Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Kantin Sekolah
"Di tengah keramaian yang memekakkan telinga, kau adalah satu-satunya sepi yang ingin kuarungi. Mereka tertawa merayakan masa muda, sementara kau menelan rotimu dalam diam, merayakan penderitaan yang tak berujung. Rendi, tahukah kau bahwa aku rela menulikan telingaku dari dunia, hanya agar aku bisa mendengar suara napasmu?" (Buku Harian Keyla, Halaman 42)
Sehari setelah insiden di ruang UKS, aku datang ke sekolah dengan harapan kecil yang berdebar di dada. Harapan bodoh yang membisikkan bahwa mungkin, hanya mungkin, setelah aku memapahnya dan merawatnya di kala demam, dinding es itu akan sedikit mencair. Mungkin ia akan menatapku sedikit lebih lama. Mungkin ia akan bergumam 'terima kasih' saat berpapasan di koridor.
Namun, harapan memang selalu menjadi pisau bermata dua yang paling tajam.
Pagi itu, Rendi masuk ke kelas dengan langkah yang sudah kembali tegap. Demamnya mungkin sudah turun berkat obat dari UKS, atau lebih tepatnya, ia memaksa tubuhnya untuk sembuh karena ia tidak punya kemewahan untuk jatuh sakit. Saat ia berjalan melewatiku, aku menahan napas dan menatapnya penuh harap.
Ia tidak menoleh. Ia bahkan tidak memperlambat langkahnya. Matanya lurus menatap ke depan, wajahnya kembali menjelma menjadi pahatan es yang tak tertembus. Ia kembali memasukkan susu dan roti dari 'pengagum rahasianya' ke dalam tas tanpa ekspresi, lalu menenggelamkan wajahnya di lipatan lengan.
Ia telah membangun kembali bentengnya. Dan kali ini, benteng itu terasa jauh lebih tinggi dan lebih tebal dari sebelumnya. Ia seolah ingin menghapus memori tentang kelemahannya di UKS kemarin, dan bersamanya, ia juga menghapus eksistensiku yang menjadi saksi kelemahannya itu.
Kenyataan itu menghantam dadaku dengan keras. Rasanya perih, namun aku harus menelannya dalam-dalam. Aku sudah berjanji untuk tidak menuntut, bukan?
Bel istirahat pertama akhirnya berbunyi, memecah keheningan kelas yang tadinya diisi oleh suara monoton guru Sejarah. Suasana seketika berubah riuh. Anak-anak berhamburan keluar kelas, berebut menjadi yang terdepan menuju kantin sekolah.
"Gila, perut gue udah bunyi keroncongan dari jam kedua tadi! Pas denger tentang Perang Diponegoro, yang kebayang di otak gue malah soto ayam Bang Kumis," keluh Bella sambil memegangi perutnya. Wajahnya ditekuk dramatis. "Yuk ah, buruan! Kalau telat dikit, meja favorit kita di bawah kipas angin pasti udah dibajak anak IPS!"
Lidya yang sedang mengikat rambut panjangnya menjadi ekor kuda mengangguk setuju. "Iya bener. Mana hari ini katanya menu spesialnya ayam geprek level dewa. Gue butuh yang pedes-pedes buat ngebakar kalori otak gue."
Siska merapikan buku-buku di mejanya dengan tenang, lalu menoleh padaku dengan senyum lembutnya. "Kamu mau makan apa hari ini, Key? Muka kamu agak pucat. Jangan makan yang terlalu pedas ya, nanti asam lambungmu naik."
"Aku ngikut aja, Sis," jawabku seadanya.
Saat sahabatku sibuk bersiap, mataku tak lepas dari sosok di sudut belakang kelas. Rendi bangkit dari kursinya. Ia merogoh saku celana abu-abunya, mengeluarkan beberapa keping uang logam dan selembar uang seribuan yang sudah sangat lecek. Ia menggenggamnya, lalu berjalan keluar kelas tanpa memedulikan siapa pun.
"Ayo, buruan!" tegasku tiba-tiba, membuat Bella dan Lidya sedikit terkejut karena biasanya aku yang paling santai jika urusan berebut kantin. Aku menarik tangan Bella dan mempercepat langkah keluar kelas, mataku terpaku pada punggung Rendi yang berjalan mendahului kami di koridor.
"Buset, tumben lo semangat banget, Key. Laper parah ya?" goda Lidya sambil setengah berlari menyeimbangi langkahku.
Aku tidak menjawab. Aku hanya tidak ingin kehilangan jejak punggung itu di tengah lautan siswa.
Kantin sekolah kami terletak di sayap kanan gedung, sebuah area semi-terbuka yang sangat luas namun selalu terasa sempit karena disesaki ratusan siswa setiap jam istirahat. Begitu kami melangkah masuk, hawa panas bercampur dengan berbagai macam aroma—dari aroma kuah bakso, bumbu kacang siomay, hingga bau minyak goreng bekas—langsung menyergap. Suara dentingan sendok beradu dengan mangkuk, teriakan siswa yang memesan makanan, dan derai tawa yang bersahut-sahutan menciptakan simfoni khas masa remaja yang penuh kebebasan.
Di tengah hiruk-pikuk dan lautan manusia berseragam abu-abu itu, mataku bergerak liar mencari sosoknya.
Dan aku menemukannya.
Di sudut paling ujung kantin, di area yang paling minim pencahayaan dan jauh dari kipas angin, duduklah Rendi. Meja itu bersebelahan dengan tiang beton besar dan sebuah tempat sampah plastik berwarna hijau yang tertutup rapat. Tidak ada siswa lain yang mau duduk di sana karena tempatnya gerah dan tidak strategis untuk mengobrol.
Rendi duduk sendirian menghadap ke dinding. Ia meletakkan sepotong roti kemasan plastik transparan—jenis roti tanpa merek yang biasa dijual seribuan di warung kecil—dan segelas air putih gratis di depannya.
"Yah, telat kan kita! Meja bawah kipas angin udah dikuasain gerombolan si Reza!" gerutu Bella sambil menunjuk ke tengah kantin. "Terus kita duduk di mana nih? Penuh semua!"
Aku menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian. Aku menunjuk ke arah deretan meja kosong yang berada tepat di sebelah meja Rendi. "Di sana aja, Bel. Di sudut itu masih kosong."
Bella mengikuti arah telunjukku, matanya langsung melebar. "Hah? Di pojokan situ? Gila aja lo, Key! Udah gelap, gerah, deket tempat sampah pula. Nggak mau ah! Entar bau makanan gue kecampur bau sampah!"
"Tempat sampahnya ketutup kok, Bel. Udah nggak ada meja lain," bujukku, berusaha terdengar senatural mungkin. "Daripada kita harus nunggu sambil berdiri? Perut kamu udah keroncongan kan tadi?"
"Bener juga sih kata Keyla. Gue udah laper banget ini, bisa mati berdiri gue kalau nunggu," sahut Lidya pragmatis. Lidya langsung melangkah menuju meja di sudut itu tanpa banyak protes.
Bella mendengus kesal namun terpaksa mengikuti Lidya. Aku menyusul di belakang mereka, sementara Siska berjalan di sampingku.
Tepat sebelum kami sampai di meja itu, Siska mencondongkan kepalanya dan berbisik tepat di telingaku. Suaranya mengalun sangat lembut, namun kata-katanya setajam silet yang menyayat hatiku.
"Kamu rela duduk di tempat yang pengap dan kumuh ini, Key, hanya demi bisa melihat pemandangan yang sama kumuhnya?" bisik Siska. Matanya melirik sinis ke arah punggung Rendi yang berjarak hanya dua meter dari meja kami. "Cinta seharusnya mengangkat derajatmu ke atas, bukan menyeretmu jatuh ke sudut dekat tempat sampah."
Aku menelan ludah, dadaku terasa panas mendengar hinaan halus Siska. "Aku cuma mau duduk, Sis. Nggak ada hubungannya sama Rendi," dustaku, memalingkan wajah untuk menghindari tatapan Siska yang seolah menertawakan kebohonganku.
Kami berempat duduk di meja kayu panjang itu. Posisiku menghadap langsung ke arah punggung dan sisi wajah Rendi. Lidya dan Bella pergi ke stan makanan untuk memesan pesanan kami semua. Siska mengeluarkan ponselnya, mengabaikan lingkungan sekitar.
Sementara aku, aku membiarkan duniaku menyempit, hanya fokus pada sosok laki-laki di meja sebelah.
Di saat anak-anak lain di kantin ini sedang bercanda gurau, melempar tawa, dan menyantap makanan enak dari uang saku orang tua mereka, Rendi tenggelam dalam sepinya sendiri. Ia membuka bungkus plastik rotinya dengan pelan. Roti itu terlihat keras dan bantat, tidak ada selai atau isian apa pun di dalamnya.
Ia menggigit roti itu. Gerakan rahangnya yang mengunyah terlihat kaku. Ia menelan makanan itu tanpa kenikmatan, seolah ia sedang menelan obat pahit yang wajib dihabiskan agar ia tidak mati kelaparan. Pandangannya kosong menatap dinding beton di depannya.
Melihat pemandangan itu, hatiku serasa diremas dengan kuat. Susu dan pisang yang kubelikan tadi pagi pasti tidak ia makan untuk dirinya sendiri. Ia menyimpannya, membawanya pulang untuk Nanda, adik yang tak pernah ia biarkan kelaparan sedikit pun. Sebagai gantinya, ia mengorbankan lambungnya sendiri dengan roti murahan ini.
"Kutatap rotimu yang hambar, dan tiba-tiba perutku terasa mual oleh segala kemewahan hidupku sendiri. Bagaimana aku bisa menelan makanan enak, sementara laki-laki yang kucintai harus berdamai dengan rasa lapar setiap harinya?" (Buku Harian Keyla, Halaman 45)
Tangan kananku bergerak refleks, merogoh saku rokku. Ada selembar uang lima puluh ribu di sana. Ingin rasanya aku beranjak ke stan makanan, membelikannya seporsi nasi rames lengkap dengan ayam dan sayur, lalu meletakkannya di depan wajahnya. Aku ingin berteriak menyuruhnya makan makanan yang layak.
Namun logikaku menahan gerakanku. Jika aku melakukannya di tengah kantin yang ramai ini, itu sama saja dengan menelanjangi harga dirinya di depan umum. Rendi akan sangat marah. Ia akan merasa dihinakan. Cinta yang tidak menghargai batasan harga diri bukanlah cinta, melainkan keegoisan.
Aku hanya bisa menatapnya dalam diam, mengutuki ketidakberdayaanku sendiri.
Tak lama kemudian, Lidya dan Bella datang membawa nampan berisi empat mangkuk mi ayam jamur kesukaan kami, lengkap dengan es teh manis yang menggiurkan. Aroma gurih kaldu ayam seketika memenuhi meja kami, menenggelamkan aroma pengap di sudut ini.
"Nih, makan! Ayamnya gue mintain banyakan khusus buat kita," seru Lidya riang sambil membagikan mangkuk.
Aku menatap mangkuk mi ayamku. Uap panasnya mengepul. Potongan daging ayam berbumbu kecap, jamur, dan taburan daun bawang terlihat sangat menggugah selera. Di hari biasa, aku akan langsung melahapnya. Namun hari ini, melihat mangkuk ini bersanding dengan roti seribuan Rendi di meja sebelah, membuat tenggorokanku seolah terkunci rapat.
"Keyla!"
Sebuah suara bariton yang hangat dan familier tiba-tiba memanggil namaku, membelah kebisingan kantin.
Aku menoleh. Indra berjalan menghampiri meja kami. Di belakangnya, dua temannya dari tim futsal mengekor, namun mereka segera mencari meja lain saat Indra berhenti di dekatku.
Indra terlihat sangat tampan hari ini. Ia mengenakan jaket varsity sekolah yang terbuka, memperlihatkan kaus putih bersih di baliknya. Senyum cerahnya bagai matahari yang memecah mendung. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak plastik transparan berukuran sedang.
"Hai, Ndra," sapa Bella kegirangan. "Tumben nyamperin ke pojokan sini? Silau tau nggak, pesona lo terlalu terang buat tempat gelap ini."
Indra tertawa renyah, lesung pipinya terbentuk sempurna. "Bisa aja lo, Bel. Tadi aku nyariin kalian di meja tengah nggak ada, eh ternyata mojok di sini."
Indra mengalihkan pandangannya sepenuhnya padaku. Tatapannya melembut. Ia menyodorkan kotak plastik transparan itu ke depanku, tepat di samping mangkuk mi ayamku.
Mataku melebar. Di dalam kotak itu, tersusun rapi potongan buah-buahan segar kualitas premium: stroberi besar yang merah merona, potongan kiwi, anggur tanpa biji, dan melon manis. Buah-buahan yang harganya cukup mahal jika dibeli di supermarket.
"Tadi pagi sebelum berangkat, ibuku kebetulan potongin buah ini buat bekal aku," ucap Indra dengan suara lembut yang bisa didengar jelas oleh siapa pun di meja ini, dan mungkin juga oleh orang di meja sebelah. "Tapi aku inget kamu pernah bilang lagi pengen banget makan stroberi seger. Jadi ini buat kamu aja, Key. Buat cuci mulut habis makan mi ayam."
Suasana meja kami seketika hening karena kejutan manis itu, sebelum akhirnya Bella memekik kegirangan.
"Ya ampun, romantis banget sih kapten kita satu ini! Bawain bekal buah potong dong!" goda Bella sambil menyikut lenganku keras. "Key, kalau lo nggak mau, buat gue aja deh stroberinya!"
Lidya tersenyum menyetujui. "Gila, ini sih effort-nya tingkat dewa. Thanks ya, Ndra, mewakili temen gue yang kayaknya lagi speechless saking senengnya."
Siska memandang Indra dengan mata berbinar-binar. "Indra ini emang calon pendamping yang sempurna ya. Beruntung banget perempuan yang bisa dapetin perhatian kamu, Ndra." Kata-kata Siska kembali menekankan sebuah perbandingan yang nyata.
Aku terdiam kaku. Kotak buah mewah itu tergeletak di depanku, menciptakan sebuah ironi yang begitu menyayat hati. Di depanku terhidang makanan lezat dan buah-buahan mahal dari seorang pria tampan yang memujaku. Sementara di jarak dua meter dari sikuku, laki-laki yang kucintai mati-matian sedang menelan ludah seret karena memakan roti keras demi adiknya.
Dua dunia bertabrakan di satu sudut kantin yang sama. Dan tabrakan itu menghasilkan pecahan kaca yang merobek dadaku.
"Makasih banyak, Indra," suaraku terdengar parau. Aku berusaha memaksakan senyum untuk menghargai usahanya, meski hatiku menangis menjerit. "Kamu repot-repot banget. Salam buat ibu kamu ya."
"Nggak repot sama sekali, Key," jawab Indra tulus. "Yaudah, aku balik ke meja temen-temenku dulu ya. Dihabisin buahnya."
Indra melambaikan tangan, lalu berbalik pergi. Meninggalkan seberkas cahaya kebahagiaan yang disambut riang oleh sahabat-sahabatku, namun menyisakan luka bakar yang perih di batinku.
Dengan tangan bergetar, aku mengambil sendok dan mengaduk mi ayamku. Aku memaksa diriku memasukkan satu suapan ke dalam mulut. Rasanya hambar. Benar-benar seperti mengunyah serbuk gergaji.
Perlahan, sangat perlahan, aku menoleh ke samping. Menatap meja Rendi.
Laki-laki itu telah menghentikan kunyahannya. Ia tidak lagi menatap dinding. Kepalanya sedikit menyamping. Ia sedang menatap ke arah meja kami. Lebih tepatnya, ia menatap kotak buah premium yang diberikan Indra padaku, lalu tatapannya beralih pada mangkuk mi ayamku, dan akhirnya, mata kelamnya menatap wajahku.
Tatapan itu... Ya Tuhan, tatapan itu adalah hal paling menghancurkan yang pernah kulihat.
Tidak ada kemarahan di sana. Tidak ada juga kecemburuan seperti yang Siska harapkan. Yang kulihat di matanya hanyalah sebuah kepasrahan yang teramat pekat. Sebuah kesadaran absolut akan posisi dan kastanya di dunia ini.
Ia menatapku, menatap Indra yang berjalan menjauh, dan menatap hidangan di mejaku, seolah ia sedang menonton sebuah film tentang kehidupan indah di planet lain yang tak akan pernah bisa ia injak. Jarak di antara kami hanya dua meter, namun di matanya, aku sedang duduk di singgasana istana yang dikelilingi kemewahan, sementara ia hanyalah pengemis yang kedinginan di luar gerbang.
Ia seolah berkata dalam diamnya: Inilah duniamu, Keyla. Dan inilah duniaku. Berhentilah berkhayal.
"Di antara riuhnya tawa kantin sekolah, kau menatapku dengan mata yang telah mati. Mata yang menyadari bahwa jurang kemiskinan di antara kita adalah kutukan yang tak bisa kau patahkan. Dan seketika itu juga, buah manis dari pangeran lain di depanku terasa bagai racun yang mematikan." (Buku Harian Keyla, Halaman 46)
Setelah menatapku selama beberapa detik, Rendi memalingkan wajahnya. Ia mengambil gelas plastik berisi air putih gratisnya, menenggaknya hingga tandas untuk mendorong sisa roti yang seret di tenggorokannya.
Lalu, dengan gerakan yang tenang namun memancarkan kehancuran, ia bangkit berdiri. Ia mengambil bungkus plastik rotinya yang kosong, membuangnya ke dalam tempat sampah di sebelahnya, dan berjalan menjauh meninggalkan kantin.
Ia berjalan melewati meja kami. Ia tidak menoleh. Ia tidak mempercepat langkahnya. Ia hanya berlalu layaknya hantu yang tak memiliki urusan apa pun di dunia yang gemerlap ini.
Aku menatap punggungnya yang perlahan menghilang di balik kerumunan siswa di pintu keluar. Dadaku sesak, sangat sesak hingga aku merasa tak bisa bernapas. Sendok di tanganku terlepas, jatuh berdenting ke dalam mangkuk mi ayamku.
"Key? Lo kenapa? Kok sendoknya dijatuhin?" tegur Lidya bingung, mulutnya masih penuh dengan mi.
"A-aku... aku tiba-tiba kenyang," cicitku dengan suara bergetar. "Aku permisi ke kelas duluan ya, perutku mendadak sakit."
Tanpa menunggu persetujuan mereka, aku bangkit berdiri setengah berlari meninggalkan kantin. Aku mengabaikan panggilan Bella yang kebingungan. Aku terus berlari menyusuri koridor, mencari ruang kosong untuk menumpahkan segalanya.
Siska benar. Siska sepenuhnya benar dalam hal ini. Duduk di dekatnya tanpa bisa merangkul dunianya adalah sebuah penyiksaan. Duduk di meja yang sama dengan kemewahan yang berbeda, justru hanya akan semakin menampar wajah Rendi dengan realita.
Aku berlari menuju kamar mandi perempuan yang sepi di ujung lorong, masuk ke dalam bilik, menguncinya, lalu menangis sejadi-jadinya.
Aku membenci kotak buah itu. Aku membenci mi ayam itu. Aku membenci diriku sendiri yang tak mampu berbuat apa-apa selain menangisi nasibnya. Jika takdir memang menginginkan kami hidup di dua dunia yang tak bisa menyatu, lalu mengapa ia harus menciptakan perasaan cinta yang begitu gila di hatiku?
Hari itu, di kantin sekolah yang bising, aku menyadari bahwa cinta pertama tidak selalu indah seperti novel romansa. Terkadang, cinta pertama adalah pelajaran paling kejam tentang ketidakberdayaan. Dan melihat orang yang kau cintai kelaparan di depan matamu sementara kau tak bisa menyuapinya, adalah neraka terburuk yang pernah kualami di masa remajaku.
semangat ya kak
so happy next cerita mereka dah dewasa
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik