sangat jauh menguras energi Rin. "Baik Tuan." Jawab Rin sambil mendekat ke tangan Kurza dan mulai menghisap darahnya.
Apa yang akan di lakukan Kurza di Elfuss???
Bersambung. . .