Note: alur nya gak terlalu cepat, jadi buat yg enjoy ama alur yang meningkat sedikit demi sedikit aja ya guys
Hidup sebatang kara semenjak ia duduk di bangku sekolah menengah membuat Alvaro mau tak mau harus bisa terbiasa dengan yang namanya usaha dan kerja keras walaupun sering mengalami kegagalan.
karena ia tahu jika ia menyerah untuk berjuang maka itu berarti mengucapkan selamat tinggal bagi masa depannya dan berakhir hidup di bawah bayang bayang jembatan.
satu hal yang menjadi alasan mengapa dia tetap tak menyerah adalah karena ucapan almarhum ibunya ketika di ujung maut dahulu bahwa dirinya harus tetap berusaha dan tidak menyerah.
namun entah takdir mempermainkan dirinya atau apa, ia harus mengalami kejadian tragis ketika dalam perjalanan pulang selepas kerja..
bagaimana kelanjutan nya?, tetap ikuti cerita nya tak lain dan tak bukan hanya di novel saya "Sistem Kekayaan dan Kekuasaan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scorpion's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Takdir yang kejam
titik titik hujan mulai jatuh membasahi kota Astra, waktu menunjukkan tepat jam 11 malam yang membuat jalanan mulai sepi dan aktivitas manusia mulai terhenti, namun hal itu tidak berarti bagi Alvaro yang kini masih standby di meja kasir warnet karahan.
"Alvaro apakah kamu tidak lelah setiap hari sepulang sekolah selalu bekerja hingga larut malam begini?" Tanya seorang laki laki paruh baya kepada Alvaro yang masih sibuk dengan layar komputer di depannya.
"Kalau masalah lelah sih ya lelah pak, tapi mau gimana lagi toh saya juga butuh uang untuk membayar sekolah. Apalagi sekarang saya sudah kelas tiga dan hampir lulus." Balas Alvaro yang mengalihkan perhatiannya pada pria di depannya.
Pria di depannya adalah pak Fajar, yang merupakan pemilik dari warnet tempat ia bekerja.
"Kan udah bapak bilang buat bantu bayar sekolah kamu kan?, kamu aja yang nolak terus." Ucap pak Fajar sambil menggelengkan kepalanya.
"Terus kamu belajarnya gimana kalau pulang selalu larut begini?" Tanya pak Fajar lagi.
"Lah ini saya juga sambil belajar pak, hehe mumpung ada komputer juga jadi saya manfaatin aja." Ucap Alvaro sambil tertawa pelan.
"Hadehh, yaudah kamu pulang aja sekarang toh sekarang warnet sepi juga, kamu harus istirahat juga katanya besok ujian akhir." Ucap Pak Fajar setelah melihat tidak ada pelanggan di tokonya.
"Yasudah pak kalau begitu." Ucap Alvaro menurut, ia pun langsung mengemasi barang-barangnya serta mengambil seragam yang sudah ia lipat di sebelahnya untuk di masukkan tas sekolah miliknya.
"Sama ini juga." Ucap pak Fajar menyodorkan amplop pada Alvaro yang membuatnya bingung, karena menurutnya ini belum tanggal gajian.
"Ini apa pak, kan gajian nya tanggal satu besok." Tanya Alvaro bingung.
"Ini buat bayar SPP mu yang menunggak itu, kamu fikir bapak gak tahu kalau kamu gak bakal bisa ikut ujian akhir kalau belum lunas SPP nya?" Tanya Pak Fajar sambil tersenyum.
"Ta-tapi pak..."
"Udah ambil aja dan cepetan pulang, noh hujan nya mulai deres itu nanti kamu malah gak bisa pulang nanti." Ucap pak Fajar langsung memberikan amplop berisi uang itu ke tangan Alvaro.
"Terimakasih banyak pak, saya terus saja berhutang banyak pada bapak selama saya bekerja di sini." Ucap Alvaro sedikit meneteskan air mata nya.
"Udah udah gak papa, kamu pulang gih." Ucap pak Fajar sambil mengusap pucuk kepala Alvaro.
Setelah Alvaro pergi pak Fajar pun menatapnya dari jauh dengan raut wajah bingung.
"Setidaknya aku harus bertahan hingga Alvaro lulus dulu." Ucap pak Fajar sembari menatap warnet miliknya.
Ia tahu cepat atau lambat harus menutup bisnisnya yang sudah lama merugi ini, jika bukan karena tahu bagaimana keadaan Alvaro yang sebatang kara dan demi membalas hutang yang ia miliki kepada mendiang ibu dari Alvaro ia sudah pasti menutup tokonya ini sejak lama.
...---------------...
"Sepinya jalanan ini, padahal biasanya walaupun sudah jam 12 malam ada saja kendaraan yang lewat" fikir Alvaro sambil mengendarai motor butut miliknya.
Entah kenapa saat ini ia merasakan sesuatu hal yang janggal dan tidak mengenakkan hatinya, dan ia secara reflek langsung meraba lehernya yang tergantung liontin batu peninggalan ayahnya.
Hujan semakin deras yang membuat Alvaro mau tak mau harus mengurangi kecepatan kendaraan nya.
Setelah beberapa menit ia pun berhenti di simpang empat karena lampu jalan yang bersinar merah, bahkan walaupun jalanan sepi taat aturan itu nomor satu bagi Alvaro.
"Jdarrr...." Tiba tiba terdengar petir menggelegar yang membuat Alvaro kaget, ia jadi bingung apakah harus berteduh sementara atau tetap melanjutkan perjalanan nya karena hujan juga mulai bertambah deras lagi dan membuat jarak pandangnya berkurang.
"Krieeett..." Tiba tiba ketika ia masih menunggu suara memekak kan telinga terdengar diikuti siluet hitam tinggi menghujam ke arah depannya.
Ternyata lampu lalulintas di depannya roboh secara tiba tiba yang membuat Alvaro diam membeku karena ia berada di ujung maut selama sepersekian detik barusan.
untungnya balok besi itu tidak menimpa dirinya karena nyawanya pasti tak tertolong jika tertindih balok besi berbobot ratusan kilo itu.
Namun belum lagi ia tenang sebuah sengatan menjalar ke tubuhnya tatkala kabel listrik yang putus itu menyentuh bagian depan motor bututnya.
Sengatan itu terlalu kuat yang bahkan membuat Alvaro tak sempat untuk berteriak meminta tolong, rasa panas membakar ia rasakan di sekujur tubuhnya membuatnya hanya terfikir satu hal "Apakah aku akan mati."
...----------------...
'Gelap' satu kata yang menggambarkan posisinya saat ini. Hanya kegelapan tak berujung yang ia lihat dan rasakan.
Namun tiba tiba dari kejauhan terdapat titik cahaya yang mulai membesar secara cepat dan mengubah kegelapan di hadapannya berubah menjadi ruang serba putih.
Ia tak melihat apapun kecuali satu, sebuah batu yang cukup besar nampak melayang di depannya, yang entah kenapa ia merasa tidak asing dengan bentuk batu itu.
Alvaro yang masih kebingungan merasakan dorongan untuk menyentuh batu itu, iapun berjalan perlahan dengan tangannya yang menjulur ke depan.
Ketika tangannya menyentuh batu itu tiba tiba keluar huruf huruf aneh yang bersinar redup mulai mengelilingi batu itu Yanng membuatnya reflek menarik tangannya, namun ia merasa bahwa tangannya seperti lengket dan tak bisa di tarik yang membuatnya terkejut.
"Memindai..... Mengkonfirmasi identitas tuan..." Tiba tiba terdengar suara yang membuat Alvaro bingung.
Setelah berusaha menariknya dengan segenap kekuatan nya tangannya pun berhasil terlepas walaupun ia malah terjungkal ke belakang karena terlalu kuat menarik.
"aduh... Sakitnya pantatku, sialan nih batu." Umpat Alvaro pelan sambil melirik ke arah batu di depannya yang berpendar kehijauan dengan huruf huruf asing yang mengelilingi nya.
"Siapa kau dan kenapa aku disini?" Tanya Alvaro walaupun sedikit ragu.
"Halo tuan, saya adalah Sistem Kekayaan dan Kekuasaan. Saya akan membantu tuan untuk menggapai yang anda impikan" Ucap Suara itu menyahuti.
"Sepertinya aku bermimpi, tapi pantatku masih sakit karena jatuh barusan. Atau aku mengigau ya?" Fikir Alvaro mencoba mencari alasan yang jelas.
"Tuan tidak bermimpi ataupun mengigau, saat ini kita berada di alam bawah sadar tuan. Untuk rasa sakit memang tuan akan tetap merasakannya namun itu tidak akan mempengaruhi tubuh asli tuan." Ucap Sistem itu lagi menjelaskan.
"Tidak tidak ini tak masuk akal sama sekali." Ucap Alvaro menolak ucapan sistem itu.
"Itu memang tak rasional jika anda berfikir dengan batas pikiran manusia normal tuan, bahkan anda yang masih selamat setelah hangus tersengat listrik juga tak rasional tuan." Ucap Sistem yang membuat Alvaro tersentak kaget, setelah ia ingat ingat ia terakhir kali memang tersengat listrik ketika ingin pulang ke rumahnya.
"Lalu sekarang aku bagaimana jika memang aku selamat?" Tanya Alvaro pada baru di depannya.
"Tuan tenang saja, saya bisa mengembalikan kesadaran anda ke tubuh anda. Namun alangkah baiknya anda mempelajari cara kerja saya tuan." Ucap Sistem menenangkan Alvaro.
"Tidak bisa, jika aku berlama lama tubuhku pasti akan terkena hipotermia karena terkena guyuran hujan terus menerus." Ucap Alvaro yang masih terburu buru.
"TUAN TENANGLAH DAHULU!!.." Ucap Sistem dengan suara agak keras yang membuat Alvaro langsung diam seribu kata.
kritik dan saran boleh kokk