Larasati mengira pernikahan adalah pelabuhan aman dari badai hidupnya. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang ia panggil suami, Bagaskara, justru menjadi iblis yang menyeretnya ke neraka.
Terlilit hutang judi yang tak berujung, Bagas melakukan hal yang paling tak ter maafkan. menjadikan kesucian istrinya sebagai jaminan pelunasan.
Di balik jeruji kontrakan kumuh Jakarta. Larasati terjepit antara rintihan harga diri yang diinjak-injak dan ancaman fitnah yang menghancurkan nama baik orang tuanya.
Sementara itu, di sebuah rumah mewah, Rizki Pratama, sang pewaris takhta bisnis yang baru saja mengikat janji palsu demi bakti. Merasakan nyeri yang sama di dadanya. Ada jiwa yang menjerit meminta tolong, jiwa yang pernah ia temukan di tepi sungai namun ia lepaskan karena kata "bukan jodoh".
Saat kehormatan telah berpindah tangan dan pengkhianatan menjadi mata uang. Akankah doa di antara dua hati yang terpisah mampu menuntun mereka pada sebuah pertemuan berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wasiat di Ambang Senja
Pagi di kediaman mewah keluarga Darmawan biasanya diawali dengan kesunyian yang elegan. Namun sejak Tuan Besar Darmawan dipulangkan dari rumah sakit. Suasana rumah itu berubah menjadi semacam kuil pemujaan terhadap harapan yang kian menipis.
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui tirai sutra. Berwarna gading di kamar utama, menyinari lantai marmer yang dingin dan deretan peralatan medis canggih yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari dekorasi ruangan.
Di tengah ranjang berukuran king size itu, Pak Darmawan terbaring lemah. Wajahnya yang dulu tegas dan berwibawa kini tampak seperti perkamen tua yang rapuh. Garis-garis keriputnya menceritakan beban ribuan keputusan bisnis yang pernah ia ambil.
Namun, pagi ini, ada sedikit binar di matanya yang sayu. Di sampingnya, Nana duduk dengan postur sempurna. Ia mengenakan pakaian yang rapi namun tetap memancarkan kesan kelembutan seorang perawat dengan tangan yang stabil dan penuh kehati-hatian.
Ia menyendokkan bubur halus ke bibir tua Pak Darmawan, "Pelan-pelan saja, Pa. Masih hangat," bisik Nana dengan suara yang begitu manis.
Seolah-olah ia sedang bicara pada permata yang paling berharga.
Sudah beberapa hari berlalu sejak Pak Darmawan dirawat di rumah dan Nana benar-benar membuktikan ucapannya. Ia tidak pernah pulang ke apartemen pribadinya. Ia mandi, makan, dan tidur di kamar tamu tepat di sebelah kamar Pak Darmawan.
Setiap jam, ia memastikan infus berjalan lancar. Menyeka keringat di dahi sang tuan besar, bahkan membacakan koran bisnis. Agar pria tua itu tidak merasa kehilangan kontak dengan dunia luar.
Ketekunan, keuletan, dan perhatian yang Nana curahkan bukan sekadar tugas profesional. Itu adalah investasi emosional yang dirancang dengan sangat presisi. Ia ingin setiap orang di rumah ini, terutama Rizki, melihat bahwa dialah satu-satunya pilar yang menopang sisa hidup Pak Darmawan.
Kedatangan Sang Putra Mahkota
Suara langkah kaki yang teratur terdengar di lorong marmer. Rizki Pratama muncul di ambang pintu. Jasnya tersampir di lengan, dan dasinya sudah sedikit longgar. Ia baru saja kembali dari kantor untuk pengecekan rutin pagi hari. Jarak kantor yang hanya lima belas menit dari rumah memungkinkannya untuk bolak-balik demi memastikan kondisi ayahnya.
Rizki berhenti sejenak di pintu, menatap pemandangan di depannya. Ia melihat Nana yang tersenyum tulus sembari menyuapi ayahnya. Ada rasa lega sekaligus rasa berhutang budi yang besar di hati Rizki. Tanpa Nana, ia tidak tahu bagaimana ia bisa membagi fokus antara keruntuhan kesehatan ayahnya dan intrik di perusahaan.
"Bagaimana kondisinya pagi ini, Na?" tanya Rizki sembari mendekat dan mencium tangan ayahnya.
"Papa sudah lebih baik, Ki. Tadi malam tidurnya nyenyak, dan pagi ini selera makannya meningkat," jawab Nana sembari memberikan senyum yang paling menenangkan yang ia miliki.
Pak Darmawan menoleh ke arah Rizki. Tangannya yang gemetar berusaha meraih jemari putranya. Rizki segera menangkap tangan itu, merasakannya begitu dingin dan ringan.
"Rizki... anakku," suara Pak Darmawan sangat tipis, nyaris seperti gesekan daun kering.
"Iya, Pa. Aku di sini. Ada yang Papa butuh kan?"
Pak Darmawan terdiam sejenak, menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang dalam. Seolah-olah ia sedang melihat garis akhir dari perjalanannya, "Aku bisa merasakan tubuhku, Rizki. Mesin-mesin ini... mereka hanya menunda yang sudah pasti. Aku tidak tahu berapa banyak lagi matahari pagi yang bisa kulihat."
"Jangan bicara begitu, Pa. Dokter bilang...” ucap Rizki tapi perkataannya terhenti, sebab Pak Darmawan langsung memotong kata-kata Rizki.
"Dokter bicara soal angka, aku bicara soal rasa," potong Pak Darmawan dengan ketegasan yang tersisa.
“Sebelum aku menyusul Ibumu. Ada satu beban yang masih menggelayut di dadaku. Aku ingin melihatmu tidak sendirian. Aku ingin melihatmu memiliki pendamping yang bisa menjagamu seperti dia menjaga kamu dengan baik,”
Wasiat yang Menyentak
Rizki terpaku. Ia sudah menduga arah pembicaraan ini, namun ia tidak menyangka akan secepat ini.
Pak Darmawan melirik ke arah Nana yang kini menunduk dengan wajah yang dibuat tersipu namun telinganya tajam menangkap setiap kata, "Nana sudah seperti putriku sendiri. Dia ulet, dia setia, dan dia mengenalmu lebih baik dari siapa pun. Keinginan terakhirku, Rizki... menikahlah dengan Nana. Biarkan aku menyaksikan kalian bersatu sebelum aku menutup mata selamanya."
Ruangan itu seketika menjadi sangat sunyi. Detak jam dinding terasa seperti dentuman meriam di telinga Rizki. Ia syok. Pikirannya mendadak melayang jauh, menembus dinding-dinding beton Jakarta, terbang menuju sebuah sungai di desa terpencil.
Ingatannya kembali pada adegan di sungai itu. Ia ingat aroma air pegunungan, ia ingat rasa berat tubuh Larasati yang berlari ketakutan dan ia ingat tatapan mata gadis desa itu yang penuh trauma sekaligus keajaiban. Larasati sosok yang selama beberapa hari ini menghantui mimpinya, sosok yang ia lepaskan karena alasan "bukan jodoh”.
Laras... batin Rizki menjerit.
Namun, kenyataan pahit menghantamnya kembali. Larasati sudah sah menjadi istri orang lain. Dia sudah menikah dengan Bagaskara. Harapan untuk menemukan "titipan" ibundanya itu sudah pupus secara hukum dan moral. Di hadapannya kini adalah ayahnya yang sedang sekarat, pria yang memberikan segalanya untuk Rizki, yang kini memohon satu permintaan terakhir di ambang maut.
Rizki menghela napas panjang, sebuah napas yang membawa pergi sisa-sisa idealisme asmaranya. Di dalam hati, ia berbisik memohon maaf pada bayangan mendiang ibundanya.
Ibu, maafkan aku. Aku tidak bisa menemukan gadis yang mirip denganmu itu dalam ikatan yang halal. Aku harus memilih bakti pada Papa.
Nana mencuri pandang ke arah Rizki. Ia melihat keraguan di wajah pria itu. Namun ia juga melihat kepasrahan. Ia tahu ia sudah menang. Ia telah menjadikan Pak Darmawan sebagai senjata pamungkasnya untuk mendapatkan takhta dan pria yang ia inginkan.
Keputusan Sang Pewaris
Rizki menatap mata ayahnya yang penuh harap. Ia tidak sanggup melihat kekecewaan atau guncangan emosi yang bisa berakibat fatal bagi jantung ayahnya jika ia menolak. Dokter Adrian sudah memperingatkan. Guncangan mental sedikit saja bisa membunuh ayahnya.
Rizki mendekat, duduk di tepi ranjang, dan menggenggam tangan ayahnya dengan kedua tangannya.
"Jika itu yang Papa inginkan... jika itu yang bisa membuat Papa tenang," ucap Rizki dengan suara yang lembut namun bergetar, "Aku menerima keinginan Papa. Aku akan menikah dengan Nana."
Nana tersentak kecil, sebuah akting kejutan yang sempurna. Meskipun di dalam hatinya ia ingin bersorak kegirangan, "Rizki... apa kamu yakin?" tanyanya dengan nada rendah.
Rizki menoleh ke arah Nana, menatap mata asistennya itu dengan tatapan yang hampa, "Iya, Na. Papa benar. Kamu sudah sangat baik menjaga keluarga kami. Aku rasa ini yang terbaik untuk kita semua."
Pak Darmawan menghembuskan napas lega yang panjang, seolah sebuah beban seberat gunung baru saja diangkat dari dadanya, "Terima kasih, Rizki... Terima kasih, Nana. Sekarang aku bisa beristirahat dengan tenang."
Nana segera memeluk lengan Pak Darmawan, lalu beralih menatap Rizki dengan binar kebahagiaan yang tidak lagi bisa disembunyikan. Bagi Nana, ini adalah pencapaian tertinggi dalam hidupnya. Ia bukan lagi sekadar asisten. Ia akan menjadi Nyonya Darmawan, pemilik salah satu kerajaan bisnis terbesar di negeri ini.
Namun bagi Rizki, pengakuan itu adalah lonceng kematian bagi perasaannya sendiri. Saat ia melangkah keluar dari kamar ayahnya untuk kembali ke kantor. Ia merasa seolah-olah ia baru saja mengunci hatinya sendiri di dalam peti besi.
Ia berjalan melewati koridor rumah, namun yang ia lihat bukan lagi kemewahan. Melainkan bayangan samar seorang gadis desa yang sedang menangis di bawah rimbunnya pohon bambu.
Rizki tidak tahu bahwa saat ia mengiyakan pernikahan dengan Nana demi bakti pada ayahnya. Larasati sedang merintih kesakitan di sebuah kontrakan kumuh karena cambukkan ikat pinggang Bagas. Takdir sedang menarik mereka ke arah yang berlawanan dengan kecepatan penuh.
Rizki menuju pernikahan tanpa cinta yang megah dan Larasati menuju perbudakan yang mengerikan. Dua hati yang sebenarnya saling terpanggil itu kini semakin menjauh. Terhalang oleh wasiat kematian dan pengkhianatan yang keji.
Malam itu, Jakarta tetap bising. Namun di dua sudut kota yang berbeda. Dua orang sedang meratapi nasib yang sama-sama tidak mereka inginkan. Rizki dengan kemewahan yang terasa hambar dan Larasati dengan penderitaan yang tak berujung.
Dan di tengah-tengah itu, Nana tersenyum lebar sembari menatap cincin imajiner di jarinya, merasa telah memenangkan permainan hidup yang paling berbahaya.