Di papan catur Leone, Nora hanyalah sebuah bidak yang dipahat untuk menahan badai, sementara Stella adalah permata yang disembunyikan di balik sutra. Selama lima tahun, Nora berdiri sebagai tameng, meredam peluru dengan detak jantungnya sendiri demi pria yang tak pernah benar-benar melihatnya kecuali sebagai pelindung bagi cintanya yang sejati.
Namun, setiap baja memiliki titik retak.
Ketika takdir menyajikan dua cawan beracun di atas meja jati, Nora memilih untuk meminum rahasia yang paling kelam. Dia menukar tahta di pesisir California dengan mahkota berduri di ranjang hantu New York. Di kota yang tak pernah tidur, dia tidak datang untuk menjadi perawat bagi jiwa yang koma, melainkan untuk membangun kekaisaran dari sisa-sisa pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sinar Mentari dan Ilusi yang Memabukkan
Cahaya matahari pagi yang menyelinap dari sela-sela gorden sutra abu-abu terasa lebih hangat dari biasanya. Nora Leone membuka matanya perlahan, merasakan sensasi asing yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Ada rasa pegal yang menjalar di pinggangnya, dan sebuah kehangatan yang masih tertinggal di permukaan kulitnya—sisa-sisa sentuhan semalam yang merombak seluruh dunia batinnya.
Nora menoleh ke samping, berharap menemukan wajah tegas Adrian yang sedang terlelap, atau setidaknya tatapan mata tajam yang melunak saat melihatnya bangun. Namun, sisi tempat tidur di sebelahnya sudah dingin. Sprei sutra itu tampak berantakan, meninggalkan cekungan kosong yang menandakan penghuninya telah pergi cukup lama.
Senyum kecil yang sempat tersungging di bibir Nora sedikit memudar, namun ia segera menghalau rasa kecewa itu. Dia pria yang sibuk, pikir Nora memaklumi. Dunia Thorne tidak pernah tidur, bahkan untuk satu malam yang sakral sekalipun.
Nora mencoba bangkit, dan saat itulah rasa sakit yang tajam dan berdenyut muncul dari bagian bawah tubuhnya. Ia meringis, menggigit bibir bawahnya yang sensual saat rasa perih itu mengingatkannya pada momen penyerahan diri yang terjadi beberapa jam lalu. Itu adalah rasa sakit yang ia sambut dengan bangga—sebuah segel bahwa ia kini bukan lagi sekadar gadis yang menumpang, melainkan wanita milik Adrian Thorne.
Dengan langkah perlahan dan sedikit gemetar, Nora menyeret kakinya menuju kamar mandi mewah yang berdinding marmer putih. Ia menyalakan pancuran air hangat, membiarkan uap panas memenuhi ruangan. Saat air menyentuh kulitnya, ia memejamkan mata, membayangkan kembali bagaimana tangan Adrian menjelajahi punggungnya, bagaimana bisikan serak pria itu membuat jantungnya berpacu.
Ia mandi dengan sangat teliti, seolah ingin mengunci aroma Adrian yang masih melekat di pori-porinya agar tidak hilang tersapu air. Meski rasa nyeri itu masih terasa setiap kali ia bergerak, Nora justru merasa lebih hidup dari sebelumnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar yang beruap; matanya tampak lebih bersinar, dan ada rona kemerahan di pipinya yang bukan berasal dari air panas.
Aku adalah miliknya, bisiknya pada pantulan dirinya sendiri.
Setelah mengenakan gaun rumah berbahan satin yang lembut, Nora turun ke lantai bawah. Setiap anak tangga yang ia lalui terasa seperti langkah menuju kehidupan baru. Di ruang makan yang luas, aroma kopi yang baru diseduh dan roti panggang mentega sudah menyambutnya.
Martha sedang sibuk menata meja, namun ia segera menoleh saat mendengar langkah kaki Nora. Mata wanita tua itu menatap Nora dengan tatapan yang sulit diartikan—ada kelembutan, namun ada juga jejak keprihatinan yang terselip jauh di lubuk matanya.
"Selamat pagi, Nona Nora," sapa Martha dengan suara tenang seperti biasa.
"Selamat pagi, Martha," jawab Nora, mencoba menutupi cara berjalannya yang sedikit kaku. Ia duduk di kursi kayu ek yang berat, merasa sedikit malu namun juga penuh kemenangan. "Apakah Adrian... apakah dia sudah pergi?"
Martha meletakkan secangkir teh kamomil hangat di depan Nora. "Tuan Adrian sudah berangkat sejak pagi buta, Nona. Ada urusan mendadak di dermaga yang membutuhkan kehadirannya segera. Beliau meminta saya untuk memastikan Anda mendapatkan sarapan terbaik dan mengingatkan saya agar tidak membiarkan Anda kelelahan hari ini."
Hati Nora membuncah. Sebuah pesan. Adrian menitipkan pesan untuknya.
Bagi wanita lain, ditinggal pergi setelah malam pertama mungkin akan terasa seperti penghinaan, sebuah pertanda bahwa mereka hanyalah pelampiasan nafsu sesaat. Namun bagi Nora, yang tumbuh dalam pengabaian total dari ayahnya, perhatian kecil seperti pesan lewat asisten rumah tangga adalah sebuah validasi besar. Adrian tidak menganggapnya sebagai "sekali pakai." Adrian peduli pada kenyamanannya. Adrian memikirkannya bahkan di tengah kesibukan dunianya yang berdarah.
"Terima kasih, Martha. Aku tidak keberatan sama sekali," ujar Nora dengan nada riang yang sulit disembunyikan. "Aku tahu betapa berat tanggung jawabnya."
"Tuan juga berpesan," lanjut Martha sambil menyajikan piring berisi telur benedict kegemaran Nora, "bahwa beliau akan mengusahakan untuk pulang siang nanti. Beliau ingin makan siang bersama Anda."
Pipi Nora merona hebat. Makan siang bersama. Itu terdengar sangat domestik, sangat manis. Ilusi tentang "rumah tangga yang bahagia" semakin mengakar kuat di benaknya. Ia merasa seolah-olah mahkota mutiara yang diberikan Adrian semalam benar-benar telah menyatu dengan kepalanya. Ia merasa tak tersentuh.
"Aku akan menunggunya kalau begitu," kata Nora pelan, lalu mulai menyantap sarapannya dengan nafsu makan yang mendadak meningkat.
Setelah sarapan, waktu terasa berjalan sangat lambat. Nora merasa terlalu gelisah untuk sekadar duduk di ruang tengah atau berjalan-jalan di taman. Pikirannya terus melayang pada Adrian. Ia membutuhkan sesuatu untuk mengalihkan energinya yang meluap-luap.
Langkahnya akhirnya membawa Nora menuju perpustakaan pribadi di sayap kanan mansion. Itu adalah salah satu ruangan favoritnya sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini. Ruangan itu memiliki langit-langit yang tinggi dengan rak buku dari kayu mahoni yang menjulang hingga ke atas, dipenuhi dengan ribuan jilid buku, mulai dari literatur klasik hingga catatan sejarah militer.
Membaca telah menjadi pelarian Nora. Di dalam buku, ia bisa menjadi siapa saja, pergi ke mana saja, dan melupakan fakta bahwa ia adalah putri yang dibuang. Sejak tinggal bersama Adrian, pria itu selalu mendorongnya untuk membaca apa pun yang ia suka. Adrian bahkan sering menambahkan koleksi novel baru di rak khusus untuknya, seolah mendukung hobi Nora yang tenang itu.
Nora menyusuri deretan buku dengan jemarinya, merasakan tekstur punggung buku yang halus. Ia mengambil sebuah novel klasik tentang cinta terlarang di masa perang, sebuah tema yang entah mengapa terasa sangat relevan dengan hidupnya saat ini. Ia merasa seolah-olah ia dan Adrian sedang berperang melawan dunia, dan cinta mereka adalah satu-satunya benteng yang tersisa.
Ia membawa buku itu menuju sebuah kursi malas yang empuk di dekat jendela besar yang menghadap ke arah laut. Cahaya matahari siang mulai masuk, memberikan penerangan alami yang sempurna. Nora menyandarkan kepalanya, membuka halaman pertama, dan mulai tenggelam dalam kata-kata.
Namun, tubuhnya punya rencana lain. Kelelahan emosional dan fisik dari malam sebelumnya mulai menagih haknya. Rasa nyeri yang samar di tubuhnya perlahan berubah menjadi rasa hangat yang membuat matanya terasa berat. Suasana perpustakaan yang sunyi, hanya diiringi suara ombak di kejauhan dan detak jam dinding, menjadi pengantar tidur yang sempurna.
Perlahan, kelopak mata Nora tertutup. Novel yang ia pegang melonggar dari genggamannya, jatuh perlahan ke atas pangkuannya. Nora tertidur lelap di bawah siraman cahaya matahari, dengan senyuman tipis yang masih membekas di bibirnya. Dalam tidurnya, ia memimpikan Adrian yang datang membawa buket bunga mawar hitam, berlutut di depannya, dan menjanjikan dunia yang aman selamanya.
Ia tidak tahu bahwa di luar sana, matahari mulai mencapai puncaknya, dan siang yang ia tunggu-tunggu akan membawa sesuatu yang lebih dari sekadar makan siang romantis. Ia tidak tahu bahwa sementara ia bermimpi tentang cinta yang abadi, roda takdir sedang berputar menuju sebuah rahasia yang akan merobek hatinya hingga tak bersisa.
Nora Leone tidur dengan damai, masih terbuai dalam ilusi indah bahwa dia adalah wanita yang paling dicintai oleh sang penguasa California. Dia tidur, sebelum badai yang sesungguhnya datang untuk menghancurkan sangkar emasnya.