Mungkin kebanyakan orang bilang menjadi orang kaya adalah hal paling gampang dilakukan. Tapi tidak jika dikaitkan dengan Some, ditengah terkaan dia malah diberi harapan panjang untuk menikah. Hal itulah menjadi awal - awal Some mengenal cowok - cowok yang lahir dengan keluarga sama darinya. Hanya cowok itu yang menerima seornag wanita mempunyai penyakit, namanya Dinner. Dari Dinner, Some dapat menerima segala sesuatu yang menimpanya. Meski bukan hal mudah ketika harus operasi beberapa kali, tapi Dinner menemaninya seperti seorang pacar. Pacaran bahakn menjalani hubungan dengan Dinner, seperti dijodohkan ini, menjadi pertanyaan besar apakah Dinner akan sanggup ?
•untuk kisahnya sudah tamat dari tahun lalu. dan masih bisa dinikmati dengan dukungan like, dan komentar kecil kalau ada kesalahan. thanf for one.
•karya original dari Nita Juwita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NitaLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Between 21
**
Tetap Sekolah dan Cinta ?
**
"Sorry gue mau ketemu sama Some?" ujar seorang gadis sambil berjalan perlahan di pelataran sekolah. Ia bertanya pada sosok yang tak lain siswa IPA hanya saja ia sendiri tidak mengenalnya. Tapi barang kali nama itu asing di cowok tersebut.
"Some seleb itu?" balik tanya cowok tersebut yang membuat cewek itu, namanya adalah Gladys menepuk jidatnya perlahan. Sebenarnya Gladys sudah paham gelagat cowok itu yang kayaknya nggak akan membuahkan apa - apa. Maka ia kembali menemui rombongan grup cewek - cewek, yang tak lain suka gosip sekolah ini.
"Hi guys, kalian anak ekstrakulikuler apa?" ucap Gladys basa - nasi membuat kompak mereka nampak merasa heran. Tapi sebenarnya lebih ke ngapain cewek OSIS yang sombong ini nyamperin mereka. Padahal dirinya tahu sendiri kalangan atas Osis yang bergengsi itu nggak pernah sekalipun masuk gank mereka.
"Anak Pramuka, anak paskibra, dan nggak ada anak OSIS, kita nggak ada waktu," jawab salah satu dari mereka sepertinya yang paling pemberani. Ia nampak bersikap santai sekalipun kakak OSIS satu ini menunjukan sikap baiknya untuk kepentingan organisasi pastinya.
"Nggak ada yang masuk OSIS ya, tapi kalau ada sekarang ada kumpulan nih," ujar Gladys dengan senyum simpul. Mereka lantas geleng - geleng kepala seolah hampir anak OSIS tadi baru saja berlarian ke kelas kumpulan itu dilaksanakan.
"Kayaknya baru aja salah satu anak OSIS kelas kita ninggalin kelas buat ke kelas IPS setahu gue," ucap salah satu cewek itu dengan ekspresi menunjukan sebagian anak kelasnya.
"Memangnya ada apa kak?" tanya yang satunya.
"Ah gue ketemu seseorang anak OSIS sih, ceweknya lumayan cantik. Namanya Something, tahu dia dimana?" akhirnya tujuan utama Gladys tercapai juga sekalipun hanya wajah bingung yang diterima oleh Gladys.
"Dia anak kelas IPA 1, tapi kalau dia dimana kalau istirahat lewat sini buat ke kantin," jawab cewek yang satunya kayaknya ia lumayan akrab dengan Some kan anak IPA suka kerja kelompok bareng.
"Makasih guys," ucap Gladys buru - buru meninggalkan mereka karena ngak punya banyak waktu. Sampai di depan IPA 1, begitu nametag kelas yang di pajang. Langsung saja memasuki fa menemukan Some sedang duduk dengan kawan - kawannya.
"Some!" ucap Gladys sambil berlarian kecil menuju ke arahnya. Atensi Some teralih dan langsung berdiri untuk mengatasi kepanikan Gladys, cewek itu langsung bernafas normal.
"Ada apa kak?" tanya Some sekedar ingin tahu apa yang terjadi, pastinya OSIS itu bikin mumet lagi. Makannya kak Gladys membutuhkan bantuannya.
"Kumpulan Some, kita butuh loe buat promosi yuk," ujar Gladys. Karena dikerja waktu gadis itu buru-buru mengajak Some ke suatu tempat. Disusul dengan Dina yang anak OSIS juga. Seharusnya Dija tahu apapun waktu kumpulan itu, tapi nggak semua kumpulan harus melibatkan mereka.
**
Di tempat kumpulan OSIS, lebih tepatnya di kelas IPS 2, kebanyakan jengah mendengarkan ceramah sekretaris OSIS yang marah lagi sebab para siswa ketahuan bermain di jalan sepulang sekolah. Kerisauan itu dirasakan oleh cewek - cewek yang ngakunya di godain mereka anak Bhakti Darma. Mereka sendiri dari SMA lain yang jelas reputasinya tak sebagus SMA Bhakti Darma. Seolah hal itu membuat yang mendengar yakin kalau kenakalan siswa SMA Bhakti Darma tidka ada obat, padahal mereka tahu sendiri kronologisnya. Dan sebagian OSIS mereka ditugaskan lebih banyak bersosialisasi dengan siswa - siswa nakal itu.
Diluar kelas Gladys, Some dan Dina baru saja sampai. Ditengah kumpulan di dalam dapat mereka dengar suara sekretaris OSIS juga anak OSIS lain yang nampak pusing. Hal itu membuat segera Gladys membuka pintu kelas IPS 2 itu lalu masuk di susul oleh Dina dan Some.
"Baru masuk Gladys, kemana aja sih udah tugas loe yang ngatur anak - anak bukan keluar kelas sembarangan," ucap sang ketua OSIS, dia namanya kak Jendra Supriyanto, sosok panutan bagi anak - anak OSIS lain. Tapi karena Some dan Dina yang nggak terlalu senang dengan kegiatannya maka ia tak banyak mengenal Some dan Dina, sama kayak anak lain.
"Maaf Jen, gue kan ngurusin sisa kemarin kayanya mau lanjut. Habis itu gue juga nggak ditugaskan buat ngurusin siswa di tongkrongan sana," jawab Gladys sambil mendelik ke arah Sekretaris OSIS atau namanya Jini. Ia langsung duduk pas Jendra ngambil alih bicara.
"Ya udah semoga tugas loe yang gue juga bingung mau dibuat apa kelar saat ini," ujar Jendra cuek dengan nampan yang menunjukan terkadang memang organisasi sulit dikendalikan.
"Ya udah kalian duduk," ucap Jendra lagi sambil mempersilahkan some dan Dina yang merasa bersalah itu menuju bangku lain yang kosong. Lalu Some dan Dina segera mengikuti arahan cowok itu.
"Jadi gimana solusi kalian akan rumor kalau iya anak SMA kita suka godain anak sekolah lain," ucap Jendra dengan santai. Tadinya sempat marah tapi ngak ada gunanya kalau semua itu juga bagian dari keutuhan Osis.
"Ya gapapa sih menurut ku seorang siswa SMA ini, palingan cuma iseng kan yang nggak punya pacar," ucap salah satu siswa diantara lainnya. Dia nampak percaya diri, karena memang Osis juga sudah beberapa kali jaga.
"Kalau pacaran sama cowok nakal itu bedalah, kalau menurutku ada kalian tuh OSIS cowok yang jaga," ucap Dina yang seketika disetujui oleh anggota lain.
"Ya udah buat kamu nih, jaganya ditambahkan sampai sekolah sepi," ujar Jendra lalu yang lain pada denah sebab pada akhirnya jaga anak - anak nakal itu dilempar sama satu anggota.
"Buat pemilihan OSIS baru gimana nih Gla," ucap Jendra sambil memindahkan atensi anak - anak pada Gladys yang sebenarnya ia juga malu padahal sudah sering melakukannya.
"Gue udah selesaikan semua data calon yang bakalan ikut partisipasi jadi ketua dan wakil, makannya hari ini semuanya bakalan hadir, karena besok kita mulai bagikan brosur," ucap Gladys percaya diri. Dan semuanya nampak mengangguk.
"Ya udah kalau gitu kita bagi kelompok ya, buat urus - urus berkas calon - calon kita," ujar Jendra sambil menulis beberapa kelompok dan keperluannya. Habis itu mereka disibukan dengan kumpulan lain yang mengharuskan Jendra berbicara banyak sekali. Samapi mereka jengah.
Dina yang dari tadi memerhatikan seseorang, yang sebenarnya Some juga sudah memerhatikan. Karena dia itu baru tapi nampaknya sangat kalem, seolah pernah beberapa kali ikut kumpulan. "Eh eh itu anak baru kita," bisik Dina tepat di telinga Some. Cewek itu langsung meraba telinganya karena heli.
"Anak baru bukannya udah sering kelihatan, dan anak OSIS juga," balas Some sambil mengangkat bahu.
"Iya loe emang sepeduli itu sama sekitar loe, tapi nggak pernah nyamperin buat deketin kira aja jodoh," ucap Dina sambil menatap Some kesal. Kenapa di dunia ini cuma Some yang nggak pernah tertarik sama cowok yang disebutnya ganteng.
"Ngapain gue nyamperin dia, emang anak - anak lain juga gue kenal. Separuhnya cuma tahu nama gue aja," ujar Some sambil merasa jengah. Sekalipun anak baru riu panenan di deketin karena biasnya pernah berada, tapi Some merasa sama saja seperti kebanyakan anak lain.
"Sut Some nanti kedengaran, kalau nggak salah namanya Dinner," ujar Dina ketika berbisik hal yang membuat Some senang atas kabar itu. Apalagi pas melihat logat cowok itu yang nampak nggak sadar kalau Some memperhatikannya.
"Namanya juga bagus, kayaknya dia cowok kayak gimana ya, seperti Daniel kah atau Setyo?" tanya Some keasikan mengobrol, tapi setengah berbisik.
"Kayak apa ya, pokoknya ganteng buat ukuran anak sekolah kita yang biasa aja. Kan dia juga tadinya sekolah di SMA favorit," jawab Dina sambil berbisik ria.
"Bukan tipenya?" jelas Some sambil tersenyum kecil.
"Kalau buat tipe bukan cowok yang nggak bener, kayaknya orangnya pendiam juga cuek," pikir Dina yang membuat Some terkekeh kecil.
Mereka berdua nampak bungkam ketika melihat Jendra membawa kedua kakinya menuju tengah kelas, selalu menjadi perhatian anak OSIS lain. Dia bukan cowok yang tebar pesona, tapi terkadang selalu menunjukan sikap kepemimpinannya. Sebagaimana yang sering diperintahkan oleh pembina. Melihat ketangguhannya Some jadi merasa heran kenapa pula dirinya mencalonkan diri jadi ketua OSIS. Bukannya sikap yang penuh aturan dan tata Krama yng ketat hanya akan membuatnya merasa teraniaya. Jika pun bisa mungkin ia akan menampilkan kharisma yang sederhana dari pencalonannya jadi ketua OSIS. Ia juga akan sedikit memfokuskan dirinya untuk menang, setudaknya membuat kedua orangtuanya menganggap ja juga pintar.
**