Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Peluru di Ujung Fajar
Suasana di dalam gudang tua pelabuhan Tanjung Priok dalam sekejap mata berubah menjadi medan perang yang mengerikan dan mencekam. Suara letupan senjata api kaliber pendek dan laras panjang saling bersahutan tanpa henti, gema suaranya memantul di antara dinding-dinding beton tua yang tinggi, memecah keheningan malam laut utara Jakarta dengan sangat brutal.
Percikan api berkilat-kilat dari moncong laras senjata, menerangi sudut-sudut ruangan yang gelap secara sekilas. Cahaya kilatan itu menampilkan bayangan-bayangan hitam yang bergerak dengan kecepatan tinggi, merayap dan berlindung di balik tumpukan kontainer besi karatan yang berbau logam dan garam.
Adrian Dirgantara bergerak dengan tangkas. Ia mendekap tubuh Renata dengan sangat erat, menyembunyikannya di balik dinding sebuah kontainer tua bercat merah yang sudah mengelupas. Tubuh tegap sang CEO bertindak sebagai perisai hidup, memastikan tidak ada satu pun celah bagi peluru nyasar untuk menyentuh kulit istrinya.
Bau mesiu yang menyengat, bercampur dengan hawa laut yang asin dan dingin, terasa begitu pekat menyiksa indra penciuman mereka. Napas Adrian memburu, detak jantungnya berpacu liar, namun sepasang mata elangnya tetap memancarkan ketenangan yang mutlak—sebuah ketangkasan mental yang hanya dimiliki oleh seorang pria yang telah terlatih menghadapi situasi hidup dan mati.
"Renata, tetap di sini! Jangan pernah angkat kepalamu, apa pun yang terjadi!" bisik Adrian dengan suara rendah yang penuh penekanan tepat di dekat telinga istrinya.
Suaranya harus bersaing dengan gemuruh suara tembakan yang merontokkan plesteran dinding gudang di atas mereka. Debu-debu semen mulai berjatuhan, mengotori rambut cokelat Renata dan jas hitam mahal yang dikenakan Adrian.
"Adrian, bahumu... luka jahitanmu dari kejadian di kantor tempo hari bisa terbuka lagi!" ucap Renata dengan nada suara yang dipenuhi kecemasan mendalam.
Tangannya yang dingin menyentuh lengan jas kanan Adrian. Melalui indra perabanya, Renata bisa merasakan kain jas itu mulai terasa basah dan hangat. Ia tahu, gerakan brutal Adrian saat menghadapi anak buah Victor tadi telah merobek paksa jahitan medis di bahunya, membuat darah segar kembali merembes keluar.
"Aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil. Fokuslah pada keselamatan dirimu sendiri, Renata!" sahut Adrian tegas, matanya sedikit pun tidak berkedip.
Pria itu mengintip dengan sangat hati-hati dari balik celah kontainer besi, memantau pergerakan pasukan taktis bentukan Baskara yang kini mulai merangsek masuk. Pasukan khusus itu bergerak dalam formasi huruf V, melepaskan tembakan balasan yang terukur dan secara perlahan mulai menekan mundur barisan anak buah Victor Wijaya.
DOR! DOR! BAM!
Dua peluru tajam kembali menghantam dinding kontainer tempat mereka berlindung, menimbulkan suara dentangan besi yang memekakkan telinga dan menyisakan lubang menganga yang berasap. Renata tersentak, instingnya membuat ia memeluk tubuh Adrian lebih erat. Mereka berdua bisa merasakan getaran hebat pada besi kontainer tersebut.
Di atas balkon besi lantai dua yang remang-remang, Victor Wijaya berdiri dengan wajah yang distorsi oleh kemarahan dan kepanikan yang luar biasa. Rencana matangnya untuk menghabisi Adrian dan Renata dalam kesunyian malam telah gagal total karena sabotase EMP tadi. Ia melihat satu per satu anak buah setianya mulai bertumbangan di lantai semen, dilumpuhkan oleh peluru-peluru akurat dari tim taktis kepolisian.
"Kalian semua tidak akan bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup!" teriah Victor dengan suara serak yang melengking histeris di tengah kegaduhan gudang. "Adrian! Kamu pikir kamu sudah menang?! Runtuhnya Dirgantara Group sudah di depan mata! Aku akan memastikan kalian ikut hancur bersamaku!"
Namun, meskipun mulutnya meneriakkan ancaman maut, tindakan Victor justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Pria tua yang licik itu menyadari bahwa posisinya sudah benar-benar terdesak dan tidak ada harapan lagi untuk memenangkan pertempuran terbuka ini. Dengan gerakan mengendap-endap, ia mundur perlahan ke belakang, meninggalkan anak buahnya yang sedang sekarat sebagai umpan pengalih perhatian.
Victor bergerak menuju sebuah pintu darurat kecil di sudut belakang balkon lantai dua. Pintu besi tua itu terhubung langsung dengan sebuah tangga luar yang mengarah ke dermaga pribadi tersembunyi di balik gudang, tempat sebuah kapal pesiar cepat (yacht) miliknya sudah bersiap dengan mesin yang terus menyala sejak sore. Victor berniat melarikan diri, membawa seluruh paspor palsu dan sisa berlian selundupan yang ia simpan di dalam saku jasnya untuk memulai hidup baru di luar negeri.
Renata, yang sejak awal tidak pernah melepaskan fokusnya dari sosok pria yang telah menghancurkan hidup kakaknya, melihat pergerakan mencurigakan tersebut dari balik kegelapan. Kilatan jas hitam Victor yang terkena sedikit pantulan cahaya lampu darurat tidak bisa menipu mata tajam Renata.
"Adrian! Lihat ke atas balkon!" seru Renata setengah berteriak sambil menunjuk ke arah sudut atas ruangan. "Victor tidak sedang bersiap menembak kita! Dia mencoba lari lewat pintu darurat belakang yang menuju ke arah dermaga kapal!"
Mendengar ucapan Renata, pandangan Adrian langsung mengunci ke arah pintu besi yang mulai terbuka di atas sana. Rahangnya mengatup rapat, dan sepasang matanya memancarkan kilat berburu yang sangat mematikan. Ia tidak akan membiarkan dalang utama di balik penderitaan Renata dan kematian Maya lolos begitu saja dari jeratan hukum malam ini. Jika Victor berhasil naik ke atas kapalnya, melacaknya di laut internasional akan memakan waktu berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun.
"Baskara! Amankan posisi Nyonya sekarang juga!" teriak Adrian dengan suara baritonnya yang menggelegar, memberi komando kepada asisten kepercayaannya yang baru saja berhasil mendekati posisi mereka dengan senjata lengkap.
"Siap, Tuan Besar! Serahkan Nyonya Renata kepada saya!" jawab Baskara sigap, langsung mengambil posisi berlutut di depan Renata dengan senjata siaga, membentuk baris pertahanan baru.
Adrian melepaskan cengkeramannya pada tubuh Renata. Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia memutar tubuhnya dan berlari kencang menerobos koridor sempit di antara kontainer, mengabaikan rasa sakit yang membakar di bahu kanannya. Pria itu bergerak seperti badai hitam, melompati puing-puing kaca dan rongsokan besi, mengejar sang kepala ular yang mencoba meloloskan diri ke kegelapan malam dermaga.