Satu komentar mengubah hidup Dr. Briella Zamora dalam semalam.
Berniat menghancurkan reputasi mantan kekasihnya, Lexington Valerio—Briella justru terjebak dalam skandal yang mengancam Dirinya Sendiri.
"Kau tahu apa yang paling lucu, Lex? Aku menghabiskan waktu untuk memperbaiki wajah orang lain agar terlihat sempurna, hanya agar aku bisa melupakan betapa hancurnya aku karena pria sepertimu."
"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora."—Lexington Valerio.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26
Langkah kaki Lexington terdengar terburu-buru di lorong Zamora Beautiful Clinic. Jasnya tersampir di lengan, dasinya sudah dilonggarkan sejak di mobil, dan wajahnya menunjukkan kecemasan yang luar biasa—atau setidaknya, itulah yang ia tunjukkan pada dunia.
Di belakangnya, Hadiyan mengikuti dengan napas pendek, merasa bersalah sekaligus bingung dengan kecepatan langkah bosnya.
Lexington membanting pintu ruang praktik Briella dengan napas memburu. "Bri! Sayang, apa kau terluka?"
Di dalam ruangan, Briella Zamora duduk di kursi kerjanya dengan ekspresi yang sangat dramatis. Ia memegang pergelangan kakinya, wajahnya ditekuk sedemikian rupa seolah-olah ia baru saja selamat dari kecelakaan maut.
Belle berdiri di sampingnya, menahan tawa dengan cara berpura-pura sibuk memeriksa tumpukan kasa.
"Lex... kakiku sakit sekali," gumam Briella dengan suara yang dibuat serak. "Botol vitamin itu... dia jatuh tepat saat aku hendak mengambilnya. Aku rasa aku butuh rontgen, atau mungkin kompres es selama dua puluh empat jam penuh."
Lexington terdiam di ambang pintu. Matanya yang tajam mulai memindai ruangan. Ia melihat sebuah botol vitamin plastik kecil tergeletak tak berdaya di lantai marmer. Ia menatap kaki Briella yang masih terbalut sepatu flat yang kokoh.
Sebagai seorang pria dengan logika tingkat tinggi, Lexington tahu ada yang ganjil. Bagaimana mungkin sebuah botol vitamin plastik seberat lima puluh gram bisa melukai kaki yang terluka di balik sepatu kulit?
Drama, batin Lexington. Ia tersenyum tipis, hampir tak kentara. Ia tahu istrinya adalah ratu drama jika sudah menyangkut perhatian. Mungkin dia ingin tas koleksi terbatas lagi, atau mungkin dia ingin memprotes jadwal padat Lexington minggu ini dengan cara yang paling merepotkan.
"Aku bisa awet muda kalau setiap hari harus menghadapi tingkahmu seperti ini," gumam Lexington dalam hati. Ia memutuskan untuk mengikuti permainan ini.
Baginya, kemanjaan Briella adalah hiburan terbaik setelah menghadapi polusi visual dari Catalonia Vera West di kampus tadi.
"Kasihan sekali istriku," ucap Lexington, melangkah mendekat dengan nada suara yang sengaja dilembutkan. Ia berlutut di depan Briella, memegang kaki istrinya dengan lembut. "Apa kau perlu aku membawamu ke rumah sakit pusat?"
"Tidak perlu, Lex. Aku hanya butuh kau di sini," Briella mengerucutkan bibirnya, memberikan tatapan paling melas yang ia miliki. "Tapi aku ingin ke kamar mandi dulu, bersihkan sedikit debu di kakiku. Bisakah kau membantuku?"
Belum sempat Lexington mengangkat tubuh istrinya, Briella tiba-tiba menahan dada suaminya. Jarinya menunjuk ke arah nakas di samping rak buku yang penuh dengan berkas medis.
"Tapi sebelum itu, Honey... lihat botol vitamin yang jahat itu. Dia tadi menyakitiku di sana. Kau tidak mau memarahinya?" tanya Briella dengan nada menuntut yang kocak.
Hadiyan yang berdiri di belakang Lexington langsung memutar bola matanya ke langit-langit. Ia merasa harga dirinya sebagai asisten elit jatuh ke titik terendah. "Ini gila... Profesor Valerio harus membatalkan janji temu dengan investor hanya untuk memarahi sebuah botol plastik?" bisik Hadiyan pada Belle.
Belle hanya mengangkat bahu. "Nikmati saja, Hady. Ini adalah hiburan mahal."
Lexington tertawa rendah. "Baiklah, Sayang. Aku akan memberikan pelajaran pada botol itu."
Lexington berdiri, berjalan menuju nakas yang ditunjuk Briella. Posisinya kini membelakangi Briella. Ia pura-pura menatap botol itu dengan serius. "Dimana botolnya, Sayang? Aku tidak melihatnya di atas sini."
"Di sana! Di belakang buku riset itu!" seru Briella.
Saat Lexington sedikit membungkuk untuk mencari, Briella bangkit dari kursinya dengan kecepatan yang sama sekali tidak menunjukkan orang yang terluka.
Ia mendekati punggung Lexington, jantungnya berdegup kencang. Ia sudah menyiapkan empat alat tes kehamilan di tangannya—semuanya menunjukkan dua garis merah yang sangat jelas.
"Di sini, Lex!" ucap Briella setengah berteriak.
Lexington membalikkan badannya dengan cepat. Namun, gerakan tubuhnya mendadak terkunci. Matanya yang biasanya menatap dunia dengan dingin kini terpaku pada empat benda plastik kecil yang disodorkan tepat di depan wajahnya.
Hening.
Lexington terdiam seribu bahasa. Di dalam kepalanya, ia teringat bagaimana tadi di kampus ia menggunakan kata "istriku hamil" hanya untuk mengusir Late Vera. Itu adalah sebuah kebohongan fungsional untuk melindungi pernikahannya. Tapi sekarang... benda di tangan Briella mengatakan bahwa kebohongannya telah menjadi kenyataan bahkan sebelum ia sempat menyadarinya.
Honey... aku sangat mencintaimu! Teriak Lexington dalam hatinya. Ia ingin sekali segera mengangkat tubuh Briella dan berputar-putar di ruangan itu. Namun, sisi jahatnya muncul. Ia teringat bagaimana istrinya sudah mengerjainya dengan drama "kaki terluka" yang membuatnya panik di jalan tadi.
Lexington mengatur mimik wajahnya menjadi datar, bahkan sedikit kaku. Ia tidak memberikan reaksi bahagia yang diharapkan.
Belle yang mengintip dari samping terkejut. "Apa dia tidak bahagia? Lihat wajahnya, seperti melihat hantu," bisik Belle khawatir.
Hadiyan sendiri membeku. Ternyata ucapannya pada Late Vera tadi menjadi kenyataan secepat ini? batinnya takjub.
Briella yang menunggu reaksi suaminya mulai merasa tidak nyaman.
Senyumnya perlahan memudar, digantikan oleh kerutan di dahi. Ia sudah menyiapkan skenario Lexington akan menangis atau memeluknya erat, tapi pria di depannya ini hanya diam menatap alat tes itu seolah-olah itu adalah komponen mesin yang rusak.
"Kau... kau tidak bahagia dengan kejutan ini, Lex?" bisik Briella, suaranya mulai bergetar. Ia benci jika suaminya tidak menunjukkan respons. "Apa ini bukan waktu yang tepat?"
Lexington berdehem, menatap mata Briella dengan tatapan bertanya yang sangat menyebalkan. "Honey... kenapa kau bisa hamil?"
Deg.
Dunia Briella seolah berhenti berputar. Pertanyaan itu terasa seperti remasan di jantungnya. Ia merasa ingin tenggelam ke dasar bumi. Bukankah mereka melakukannya hampir setiap malam? Bagaimana bisa pria jenius ini bertanya "kenapa"?
"Kenapa bisa hamil?" ulang Briella dengan nada tinggi yang mulai pecah.
Bugh!
Satu pukulan mendarat di dada bidang Lexington. Briella memukulnya dengan kesal, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Aku hamil karena kau setiap malam selalu memintanya, Brengsek! Kau gila ya? Kau pikir ini hasil perbuatan siapa kalau bukan ulahmu yang tidak pernah puas itu!" teriak Briella frustrasi. "Kau minta ronde pertama, ronde kedua, bahkan saat aku sudah mengantuk kau tetap tidak mau berhenti! Dan sekarang kau tanya kenapa aku hamil?!"
Lexington tetap mempertahankan mimik wajah datarnya, namun matanya berkilat penuh kemenangan. Inilah yang ia rindukan. Ia sangat suka melihat Briella yang mengumpat dengan bibir bervolumenya yang mengerucut seperti itu. Baginya, itu adalah pemandangan paling sempurna di dunia.
Ingin rasanya Lexington langsung menyambar dan memagut habis bibir istrinya yang sedang marah-marah itu, namun ia menahannya sebentar lagi. Ia ingin menikmati bagaimana "si ceroboh" ini meledak karena cinta dan kekesalan padanya.
"Jadi... ini bukan karena botol vitamin tadi?" goda Lexington, akhirnya sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya.
Briella tertegun, lalu menyadari bahwa ia baru saja dikerjai balik. "LEXINGTON VALERIO! KAU MENGERJAIKU?!"
Lexington tertawa lepas, tawa paling tulus yang pernah didengar Hadiyan selama Bertahun-tahun bekerja bersamanya.
Ia langsung menyambar pinggang Briella, mengangkatnya tinggi-tinggi hingga kaki Briella menggantung di udara.
"Tentu saja aku bahagia, Sayang. Sangat bahagia hingga aku merasa bisa terbang sekarang," bisik Lexington di depan wajah Briella. "Terima kasih atas kejutan gilamu. Dan terima kasih... karena telah memberikan pewaris Valerio untuk ku."
Hadiyan dan Belle akhirnya bisa bernapas lega. Di tengah ruangan yang penuh dengan peralatan medis itu, sebuah babak baru dalam kehidupan dua orang yang penuh ego ini resmi dimulai. Bukan lagi soal perpisahan lima tahun, tapi soal masa depan yang kini mulai terbentuk dalam rahim Briella.
"Tapi Lex," ucap Briella sambil memeluk leher suaminya erat.
"Ya, Honey?"
"Jangan harap aku akan berhenti membelanjakan uangmu untuk tas, hanya karena aku sedang hamil," ancam Briella.
Lexington mencium kening istrinya lama. "Belilah seluruh toko tas itu jika kau mau, asalkan kau tetap di sampingku. Selamanya."