Matteo Adrian Reins Smith kembali ke Seoul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemimpin industri yang ia bangun dari rasa iri dan ambisi untuk melampaui bayang-bayang ayahnya dan keraguan kakaknya. Namun, di balik kemegahan takhtanya, hati Matteo kosong. Ia dihantui memori Manila—tentang Sheena yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.
Di sisi lain kota Seoul, Park Chae-young hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang traumatis. Lima tahun lalu, sebuah pengkhianatan cinta membawanya ke sebuah bar, dan ia terbangun dengan hidup yang hancur. Ayahnya meninggal karena terkejut, meninggalkan Chae-young hamil di usia muda. Kini, di usia 28 tahun, ia adalah desainer hantu di balik brand ‘Forever-young’ yang viral. Ia membesarkan sepasang anak kembar yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Disarang Sang Raksasa
Pagi itu, Seoul diselimuti kabut tipis yang menambah kesan megah pada gedung pencakar langit berlogo M-Nexus. Chae-young turun dari taksi dengan setelan power suit berwarna krem yang ia rancang sendiri—elegan, tegas, namun tetap feminin dengan rambut bronte waves-nya yang disanggul rapi.
Di tangannya, ia memegang map kulit berisi portofolio desain terbarunya. Ia merasa bangga. Undangan kerjasama dari M-Nexus adalah pengakuan tertinggi bagi setiap desainer di Korea. Ia tidak tahu siapa CEO di balik raksasa teknologi ini, yang ia tahu hanyalah M-Nexus adalah perusahaan raksasa yang produknya digilai masyarakat.
"Selamat pagi, saya Park Chae-young dari Forever-Young. Saya ada janji temu untuk presentasi proyek seragam divisi premium," ucapnya ramah pada resepsionis di lobi yang luasnya hampir selapangan bola itu.
"Ah, Nona Park. Mari, asisten CEO sudah menunggu Anda di lantai paling atas," sambut resepsionis itu dengan hormat yang luar biasa.
Chae-young melangkah masuk ke lift kristal. Jantungnya berdebar, bukan karena takut, tapi karena antusiasme profesional. Ia membayangkan akan bertemu dengan seorang pria tua bijaksana atau mungkin pengusaha paruh baya yang kaku.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai 50. Kang Soo-hyun sudah berdiri di sana dengan wajah datar yang sangat familiar bagi Chae-young.
"Selamat datang kembali, Nona Park," sapa Soo-hyun.
Chae-young mengernyit. Kembali? Ia merasa pernah melihat pria ini, tapi di mana? "Terima kasih. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
Soo-hyun hanya memberikan senyum tipis yang penuh rahasia. "Silakan masuk, Tuan CEO sudah menunggu di dalam."
Soo-hyun membukakan pintu jati ganda yang berat. Chae-young melangkah masuk ke ruangan yang sangat luas dengan dinding kaca yang memperlihatkan seluruh panorama Seoul. Di balik meja kerja besar yang menghadap ke arah jendela, seorang pria sedang duduk membelakanginya, kursi kebesarannya hanya memperlihatkan sandaran hitam yang kokoh.
"Selamat pagi, Tuan. Saya Park Chae-young dari Forever-Young. Terima kasih atas undangannya," ucap Chae-young dengan suara yang lantang dan percaya diri.
Perlahan, kursi itu berputar.
Chae-young merasa dunianya seolah berhenti berputar. Matanya membelalak, napasnya tertahan di tenggorokan. Pria itu... pria bermata biru yang tempo hari masuk ke butiknya dengan sikap aneh, kini duduk di sana dengan setelan jas hitam yang sangat sempurna.
"Kau..." bisik Chae-young tanpa sadar.
Matteo Adrian Reins Smith menatapnya dengan tatapan yang sama—dingin dan datar seperti papan triplek. Ia menyatukan kesepuluh jemarinya di atas meja, menatap Chae-young yang tampak seperti baru saja melihat hantu.
"Selamat datang di M-Nexus, Nona Park," ucap Matteo dalam bahasa Korea yang sangat lancar namun bervolume berat. "Atau haruskah kupanggil, Nona yang 'salah lihat' tempo hari?"
Chae-young mengepalkan tangannya di samping tubuh, mencoba mencari kembali kesadarannya. Jadi, pria aneh ini adalah pemilik 'The Titan'? Pria yang dibilang sebagai jenius teknologi lulusan terbaik Korea?
"Jadi Anda adalah CEO M-Nexus?" tanya Chae-young dengan nada yang sedikit bergetar karena emosi yang campur aduk.
"Seperti yang Anda lihat," jawab Matteo singkat. Ia berdiri, berjalan memutari mejanya dan berhenti tepat di depan Chae-young. Jarak mereka sangat dekat hingga Chae-young bisa mencium aroma sandalwood yang maskulin—arama yang tiba-tiba memicu kilasan memori gelap lima tahun lalu di otaknya.
Chae-young mundur selangkah, namun Matteo terus menatapnya. "Aku mengundangmu ke sini karena aku menghargai karyamu. Tapi, aku juga ingin jawaban atas pertanyaanku tempo hari. Dimana kedua anak bermata biru itu?"
Chae-young mendongak, mencoba menantang mata biru Matteo dengan mata honey brown-nya yang berkilat marah. "Saya di sini untuk urusan bisnis, Tuan Matteo. Jika Anda mengundang saya hanya untuk menanyakan masalah pribadi, saya rasa pertemuan ini tidak perlu dilanjutkan."
Matteo sedikit terkejut melihat keberanian Chae-young. Wanita ini tidak seperti wanita lain yang akan langsung tunduk atau terpesona padanya.
"Bisnis tetap berjalan," ucap Matteo datar. "Tapi bagiku, kejujuran adalah bagian dari kontrak bisnis yang baik. Anak-anak itu siapa ayah mereka?"
Chae-young tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar sangat sedih namun kuat. "Kenapa Anda begitu penasaran? Apa Anda merasa dunia ini berputar di sekitar Anda hingga semua anak bermata biru harus memiliki hubungan dengan Anda?"
Matteo terdiam. Kalimat Chae-young tepat mengenai sasaran. Namun, ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa wajah anak laki-laki itu—Chan-yeol—adalah replika sempurna dari masa kecilnya.
"Aku hanya tidak suka pada hal yang tidak masuk akal, Nona Park," sahut Matteo dingin. "Dan wajah anak itu, adalah sesuatu yang sangat tidak masuk akal bagiku jika itu hanyalah sebuah kebetulan."
Chae-young merasa dadanya sesak. Ia ingin lari, tapi ia tidak bisa. Ia harus tetap profesional demi masa depan anak-anaknya. "Ayah mereka sudah meninggal. Dia... dia sudah lama pergi. Jadi tolong, jangan ganggu hidup kami lagi."
Matteo menyipitkan matanya. Ia menangkap keraguan di suara Chae-young. "Meninggal? Lalu kenapa kau terlihat begitu ketakutan setiap kali melihatku?"
"Saya tidak takut!" bantah Chae-young cepat. "Saya hanya merasa tidak nyaman berurusan dengan pria sombong seperti Anda!"
Matteo justru maju satu langkah lagi, membuat Chae-young terdesak ke arah dinding kaca. "Jika kau tidak takut, buktikan padaku dengan menyelesaikan proyek ini. Kerjakan desain seragam M-Nexus. Selama satu bulan ke depan, kau akan bekerja di bawah pengawasanku secara langsung."
Chae-young terperangkap. Ini adalah peluang emas untuk butiknya, namun ini adalah bencana bagi rahasianya. Ia menatap mata biru Matteo, mencari celah di balik tatapan pria aneh itu. Di saat yang sama, ia bertanya-tanya: Jika pria ini tahu bahwa dialah bayangan di malam itu, apakah dia akan merebut anak-anakku?
"Baik," ucap Chae-young akhirnya dengan suara parau. "Saya akan kerjakan. Tapi hanya soal bisnis. Tidak lebih."
Matteo tersenyum miring—sebuah senyum yang sangat tipis namun terlihat sangat berbahaya. "Kita lihat saja nanti, Nona Park Chae-young."
Saat Chae-young keluar dari ruangan itu dengan langkah terburu-buru, Matteo kembali ke kursinya. Ia memutar-mutar pena mewahnya dengan pikiran yang berkecamuk.
"Ayahnya meninggal?" gumam Matteo sinis. "Jika dia benar-benar meninggal, kenapa kau tampak seperti sedang menyembunyikan sebuah nyawa yang masih hidup di balik matamu?"