NovelToon NovelToon
Gairah Suami Kakakku

Gairah Suami Kakakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Sindrom Kurang Perhatian

Sindrom Kurang Perhatian

​Aku melangkah masuk ke rumah dengan perasaan yang luar biasa berantakan. Harusnya aku merasa menang karena sudah berhasil mengirimkan video provokasi itu pada Gavin, tapi kenyataannya? Hening. Tidak ada serangan balik. Tidak ada Gavin yang menungguku di depan pintu dengan mata merah dan tangan yang siap mencengkeram rahangku.

​Rumah itu sepi. Hanya ada suara detak jam dinding yang seolah menertawakan kegagalanku.

​"Sialan!" umpatku sambil melempar tas ke sofa. "Gavin benar-benar sudah mati rasa atau gimana sih?"

​Aku naik ke lantai atas, melewati kamar Mbak Siska. Pintunya sedikit terbuka. Aku mengintip ke dalam. Di sana, Gavin sedang duduk di tepi tempat tidur, membelakangi pintu. Dia sedang mengompres dahi Mbak Siska dengan sangat telaten. Gerakannya begitu lembut, seolah Mbak Siska adalah porselen retak yang akan hancur jika disentuh kasar.

​Gavin tahu aku ada di sana. Aku bisa melihat pundaknya sedikit menegang, tapi dia tidak menoleh. Sedikit pun tidak.

​"Baru pulang?" tanyanya datar, suaranya sangat rendah.

​"Iya," jawabku singkat, sengaja berdiri di ambang pintu agar dia bisa melihat gaun backless-ku yang berantakan. "Mas nggak mau tanya aku habis dari mana?"

​"Aku sudah lihat videonya, Arum. Dan aku sudah bilang, jangan jadi murahan," Gavin memeras handuk kecil, lalu meletakkannya kembali ke dahi Siska. "Sekarang masuk kamar, mandi, dan hapus bau parfum pria itu dari tubuhmu. Baunya membuatku mual."

​Hanya itu? Mual? Aku merasa harga diriku diinjak-injak lebih parah daripada jika dia memukulku. Aku menghentakkan kaki dan masuk ke kamarku, membanting pintu dengan keras. Aku ingin berteriak!

​Esok Harinya - Kantin Kampus

​"Gila, itu muka atau cucian belum kering? Kusut amat, Rum," celetuk Bella sambil menyeruput es teh manisnya dengan bunyi nyaring.

​"Diem lo, Bel. Gue lagi nggak mood," sahutku sambil mengaduk-aduk bakso yang sudah dingin tanpa niat memakannya.

​Tiara mencondongkan tubuh, matanya yang besar menatapku penuh selidik. "Ini pasti gara-gara video 'panas-panas kuku' semalem kan? Gimana? Si CEO ganteng itu ngamuk nggak? Dia nyeret lo ke hotel terus 'menghukum' lo nggak?"

​Aku mendengus kasar. "Nghukum apaannya? Dia cuma bilang bau parfum Raka bikin dia mual. Terus dia lanjut ngurus Mbak Siska seolah-olah gue ini cuma pajangan pot bunga yang layu."

​Bella dan Tiara spontan tertawa terbahak-bahak sampai orang-orang di kantin menoleh.

​"Mampus! Arum kena ghosting sama kakak ipar sendiri!" Bella tertawa sampai memegang perut. "Aduh, Rum... lagian lo nekat banget sih. Orang lagi jaga bini sakit dikasih video begituan. Ya jelas dia milih pahala lah daripada dosa."

​"Tapi gue nggak tahan dicuekin, Bel! Rasanya kayak gue ini nggak ada harganya!" seruku frustrasi.

​"Ya emang itu tujuan dia, Arum sayang..." Tiara menepuk-nepuk tanganku seperti menenangkan anak kecil. "Gavin itu predator level pro. Dia tau kalau dia ngejar lo, lo bakal lari. Makanya dia diem, dia cuekin lo sampai lo sendiri yang 'gila' dan nyariin dia. Dan liat sekarang? Lo udah kayak cacing kepanasan kan?"

​"Sumpah ya, si Gavin itu psikologinya main banget," tambah Bella. "Dia tuh lagi ngetes seberapa jauh lo bisa 'menggila' buat dapetin perhatian dia. Eh, tapi gimana nasib si Raka? Kasihan banget tuh anak, cuma jadi pemeran pengganti yang nggak dapet honor."

​Baru saja nama itu disebut, sosok Raka muncul dari balik kerumunan mahasiswa. Dia membawa sebungkus cokelat dan senyum yang menurutku sekarang terasa sangat "hambar".

​"Pagi, Rum. Pagi, Girls," sapa Raka. Dia duduk di sebelahku, mencoba bersikap romantis dengan merangkul bahuku.

​Aku refleks menjauhkan bahuku, membuat tangan Raka menggantung di udara.

​"Kenapa, Rum? Masih pusing yang semalem?" tanya Raka lembut, tangannya mencoba mengusap pipiku. "Sori ya semalem nggak sampai selesai, gue—"

​"Jangan bahas semalem bisa nggak sih, Rak?" potongku ketus. "Gue lagi pusing. Jangan deket-deket dulu, bau parfum lo bikin gue mual."

​Raka tertegun. Wajahnya langsung berubah layu. "Lho, kemarin katanya suka parfum ini?"

​"Itu kemarin! Hari ini beda!" semprotku.

​Bella dan Tiara saling lirik, lalu menutup mulut menahan tawa. "Aduh, Rak... mending lo mundur dulu deh. Ini macan betina lagi PMS (Pusing Mikirin Suami-orang)," bisik Bella yang masih bisa kudengar.

​"Rum, gue cuma mau..." Raka mencoba mendekatkan wajahnya, berniat mencium keningku sebagai tanda perhatian.

​"STOP! Jangan cium-cium!" aku berdiri sampai kursinya berderit nyaring. "Gue bukan objek yang bisa lo cium sembarangan ya, Rak! Pergi sana, gue mau sendiri!"

​Raka mematung, wajahnya merah padam karena malu dilihat orang seisi kantin. Tanpa sepatah kata pun, dia berbalik dan pergi dengan langkah cepat.

​"Wuidih, galak bener!" Tiara geleng-geleng kepala. "Kasian tauk si Raka. Dia nggak salah apa-apa, yang salah kan selera lo yang terlalu tinggi ke CEO psikopat itu."

​"Tau ah! Gue mau balik!" aku menyambar tas dan meninggalkan mereka berdua yang masih sibuk bergosip.

​Pukul 22.00 - Rumah

​Aku sengaja tidak langsung tidur. Aku memakai piyama satin tipis warna merah hati—yang sangat kontras dengan kulitku—dan duduk di ruang makan, pura-pura minum air dingin. Aku tahu Gavin baru saja pulang dari apotek.

​Langkah kaki berat itu terdengar. Gavin masuk, masih memakai kemeja kantor yang sudah kusut, tapi karismanya tetap tidak luntur. Dia meletakkan kantong obat di meja, tepat di depanku.

​Dia melihatku. Dia melihat piyama tipis yang memperlihatkan lekuk tubuhku dengan jelas di bawah lampu remang-ruang makan.

​Aku menatapnya menantang. Aku sengaja membiarkan satu tali piyamaku turun sedikit dari bahu. "Mas baru balik?"

​Gavin berhenti. Dia menatap bahuku yang terbuka selama beberapa detik. Matanya menggelap, ada kilatan api yang sangat kukenali muncul di sana. Tangannya yang memegang pinggiran meja tampak bergetar menahan sesuatu.

​Ayo, Gavin. Marah. Paksa aku. Tarik aku, batinku menjerit.

​Gavin menarik napas panjang. Dia memejamkan mata sejenak, lalu membuang muka. "Pakai pakaian yang benar, Arum. Di rumah ini ada orang sakit. Jangan memancing keributan yang tidak perlu."

​Dia kemudian berjalan melewatiku begitu saja menuju lantai atas.

​"MAS GAVIN!" teriakku frustrasi.

​Gavin berhenti di anak tangga pertama, tapi tetap tidak menoleh. "Apa lagi?"

​"Sampai kapan Mas mau pura-pura jadi orang suci begini? Mas pikir aku nggak tahu kalau Mas tersiksa liat video semalam? Mas pikir aku nggak tahu kalau Mas pengen banget narik aku sekarang?" aku berjalan mendekatinya, berdiri tepat di belakang punggungnya. "Tatap aku, Mas! Lihat aku!"

​Gavin berbalik perlahan. Wajahnya sangat dingin, tapi napasnya memburu. "Kamu mau aku lihat apa, Arum? Mau aku lihat betapa putus asanya kamu mencari perhatian pria yang bahkan tidak bisa menyentuhmu karena harus menjaga kakakkmu?"

​"Aku nggak putus asa!"

​"Ya, kamu putus asa," Gavin melangkah turun satu anak tangga, membuat posisi wajah kami sejajar. Dia mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Video semalam... aku tahu kamu melakukannya hanya untuk membuatku marah. Dan itu berhasil. Aku marah. Aku sangat marah sampai aku ingin menghancurkan mobil itu dengan kamu di dalamnya."

​Aku tersenyum tipis. "Terus kenapa Mas diem aja?"

​"Karena aku bukan pengecut seperti Raka yang bisa kamu permainkan," bisik Gavin, suaranya kini kembali serak dan berbahaya. "Aku sedang menunggu, Arum. Aku menunggu sampai kamu benar-benar menyerah pada rasa hausmu sendiri. Dan saat saat itu tiba... aku tidak akan memberimu kelembutan seperti yang Raka berikan."

​Gavin mengulurkan tangannya, jarinya mengusap tanda merah baru di leherku yang dibuat Raka semalam. Dia menekannya dengan cukup keras hingga aku merintih pelan.

​"Hapus tanda ini besok pagi. Dan jangan biarkan dia menyentuhmu lagi, atau aku akan memastikan dia tidak akan pernah bisa melihat matahari lagi," Gavin melepaskan tangannya dengan kasar. "Sekarang masuk kamar. Jangan keluar sampai besok pagi."

​Dia naik ke atas tanpa menoleh lagi.

​Aku berdiri mematung di tangga, menyentuh leherku yang masih terasa sakit karena tekanannya. Jantungku berpacu liar. Dia masih ada di sana. Predator itu masih ada di sana, hanya sedang bersembunyi di balik topeng kesetiaannya.

​"Gue bakal bikin lo lepas kendali, Mas. Liat aja nanti," gumamku sambil tersenyum licik di tengah kegelapan rumah.

1
gendiz
aseek, makasih ya, Akhirnya Arumi ada yang mau kawal juga 😊
Moms Shinbi
q kawal sampai semua happy end thor
Moms Shinbi
cerita akhirnya siska end so pasti.psangn selingkuh happy dong..


jngan y thor
gendiz: hmmm belum tentu🤭, lihat bab selanjutnya, sudah up tapi belum lolos review nih kayaknya, jadi belum bisa terbit
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!