Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.
Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.
Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.
Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Di Antara Pelukan dan Tatapan Dingin”
Oh… ada Papah. Halo, Papah…” ucap Arkan sambil melambaikan tangannya.
Nayla sempat berpikir Arkan akan langsung berlari dan memeluk ayahnya.
Namun ternyata—
tidak.
Arkan tetap bergelayut manja padanya, tersenyum lebar memperlihatkan gigi susunya. Nayla sedikit terkejut.
Bukankah sebelumnya Mbak Rani pernah bilang, setiap kali ayahnya datang, Arkan selalu menyambutnya dengan penuh semangat? Berlari, memeluk, bahkan tidak
mau lepas.
Tapi sekarang…
Arkan hanya menyapa.
Bahkan setelah itu, ia justru sibuk menarik tangan Nayla.
“Kakak, ayo… katanya mau mandi. Habis itu kita ke taman, kan? Ayo, ayo…” ucapnya sambil menggoyang-goyangkan lengan Nayla dengan semangat.
Nayla hanya bisa tersenyum kikuk.
“Iya…” jawabnya pelan.
Lalu ia menoleh pada pria di hadapannya.
“Saya permisi mandi dulu, Pak.”
Pria itu hanya mengangguk singkat.
Tanpa ekspresi.
Tanpa senyum.
Nayla menelan ludah pelan.
Suasana terasa… kaku.
Ia menunduk sedikit, lalu berbalik. Namun sebelum melangkah, ia berbisik pelan pada Arkan.
“Arkan, tidak mau tunggu sama Papah saja?”
Arkan langsung menggeleng cepat.
“Enggak ah. Mau tunggu di kamar kakak saja,” jawabnya sambil tersenyum cengengesan.
Nayla terdiam.
…
Ia sempat melirik ke arah pria itu.
Tetap sama.
Dingin.
Tidak ada usaha mendekat.
Tidak ada sentuhan.
Bahkan sekadar mengusap kepala Arkan pun tidak.
Hanya diam.
Mengamati.
Segini cueknya…? batin Nayla.
Ia mengingat cerita Mbak Rani sebelumnya. Tapi melihatnya langsung seperti ini— rasanya berbeda.
Lebih nyata.
Lebih… menyakitkan.
Setidaknya… sapa dia… atau sentuh sedikit saja…
Namun tidak ini.
Tidak ada.
Nayla menatap Arkan lagi.
Anak itu tetap ceria, seolah tidak terjadi apa-apa. Masih menggandeng tangannya.
Masih tersenyum.
Dan entah kenapa—
itu justru membuat hati Nayla semakin perih.
Anak sekecil ini…
harus terbiasa dengan hal seperti ini…
Nayla menghela napas pelan.
Rasa iba kembali memenuhi dadanya.
Huh…” Nayla mengembuskan napas panjang.
Ia menatap Arkan yang sedang asyik memainkan alat makeup miliknya. Bocah itu tampak serius mencoba membuka lipstik.
“Arkan, kakak mandi dulu ya,” ucap Nayla sambil mengusap kepalanya. “Ini boleh dimainkan, tapi tidak boleh dirusak. Tidak boleh juga dicoret-coret ke meja atau ke badan Arkan, oke?”
“Oke!” jawab Arkan semangat sambil mengacungkan jempolnya.
**
Pagi hari terasa begitu tenang.
Sinar matahari baru saja muncul, menyelinap hangat di antara dedaunan. Udara masih dingin dengan sisa embun di rumput.
Terdengar suara tawa kecil.
Langkah kaki mungil berlari di atas hamparan hijau.
Senyumnya… menenangkan.
Mata itu sampai menyipit karena terlalu bahagia.
Nayla menatapnya lama.
Semoga dia selalu seperti ini… batinnya.
Selalu bahagia… selalu tersenyum.
Saat ini, Nayla sedang berlarian bersama Arkan di taman bermain di halaman samping rumah.
Kompleks itu jauh dari jalan raya. Tidak ada suara kendaraan. Hanya suara angin dan tawa anak kecil.
Halamannya sangat luas.
Nayla merentangkan kedua tangannya, menghadap matahari pagi.
Arkan menirunya.
Dengan senyum lebar yang tidak pernah hilang.
Nayla berhenti.
Ia berjongkok, menatap Arkan yang berdiri dengan mata terpejam, wajahnya menghadap cahaya matahari.
Sesekali terdengar cekikikan kecil.
Hati Nayla menghangat.
Tanpa sadar—
ia mencium pipi Arkan.
Selama aku di sisinya…
aku akan berusaha membuatnya bahagia.
Arkan langsung membalas dengan mengecup pipi Nayla.
Lalu memeluknya manja, menggosokkan hidungnya di leher Nayla.
Nayla tertawa kecil.
Namun—
tanpa ia sadari,
sejak tadi ada sepasang mata yang memperhatikan mereka.
**
Setelah itu, Nayla mengajak Arkan duduk di kursi ayunan.
Mereka berbincang santai. Seolah dua orang dewasa.nArkan… sangat mudah diajak bicara.
Padahal usianya belum genap empat tahun.
Tapi ia cerdas.
Saat Nayla bercerita, Arkan menanggapi dengan pertanyaan-pertanyaan kecil penuh rasa ingin tahu.
Antusias.
Dan tulus.
Nayla tersenyum.
Kenapa aku bisa sedekat ini…?
Padahal—
mereka bahkan belum cukup sehari bersama.
Namun rasanya seperti… sudah lama saling mengenal. Seperti sahabat lama yang baru bertemu
Keributan kemarin kembali terlintas. Ada sesuatu yang aneh.
Seperti ada dorongan dalam dirinya—
yang ingin langsung memeluk dan menenangkan Arkan saat itu.
Namun ia mengabaikannya. Tidak masuk akal, pikirnya saat itu.
Saat ia memarahi Arkan…
yang terbayang justru bukan anak itu.
Melainkan keluarganya sendiri.
Nayla menunduk.
Dadanya terasa nyeri.
Bodoh sekali aku…
Kalau bisa… aku ingin memukul mulutku sendiri.
Bayangan wajah Arkan saat itu kembali muncul.
Tatapan tajam—
namun dengan mata yang berkaca-kaca.
Seolah menyimpan luka yang dalam.
Nayla memejamkan mata sesaat.
Hatinya kembali terasa sesak.
**
“Arkan… Nayla…”
Suara Oma memanggil mereka.
Nayla langsung tersadar.
“Oma!” jawab Arkan riang.
“Astaga, ternyata kalian di sini. Ayo, kita sarapan,” ucap Oma sambil mengecup kening Arkan dan mengusap kepalanya.
“Kalian lagi ngobrol apa? Sepertinya seru sekali.”
Mereka pun berjalan bersama menuju rumah.
Arkan terus berceloteh, menceritakan obrolannya dengan Nayla.
Sesekali Nayla tertawa kecil mendengarnya.
Saat berjalan, Nayla memperhatikan sekeliling.
Rumah itu berdiri megah.
Jaraknya jauh dari rumah lain.
Terlihat elegan.
Desainnya Minimalis, tapi mewah.
Dikelilingi hamparan hijau luas.
Bahkan ada area seperti hutan kecil.
Nayla sedikit terpukau.
Namun pandangannya terhenti pada satu titik.
Sebuah jendela besar di lantai dua.
Berbeda dari yang lain.
Berbentuk persegi panjang besar.
Sekitar dua setengah kali empat meter.
Kaca satu arah.
Entah kenapa—
ia merasa seperti ada seseorang yang sedang menatapnya dari sana.
Nayla terdiam.
Perasaan saja…?
“—Nayla!”
“Kakak!”
“Nay!”
Suara mereka terdengar jauh.
Nayla tersadar.
Ia ternyata tertinggal cukup jauh.
Dengan cepat, ia berlari menghampiri mereka.
Arkan langsung berlari ke arahnya dan menarik tangannya.
Mereka berlari bersama menuju Oma.
Oma tertawa kecil.
“Kenapa tertinggal?” tanya Oma.
Nayla tersenyum tipis.
“Tadi… Aku lihat jendela besar itu. Bagus sekali.”
Oma terdiam sejenak.
“Oh… itu ruang kerja Ayahnya Arkan.”
Nayla hanya mengangguk.
**
Di ruang makan—
Nayla langsung terdiam.
Ayah Arkan sudah duduk di sana.
Menatap ke arah mereka.
Tatapannya… tajam.
Dingin.
Sarapan sudah tersaji.
Namun piring di depannya masih kosong.
Nayla duduk di samping Arkan.
Oma duduk di hadapannya.
Begitu semua duduk—
pria itu baru mulai makan.
Nayla menatap Arkan.
“Mau makan apa?”
“Apa saja yang kakak ambilkan,” jawab Arkan dengan senyum lebar.
Seketika—
Oma dan pria itu berhenti sejenak.
Menatap Nayla.
Hanya sepersekian detik.
Lalu kembali makan.
Nayla sedikit kaku.
Apa aku salah…?
Namun ia tetap melanjutkan.
Ia mengambil roti, salad, buah, telur, sosis, dan yogurt dengan porsi kecil.
Sesuai untuk anak-anak.
Ia lalu ikut makan.
Awalnya ia merasa sungkan.
Namun itu permintaan Oma.
Katanya, demi Arkan.
Nayla punya posisi berbeda di sini…
Satu-satunya yang bisa membuat Arkan tenang.
Ia melirik sekilas ke arah ayahnya.
Arkan memang terlihat sedikit segan.
Namun tidak sepenuhnya patuh.
Bahkan cenderung mengabaikan.
Setelah selesai makan, Nayla membersihkan mulut Arkan dengan tisu.
Saat itulah—
untuk pertama kalinya,
pria itu berbicara.
“Bersiaplah. Kita pergi keluar.”
Suaranya dalam.
Tegas.
Dan tanpa emosi.
Nayla langsung menoleh.
Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
…pergi?