Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.
Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?
Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB TIGA PULUH DUA
Awalnya, rencana itu sempurna, presisi, seperti kasus yang ia menangkan. Hardi Adi Soetomo menjadikan Maharani, si bintang yang tengah bersinar, sebagai simbol harga diri dan kesempurnaan keluarganya, mahkota yang harus dijaga. Rakha hanya perlu menjatuhkan Maharani ke lumpur terdalam-skandal, kehancuran karier, aib yang tak terpulihkan. Kehancuran Maharani sama dengan kematian perlahan bagi Hardi.
Namun, Maharani yang sekarang berada di kamarnya, yang polos, yang penuh mimpi tulus tentang seni, yang berjuang keras hanya untuk secuil keadilan-tidak sesuai dengan bayangan alat balas dendamnya. Rakha tidak melihat wajah angkuh Hardi di sana, melainkan wajah seorang gadis yang takut, rentan, dan tragisnya, tidak bersalah atas dosa ayahnya.
Aku ingin menghancurkan Hardi, tapi kenapa aku justru sibuk membangun kembali citra Maharani? Pertanyaan itu memukulnya seperti palu godam, menghancurkan logika dinginnya.
Rakha meraih laptop-nya. Jari-jarinya gemetar sedikit saat ia memasukkan kata sandi. Layar itu menampilkan berkas lama: Laporan Kepolisian tahun 1995, yang ia simpan di folder terenkripsi. Nama pelapor: Aira Adiwangsa Wiratama. Nama terlapor: Hardi Adi Soetomo. Status kasus: Dihentikan karena kurang bukti-berkat kekuatan uang dan koneksi Hardi.
Rasa panas menyebar di dadanya, membakar paru-parunya. Kekejian Hardi terhadap Aira yang berujung pada bunuh diri kakaknya adalah luka yang tak bisa disembuhkan. Maharani adalah satu-satunya jalan untuk membuat Hardi merasakan kehilangan yang sama, merasakan perih di jantungnya.
Namun, besok, ia akan membela Maharani di depan publik. Ia akan menjadikannya korban yang tangguh, pahlawan yang bangkit, mengembalikan semua harga dirinya yang direnggut Risyad-padahal kehancuran harga diri itulah yang ia inginkan. Ia bukan menghancurkan, ia justru sedang melindungi target utama balas dendamnya, memberinya shield terkuat di negeri ini.
Rakha meraih botol single malt Skotlandia, menuang isinya ke gelas kristal dengan gerakan yang terlalu cepat. Dingin, pahit, tapi tidak cukup untuk membekukan kekacauan dalam hatinya.
Ini bukan cinta, ia menegaskan, memaksa dirinya percaya. Ini adalah kendali. Aku harus melindunginya dari kehancuran kecil Risyad agar dialah yang akan menghancurkan ayahnya dari dalam yaitu Hardi, saat waktunya tiba.
Rakha tahu ia berbohong. Setiap tatapan lembut yang ia berikan, setiap croissant almond yang ia belikan, setiap sentuhan singkat di bahunya-semua itu adalah pengkhianatan terhadap sumpah Aira. Pengkhianatan terhadap dirinya yang berusia enam tahun.
Ia mematikan laptop-nya, layarnya menjadi gelap total, seperti tujuan yang mulai kabur. Rakha bangkit dari kursi, langkahnya tanpa suara di karpet tebal.
"Aku akan melindungimu, Hani," bisik Rakha keheningan, suaranya mengandung janji yang terdengar seperti ancaman di telinga sendiri. "Tapi jangan pernah lupa, kamu adalah kunci untuk kehancuran Soetomo. Jangan pernah membuatku harus memilih antara kamu dan dendamku."
***
Rakha meneguk single malt-nya yang terakhir, pikirannya masih dipenuhi konflik antara sumpah dendamnya dan perasaan yang bergejolak. Malam ini, penthouse ini adalah zona paling aman dan paling eksklusif di Jakarta; tidak ada satu pun staf yang diizinkan masuk setelah jam kerja, dan bahkan Aditya dilarang datang—suatu larangan keras yang Rakha buat untuk memastikan tidak ada mata lain yang melihat Maharani. Terutama, tidak ada mata yang boleh melihat Maharani dalam kondisi santai di rumahnya.
Tepat saat jarum jam menunjukkan tengah malam, telinga Rakha yang tajam menangkap suara pelan dari dapur.
Kring.
Suara dentingan es di gelas. Rakha langsung berdiri. Ia tidak perlu pistol malam ini --benda yang memang selalu menjadi temannya sejak menjadi pengacara--; ia tahu, penyusup itu pastilah Maharani. Namun, ketenangan Rakha runtuh saat membayangkan mengapa Maharani harus keluar dari kamarnya saat seluruh kota sedang tidur.
Ia melangkah turun dari lantai atas. Setiap langkahnya presisi, tanpa menghasilkan bunyi.
Ketika ia mencapai ambang ruang tengah, ia berhenti. Pemandangan di dapur island marmer putih itu membuat Rakha seketika membeku.
Maharani duduk di salah satu kursi bar yang tinggi. Ia menyilangkan kakinya dengan santai, tubuhnya dicahayai lampu LED lembut dari bawah island dapur. Ia memegang gelas tinggi berisi air es.
Pandangan Rakha terasa seperti tersambar petir lembut. Seluruh fokusnya terhisap oleh penampilan yang sangat tidak terduga di depannya. Setelan tidur satin berwarna soft peach itu membalut tubuh sang wanita dengan kemewahan yang mengundang, kontras tajam dengan situasi profesional yang seharusnya.
Bukan hanya bahannya yang tipis dan lembut yang menarik perhatiannya, tapi bagaimana pakaian itu dikenakan. Celana pendek yang longgar dan mengalir hanya menonjolkan lekuk kaki jenjang yang tersingkap, namun puncaknya adalah camisole berenda tipis itu.
Matanya tanpa izin terpaku pada bagian atas. Renda yang halus itu seperti janji yang setengah terpenuhi, hanya cukup menyamarkan apa yang seharusnya tersembunyi. Jelas sekali bahwa tidak ada penopang di balik satin tipis itu. Pergerakan halus saat wanita itu sedikit bergeser saja sudah cukup untuk menguak bayangan samar dan bentuk yang sensual, sebuah kontur lembut yang menantang dan memikat.
Udara di ruangan terasa memanas, atau mungkin itu hanya sensasi yang menjalar dari leher hingga ke ujung jarinya. Keintiman mendadak yang terpancar dari penampilannya—baju tidur, di ruang pribadi, tanpa bra—bukanlah sekadar kecerobohan. Itu adalah sebuah pernyataan yang terlalu jujur, terlalu mentah, hingga mengganggu semua garis batas profesional yang ia junjung.
Rakha merasakan tenggorokannya tercekat. Logika memang hilang, digantikan oleh gelombang panas yang tak diundang dan kesadaran yang terlalu tajam akan kehadiran fisik sang wanita.
Rakha memaksakan dirinya untuk melangkah. Ia sengaja mengikis langkahnya pelan di lantai marmer, menciptakan bunyi pelan.
Maharani sontak terkejut. Ia menoleh cepat, matanya terbelalak.
“Mas Rakha? Astaga!” Maharani refleks menarik kedua lengannya untuk menutupi dadanya, wajahnya langsung memerah padam. “Maaf, saya... saya pikir Mas Rakha sudah tidur.”
Rakha berjalan mendekat ke kitchen island, langkahnya terasa berat dan dikontrol. Ia memaksakan dirinya untuk memandang lurus ke mata Maharani, mengabaikan detail pakaiannya.
“Kamu seharusnya istirahat, Hani,” kata Rakha, suaranya serak. Ia harus berjuang keras agar suaranya terdengar normal. “Kenapa kamu di dapur? Kenapa... tidak bisa tidur?”
“Maaf, ini... ini pakaian tidur saya. Saya nggak bawa yang lain,” ujar Maharani, menunduk malu. Ia mengangkat bahu, ekspresinya polos. “Saya cuma mau ambil air dingin. Terlalu banyak pikiran.”
Rakha menghela napas, lalu berjalan memutari island. Ia mengambil kursi bar di samping Maharani, duduk di sana, menyandarkan siku di marmer.
“Kalau tidak bisa tidur, kamu bisa memanggil saya,” kata Rakha, nadanya lebih lunak dari yang ia inginkan. Ia menunjuk gelas Maharani. “Itu apa?”
“Air es,” jawab Maharani, sedikit heran. “Minuman dingin.”
Rakha menatap gelasnya. Ia tahu minuman itu tidak akan cukup.
“Kamu bisa minum?” tanya Rakha, suaranya rendah.
Maharani menatapnya polos. “Tentu, saya biasa minum. Minuman manis dan dingin kalau saya tak bisa tidur.”
Rakha sedikit mencondongkan tubuh, gerakan kecil yang membuat fokus Maharani sepenuhnya beralih padanya.
“Bukan. Maksud saya minuman keras,” tanya Rakha, suaranya sedikit merendah, menunjuk ke rak botol koleksi whiskey-nya yang berkilauan dibalik pantulan kaca. Kilauan itu seolah mencerminkan intensitas di matanya. “Untuk... menenangkan pikiran.”
Maharani menoleh, mengikuti isyarat Rakha. Matanya memandangi deretan botol elegan itu sejenak, wajahnya menampilkan konflik yang menarik: antara kemurnian yang ragu dan ketertarikan putus asa akan pelarian.
“Mungkin bisa,” ujar Maharani, suaranya nyaris berbisik. Lalu ia berbalik ke arah Rakha, matanya yang besar kini memancarkan tekad yang mendadak berani. “Saya mau coba, Mas Rakha.”
Rakha langsung terkejut. Alisnya terangkat tinggi, bukan karena marah, tapi karena kekecewaan yang dibungkus kerahasiaan. “Coba? Hani, kamu bilang kamu belum pernah minum. Kamu tidak bisa tiba-tiba mencoba alkohol hanya karena kamu cemas.” Ia menyuarakan keengganan untuk melihat Maharani yang polos itu ternoda.
“Tapi saya tidak bisa tidur, Mas Rakha! Saya sudah mencoba menarik napas, saya sudah membaca buku, tapi setiap kali saya menutup mata, saya hanya melihat wajah Risyad dan semua kata-kata jahat di media sosial,” suara Maharani meninggi, penuh frustrasi, dan dalam kekesalan ia menggerakkan bahunya yang terekspos oleh camisole-nya. Gerakan itu tanpa sadar menonjolkan lekuk tubuhnya yang sensual.
“Semua orang bilang alkohol bisa menenangkan. Saya cuma mau malam ini saya bisa tidur nyenyak, jadi besok saya bisa menjadi fighter yang Mas Rakha inginkan,” tuntut Maharani, nadanya menunjukkan sedikit pembangkangan yang menggoda.
Rakha menyandarkan punggungnya di kursi bar, menatap wanita di depannya. Maharani begitu murni, begitu rapuh dalam satin tipisnya, namun di ambang kehancuran. Maharani seharusnya sudah akrab dengan dunia malam para sosialita, tapi ia adalah pengecualian.
Dia terlalu polos, dan itulah bagian dari daya tariknya.
Melihat keputusasaan yang begitu tulus di mata Maharani, Rakha menghela napas panjang. Kekerasan hatinya melunak. Menolak mentah-mentah hanya akan menambah tekanan, dan ia tidak tega.
“Baik,” ujar Rakha, mengalah. “Tapi bukan whiskey.”
Ia turun dari kursi bar. Langkahnya terasa tenang, penuh kendali, sebuah janji yang disalurkan melalui gerakannya. Ia membuka kulkas dan mengeluarkan sebotol wine putih yang sangat dingin. Ia mengambil gelas kecil, yang terlihat begitu mungil di tangannya.
“Kalau kamu ingin mencoba, kamu mencoba dengan ini,” kata Rakha, meletakkan gelas dan botol itu di depan Maharani. “Pinot Grigio. Ini ringan. Satu gelas kecil, tidak lebih. Setelah itu kamu kembali ke kamar dan tidur. Mengerti?” Kalimat itu adalah perintah yang dibungkus perhatian.
Maharani menatap wine itu, lalu Rakha. Wajahnya bersinar lega, seperti anak kecil yang baru saja diizinkan bermain dengan larangan. “Mengerti, Mas Rakha. Terima kasih.”
Rakha membuka botol itu dengan gerakan anggun, suara pop kecil yang memecah keheningan malam. Ia menuang sedikit wine putih ke gelas kecil itu. Angin chilly dari wine dingin itu, aroma anggur yang segar, menyebar di udara, seolah menjadi pembuka untuk malam yang panjang. Itu adalah sentuhan dingin dan murni yang ia berikan pada gejolak emosi yang panas.