Teratai Di Atas Abu
Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.
Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.
Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.
Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Teratai Di Atas Abu
Bab 2 — Bocah di Tengah Badai Salju
Jejak kaki kecil tertanam dalam di atas hamparan salju tebal yang membentang tak berujung, bagai selimut putih abadi yang menutupi bumi pegunungan utara. Angin gunung menderu kencang, membawa butiran salju tajam yang menyayat kulit, suaranya bergema panjang laksana auman binatang buas yang mengamuk di celah-celah tebing. Udara sedemikian dingin, seolah sanggup membekukan darah di dalam urat nadi, mematikan segala kehidupan yang berani melintas di wilayah terkutuk ini.
Sejak meninggalkan tanah kelahirannya yang berubah menjadi lautan api dan abu, Lian Hua terus melangkah ke utara, tak berhenti, tak berbalik. Tubuh kecilnya yang belum dewasa kini penuh luka bekas pertempuran, ditambah rasa nyeri yang menjalar sekujur badan akibat meridian yang rusak parah—cedera berat yang dideritanya kala meloloskan diri dari kejaran pasukan Menara Darah Hitam. Tenaga dalam yang sedikit dimilikinya telah musnah habis, membuatnya tak ubahnya anak biasa yang lemah, tak berdaya menghadapi ganasnya alam liar.
Jubah putih yang dulu bersih dan rapi kini koyak-koyak, penuh noda debu dan darah kering, tertutup gumpalan salju yang meleleh dan membeku kembali. Wajahnya pucat membiru, bibirnya pecah-pecah berwarna ungu tua, napasnya keluar bagai kepulan asap tipis yang segera hilang tersapu angin. Langkah kakinya kian gontai, pandangan matanya mulai kabur, seakan langit dan bumi ikut berputar menari di hadapannya.
“Guru... ke manakah arah utara yang Engkau tunjukkan...” bisiknya lirih, suaranya nyaris tenggelam dalam deru badai. Lapar, dahaga, dan dingin menusuk hingga ke tulang belulang. Sudah berhari-hari ia tak menelan sebutir pun makanan, hanya memakan butiran salju untuk melembapkan kerongkongannya yang kering kerontang.
Tiba-tiba kakinya tersandung akar pohon tua yang tertimbus salju. Tubuh kecil itu terguling jatuh ke lereng bawah, menghantam tumpukan salju empuk yang sedingin es. Ia berusaha bangkit, namun seluruh tenaga telah luruh sepenuhnya. Angin dingin menyapu wajahnya, butiran salju perlahan menutupi tubuhnya, menariknya perlahan ke dalam pelukan keheningan abadi. Di tengah kesadaran yang mulai memudar, bayangan kobaran api, semburat darah, dan wajah gurunya kembali melintas di benak.
Apakah aku akan mati di sini... mati dalam kelemahan, sebelum sempat menuntut balas atas kehancuran klan...
Saat kelopak matanya mulai tertutup rapat, dan kegelapan hendak menelan segalanya, terdengar suara langkah kaki berat berderak di atas salju, disertai aroma anggur keras yang menyengat, bercampur bau tembakau dan debu jalanan.
“Huuh... angin utara ini makin menjadi-jadi, ingin membekukan tulang orang tua ini hingga jadi batu es rupanya,” terdengar suara serak dan berat, diselingi cegukan pelan. Sosok pria tua berjalan terhuyung-huyung di tengah badai. Ia mengenakan jubah tebal lusuh penuh tambalan, rambutnya kusut masai terurai hingga ke bahu, dan di pinggangnya tergantung labu anggur besar yang sudah penyok di sana sini.
Ia adalah A Bao, seorang pengembara tua yang tak memiliki sekte, tak berketurunan, tak terikat aturan dunia persilatan maupun hukum negeri. Di seluruh pelosok wilayah utara, ia hanya dikenal sebagai pemabuk tua yang hidup sendiri, berkelana tanpa tujuan, acuh tak acuh pada urusan kekuasaan maupun pertikaian antar kelompok.
Saat hendak melewati bukit itu, matanya yang agak kabur tiba-tiba menangkap gumpalan kelabu di balik tumpukan salju. Ia berhenti sejenak, menyeka butiran salju dari wajahnya, lalu berjalan mendekat dengan langkah goyah.
“Ada apa di sini...?” A Bao berjongkok, menyibakkan tumpukan salju tebal di hadapannya. Matanya terbelalak lebar saat melihat sosok anak kecil yang nyaris membeku, napasnya tinggal sisa hembusan tipis yang hampir tak terasa. “Anak kecil? Berani-beraninya masuk ke Pegunungan Salju Putih sendirian?”
Dengan tergesa namun tetap canggung karena pengaruh anggur, A Bao mengangkat tubuh Lian Hua ke dalam pelukannya. Tubuh anak itu sedingin potongan es, detak jantungnya sangat pelan dan lemah, seakan nyawanya siap melayang kapan saja.
“Dasar anak bodoh... tempat ini bukan tanah datar yang aman. Kalau bukan kebetulan aku lewat, tulangmu sudah jadi santapan serigala salju sejak tadi,” gumam A Bao. Ia segera membuka jubah tebalnya, membungkus rapat tubuh kecil itu untuk memulihkan kehangatan. Ia meneguk sedikit anggur dari labunya, lalu membasahi bibir Lian Hua yang kering kerontang, sementara tangannya yang kasar namun hangat mengusap dada dan punggung anak itu, menyalurkan sedikit sisa tenaga dalam agar nyawa itu tetap tertahan di raganya.
Perlahan namun pasti, rona merah muda kembali menjalar di pipi Lian Hua, napasnya pun kian teratur. A Bao menggendongnya di punggung, lalu berjalan menuju gubuk tua sederhana miliknya yang tersembunyi di balik celah tebing, tempat yang terlindung dari terjangan angin ganas.
Berjam-jam berlalu, saat kabut kesadaran perlahan sirna, Lian Hua membuka matanya dengan berat. Di atas kepalanya terhampar langit-langit kayu tua yang gelap, dan di sudut ruangan, perapian menyala terang memancarkan kehangatan yang sangat dirindukan. Ia mencoba bergerak, namun rasa nyeri di sekujur tubuh membuatnya mengerang pelan.
“Sudah siuman, anak muda?” suara serak terdengar dari dekat perapian.
Lian Hua menoleh perlahan. Di sana duduklah pria tua yang telah menyelamatkannya. A Bao bersila di dekat api, satu kakinya tertekuk santai, tangan kanannya memegang labu anggur yang sesekali disodorkan ke bibirnya. Matanya setengah terpejam, wajahnya penuh kerutan, namun di balik aroma anggur yang menyengat itu, tak ada niat jahat yang tergambar di wajahnya.
“Siapakah... Paman ini?” tanya Lian Hua pelan. Secara naluriah, tangannya meraba dadanya, memastikan benda paling berharga yang dibawanya masih tersimpan aman.
“Namaku A Bao. Hanya orang tua pengembara yang tak punya tanah kelahiran, tak punya ikatan sanak,” jawabnya santai, lalu menunjuk ke arah jendela kecil tempat badai salju masih bergemuruh di luar. “Kau sungguh beruntung. Sehari saja terlambat, atau seandainya aku tak melintasi jalan itu, mayatmu sudah tertimbus salju hingga seratus tahun lamanya. Sekarang ceritakanlah: siapa namamu, dari mana asalmu, dan apa maksud hatimu berjalan seorang diri di wilayah berbahaya ini?”
Lian Hua terdiam. Ia teringat pesan terakhir gurunya: Jangan biarkan siapa pun mengetahui namamu, asalmu, maupun pusaka yang kau bawa. Namun melihat ketulusan dan ketenangan yang terpancar dari wajah pria tua itu, hatinya dilanda kebimbangan. Ia pun tak menceritakan seluruh kebenaran, hanya menjawab lirih, “Namaku Hua... Aku berasal dari selatan. Keluargaku musnah dimusuh lawan, aku lari ke utara karena tak ada tempat lain yang aman bagiku.”
A Bao mengangguk pelan, seakan paham betul pahitnya nasib yang dialami anak kecil di hadapannya. Ia tak mendesak bertanya lebih jauh, melainkan bangkit hendak mengambilkan semangkuk sup hangat yang mengepulkan uap. Namun saat ia bergerak, pandangan matanya tak sengaja jatuh ke dada Lian Hua.
Karena gerakan tadi, jubah tipis anak itu sedikit terbuka, memperlihatkan liontin giok berukiran bunga teratai yang tergantung di lehernya. Batu giok itu memancarkan cahaya hijau lembut, berkilau tenang meski di ruangan yang remang.
Gerakan tubuh A Bao mendadak terhenti. Tangan yang memegang mangkuk bergetar pelan, hingga labu anggur di tangan kirinya nyaris terlepas jatuh ke lantai. Wajahnya yang sedari tadi santai, malas, dan penuh riak pemabuk itu seketika berubah drastis. Sorot matanya yang kabur dan tak berarah kini menjadi tajam, jernih, dan penuh takjub yang mendalam—bahkan terselip rasa hormat serta ketegangan yang tak pernah tampak sebelumnya.
Ia menatap lekat-lekat ukiran bunga teratai di atas batu giok itu, seolah bukan sekadar pusaka yang dilihatnya, melainkan masa lalu yang telah lama terkubur, atau nama besar yang telah hilang dari ingatan dunia persilatan.
“Benda itu...” suara A Bao yang biasanya serak dan acuh tak acuh kini berubah berat dan bergetar hebat. Ia menatap wajah Lian Hua, lalu kembali menatap liontin itu, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, senyum dan keluguan pemabuk tua itu lenyap sepenuhnya, digantikan oleh kesungguhan yang mendalam dan penuh arti.
“Dari mana kau dapatkan liontin ini, anak muda?”