Ini adalah cerita Gao Rui, murid sekte terkuat yang sekaligus salah satu pemilik Kelompok Dagang Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan paling berkembang di Kekaisaran Zhou...
Simak petualangannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meninggalkan Sekte
Gao Rui menelan ludah pelan. Untuk sesaat dadanya sempat menegang.
Dalam benaknya, berbagai kemungkinan langsung bermunculan. Ia bahkan sudah membayangkan Tetua Agung datang pagi-pagi begini untuk menghentikan keberangkatannya. Bagaimanapun juga, ia memang belum sempat meminta izin secara langsung.
Bocah itu menunduk sedikit.
“Maaf, Tetua Agung… aku..”
Namun Xu Qung mengangkat tangan memotong ucapannya.
“Sudah,” kata pria tua itu datar. “Tak perlu menjelaskan panjang lebar.”
Gao Rui terdiam. Ia mengangkat wajah perlahan. Tatapannya penuh kebingungan.
Xu Qung menatapnya cukup lama. Sorot matanya yang biasanya tegas, pagi itu justru tampak sedikit lebih lembut.
“Karena kau sudah memutuskan pergi…” ujar Xu Qung pelan, “maka pergilah.”
Gao Rui membeku.
Xu Qung melangkah mendekat beberapa langkah. Jubahnya berkibar pelan tertiup angin gunung.
“Dalam perjalanan nanti, berhati-hatilah. Dunia luar tidak seperti sekte ini. Di luar sana, tak semua orang akan memandangmu dengan niat baik.”
Nada suaranya tenang. Namun setiap katanya terasa berat, penuh kepedulian yang tulus.
“Aku hanya berharap…” Xu Qung melanjutkan, “…setelah urusanmu selesai, kau bisa kembali ke Sekte Bukit Bintang dalam keadaan selamat.”
Untuk sesaat, Gao Rui hanya bisa diam. Ia tak menyangka. Ia sungguh tak menyangka Tetua Agung akan berkata seperti itu. Hatinya terasa hangat.
Xu Qung lalu menoleh ke arah Lan Suya. Tatapannya berubah sedikit tajam seperti seorang kakak yang sedang memperingatkan adik perempuannya.
“Dan kau,” katanya.
Lan Suya mengangkat alis tipis. Sudut bibirnya masih dihiasi senyum kecil.
“Apa?”
Xu Qung mendengus pelan.
“Jaga Rui’er baik-baik.”
Lan Suya terkekeh kecil.
“Kenapa kau bicara seolah aku akan menyeretnya ke sarang harimau?”
Xu Qung menatapnya datar.
“Kalau sampai terjadi sesuatu pada bocah ini…”
Ia berhenti sejenak. Tatapannya sedikit mengarah ke langi seolah mengingat sosok tertentu.
“…mungkin gurunya akan turun gunung… lalu menghancurkan Sekte Bukit Bintang hanya untuk melampiaskan amarah.”
Kalimat itu membuat Gao Rui sedikit tertegun. Namun Lan Suya justru tertawa kecil. Tawanya ringan seperti lonceng perak tertiup angin.
“Tenang saja,” katanya santai. “Aku lebih sayang nyawaku sendiri daripada membuat orang itu marah.”
Xu Qung mendecih pelan. Meski wajahnya tetap datar, jelas ia tak benar-benar marah.
Melihat interaksi keduanya Gao Rui akhirnya memahami sesuatu. Ia menatap Lan Suya. Wanita itu sedang tersenyum santai, seolah semua ini hal biasa. Ternyata Lan Suya sudah mengurus semuanya sejak awal. Ia bahkan sudah meminta izin untuknya.
Gao Rui merasakan dadanya sedikit menghangat. Entah kenapa perasaan gugupnya sejak pagi perlahan menghilang. Lan Suya lalu menoleh ke arahnya. Matanya berbinar penuh semangat.
“Sudah cukup berpamitan?” tanyanya ringan. “Kalau begitu… ayo bersiap berangkat.”
Gao Rui mengangguk mantap.
“Baik.”
Ia lalu menarik napas panjang. Tubuhnya sedikit merendah. Kedua kaki diregangkan pelan. Pergelangan kaki diputar. Bahu digerakkan. Ia bahkan memutar lehernya perlahan.
Lan Suya yang melihat itu langsung mengernyit.
“Apa yang kau lakukan?”
Gao Rui berhenti sesaat. Ia menoleh dengan wajah polos.
“Pemanasan.”
Lan Suya berkedip.
“Pemanasan?”
Gao Rui mengangguk seolah itu hal paling wajar di dunia.
“Perjalanan ke ibu kota pasti jauh. Kalau langsung berlari tanpa pemanasan, kakiku bisa pegal.”
Hening. Angin pagi berembus pelan.
Xu Qung memejamkan mata sesaat lalu menahan diri agar tidak tertawa. Sementara Lan Suya menatap Gao Rui dengan ekspresi aneh antara bingung dan tidak percaya.
“Berlari?” ulangnya.
Gao Rui menatapnya balik.
“Bukankah kita akan turun gunung lalu menempuh jalan besar? Jarak ke ibu kota sangat jauh, jadi aku berpikir lebih baik mulai dari sekarang.”
Lan Suya terdiam beberapa detik. Lalu perlahan ia mengangkat tangan menunjuk ke arah timur. Gao Rui mengikuti arah telunjuknya. Dan seketika matanya terbelalak lebar.
Di sisi timur dataran lapang ternyata sudah berjajar dua kereta kuda besar yang tampak mewah namun kokoh. Tubuh kereta dihiasi lambang Kelompok Dagang Harta Langit yang berkilau di bawah cahaya pagi.
Di depan kereta, beberapa kuda berbadan tegap sedang mengembuskan napas berat. Bulu mereka mengilap. Tali kekang dan pelananya jelas bukan perlengkapan biasa.
Di sekelilingnya belasan pengawal pilihan berdiri tegak. Aura mereka tenang namun tajam. Jelas bukan orang sembarangan.
Lan Suya menatap Gao Rui lalu tersenyum tipis, penuh geli.
“Rui’er…” katanya pelan. “Apa kau tega membiarkanku berlari kepanasan?”
Wajah Gao Rui langsung membeku. Tatapannya berpindah dari kereta ke Lan Suya lalu kembali ke kereta. Sesaat kemudian telinganya perlahan memerah. Untuk pertama kalinya pagi itu, wajah tenangnya retak oleh rasa malu yang nyata.
Gao Rui berdehem pelan. Ia menggaruk pipinya yang mulai memanas lalu menunduk sedikit, berusaha menyembunyikan rasa malunya.
Lan Suya hanya tersenyum tipis. Tatapannya mengandung sedikit godaan namun ia tidak melanjutkan ejekannya. Sebaliknya ia justru melangkah mendekat.
“Rui’er,” katanya santai, “tunggu di sini sebentar.”
Gao Rui mengangkat kepala.
“Hm?”
“Aku harus mengurus sesuatu dulu.”
Tanpa menunggu jawaban, Lan Suya sudah berbalik. Pakaiannya berkibar ringan saat ia berjalan menuju kereta kuda di kejauhan. Langkahnya anggun namun cepat. Beberapa pengawal langsung menunduk hormat saat ia mendekat, lalu mulai bergerak mengikuti instruksinya.
Gao Rui hanya bisa memperhatikan dari tempatnya berdiri.
Di sisi lain, Xu Qung yang sedari tadi diam, perlahan melangkah mendekat. Tangan tuanya terangkat lalu menepuk pundak Gao Rui dengan pelan. Tepukan itu ringan namun terasa mantap.
“Bersabarlah,” ujar Xu Qung tenang.
Gao Rui menoleh.
“Tetua Agung?”
Xu Qung menatap ke arah Lan Suya yang sedang sibuk di kejauhan. Sorot matanya dalam seolah sedang mengingat sesuatu dari masa lalu.
“Perjalananmu dengan perempuan itu…” katanya perlahan, “…tidak akan tenang.”
Gao Rui mengedip.
“Tidak tenang?”
Xu Qung mendengus pelan.
“Akan penuh drama.”
Gao Rui terdiam.
Xu Qung melipat kedua tangannya di belakang punggung. Angin gunung kembali berembus mengibaskan jubahnya.
“Aku sudah mengenalnya sejak lama,” lanjutnya. “Lan Suya itu… penuh akal. Cerdik. Sering kali… terlalu cerdik.”
Nada suaranya datar. Namun jelas ada sedikit rasa tak berdaya di dalamnya.
“Ia manipulatif,” tambahnya tanpa ragu. “Suka memainkan situasi… dan kerap melakukan hal-hal yang tak terduga.”
Gao Rui menelan ludah pelan. Bayangan tentang kejadian-kejadian barusan langsung terlintas di benaknya. Cara Lan Suya sudah mengatur semuanya sejak awal bahkan sampai urusan izin.
Xu Qung meliriknya sekilas lalu melanjutkan.
“Tapi…”
Ia berhenti sejenak.
“Dia orang yang baik.”
Gao Rui sedikit terkejut.
Xu Qung menatap lurus ke depan.
“Dunia ini tidak hanya membutuhkan orang lurus seperti dirimu,” katanya pelan. “Kelompok aliran putih netral… juga membutuhkan orang-orang seperti dia.”
“Orang yang berani mengambil langkah di area abu-abu… demi menjaga keseimbangan.”
Gao Rui terdiam cukup lama. Ia kembali menatap ke arah Lan Suya. Wanita itu sedang berbicara dengan salah satu pengawal. Ekspresinya serius, berbeda jauh dari sikap santainya tadi.
Bocah itu menghela napas pelan.
“Baik,” katanya akhirnya.
Ia mengangguk kecil.
Xu Qung tidak berkata apa-apa lagi. Namun dari sudut matanya… tampak sedikit rasa lega.
Tiba-tiba…
“Rui’er!”
Suara nyaring memecah udara pagi.
Gao Rui dan Xu Qung sama-sama menoleh. Di kejauhan, Lan Suya berdiri di samping kereta. Tangannya melambai-lambai dengan santai.
“Semua sudah siap! Ayo ke sini!”
Gao Rui berkedip lalu tersenyum tipis. Ia segera berbalik menghadap Xu Qung. Kedua tangannya dirapatkan di depan dada. Tubuhnya sedikit membungkuk dalam.
“Terima kasih atas bimbingannya, Tetua Agung,” ucapnya hormat. “Aku mohon pamit.”
Xu Qung menatapnya beberapa saat. Lalu ia mengangguk pelan.
“Pergilah.”
Hanya satu kata namun cukup.
Gao Rui menarik napas dalam lalu berbalik. Langkahnya mantap saat ia mulai berjalan menuju kereta kuda menuju perjalanan panjang yang belum ia ketahui bagaimana akhirnya.
Sementara di belakangnya Xu Qung tetap berdiri di tempat. Tatapannya mengikuti punggung bocah itu yang semakin menjauh.
Angin gunung berembus pelan. Untuk sesaat pria tua itu hanya bisa menghela napas dalam-dalam.