Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.
Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.
Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.
Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.
Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.
Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?
Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
Kantin utama Fakultas Hukum siang itu tampak seperti lautan manusia yang kelaparan.
Aroma kopi yang pekat bercampur dengan wangi pasta dan bising percakapan ratusan mahasiswa yang sedang memperdebatkan tugas atau sekadar bergosip.
Di sudut paling belakang, dekat jendela besar yang menghadap ke taman kampus, Kensington Valerio duduk santai bersama Marco.
Kensington hanya memesan segelas double espresso tanpa gula, sementara Marco sedang asyik menghabiskan seporsi besar nasi campur. Di samping Kensington, terdapat satu kursi kosong, dan meja mereka yang luas masih menyisakan banyak ruang.
"Kau lihat anak-anak hukum tingkat satu itu?" Marco menunjuk dengan dagunya ke arah sekumpulan mahasiswa yang tampak tegang. "Mereka menatapmu seolah kau adalah legenda urban yang baru bangkit dari kubur."
Kensington hanya mendengus, matanya menatap kerumunan dengan bosan. Namun, pandangannya terhenti pada sesosok wanita yang tampak kebingungan di tengah kantin.
Vera berdiri di sana, memegang nampan berisi salad buah dan sebotol air mineral.
Wajahnya yang biasanya kaku kini tampak sedikit gelisah. Ia memindai seluruh penjuru kantin, namun setiap meja sudah penuh terisi. Beberapa mahasiswa laki-laki mencoba memanggilnya untuk duduk bersama, namun Vera hanya membalas dengan gelengan kepala dingin. Ia tidak ingin duduk dengan sembarang orang.
Langkah kakinya kemudian membawanya ke sudut belakang—satu-satunya area yang tersisa. Begitu ia menyadari siapa yang duduk di sana, langkahnya sempat tertahan. Namun, harga diri dan rasa lapar mengalahkan egonya.
Vera mendekat ke meja Kensington. "Kursi ini kosong?" tanyanya dengan nada formal, tanpa menatap mata Kensington.
Kensington hanya mengangkat bahu sebagai jawaban "ya" yang acuh tak acuh.
Vera menarik kursi itu dan duduk dengan gerakan yang sangat sopan. Ia meletakkan nampannya dengan rapi, lalu mulai membuka botol air mineralnya tanpa mengeluarkan suara. Keheningan yang canggung mulai menyelimuti meja itu, kontras dengan kebisingan di sekitar mereka.
Marco, yang memang tipe pria yang tidak bisa diam, menopang dagunya dan menatap Vera dengan senyum nakal. "Wah, lihat siapa yang bergabung. Si Lulusan Terbaik kita yang kesepian."
Vera mengabaikan Marco, ia mulai memakan saladnya dengan gerakan yang sangat mekanis.
"Kensington," panggil Marco dengan suara yang cukup keras agar terdengar oleh Vera. "Kenapa asisten cantik seperti dia tidak memiliki teman? Apa semua orang di kampus ini takut padanya, atau dia memang terlalu pilih-pilih untuk berteman dengan manusia biasa?"
Vera menghentikan gerakan garpunya. Ia mendongak, menatap Marco dengan tatapan tajam yang bisa membekukan air terjun. "Aku ke sini untuk makan, bukan untuk menjadi bahan wawancara atau objek pengamatanmu, Tuan..."
"Marco," sahut Marco cepat sambil mengedipkan mata.
Vera beralih menatap Kensington yang masih diam membisu, hanya menatap cangkir kopinya. Vera merasa kesal karena diabaikan begitu saja, padahal kemarin pria ini telah melakukan hal yang begitu pribadi padanya.
"Dasar manusia sampah," umpat Vera pelan, hampir berupa bisikan, namun cukup jelas untuk didengar oleh kedua pria di depannya.
Marco tertawa keras, merasa terhibur. Namun, Kensington perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang tajam bertemu dengan mata Vera.
"Sampah?" ulang Kensington dengan suara rendah yang berbahaya. Ia memajukan tubuhnya sedikit ke arah meja, memperpendek jarak di antara mereka.
"Setidaknya sampah bisa didaur ulang, Vera. Sedangkan orang yang terlalu kaku seperti kau... jika patah, kau tidak akan bisa diperbaiki lagi."
Vera terdiam, lidahnya mendadak kelu. Seringai tipis muncul di bibir Kensington sebelum ia berdiri dari kursinya.
"Habiskan saladmu, Vera. Jangan sampai gizi buruk membuat otak cerdasmu itu berhenti berfungsi," ucap Kensington sambil merapikan jaket kulitnya. "Ayo, Marco. Selera kopiku hilang karena aroma parfum yang terlalu formal di meja ini."
Kensington melangkah pergi tanpa menoleh lagi, diikuti oleh Marco yang masih tertawa kecil.
Vera ditinggalkan sendirian di meja itu, menatap sisa saladnya dengan perasaan yang campur aduk—marah, malu, dan sebuah debaran aneh yang kembali mengusik ketenangannya.
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭