No plagiat 🚫
" Di bawah naungan gerbang kuno Lembah Sunyi, He Xueyi berdiri tegak. Jemarinya yang dingin mencengkeram gagang lentera emas yang berpijar redup.
Angin malam menerpa jubah merahnya, namun ia tak bergeming. Baginya, raungan arwah penuh dendam di depannya hanyalah musik pengantar tidur.
Dengan tatapan setajam sembilu, ia bergumam pelan, 'Dendammu adalah bebanku. Masuklah ke dalam lentera, atau hancur menjadi debu tanpa jejak.'"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Balik Jubah Kencana
Suasana di perbatasan Hutan Pinus Berbisik tak lagi mencekam, namun ketegangan baru justru muncul saat rombongan He Xueyi melangkah keluar dari kabut. Di sana, Pangeran Li Wei sudah menunggu dengan barisan pasukan elit yang bersiaga penuh, pedang-pedang mereka berkilau tertimpa cahaya fajar yang pucat.
"Secara logika," gumam He Xueyi, langkahnya melambat namun tetap angkuh, "pasukan yang menjemput pahlawan seharusnya membawa kereta hangat dan arak, bukan formasi tempur yang siap mengepung."
Bian Zhi segera menggeser posisinya, berdiri selangkah di depan He Xueyi dengan tangan yang tak lepas dari hulu pedangnya. "Tuan, frekuensi napas para prajurit itu tidak sinkron. Mereka bukan sedang bersiaga menunggu musuh dari hutan, mereka sedang menahan gugup karena target mereka adalah kita."
"Penjaga Paviliun!" seru Pangeran Li Wei, ia memacu kudanya mendekat. Wajahnya yang biasanya ramah kini tampak kaku. "Aku mendengar suara ledakan besar dari dalam danau. Apakah Jantung Naga itu aman? Dan... di mana Jenderal Yuan?"
He Xueyi mengangkat Lenteranya yang kini bersinar emas redup. "Secara logika, Pangeran, Jantung Naga itu aman di tempat yang seharusnya. Dan untuk Jenderal Yuan... katakanlah dia sudah kembali menjadi bagian dari sejarah yang berdebu. Dia tidak akan lagi mengganggu tidur siang siapa pun di Chang'an."
Mata Pangeran Li Wei berkilat sesaat, sebuah ekspresi yang sulit diartikan—antara lega dan kecewa. "Begitu ya... sangat disayangkan. Padahal Kaisar sangat ingin 'berbicara' dengan Jenderal kuno itu tentang rahasia keabadian."
"Rahasia keabadian?" He Xueyi mendengus sinis, ia melangkah melewati sang pangeran tanpa permisi. "Logika manusia memang lucu. Mereka rela menghancurkan dunia yang sekarang hanya untuk hidup selamanya di dunia yang sudah rusak. Pangeran, jika kau ingin rahasia itu, tanyalah pada mayat-mayat di dasar danau. Mereka punya banyak waktu untuk merenung."
"Tunggu!" Pangeran Li Wei memberi isyarat, dan seketika pasukannya menutup jalan keluar. "He Xueyi, kau membawa Jantung Naga yang sudah terkontaminasi. Sesuai hukum kekaisaran, benda itu harus diserahkan kepada Biro Sihir Pusat untuk dibersihkan. Aku tidak bisa membiarkanmu membawanya kembali ke Paviliun."
Xiao Bo yang tadinya mulai tenang, kembali gemetaran di balik jubah He Xueyi. "Tuan... mereka mau merebut lenteranya! Itu kan sumber tenaga kita!"
He Xueyi berhenti. Ia berbalik perlahan, matanya yang sedingin es menatap langsung ke arah Pangeran Li Wei. "Secara logika, Pangeran, Biro Sihir Pusat hanya berisi orang-orang tua yang bahkan tidak bisa membedakan energi Yin dengan asap dapur. Menyerahkan Jantung Naga ini pada mereka sama saja dengan memberikan kembang api pada anak kecil di dalam gudang mesiu. Jawabannya adalah: Tidak."
"Ini adalah perintah resmi, He Xueyi!" suara Pangeran Li Wei meninggi. "Jangan paksa aku menggunakan kekerasan pada detektif terbaik Chang'an."
"Kekerasan?" He Xueyi tertawa kecil, tawa yang membuat para prajurit di garis depan bergidik. "Bian Zhi, tolong ingatkan Pangeran kita yang terhormat tentang aturan logistik di medan perang."
Bian Zhi melangkah maju, auranya mendadak meledak, menciptakan tekanan udara yang begitu berat hingga kuda-kuda pasukan elit itu meringkik ketakutan. "Secara logistik, Pangeran," suara Bian Zhi terdengar berat, "pasukanmu kelelahan setelah berjaga semalam suntuk di tengah badai. Sementara aku dan Tuanku baru saja mendapatkan 'pemanasan' yang cukup di dalam hutan. Jika kau menyerang sekarang, tingkat keberhasilanmu untuk menang hanya 0,4 persen. Sisanya adalah kehancuran total bagi pasukanmu."
Pangeran Li Wei terdiam. Ia mengepalkan tangannya di atas pelana. Ia tahu Bian Zhi tidak menggertak.
"Sampaikan pada Kaisar," He Xueyi melanjutkan, ia mulai berjalan kembali, menembus barisan prajurit yang otomatis memberi jalan karena terintimidasi. "Jantung Naga ini akan tetap di Paviliun sampai energinya stabil. Jika dia punya keberatan, suruh dia datang sendiri ke paviliunku—tapi pastikan dia membawa bebek panggang terbaik sebagai biaya konsultasi."
Saat rombongan kecil itu menjauh menuju gerbang Chang'an, He Xueyi membisikkan sesuatu pada Bian Zhi. "Bian Zhi, perhatikan bayangan Pangeran tadi. Ada sesuatu yang tidak logis."
"Maksud Anda, Tuan?"
"Bayangannya tidak mengikuti arah cahaya matahari fajar," He Xueyi menyipitkan mata. "Ada kelopak bunga persik yang menempel di sepatunya. Dia bukan hanya ingin Jantung Naga, dia adalah orang yang memberi makan Jenderal Yuan tadi malam."
Bian Zhi tertegun. "Jadi... pengkhianat itu adalah orang yang meminta bantuan kita sejak awal?"
He Xueyi tersenyum pahit. "Secara logika, musuh yang paling berbahaya adalah orang yang membayar upahmu. Siapkan diri, Bian Zhi. Chang'an yang kita masuki pagi ini bukan lagi kota yang sama dengan yang kita tinggalkan kemarin."
Di kejauhan, lonceng kota Chang'an berdentang, menyambut kepulangan sang Penjaga Paviliun dengan nada yang terasa seperti sebuah peringatan kematian.