"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Tamu Tak Diundang di Malam Pengantin + Visualnya
"Tandatangani ini, dan jangan pernah bertanya ke mana aku pergi setiap malam pukul dua pagi."
Nata menyodorkan selembar kertas di atas meja makan kayu yang kecil di apartemen sederhana miliknya. Apartemen itu terletak di pinggiran kota, jauh dari kemewahan rumah besar keluarga Rubyjane. Hanya ada satu tempat tidur, sebuah lemari tua, dan tumpukan kardus berisi stok mangkuk bakso.
Airine menatap surat perjanjian buatan tangan itu dengan dahi berkerut. Ia baru saja mengganti jas dokternya dengan kaus kebesaran milik Nata karena semua bajunya masih tertinggal di rumah ayahnya.
"Pukul dua pagi? Kamu mau jualan bakso atau mau merampok bank?" sindir Airine, mencoba menutupi kegugupannya.
"Anggap saja aku punya jadwal pengiriman kaldu khusus ke pasar induk," jawab Nata datar. Ia berdiri di dekat jendela, menyibakkan sedikit tirai untuk mengintip ke arah jalanan di bawah. Matanya yang tajam menangkap bayangan sebuah mobil SUV hitam yang terparkir terlalu lama di sudut jalan.
Airine menghela napas, lalu membubuhkan tanda tangannya. "Selesai. Kita resmi suami istri di mata hukum. Sekarang, bisakah kamu jelaskan kenapa tukang bakso sepertimu punya refleks seperti atlet saat menghadapi Reo tadi?"
Nata berbalik, menatap Airine dengan pandangan dingin yang sulit dibaca. "Di jalanan, kalau tidak bisa bela diri, gerobakmu akan hancur dipalak preman setiap hari, Dok. Aku cuma terbiasa hidup keras."
Drtt... Drtt...
Ponsel Airine bergetar hebat. Nama 'Ayah' terpampang di layar. Airine ragu sejenak sebelum mengangkatnya dan menyalakan fitur speaker.
"Airine! Apa-apaan berita yang dibawa Reo? Kamu menikah dengan penjual sampah di pinggir jalan?" suara berat Tuan Rubyjane menggelegar dari seberang telepon.
"Namanya Nata, Yah. Dan dia suamiku sekarang. Sesuai wasiat Kakek, aku punya hak penuh atas RS Medika mulai besok pagi," balas Airine dengan suara gemetar namun tegas.
"Jangan mimpi! Aku akan menyeretmu pulang malam ini juga!"
BIP. Sambungan diputus sepihak.
Airine terduduk lemas. "Mereka tidak akan berhenti, Nata. Ayahku punya banyak orang bayaran yang kasar."
"Mereka tidak akan bisa menyentuhmu selama kamu di sini," sahut Nata pendek.
Tiba-tiba, suara keras terdengar dari arah pintu depan. BRAK!
Pintu apartemen itu ditendang hingga hampir terlepas dari engselnya. Tiga pria berbadan besar dengan jaket kulit hitam merangsek masuk. Salah satu dari mereka memegang tongkat pemukul baseball.
"Dokter Airine, Tuan Besar menyuruh Anda pulang. Jangan buat kami harus mematahkan tulang tukang bakso ini," ucap pria di depan dengan seringai meremehkan.
Airine memekik, mundur hingga menabrak lemari. Nata tetap berdiri tenang. Ia bahkan tidak berkedip saat salah satu pria itu mengayunkan tongkatnya, menghancurkan piring keramik di atas meja.
"Keluar dari sini dalam hitungan tiga," ucap Nata dengan suara rendah yang mengerikan.
"Hah? Kamu mengancam kami?" Pria itu maju hendak mencengkeram kerah kaus Nata.
Dalam gerakan yang sangat cepat, Nata menangkap pergelangan tangan pria itu dan memutarnya hingga terdengar suara KREK yang memilukan. Dengan satu tendangan lutut ke arah perut, pria besar itu langsung terkapar. Dua pria lainnya menerjang, namun Nata bergerak gesit menghindari pukulan, lalu melayangkan hook keras yang membuat pria kedua tumbang menabrak tembok.
Pria ketiga yang masih berdiri segera lari tunggang langgang keluar dari apartemen setelah melihat teman-temannya tak berdaya hanya dalam hitungan detik.
Airine terpaku, jantungnya berdegup kencang. Pria yang tadi sore melayani pembeli bakso dengan ramah, kini tampak seperti monster di depan matanya.
"Nata... kamu... dari mana kamu belajar berkelahi seperti itu?" bisik Airine ngeri.
Nata mengatur napasnya, lalu menoleh ke arah Airine. Ia menyadari tatapan curiga wanita itu. "Dulu aku sering ikut tawuran antar kampung dan sempat jadi debt collector sebelum jualan bakso. Jadi jangan kaget," bohong Nata dengan wajah lempeng.
Ia lalu berjalan menuju laci bawah tempat tidur, mengeluarkan sebuah benda logam hitam. Airine menahan napas, mengira itu pistol, namun ternyata itu hanya sebuah belati lipat panjang yang terlihat sangat tajam. Nata menyelipkannya di balik pinggang celana.
"Tidur saja, Airine. Malam ini akan jadi malam yang panjang," kata Nata. "Dan mulai sekarang, jangan pernah panggil aku tukang bakso lagi kalau kita sedang berdua."
Airine menelan ludah. Ia pikir ia menikahi pria biasa yang mudah dikendalikan. Ternyata, ia justru membawa pulang seorang pria misterius yang auranya jauh lebih berbahaya daripada ayahnya sendiri.
...****************...
...
...
✨Semua wajah, nama, dan karakter dalam cerita ini hanyalah fiksi yang lahir dari imajinasi author. Jika terdapat perbedaan visualisasi, silakan kembali pada imajinasi dan visualisasi masing-masing. 🙏